
Beberapa hari berlalu dengan tenang. Matthew bekerja seperti biasa, tak perlu memikirkan Charlotte yang mungkin tidak akan mengancamnya.
Namun, sepucuk surat dari pengadilan membuat suasana hatinya kacau.
"Gugatan?" gumamnya geram, setelah membaca surat itu, lalu melirik sekretarisnya. "Cepat, hubungi pengacara saya!"
Pria itu bergegas menghubungi pengacara kepercayaan keluarga Jonathan, yaitu Harun Efendi, atau ayahnya Kenan. Bersama dengan anaknya, Harun mendatangi kantor Matthew untuk menyelesaikan gugatan ini.
Namun, hal lain menimpanya. Sekretarisnya masuk ke dalam ruangan, membawa sebuah jadwal dadakan.
"Para pemilik saham ingin melakukan rapat direksi," kata pria berkacamata itu.
Matthew mendelik dan sontak berdiri dari kursinya. Langkahnya menuju ruang rapat sangat cepat, apalagi ketika sekretarisnya menyebutkan perihal agenda rapat siang ini.
Tidak diduga, banyak para pemegang saham yang ingin mengganti pemimpin perusahaan. Wajah tak senang Matthew muncul saat memasuki ruangan. Lantas, ia langsung duduk di tempatnya, menatap semua orang yang tengah menoleh ke arahnya.
Ekspresi garangnya perlahan memudar menjadi tenang, meskipun kemarahan bergemuruh di dalam dadanya. "Jadi, apa yang membuat kalian membuat agenda rapat dadakan ini?"
Seorang pria berbadan gemuk, dengan kepala yang ditumbuhi oleh rambut tipis, berdiri. "Kami ingin mengajukan pergantian posisi presdir yang selama ini diduduki oleh Logan."
Tangan Matthew terkepal, tetap menahan kemarahannya. "Kenapa begitu? Apa Logan merugikan perusahaan? Apa dia melakukan korupsi?"
Orang-orang di sana terdiam, saling melirik. Lalu, pria tadi mendeham dan menjawab dengan suara agak kecil. "Memang tidak."
"Lantas!" tukas Matthew dengan nada meninggi. "Apa yang membuat kalian mengambil keputusan seperti itu?"
"Anda pernah mendengar kejadian yang dialami oleh Almarhum Thomas Hendarto? Dia memberikan jabatan tertinggi, lalu seluruh aset pada anak angkatnya yang bernama Jimmy," jawab pria itu. "Namun Jimmy malah mengkhianati kepercayaan, menjual seluruh aset keluarga Hendarto sampai keluarga itu jatuh miskin."
Lalu, di seberang pria itu menimpali. "Logan juga anak angkat Anda. Apa Anda yakin mau menyerahkan perusahaan dan aset Anda pada anak angkat Anda? Kita tidak pernah tahu, seperti apa hati seseorang yang sebenarnya."
Rahang Matthew mengeras, lalu ia tertawa sinis. "Jadi, apa kalian menganggap bahwa Logan sama seperti Jimmy?" ujarnya pelan tapi bernada dingin.
Perlahan, ia beranjak dari kursi, tanpa diduga ia menggebrak meja hingga semua orang tersentak. "Saya masih hidup! Kenapa kalian membicarakan hal tidak penting sekarang? Saya mau memberikan seluruh aset saya ke Logan, itu terserah saya. Kalian semua tidak ada hak mengatur saya!"
"Tapi, kami hanya memberi saran, mewanti-wanti agar tidak terjadi hal yang sama," dalih pria gemuk tadi.
"Apa kalian anggap semua anak angkat seburuk itu? Logan dididik dengan baik. Kalian bisa melihat bagaimana dia mengurus perusahaan di bawah kepemimpinannya," tukas Matthew.
"Kalau memang dia dididik dengan baik," Seorang pria dengan rambut dipenuhi uban angkat bicara, "kenapa dia bisa menghamili karyawannya?"
"TUTUP MULUTMU!" bentak Matthew, matanya melotot marah.
"Pak Matthew, kami tahu Logan sudah memberikan kontribusi terbaik di perusahaan ini. Tapi, melihat skandal yang Anda tutupi, membuat kami jadi ragu untuk menjadikannya presdir, apalagi pemilik perusahaan ini, kelak."
Matthew menghela napas, terdiam menatap satu persatu wajah orang-orang telah berbalik membelakanginya. Tawa lepas sarkastik memenuhi ruangan, membuat semua orang heran.
