Matthelina

Matthelina
Chapter 34


__ADS_3

Ketika itu, sebuah janin kecil yang ada di tubuhnya baginya adalah sebuah masalah, kesengsaraan dalam hidupnya yang pahit yang harus ia lenyapkan secepatnya. Namun, waktu membuka lebar hatinya untuk menerimanya. Sesuatu yang kecil, tapi anugrah besar dari Tuhan.


Ia tak lagi tersiksa oleh keberadaannya. Ia ajak bayi itu berbicara, bercerita tentang keluh-kesahnya dan perasaannya. Membelainya dengan kasih, bahagia setiap bayi itu menendang perutnya.


Mungkin ini ganjaran baginya karena pernah berpikir untuk meniadakannya--Tuhan telah merenggutnya hari ini.


Begitu ia membuka matanya, ia sadar bahwa bayi itu sudah tidak ada. Dirabanya perutnya, rata, seperti sebelum ia mengandung.


Elina menjerit panik, "Bayiku. Di mana bayiku?" Lalu, tangispun mengiringi.


Monika dan Dewi langsung menghampirinya, yang kala itu mendengar jeritannya dari luar. Monika bergegas memeluknya, mencoba menenangkannya.


"Sabar, Elina," katanya.


"Di mana bayiku, Kak?" isak Elina.


Tidak ada yang mengatakannya. Elina sudah tahu bahwa dirinya telah kehilangan bayi itu. Dokter terpaksa mengkuret janinnya.


Elina sangat terpukul. Tak hentinya ia merenung sambil memandangi foto USG janinnya yang bulan lalu, dengan mata penuh oleh air mata. Ia juga tidak mau makan, hanya berbaring, atau kadang memandang ke luar jendela.


Malam itu, ia berjalan keluar kamar. Infusnya sudah dilepas, jadi ia bisa bebas melakukan apa pun. Langkahnya yang goyah, melangkah ke sebuah kamar tanpa penjagaan dari William, yang setiap hari datang. Meskipun begitu, ia tidak masuk ke dalam, berdiri di luar pintu, memandang ke satu arah dari sebuah kaca kecil.


Air matanya kembali berderai, melihat sosok pria yang sangat dicintainya masih belum sadar, sejak dinyatakan koma seminggu yang lalu. Tangannya menyentuh kaca jendela itu, seolah membelai Matthew dengan pedih.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga bayi kita," ucapnya tercekat karena isakan. "Kita tidak bisa memberinya nama, tidak bisa melihat rupanya, tidak bisa menggenggam tangan mungilnya. Tidak bisa...." Elina menunduk, semakin deras air matanya yang keluar.


"Tapi setidaknya, aku berharap, aku juga tidak kehilangan dirimu."


Karena seberapa sulitnya rintangan itu, seberapa kerasnya William memisahkan mereka, Elina akan tetap mempertahankan cintanya.


Tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya. Elina tersentak, apakah itu William?


Perlahan, ia menoleh. Ternyata, sosok pria tampan, yang merupakan teman Matthew yang paling terlihat ramah dibandingkan dua temannya. Pria itu menunjukkan mimik iba, seakan bersimpati padanya.


"Kenapa kau di sini? Nanti ada om William bagaimana?" katanya cemas, dengan menggunakan bahasa Inggris.


Benar yang dikatakan olehnya. Maka, Elina pergi mengikuti Kevin, yang mengajaknya ke kantin yang ada di lantai ini.


Kevin menawarkan makanan dan minuman, tapi Elina menolak. Meski tanpa persetujuannya, Kevin tetap memesankannya segelas teh hangat. Setelah itu, tidak ada; Elina terlalu sibuk dengan pikirannya, sedangkan Kevin tidak tahu harus berbicara apa.


"Bagaimana keadaanmu?" Pertanyaan yang standar, tapi tulus dari Kevin.


Elina juga tidak tahu apa keadaannya ini bisa dibilang baik, atau malah sebaliknya. Tetapi ia tetap menjawab, "Entahlah. Hidupku terasa terombang-ambing sekarang."


Jawaban itu cukup membuat mulut Kevin terkunci. Pasalnya, tidak ada lagi yang bisa dibahas karena mereka baru kali ini bertemu lagi.


"Boleh aku tanya?" Elina mendongak.


Akhirnya. Kevin senang karena sebuah topik pembicaraan tercipta di suasana canggung ini. "Silakan," ujarnya seraya mengangguk.


"Bagaimana kronologi kecelakaan Matthew terjadi?"

