
"Cielaaah. Ada yang udah dilamar," seru Raima menggoda Elina. "Jadi, kapan rencana pernikahannya? Nanti, gue yang jadi pagar ayunya ya?"
Elina tertawa. Ada-ada saja Raima. Wanita itu begitu gembira dan tertawa mendengar proses Matthew melamar Elina. Dengan setulus hati ia mengucapkan selamat padanya.
"Nanti keluarga Matthew akan datang ke rumah untuk melakukan prosesi lamaran resmi, tapi setelah Matthew kembali dari London."
"Ngapain ke sana?" decak Raima, yang gemas karena hal sepenting itu harus tertunda.
Elina menggedikkan kedua bahunya. "Dia cuma bilang ada urusan bisnis."
Raima menyesap kopinya nikmat. Memang beda ya, minum kopi di kafe sama di warkop. Suasananya lebih tenang, dengan lagu jazz lembut memanjakan telinga, bukan lagu dangdut hasil rekaman organ tunggal. Dan lagi, ia tidak merasa kepanasan karena ada AC. Tapi harga segelas kopinya sangat mahal. Untung saja Elina yang traktir.
"Mungkin aja, dia sebenarnya bikin kejutan lagi buat lo, atau mungkin mempersiapkan pernikahan di London," celoteh Raima sambil berangan. Namun senyumnya lenyap, kala ia berkata, "Yah, kalau nikahnya di sana, gue nggak bisa datang. Nggak punya duit."
Raima ada-ada saja, Elina tergelak karenanya. "Nanti gue beliin tiket deh, ke London."
"Beneran!" seru Raima girang, dan Elina pun mengangguk.
Di kediaman Matthew, Dewi dan Monika telah mempersiapkan segala sesuatu untuk acara lamaran. Meski belum tahu kapan, yang pasti daftarnya sudah harus terlebih dahulu dibuat.
Demi kelancaran proses lamaran, Dewi sepakat dengan Monika untuk merahasiakannya dari William.
"Tapi, Ma, bisa aja papa tahu dari orang suruhannya."
Seharusnya Monika tidak bicara seperti itu. Kerut kegelisahan tampak muncul di wajah Dewi. Namun, ia tak menimpali dan mengalihkan kecemasan itu dengan kembali fokus pada daftar yang dibuatnya sembari berharap Matthew segera kembali dan menyelesaikan urusan pernikahannya dengan Elina.
-;-;-;-
Saat malam tiba, Elina menatap ke luar jendela. Mendung, awan gelap menutupi langit malam, bulan, dan bintang. Biasanya ia terlihat muram, tapi sekarang ia merasa bahagia, walau rindu ini menyiksa.
Dua hari ditinggalkan ke London. Hanya dapat memandangi wajahnya lewat video call, tak bisa merasakan sentuhan dan kecupan yang nyata.
Elina menatap layar ponselnya. Dia tidak menghubunginya. Apa dia sedang sibuk? Ia menghela napas. Pada siapa pertanyaan itu diajukan? Toh, tidak ada yang bisa menjawabnya.
Kepalanya disandarkan ke kusen jendela, merenung lagi. Tiba-tiba ia tersentak karena ponselnya bergetar di tangannya. Senyumnya terkembang, melihat nama seseorang yang sedang menari-nari dalam benaknya, muncul pada layar ponsel. Tapi kok hanya menelepon? Tidak video call seperti kemarin?
"Halo?"
"Sudah tidur?" jawab pemilik suara berat itu pada ujung telepon.
Tanpa sadar Elina menggeleng. "Belum."
"Memang sudah jam berapa? Bukannya udah malam?"
"Em ... belum ngantuk."
Terdengar suara gelak renyah. "Pasti lagi mikirin aku?"
Elina tersenyum. Iya, Matthew, Elina-mu ini sangat merindukanmu.
"Kau sedang apa?"
"Jalan-jalan. Cari angin." Sehabis Elina mengatakan "oh", keadaan sunyi sebentar. Lalu, Matthew berkata lagi, "Lagi di luar nggak?"
__ADS_1
Elina mengernyit. "Nggak, lagi di dalam kamar."
"Kalau gitu, keluar sebentar deh."
"Ngapain?" tanya Elina, merasa aneh.
"Jangan banyak tanya. Keluar aja, ke teras."
Meskipun Elina merasa ini janggal, ia tetap menuruti Matthew. Lantas, ia berjalan ke luar kamar, melewati ruang tamu yang sudah sepi.