"Oke, jika kalian merasa ragu, silakan tarik saham kalian dari perusahaan ini," ujarnya menantang.
Mana mungkin mereka melakukan hal itu, sementara saham perusahaan ini sedang menanjak. Matthew tersenyum puas menatap wajah-wajah bingung dan ragu itu.
Masalah terselesaikan, tak ada satu pun dari mereka yang berani angkat bicara lagi. Matthew pun meninggalkan ruangan bersama dengan sekretarisnya.
☘
Logan membawa Anna ke sebuah rumah yang begitu besar, dengan halaman yang luas. Rumah milik keluarga Jonathan, di mana Matthew pernah tinggal dan tempat Logan dibesarkan.
__ADS_1
Kini, rumah itu ditinggali oleh sebuah keluarga, aset yang diserahkan untuk seorang anak tiri.
Seorang pelayan mempersilakan Logan dan Anna untuk duduk di ruang tamu, sementara wanita itu akan memanggil tuan rumah.
"Tidak ada yang berubah," gumam Logan, melihat seisi tempat ini.
Anna menoleh, tertarik dengan ucapan Logan. "Kau sering ke sini?"
"Aku bahkan dibesarkan di tempat ini, bersama dengan tanteku," sahut Logan.
"Oh." Anna mengangguk.
Keduanya berdiri saat seorang wanita bergaun biru muda memasuki ruangan sambil tersenyum. Di belakangnya, menyusul seorang pria tampan yang telah berpakaian rapi.
"Logan?" sapa wanita yang bernama Aurellie, tantenya yang juga adik tiri Matthew. Dia melirik, tersenyum pada Anna. "Apa kau istrinya Logan? Maaf, aku tidak datang ke pernikahan kalian waktu itu. Kenalkan, aku tantenya."
Anna menjabat tangan halus wanita itu seraya tersenyum. Lalu, Aurellie memeluknya.
"Ini suamiku." Aurellie menambahkan setelah melepas pelukannya, menunjuk suaminya.
"Saya Anna." Gadis itu hanya tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya pada pria bule itu.
Pria itu menarik kembali uluran tangan, heran karena Anna tidak menjabat tangannya. Aurellie yang melihatnya, berbisik pada suaminya, mengatakan bahwa Anna tidak bisa berjabat tangan karena itu ketentuan dari agamanya.
"Ngomong-omong, kalian mau ke mana?" tanya Logan.
"Kami mau ke konser amal yang perusahaan adakan. Kalian mau ikut?" jawab Aurellie.
Mata Anna berbinar, menyahut dengan semangat. "Konser amal? Boleh juga."
Senyum Aurellie terkembang lebar, dan ia jadi bertambah bersemangat melihat antusiasme Anna. "Ya, sudah kalau begitu. Ayo, pergi!"
☘
"Sedang lihat apa?"
Logan tersentak, langsung menoleh. Menyadari itu Anna, tangannya diletakkan di kedua bahunya, lalu memutar tubuhnya hingga Anna membelakangi papan itu.
"Kenapa kau masih di sini?" tanyanya kikuk.
Anna tercengang sejenak, lalu berkata, "Seharusnya, aku yang bertanya begitu. Tante Aurellie sudah di dalam dan menunggu kita."
"Oh, oke." Logan meletakkan tangannya di pinggang Anna, menghelanya pelan memasuki ruang auditorium yang telah dipenuhi oleh orang-orang.
Logan membuatnya kembali tercengang sekaligus gugup. Ada apa dengannya, jadi gugup hanya karena sentuhan di pinggangnya?
Mereka dapat tempat duduk di bagian atas, di mana bukan hanya dapat melihat pertunjukan lebih dekat, si pengisi acara pun juga bisa melihat mereka lebih jelas.
Untuk pertunjukkan ketiga, yang mengisi adalah seorang soprano terkenal Inggris dengan seorang pianis muda yang baru memenangkan sebuah kompetensi piano terbesar di Inggris.
Nina nama si pianis itu. Dia berdiri di hadapan para penonton, lalu tertegun beberapa saat ketika tanpa sengaja melihat seseorang yang tampak tak asing.
Rasa cangggung menghampiri sejenak. Ia menghela napas panjang, sebelum jemari mungilnya dengan lincah memainkan sebuah lagu klasik.
Logan tampak resah, dan itu terlihat oleh Anna. Gadis itu memalingkan wajah sambil tersenyum sinis dan bergumam:
__ADS_1
"Jadi ini alasan dia bersikap aneh?"