__ADS_1


Kevin tertegun. Bingung. Bukannya tidak tahu--semua saksi yang ia tanya telah menceritakan kejadian kecelakaan itu--tapi jika ia katakan yang sebenarnya, maka rahasia yang ia pegang harus terbongkar dari mulutnya.


"Em ... begini. Saat itu Matthew baru saja selesai menemuiku di kantor. Lalu ia pulang dengan ..." Kevin bimbang sejenak. "Mobilnya."


Elina terkejut. Mobilnya? Maksudnya Matthew punya mobil? Bukankah dia sudah tidak punya apa pun? Hanya saja, pertanyaan itu disimpannya, membiarkan Kevin melanjutkan ceritanya.


"Menurut para saksi, sebuah mobil dari arah berlawanan melaju dengan ugal-ugalan di sebuah jalan tanpa pembatas. Kemudian mobil itu menabrak mobil Matthew dari samping kemudi."


Elina bergidik. Otomatis mobil itu menabrak tubuh Matthew? Astaga!


Kevin menjadi tidak enak hati setelah melihat reaksi Elina. Tubuh gadis itu gemetar, meski tak terlihat tangisan syok, seperti yang ia lihat dari Dewi. Air mata Elina memang keluar, tapi sebisa mungkin ia tak menunjukkan secara berlebihan. Dia tampak tegar, meski hatinya sedang terguncang.


Kevin menghela napas, lalu menyeruput minumannya. Tiba-tiba ada yang membuatnya teringat akan sesuatu.


"Elina, sebaiknya kau menghindari om William. Dia sangat nekat. Mat bilang kalau ayahnya pernah mengirim mata-mata untuk mengikutimu. Jadi, sekarang kembalilah ke Jakarta."


Elina menoleh sedih. Bagaimana ia bisa meninggalkan Matthew dalam keadaan begini? Tak didengarkan ucapan Kevin itu. Namun, pada kata terakhir, Elina menoleh sembari tertegun.


"Dan mulailah hidup yang baru." Begitu ucapan terakhir Kevin.


-;-;-;-


Sehari berlalu, Elina bisa dinyatakan boleh pulang. Ia sudah bersiap memakai baju biasa, mengepak barangnya ke koper.


Menjalani hidup baru, kata itu terngiang di telinganya. Bisakah itu? Lalu Matthew?


Suara pintu terbuka, membuatnya menoleh. Ia tak merasa kaget, tapi juga heran, melihat kehadiran William ke kamarnya. Air mukanya terlihat bahagia, seakan ini adalah hari yang begitu membahagiakan.


"Waktu itu kau hebat sekali berakting tidak mengambil uangku," sindirnya. "Tapi kali ini, kau tidak perlu berpura-pura. Ambil saja uang yang kutawarkan, lalu pergi dari hidup Matthew selamanya."


Elina melirik datar pada cek yang disodorkan oleh William. Lalu, tak dihiraukannya, dan kembali melakukan pekerjaannya."


"Apa ini? Oh, kurang, ya...?"


"Simpan saja," potong Elina dingin, meletakkan kopernya ke lantai. Diliriknya William sekilas, lalu akan berjalan keluar kamar.


Tak diacuhkan? Berani sekali! William mendengus. "Elina tunggu! Apa artinya ini?"


Elina berbalik, lalu melepaskan pegangannya dari koper. Ia hampir lupa, ada satu lagi yang harus ia berikan selain dari "ketegasan".


"Ini cek 800 juta yang Anda berikan pada saya waktu itu," katanya, mengeluarkan selembar cek yang hampir lecek dari dompetnya. "Satu hal yang perlu Anda tahu, raga saya memang meninggalkannya, tapi cinta saya tetap akan bersamanya. Jadi, percuma sekeras apa pun Anda berusaha memisahkan dia dengan saya, suatu saat nanti, saya akan kembali padanya."


"Benarkah?" William tersenyum mencemooh. "Saya pastikan kamu tidak akan pernah berpikir seperti itu."


Pria itu perlahan turun dari ranjang dan berjalan mendekati Elina. Dengan penuh percaya diri, ia berkata bahwa ia bisa melakukan apa pun, bahkan menyakiti ibu dan adiknya.


Elina mendelik. Rupanya William telah mencari tahu tentang dirinya, tentang ayahnya sekalipun dia juga sudah tahu. Ia akan mengirim ayahnya untuk menyakiti ibu dan adiknya, jika Elina tidak mau menurutinya.


Matthew, ibu dan Frasya adalah orang-orang terpenting dalam hidupnya. Pria itu bisa menyakiti mereka, tanpa harus mengotori tangannya. Lantas, siapa yang harus ia pilih, sementara ia tak bisa kehilangan mereka.


