Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER DUAPULUH SATU


__ADS_3

Aku memang membencinya, tapi kenapa perasaanku seakan hancur begini?


Anna membungkuk untuk mengambil cincin itu yang ada di kakinya, lalu memberikannya pada Logan yang telah berada di depannya.


"Terima kasih," ucap Logan dingin.


Anna kecewa mendengar ucapannya yang setengah hati. Ditambah lagi, ia semakin murung kala Logan menyematkan cincin di jari manis Nina. Air matanya tak mengalir, senyumnya bahkan tak tampak. Ia bertepuk tangan dengan hati terluka.


"Mereka serasi, ya?" bisik Kenan, tanpa melihat bahwa Anna tak turut tersenyum.


Logan dan Nina menghadap ke arah para tamu undangan, menunjukkan senyum bahagia atas resminya hubungan mereka. Entah mengapa pandangan Logan mengarah pada Anna. Mungkin karena Kenan dan Anna berada di barisan depan.


Akan tetapi, tatapan itu cukup lama, sampai Logan menyimpulkan bahwa ekspresi murung Anna adalah rasa tidak sukanya jika ia bahagia.


Lalu, beberapa tamu dan kolega maju untuk memberikan selamat. Kenan pun tak ingin ketinggalan, ia melangkah ke arah panggung dengan mengajak Anna.


Kenan mengulurkan jabatan tangannya pada Logan, lalu memeluknya sambil menepuk punggungnya. "Selamat, ya, sobat," katanya.


"Terima kasih," jawab Logan tersenyum simpul.


Setelah itu, Kenan menjabat tangan Nina. "Selamat, ya, Nina. Akhirnya, kalian tunangan juga."


"Terima kasih," jawab Nina riang, lalu melirik Anna dan menggoda Kenan. "Pacar baru, ya?"


Kenan tertawa renyah. "Doain aja. Ehem! Maksudku, baru teman aja kok."


Anna seakan mendapat sinyal bahwa waktunya untuk memperkenalkan diri pada Nina.


"Selamat, ya," ucapnya tersenyum.


Awalnya, Nina menyambut baik ucapan selamat yang tulus dari Anna. Namun, wajahnya berubah dingin ketika mengingat wajah Anna lamat-lamat.


Pantas saja Nina merasa familiar. Gadis itu, yang beberapa waktu lalu bersama dengan kekasihnya di mushala kantor Logan. Ia masih penasaran dengan pembicaraan mereka waktu itu. Sampai sekarang, ia belum sempat membahasnya lagi bersama dengan Logan.


Lantas, pandangannya dialihkan pada Logan. Ia tercengang, Logan tengah menatap Anna dengan dingin. Perasaannya jadi ragu. Benarkah, pembicaraan Logan dengan Anna waktu itu hanya permasalahan pekerjaan belaka?


🍀


Tama sedang berjalan di area tempat parkir sambil bersiul—hatinya sepertinya sedang senang dan bersemangat.


Mobil-mobil mewah yang terparkir memanjakan mata. Rasanya, ingin sekali memilikinya. Tapi untuk saat ini, ia hanya melihat dan menyentuhnya saja.


"Uh! Kapan, ya, aku bisa punya mobil seperti ini?" gumamnya berangan. "Waaaaah!"


Sebuah mobil hitam yang terparkir di tempat khusus membuatnya terpesona. Kakinya langsung melangkah ke sana, mendekat ke mobil tetapi tidak menyentuhnya.


"Yang punya pasti orang kaya banget," komentarnya dengan mata berbinar. "Ini kan mobil keluaran terbaru. Selfi dulu ah!"


Tama mengeluarkan ponselnya, mengambil pose bagus untuk diambil fotonya. Entah sampai berapa kali ia berpose dan memotret. Dan baru berhenti saat ada telepon masuk dari ayahnya.


"Halo, Pak—"


"Kamu lagi ada di mana?" sahut Pak Manto membentak, sampai Tama menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Aduh, Bapak. Lama-lama kuping saya budek karena Bapak sering teriak-teriak," keluh Tama. "Aku lagi di tempat parkir nih."


