Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER DUAPULUH DELAPAN


__ADS_3

Kacau! Gosip itu menyebar, dan Matthew memberinya sebuah pilihan yang sulit.


Logan kembali ke rumah dengan wajah lelah sambil mengacak-acak rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan itu. Rencananya, ia akan mengisap sebungkus rokok malam ini untuk mengenyahkan kegalauan.


Namun, ketika ia memasuki ruang tamu, ia tertegun. Seorang wanita duduk di salah satu sofa sambil nenyesap teh. Mengetahui keberadaan Logan, wanita itu berdiri sambil tersenyum.


Logan menghela napas panjang. Elina pasti sudah mengetahui semua yang terjadi hari ini berkat Matthew. Ah! Apa tidak cukup papa yang menginterogasinya? Sekarang, mamanya juga ikutan?


"Logan, kamu bersih-bersih dulu. Mama akan menunggumu. Ada yang harus kita bicarakan sekarang," kata Elina, lembut.


"Ma," desah Logan. "Apa tidak bisa kita bicaranya besok saja?"


Elina melirik ke arah lain seraya berpikir. Jika ia bisa menahan diri untuk membicarakan hal ini, untuk apa ia datang ke sini sekalipun sudah larut?


"Mandilah dulu." Elina tersenyum. "Kita bicara sekarang."


Pasti mau membujuknya untuk menikah dengan Anna? Kalau soal itu, sepertinya Logan sudah angkat tangan.


"Ma, sebaiknya Mama bicara dengan Anna," sarannya. "Aku tidak memasalahkan lagi keputusan papa. Tapi Anna sepertinya masih tidak setuju."


"Benarkah? Kamu tahu dari mana?"


Gadis keras kepala itu diajak pulang dengan mobil mewah Logan saja tidak mau, apalagi menikah dengannya?


"Tadi aku bicara dengannya," bohong Logan.


Elina pikir, jika memang seperti itu, yang harus dilakukannya adalah menemui Anna.


🍀


Karena tidak bekerja, Anna bisa bangun siang. Kehamilan ini membuatnya jadi malas untuk melakukan apa pun.


Di rumah hanya ada Anna dan ibunya. Semua orang sudah melakukan kesibukannya seperti biasa.


Pada pukul 9 Anna baru bangun. Mama mengetuk pintu kamarnya, pasti untuk menyuruhnya sarapan. Akan tetapi, Anna tetap tidak mau beranjak.


"Anna! Bangun!" seru mamanya lagi. "Ada tamu tuh!"


Anna membuka matanya lebar-lebar, tersentak bangun. "Tamu? Siapa?" gumamnya.


Mungkin Anna lupa kalau saat ini sedang hamil, main melompat dari ranjang, berlari membuka pintu. "Siapa, Ma?"


"Nggak tahu." Mama menaikkan kedua bahunya, lalu turun ke bawah sambil berkata lagi, "Temuin orangnya, Mama buatin minum dulu."


Anna bergegas ke ruang tamu, tapi tidak ada orang. Mungkin ada di teras depan? Ya, memang ada seorang pria berseragam sopir di sana. Pria berkulit sawo matang itu berdiri dan tersenyum saat Anna muncul dari balik pintu.


"Bapak siapa?" tanya Anna tercengang.


"Saya sopir dari keluarga Jonathan. Nyonya Elina memerintahkan saya untuk membawa Anda ke kediaman keluarga Jonathan," jawab pria itu dengan senyum ramahnya.


Mata Anna membulat. Ke kediaman keluarga Jonathan? Seperti kena durian runtuh di siang hari. Tapi, ada apa, ya? Kenapa mamanya Logan mencarinya?


"Eng ... Sebentar, ya, Pak. Saya bersih-bersih dulu."


.

__ADS_1


.


.


Ini rumah atau istana? Anna memandang takjub sejak kakinya melangkah masuk ke kediaman keluarga Jonathan. Sepertinya, rumah ini banyak kamar, tetapi kenapa Logan tinggal di vila sendirian?


Anna disambut oleh seorang pelayan berusia 40 tahunan, membawanya ke ruang tamu. Ketika sampai, ia berhenti, lalu berbalik menghadapnya.


"Nyonya sedang di dapur. Nona tinggal di sini, biar saya panggilkan Nyonya," katanya.


Di dapur? Em....


"Maaf, Bu," panggil Anna, menghentikan langkah wanita itu.


"Ada apa, Nona?"


"Bisa antarkan saya ke dapur?"


Wanita itu tidak bertanya, meski penasaran dengan maksud permintaan Anna. Namun pada akhirnya, ia mengangguk setuju, lalu mengantarkannya ke tempat di mana Elina berada.


Jarak antara dapur dengan ruang tamu cukup jauh karena sangking besarnya rumah ini, bahkan dapurnya dua kali lipat dari dapur di rumahnya.


Elina saat ini sedang mengaduk sup di dalam sebuah panci. Aroma sup itu menggiurkan, rasanya Anna ingin segera mencicipinya.


"Nyonya, Nona Anna sudah datang," kata si pelayan.


Elina meletakkan sendok supnya, berbalik seraya tersenyum pada tamunya. "Halo Anna."


Anna tersenyum sopan. "Selamat pagi, Nyonya." Lantas, dihampiri Elina.


"Kamu duduk saja dulu di sana. Saya akan membersihkan diri dulu," kata Elina.