William meletakkan cek dengan jumlah uang sebesar satu miliar ke tangannya. Pria itu tahu bahwa tidak ada pilihan lain, meski Elina tak memberikan persetujuan. Elina terpaku di sana, mendengarkan langkah kaki pongah pria itu, yang sedang menari-nari di atas lukanya yang menganga lebar. Sakit, pedih, sampai air mata ini tak terbendung lagi.

__ADS_1


Ditatapnya cek itu, setelah menghapus air matanya. Haruskah ia memilih ini?


-;-;-;-


Dokter hampir putus asa. Koma yang dialami oleh Matthew sudah terlalu lama. Mereka bilang tidak ada harapan, dan berniat untuk melepas semua alat bantu yang terpasang di tubuh Matthew.


Firasat hati seorang ibu selalu kuat. Ia yakin, Matthew pasti akan bangun. Ia memohon agar memberi waktu lagi, dan ia akan menyerah jika memang harapan Matthew untuk bangun dari koma sudah tidak ada lagi. Dan dokter pun menyanggupinya.


Namun, mukjizat memang ada. Setelah dua bulan terbaring di rumah sakit, jari-jari Matthew melakukan pergerakan. Dewi tersentak, saat menangis di sampingnya, sambil menggumamkan doa-doa putus asanya kepada Tuhan.


"Dokter, jarinya bergerak!" serunya girang.


Lalu, suara lirih menyebutkan nama seseorang terdengar : "Elina, Elina", sampai berkali-kali sebelum kedua matanya terbuka.


Dewi mencelus, melirik pada Monika. Iba hati ini, melihat putranya menyebut nama wanita yang tidak ada di sosoknya di sini. Bagaimana ia bisa menjelaskannya?


Maka dibiarkannya seperti itu, sampai Matthew telah diperiksa oleh dokter dan sepenuhnya pulih. Matthew terus bertanya soal Elina, tapi harus bersabar karena Dewi ingin dirinya sehat dulu.


Tetapi kali ini kesabarannya telah habis. Matthew menolak disuapi, lalu bertanya, "Ma, di mana Elina? Kenapa dia tidak ada?" Dewi akan memberinya jawaban yang sama, tapi Matthew menukas, "Ma, apa pun yang terjadi, katakan saja. Aku siap mendengarkan? Apa kandungannya baik-baik saja?"


Dewi paling tidak dapat menahan air matanya untuk keluar. Jujur, ia tak sanggup mengatakan fakta yang sebenarnya pada Matthew. Ia takut, bagaimana kelak jika hal itu diketahuinya? Pasti Matthew akan syok.


"Elina keguguran." Suara dari arah pintu membuat keduanya menoleh kaget. "Dan dia pergi entah ke mana."


Matthew tercengang tak percaya. Benarkah yang dikatakan pada William, yang saat ini sedang berjalan menghampirinya? Matthew menoleh pada ibunya untuk mendapatkan kepastian itu.


"Benarkah itu, Ma?"


Tetapi Dewi semakin menundukkan kepala dan semakin deras air matanya mengalir.


"Tentu saja," sahut William. "Dia sama sekali tidak peduli pada bayinya dan kau. Dia pergi membawa uang yang aku berikan, lalu menghilang."


"Diam kau! Berhentilah mengatakan hal buruk tentang Elina dengan mulut kotormu!" tukas Matthew gusar.


Lantas, Matthew menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang. Namun, kakinya tiba-tiba tidak bisa digerakkan, malah akhirnya ia terjatuh. Apa ini? Kenapa dengan kakinya? Gumamnya di dalam hati, panik.


Ia tak peduli jika kedua kakinya harus lumpuh, terpenting baginya sekarang adalah mencari Elina. Ia menyeret kakinya dengan kedua tangannya, sambil terus bertekad.


"Matthew, berhenti dulu sayang," kata Dewi memohon sambil menangis.


"Aku harus cari Elina, Ma."


William hanya berdiri memperhatikan tingkah bodoh anaknya, lalu menyindir, "Mau cari ke mana? Dengan keadaan seperti itu?"


Matthew tak menghiraukan, tetap bersikeras pada keinginannya meski hampir merasa putus asa.


"Matthew, sadarlah. Elina tidak mencintaimu, dia hanya mencintai dirinya sendiri dan uang," kata William lagi. "Buktinya, dia menerima uang satu miliar dariku...."


"Kubilang DIAM! JANGAN MENGATAKAN HAL ITU TENTANG ELINA!"


Dewi semakin sedih melihat anaknya, apalagi Matthew yang telah berhenti dan menangis putus asa.

__ADS_1


"Elina, kau di mana?"[]


__ADS_2