Kini, dia sedang berada di teras rumah. Ia bingung, apa yang ingin Matthew katakan, sehingga menyuruhnya untuk ke sini.
"Sudah."
Baru saja ia berkata begitu, pagar rumahnya tiba-tiba ada yang mengetuk. Elina terkejut sejenak dan heran, siapa yang datang jam segini? Sambil mendecakkan lidah, ia membuka pintu.
Kejutan! Matthew berdiri di depannya, tersenyum menyambut Elina. Gadis itu membalas senyumannya, mematikan ponsel berbarengan dengan Matthew.
"Terkejut?" tanya Matthew.
"Em ... nggak juga sih?"
"Kecewa. Kalau begitu, mendingan besok aja aku datang ke sini."
Elina memeluk Matthew. Tadi itu sebenarnya ia memang terkejut, tapi ia berbohong karena ingin menggoda Matthew saja.
"Aku lebih senang kalau kau datang sekarang," gumam Elina lirih sambil tersenyum.
"Masa? Tapi kan, besok kita ketemu lagi di sini."
"Mau ngapain?"
"Mau jujur soal hubungan kita yang dulu sama Ibu dan Frasya," jawab Matthew. "Kamu sudah siap kan?"
Elina menggigit bibir bawahnya. Sudah beberapa hari ini ia memikirkan rencana ini, tapi keraguan terus berseru dalam hatinya. Bayangan kekecawaan yang tergambar di raut wajah adik dan ibunya menghantuinya. Belum lagi kalau Ibu sampai jatuh sakit.
Melihat respon Elina yang tertunduk sedih, Matthew mengerti bahwa hal itu sangat berat untuk dinyatakan pada Ibu dan Frasya. Matthew pun juga begitu awalnya, tapi fakta itu tak bisa ditunda, sebelum mereka mengetahuinya dari orang lain.
Matthew meletakkan tangannya di pundak Elina. "Jangan ragu lagi. Jika kau tak bisa mengatakannya pada mereka, biar aku saja menceritakannya."
Elina mendongak, matanya membulat menatap pria itu. Menanggungnya sendirian? Tidak, Elina tak akan membiarkan Matthew seperti itu.
"Aku juga akan mengatakannya," sahut Elina. "Aku tidak ragu lagi, Matthew. Sehabis pulang kerja, kita bicarakan masa lalu kita pada Ibu dan Frasya."
Matthew menghargai keputusan Elina. Oleh sebab itu, perlu sebuah hadiah untuknya, yaitu sebuah pelukan dan kecupan di kening. Semoga ini bisa menenangkan hati Elina yang tengah dilema.
-;-;-;-
William berjalan masuk ke dalam restoran untuk menemui seseorang. Sejak mendengar keputusan emosional Karenina, ia langsung membuat janji temu dengan gadis itu.
Dilihatnya gadis itu, yang dengan tenang menuangkan segelas anggur sebagai penyambutan William.
Jangankan disentuh, gelas anggur itu sama sekali tidak diliriknya. Dia duduk mengamati, baru berkata,"Apa ini? Kenapa kau memutuskan untuk menyerah?"
__ADS_1
Mata Karenina perlahan melirik padanya. Seulas senyuman dari bibir bergincu merah terulas ringan. "Bukan menyerah, tapi merelakan. Awalnya aku kapok selalu tidak diacuhkan oleh Matthew, bahkan ucapan kasarnya membakar hatiku. Tapi aku intropeksi diri, bahwa tidak baik memaksa Matthew yang hatinya telah menjadi milik orang lain." Sambil menuangkan anggur ke gelas, ia bergumam, "Semua usahaku jadi sia-sia."
William tidak menyahuti, masih mengamati, lalu menyimpulkan: anak ini berbicara dalam keadaan mabuk. Pantas saja.
Karena dirasa percuma, William beranjak dari kursinya, setelah menyesap segelas anggur yang dituangkan oleh Karenina lagi. Lalu, ia berjalan pergi tanpa mengatakan apa pun.
Benar-benar hari yang buruk! Begitu sangkanya waktu itu. Tapi ternyata bukan hanya hari itu saja yang membuat suasana hatinya bertambah kacau. Orang suruhannya melaporkan bahwa Matthew dan Elina kembali bertemu. Ia pun panik. Ponselnya yang menjadi pelampiasan kacaunya rancangan hidup William yang hampir sempurna. Benda itu teronggok di lantai, pecah dan berantakan akibat dibanting. Lalu, kursi ditendangnya.