Entah Logan mendengarnya atau tidak, dia menoleh pada Anna yang tampak tenang menikmati pertunjukan.
"Dia kelihatan biasa aja? Apa cuma terlihat dari depannya saja, tapi sebenarnya dia merasa tidak nyaman? gumamnya dalam hati.
Oh, Logan. Apa dia berpikir Anna memiliki perasaan seperti itu? Sungguh, Anna sedang terpukau pada nyanyian soprano yang membuat bulu romanya meremang di setiap nada tinggi.
☘
Setelah pertunjukan, ada pertemuan para pengusaha yang menggalangkan dana untuk acara amal ini di sebuah aula. Aurellie dan suami memperkenalkan Logan dan Anna pada beberapa kolega bisnis mereka. Selain itu, mereka juga sempat berbincang dengan para pengisi acara konser tadi.
Nina juga sedang berbicara dengan para pebisnis itu. Dan tanpa sengaja lagi, ia melihat Logan bersama dengan Anna yang sedang mengobrol dengan pasangan Adams.
Perasaan ini membuat kakinya seakan melangkah ke arah pria itu. Namun, seorang pria memanggilnya.
"Nina, akan aku perkenalkan seorang promotor terkenal," katanya ketika pria itu sudah berdiri di hadapannya.
Ia bimbang. Hatinya mengarah pada Logan, tetapi ia tak bisa menolak kesempatan bagus yang datang detik ini. Ditatapnya Logan yang kini jaraknya jauh darinya, lalu ia mengambil keputusan untuk menemui promotor yang akan dikenalkan padanya itu.
Setelah Nina pergi, Logan menoleh. Mungkin rasa hati yang masih tersisa membuatnya terpanggil untuk melihat ke arah sang mantan kekasih.
Anna yang bosan tersenyum dan beramah-tamah dengan orang asing, memisahkan diri dari Logan. Dia menghampiri meja yang penuh makanan, memilih hidangan yang ingin disantapnya.
"Wah, bingung mau makan yang mana? Apa steik ayam saja?"
Anna memilih makanan itu, lalu membawanya ke sebuah meja makan kosong. Rasa gurih dan renyah makanan itu melewati lidahnya yang sedang ingin mencicipi berbagai makanan.
Namun, rasa mual datang di saat yang kurang tepat. Ia membungkuk, membekap mulutnya, lalu berlari dari sana.
"Aduh, toiletnya di mana, ya?" gumamnya dalam hati.
Di dekat pintu keluar, ia menemukan seorang pelayan, lalu menanyakan di mana letak toilet sambil menahan rasa mual yang akan meledak. Tanpa buang waktu, ia bergegas ke sana.
☘
"Ke mana perempuan itu?" gumam Logan gusar.
Sejak tadi, Logan mengelilingi seisi ballroom untuk mencari Anna. Tapi batang hidung wanita itu tidak kelihatan. Apa Anna tidak tahu, dia sangat mencemaskannya.
Aurellie yang melihatnya tampak bingung, menghampiri Logan. "Ada apa? Oh, iya. Mana Anna?"
"Itu dia! Aku lagi cari dia," decak Logan.
"Em ... Coba kamu cari di kamar mandi."
Logan langsung melakukan saran Aurellie. Ia cemas padanya karena takut terjadi sesuatu atau tersesat.
Beberapa langkah lagi, ia akan mencapai kamar mandi. Namun, tiba-tiba Nina muncul dari samping kanan lorong lain. Logan terhenyak, menghentikan langkahnya.
"Nina?" gumamnya pelan, mengernyit.
Nina mendekat, matanya menyendu dengan air mata menggenang. Lalu, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Logan, melingkarkan tangannya ke pinggangnya, tersedu dalam dekapan yang dirindukannya.
"Logan, aku tidak bisa melupakanmu, aku masih mencintaimu," lirihnya.
__ADS_1
Logan terpaku, mendengarkan dengan tak percaya. Nina menjauhkan tubuhnya, mendongak dan melingkarkan lengannya ke leher Logan. Ia berjinjit, mendekatkan wajahnya hingga jarak bibir mereka hampir dekat.
Lorong ini memang sedang sepi, tapi bukan berarti tidak ada yang menyaksikannya. Anna, berdiri di balik pintu kamar mandi, mendengar ucapan Nina, dan melihat adegan itu, kemudian ia pergi ke arah lain.[]