Matthelina

Matthelina
[SEASON 2] CHAPTER TIGAPULUH SEMBILAN


__ADS_3

Seperti itukah perasaan seorang ibu? Anna termenung di kamar, mengingat cerita Elina yang kehilangan anak dengan tragis.


 


 


Lalu, ia mengelus perutnya yang masih rata dengan lembut, berujar lirih, "Mungkin, aku juga seperti itu jika aku kehilangan bayi ini."


 


 


Ngomong-ngomong, mulutnya ingin sekali minum sesuatu yang manis dan segar. Lantas, ia melangkah ke dapur, melihat-lihat isi kulkas.


 


 


"Bagus! Ada buah, sirup, dan susu kental manis," gumamnya sambil mengeluarkan buah naga dari kulkas.


 


 


Seorang pelayan rumah ini tertegun, menghampirinya sambil bertanya, "Nyonya Muda ingin buat apa?"


 


 


Anna menoleh dan tersenyum. "Buat sop buah."


 


 


"Biar saya buatkan."


 


 


"Tidak, saya bisa membuatnya sendiri. Tapi kalau Bibi mau bantu, boleh saja."


 


 


Wanita yang berumur sekitar 40 tahunan itu mulai mengambil buah-buahan, mengupasnya, dan membantu memotongnya berbentuk dadu.


 


 


Suara pintu rumah berbunyi, kedua wanita itu sama-sama menoleh. Si pelayan meletakkan buah sambil meminta izin untuk membuka pintu, lalu ia bergegas mencuci tangan dan berlari ke luar.


 


 


Yang muncul ada Logan. Pria itu memberikan tas kerjanya pada pelayan, lalu bertanya, "Anna di mana?"


 


 


"Di dapur, Tuan," jawab pelayan itu.


 


 


Dapur? Logan mengernyit. "Apa yang dia masak sore-sore begini?"


 


 


"Nyonya hanya membuat sop buah, Tuan."


 


 


Entah dia sadar atau tidak, Logan jadi penasaran lalu menghampiri wanita itu ke dapur. Anna yang tengah menuangkan sirup ke mangkuk berisi potongan buah-buahan, menoleh begitu menyadari kemunculan Logan.

__ADS_1


 


 


"Buat apa kamu repot-repot membuatnya?" seru pria itu, tampak tidak senang. "Kamu bisa telepon aku, dan memintanya."


 


 


Anna menggerutu. Baru saja datang, tapi pria itu sudah mengomel. "Aku sedang ngidam membuat minuman ini sendiri."


 


 


"Ha! Bayi itu rewel sekali! Hampir setiap hari mengidam."


 


 


"Itu wajar," sahut Anna.


 


 


Logan menyeret semangkok sop buah yang baru siap disajikan. Mata Anna langsung nyalang memprotes.


 


 


"Itu bukan buat kamu!" tegurnya.


 


 


Logan tak peduli. Melihat minuman ini, membuatnya kepingin juga untuk memakannya. "Buat satu lagi."


 


 


 


 


"Memang apa bedanya?"


 


 


"Em ... Ya, cuma aku memasukkan esnya sedikit," jawab Anna, suaranya memelan.


 


 


"Pantas saja." Logan menyendokkan beberapa keping es yang ada di  dalam mangkok putih, lalu memasukkannya ke mangkok sop buahnya.


 


 


Anna tak habis pikir. Tadi pria ini memarahinya, tapi dia justru menghabiskan sop buah buatannya. Kadang, sifat pria ini agak aneh. Akan tetapi....


 


 


Ia tersenyum menatap Logan lamat, hingga jadi lamunan tanpa menyadari Logan menoleh padanya. Ia tersentak, menjadi salah tingkah.


 


 


"Kenapa kamu menatapku?" tanya Logan.


 


 

__ADS_1


Alih-alih menjawab, Anna berdalih menyiapkan sop buah untuk menyembunyikan pipinya yang merah.


 


 


Logan tersenyum mencemooh. "Jujur saja, kamu terpesona padaku, 'kan?"


 


 


Anna berhenti menuangkan sirup ke dalam mangkok, terhenyak.


 


 


"Aku tidak heran. Wanita keras sok jual mahal sepertimu tidak bisa menolak ketampanan dan kharismaku," ujar Logan membanggakan diri.


 


 


Anna meletakkan botol sirup di atas meja dengan agak keras, lalu mendengus. "Ngomong aja sama tembok," sindirnya.


 


 


"Apa?" sahut Logan langsung.


 


 


"Udah selesai makannya? Nih, antarkan ke mama!"


 


 


Anna menyodorkan mangkok itu pada Logan. Pria itu tersinggung, tersenyum sinis.


 


 


"Ah, sumpah!"


 


 


"Aku tahu sop buah buatanku enak, tapi itu buat mama. Jadi, bagian mama jangan diembat juga, ya."


 


 


Anna lagi- lagi menyindirnya? Dan siapa perempuan ini, sembarangan menyuruhnya? Namun, pada akhirnya ia ambil juga mangkok itu dari tangan Anna.


 


 


"Oh, aku belum kasih penilaian sop buahmu ini. Mau dengar?" kata Logan jengkel tapi tetap bernada dingin. "Rasanya tidak enak."


 


 


Pria itu pergi dari hadapannya. Anna mendengus, melirik mangkok kosong bekas Logan makan tadi.


 


 


"Bilangnya nggak enak, tapi tetap saja habis. Dasar!"[]


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2