"Belum. Tapi karena kamu sudah datang, biar masakan ini pelayan saja yang menyelesaikan sisanya."


"Memangnya, Nyonya mau membicarakan soal apa?"


"Soal kamu dengan Logan," jawab Elina sambil memotong sebuah wortel yang baru dikupasnya.


Anna tercenung beberapa saat. Apa lagi yang mau dibahas?


"Soal saya?" tanyanya, lalu meraih pisau pengupas dan sebuah kentang.


"Ya, saya sudah mengetahui semuanya soal kehamilan kamu," sahut Elina, memasukkan wortel tadi ke dalam kaldu yang mendidih. "Soal pilihan kamu, apa kamu yakin sudah siap jadi ibu tunggal?"


Anna tersenyum getir. "Meskipun sulit, tapi saya akan berusaha."


"Bagaimana dengan orangtua kamu?"


Anna terhenyak. Hal itu pernah ia pikirkan, tetapi belum ada keputusan pasti akan langkah yang diambilnya. "Mereka belum tahu. Saya akan memberitahukan semuanya nanti."


Elina tak bicara lagi untuk beberapa saat, terfokus pada racikan masakannya. Namun, itu tidak lama. Sambil menumis bawang, ia berkata lagi:


"Saya dan suami dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis. Sosok ayah yang sangat mengecewakan, membuat kami tumbuh jauh dari kebahagiaan."


Udang, sayur-sayuran, lalu saus tiram dan penyedap dimasukkan dalam wajan tadi. Kemudian, Elina mengaduknya sampai rata. Napasnya dihelanya, termenung lagi sambil bercerita:

__ADS_1


"Makanya, kami bertekad untuk memberikan kebahagiaan untuk anak kami kelak. Meskipun suami sibuk, dia tetap memberi perhatian pada putra kami, menghabiskan waktu bersama, dan bergantian mengasuh. Kami berpendapat, bahwa kasih sayang dari orangtua lengkap sangat berpengaruh bagi perkembangan anak."


Elina menoleh seraya tersenyum. Dia berhasil memengaruhi Anna. Gadis itu memikirkan ucapannya, dan membandingkan kehidupannya dengan orangtua lengkap yang sama-sama memberinya kasih sayang.


Meski tumbuh jadi gadis keras kepala, Anna hidup dengan baik dan bahagia tanpa kekurangan. Namun....


"Nyonya, maaf. Saya tahu kalau Anda ingin saya menikah dengan Logan, tapi masalahnya kami berbeda keyakinan," lirih Anna.


"Keyakinan bukanlah masalah berat untuk membuat dua insan menyatu," timpal Elina.


Anna menelan air liurnya. " Tapi, sejak awal Logan tidak menginginkan anak ini."


Gerakan Elina mengaduk sup terhenti, lalu menoleh dengan tercengang.


"Anak ini hanya akan mengenalnya sebagai ayah, tetapi dia tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang darinya," gumam Anna, matanya menyendu.


Elina tidak berkata apa pun setelah mendengar ucapannya. Semua pembicaraannya dengan Anna siang ini diceritakan pada Matthew ketika mereka akan beranjak tidur.


"Bagaimana pendapat Papa?" tanya Elina.


Matthew sejak awal mendengarkan, termenung sambil berpikir. Tak disangka Anna begitu keras kepala. Tapi ia tak menyalahkan alasan Anna, karena kemungkinan hal itu pasti terjadi. Kasihan bayi itu kalau Logan tak menyayanginya.


Ia menghela napas panjang, memijat keningnya dan memejamkan mata.


"Entahlah."


🍀


Sudah hari Sabtu, biasanya rumah akan ramai karena seluruh anggota keluarga ada di rumah.


Pagi-pagi, mama sudah memasak. Anna sampai terbangun mencium aroma rendang dari lantai atas. Akhirnya, ia turun ke bawah, ingin menghampiri mamanya ke dapur.


Namun, langkahnya menuruni anak tangga terhenti. Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Elina waktu itu muncul dalam benaknya.


"Kapan aku bisa memberitahukan pada Mama dan Ayah? Aku takut, penyakit Mama akan kambuh karena syok mendengar kehamilanku."


Air mata menggenangi pelupuk matanya. Entah mengapa ia jadi secengeng begini? Bahkan, bergelayut manja, memeluk mamanya dari belakang.


"Anna!" seru mama, tersentak. "Bikin kaget Mama aja."


Anna terdiam beberapa saat. Percuma menyeka air matanya, kalau menggenang lagi di matanya.


"Ma ...," lirihnya kemudian.


"Hmm...."


"Ma ... af." Suaranya tiba-tiba tercekat karena isakan yang ditahannya.


"Ngomong apa sih?" protes wanita itu, jengkel.


"Nggak ada." Anna buru-buru menjauh, mengelap air matanya, dan berusaha bersikap biasa.


Adnan tergesa-gesa memasuki dapur, membuat mama dan Anna tercengang.


"Ma, Kak. Ada tamu."

__ADS_1


Tamu? Di pagi ini? Setelah mematikan kompor, Anna dan mama keluar dapur menuju ruang tamu. Di sana ayah dan Tasya sedang duduk berhadapan dengan Tuan dan Nyonya Jonathan, serta Logan.


Jantung Anna berdetak tak keruan, sampai rasanya ingin copot. Kedatangan mereka merisaukan hatinya, meski belum tahu apa tujuan mereka.[]


__ADS_2