"Kamu udah bawa flasdisk-nya, 'kan?"


"Tenang, Pak. Saya udah bawa," sahut Tama dengan percaya diri.

__ADS_1


"Bagus! Sekarang, kamu pergi ke tempat yang sudah kita rencanakan. Bapak akan melakukan rencana yang selanjutnya," tutup Pak Manto.


Setelah mematikan ponsel, Tama menghadap mobil mewah tadi. Ia menghela napas, tampak sedikit muram. "Untuk saat ini, kita berpisah. Tapi suatu saat nanti, aku akan memilikimu. Jadi...," Tama meletakkan tangan kanannya di atas kap mobil. "Bersabarlah, Cantik."


Seakan berpisah dengan kekasih, Tama sampai menoleh beberapa kali ke mobil itu, meninggalkan area tempat parkir.


🍀


Tidak hanya kolega, Logan mengundang beberapa pebisnis, termasuk Anton Wiratama. Bersama dengan sekretarisnya yang cantik, pria bertubuh tambun itu menghampiri Logan yang tengah mengambil segelas minuman.


"Halo, Pak Logan. Selamat atas pertunangan Anda," sapa Anton.


"Terima kasih." Logan tersenyum basa-basi.


"Sudah lama saya tidak melihat Anda. Terakhir kali, kita bertemu di pesta pernikahan Farhat dan Yerina," kata Anton lagi.


"Ya, saya ingat."


"Malam itu, Anda ke mana? Saya mencari-cari Anda. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, lho."


Lalu sekretaris Anton menimpali, "Iya, Pak Logan. Pak Anton sampai memindahkan kamar Anda ke sebelahnya kamar Pak Anton, supaya Pak Anton bisa berhubungan lebih dekat dengan Anda."


Logan mengernyit dan mulai mengerti. Jadi, kamarnya dipindahkan, dan Anna memang tidur di kamar itu? Akan tetapi, pikirannya kembali bercabang oleh kemungkinan lain, yang masih yakin bahwa Anna tahu soal perpindahan kamar itu dan sengaja menjebaknya.


"Oh, ya?" sahut Logan, membalasnya. "Memangnya, apa yang ingin dibicarakan?"


Di saat itu, Pak Manto tengah menyamar menjadi pelayan berkumis tebal. Ia berdiri dari kejauhan mengamati Logan, lalu mulai berjalan mendekatinya.


Dengan gerakan cepat, pria itu memasukkan sebuah kertas ke dalam saku jas Logan tanpa disadarinya.


Setelah cukup lama berbasa-basi, Logan memohon diri pada Anton untuk pergi ke tempat lain. Mungkin ingin mengambil ponselnya, ia pun merogoh saku jasnya.


Ia mengernyit menemukan kertas terlipat dua itu. Padahal, benda itu tidak ada di sakunya tadi.


Apa orang yang mengancamnya yang meletakkan kertas ini?


Logan mencari tempat untuk menjauh dari kerumunan, lalu membuka kertas itu. Ia pun membaca tulisan di dalamnya:


"Kalau kamu mau menghapus video itu, temui saya di tangga darurat lantai 9."


Matanya memancarkan amarah sambil meremas kertas itu. Langkahnya yang panjang berjalan ke tempat yang diberitahukan oleh pemeras itu.


Tapi aneh, sesampainya ia di sana, tidak ada siapa pun? Apa mereka mencoba menipunya lagi?


Tidak. Tama muncul dari lantai bawah. Dia tertawa, menaiki satu persatu anak tangga. Setelahnya, Pak Manto pun datang dari lantai atas, tersenyum sinis sambil menuruni tangga.


Kedua pria itu menghampiri Logan, seolah menyudutkannya. Namun, alih-alih panik, Logan menghadapi mereka dengan sikap menantang.


"Hanya kalian berdua? Bukannya kalian berkomplot dengan seorang wanita?" tanya Logan, dingin.


"Seorang wanita?" tanya Pak Manto, mengernyit heran. "Oh, wanita yang Anda perkosa itu?"