Jika seperti ini, besar harapan bahwa cinta Matthew dan Elina akan kembali bersemi. Ia tak bisa membiarkan kehormatan keluarganya tercoreng karena gadis rendahan itu. Kareninalah yang pantas mendampingi Matthew, bukan Elina.
Maka, ia perlu membicarakan hal genting ini pada Matthew, ketika anak itu ada di London. Namun sayang, kedatangan Matthew tidak diketahui olehnya. Jadinya, ia sudah menemukan apartemen Matthew, yang sudah ditempatinya hampir dua tahun itu, dalam keadaan kosong, karena dia sudah ke Jakarta pagi itu juga.
William akhirnya menyusul ke Jakarta. Tak peduli pada peringatan Dewi yang melarangnya masuk ke rumahnya, William akan ke sana dan menginap di rumah itu. Ketika itu, ia sudah sampai di rumah, kala Matthew sudah berangkat ke kantor.
"Mana Matthew?" tanya William yang langsung main masuk saja ke dalam rumah, tanpa dipersilakan oleh Dewi.
Wanita itu mengikutinya setelah menutup pintu, dengan air muka yang terlihat jengkel. "Mau apa kau ke sini? Apa kau lupa pada etika sopan santun?"
William tak peduli. Ia menoleh dan membentak. "Mana Matthew?" Lengkingan suaranya sampai terdengar oleh Monika, yang langsung saja ke lantai bawah.
"Dia ke kantor," jawab Dewi dingin.
Pria itu sudah cukup puas mendengarnya. Tanpa mengatakan apa pun, William berjalan keluar rumah. Tadinya, ia ingin menuju ke kantor Matthew. Tetapi karena sebuah informasi baru didapatkan, ia menyuruh supir untuk melajukan mobilnya ke tempat lain.
-;-;-;-
Benar-benar tidak sabaran rupanya. Entah sejak kapan, Matthew telah menunggunya di parkiran, tepat di sebelah motor Elina. Begitu melihat pria itu, Elina langsung tersenyum dan berlari ke arah Matthew.
"Aku pikir, kau mau melakukan seperti yang ada di film--berlari ke arah kekasihnya, lalu memeluk dan menciumnya," seloroh Matthew. "Untung aja tanganku tidak direntangkan. Kalau tidak, malu aku karena kegeeran."
Elina terkekeh. "Ya, malu dong, kalau melakukan hal itu di depan umum. Disangka ada syuting film India." Kemudian, mereka sama-sama tertawa.
Jadi, ayo kita pergi menjemput kebahagiaan kita! Matthew mengulurkan tangannya, yang kemudian digenggam oleh Elina. Mereka memasuki mobil, dan Matthew melajukannya, tapi bukan langsung ke rumah Elina.
Gadis itu juga bertanya kenapa mobilnya dilajukan ke arah lain? Matthew menjawab, ia akan membeli sesuatu untuk calon mertua dan adik iparnya. Ia akan membeli buah-buahan di supermarket, dan makanan di restoran.
"Ceritanya kau ingin menyogok mereka?" canda Elina.
"Tidak," sahut Matthew langsung membantah. "Masa ke rumah calon mertua dengan tangan kosong?"
Elina mengangguk. Tak disangka begitu perhatiannya Matthew pada keluarganya. Seharusnya, ia tidak meragukan ketulusannya dulu. Kadang ia berangan, jika ia menerima lamaran Matthew saat ia hamil, apa kehidupannya bahagia seperti sekarang? Mungkinkah ada cinta yang hadir di tengah mereka?
Setelah membeli apa yang telah terpikirkan oleh Matthew, mobilpun dilajukan ke rumah Elina.
Elina membantu Matthew mengambil barang yang ada di bagasi mobil, lalu membawanya ke rumah.
Baru saja membayangkan kebahagian mereka, bahkan tawa mereka masih membekas di bibir, sebuah kejutan yang takkan pernah disangka muncul dari balik pintu rumah yang Elina buka.
Salam Elina mengambang di ujung lidah, melihat keadaan rumah yang muram. Ibu tertunduk sedih, sedangkan Frasya enggan menatapnya. Dan di sana, seorang pria setengah baya yang sangat dikenalnya, sedang duduk di hadapan Ibu dan Frasya.
Pria yang penampilannya tidak rapi, rambut acak-acakan, dan kulit keriput yang telah menghitam, menoleh padanya. "Lihatlah, anak yang selama ini kau banggakan telah pulang."
Wajah Elina memucat. Pria yang di sana itu....
__ADS_1
"Ayah?"[]