"Oh, bukan," timpal Tama, menambahkan. "Memang, tadinya kami menyewa seorang perempuan, tapi kami tidak menyangka ada tamu undangan yang masuk ke kamar 101."


Logan mendelik dengan wajah memucat. Semua bantahan yang dikatakan pada Anna diputar ulang dalam benak. Dan kini, ia harus akui bahwa Anna berkata jujur. Ia memang memperkosa wanita tak bersalah itu.


Ia menghela napas, sesal.


"Oke. Terus, apa yang kalian mau?" tanya Logan, setelah mengendalikan diri.

__ADS_1


"Kami mau Anda tidak menjual pabrik gula di Purwakarta," jawab Pak Manto.


"Dan Anda harus menghidupkan kembali pabrik itu." Tama ikut menambahkan.


Bukannya sudah jelas kalau pabrik itu sudah tidak bisa beroperasi lagi? Benar-benar!


Logan mendengus sambil berkacak pinggang. "Oke! Saya penuhi permintaan kalian. Sekarang," ia menegadahkan tangan kanannya pada pria itu, "berikan salinan video itu."


Pak Manto melirik pada Tama, memberi isyarat agar memberikan flashdisk yang ada di tangannya. Tama merogoh saku celananya, tapi ia tertegun mendapati kantong celana sebelah kanannya kosong.


"Kayaknya disimpan di sini deh tadi," gumam Tama, lalu merogoh saku celana kiri dan saku kemejanya.


Ada yang tidak beres, Pak Manto berbisik pada Tama, "Mana flashdisk-nya?"


Tama tercengang, wajahnya memucat. Lalu, ia mendekati bibirnya ke telinga Pak Manto, berbisik, "Kayaknya flasdisk-nya hilang, Pak."


"Gimana sih kamu!" Pak Manto menepuk pundak Tama agak kencang.


Logan melihat gelagat aneh kedua pria itu. Logan mendengus. Cukup sudah mereka mempermainkannya!


"Mana salinannya?" tagih Logan, tak sabar.


Kedua pria itu saling melirik, bingung harus melakukan apa. Akhirnya, Pak Manto memutuskan:


"Begini saja, kami akan memberikan flashdisk-nya besok di kantor Anda," negonya.


Negosiasi yang mudah, dan tidak disangka Logan mengangguk setuju. "Baiklah. Saya tunggu kalian."


Kedua pria itu tersenyum. Tanpa perlu berpamitan, mereka pergi dari hadapan Logan yang menatap datar.


Mereka menghilang dari balik pintu yang menuju lantai 5. Logan mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi seseorang.


"Tangkap mereka!"


.


.


.


"Dasar bodoh! Kenapa bisa hilang sih?" maki Pak Manto, berjalan di area tempat parkir.


Bahu Tama kena imbas atas keteledorannya. "Maaf, Pak. Aku juga tahu kenapa flashdisk itu hilang," jawabnya sambil mengusap bahunya yang terkena pukulan.


"Ah, sudahlah! Kita masih punya salinannya yang lain. Besok, kita akan berikan salinan itu, dan peras dia." Kemudian, Pak Manto terkekeh.


"Tapi, Pak. Kok Pak Logan itu dengan mudah sekali menyetujui permintaan kita, ya?" curiga Tama. "Apa mungkin, dia punya siasat lain?"


Pak Manto akan menyahuti ucapannnya. Namun, tiba-tiba dua pria berbadan besar menyergap tangannya dan Tama dari belakang.


"Apa-apaan ini?" jerit Pak Manto.


"Kalian ditangkap atas penipuan dan pemerasan!" kata seorang pria, yang kemungkinan atasan kedua pria yang menangkap Pak Manto dan Tama.


"Memangnya kalian siapa?" tanya Tama sembari meronta.


"Kami polisi."


Polisi? Sial! Logan menjebak Pak Manto dan Tama. Ketiga polisi itu sengaja menyamar menjadi tamu undangan atas perintah Logan.[]

__ADS_1


》》next part 2 besok, ya.


__ADS_2