Matthelina

Matthelina
[Season 2] Chapter 2


__ADS_3

Anna tersenyum menuju mobilnya sambil menenteng kantong plastik putih berisi makanan. Ponselnya berbunyi, ia tertegun.


"Ranti?" gumamnya, tersenyum riang. Lalu, ia mengangkat teleponnya. "Halo, Raima?"


"Halo, An," sahut seorang wanita di seberang sana. Terdengar suara bayi yang sedang menangis.


"Dito bangun tuh!" kata Anna.


"Sebentar-sebentar. Jangan ditutup dulu," kata Ranti buru-buru, sepertinya meletakkan ponselnya dulu, baru menghampiri anaknya.


Ketika Anna sampai di dekat mobil dan membuka pintunya, terdengar suara sahutan Ranti di ponselnya.


"Halo, An. Lo lagi di mana?"


"Kencan buta di resto," jawab Anna, agak berbisik.


"Dijodohin lagi?" tanya Ranti.


"Ya, gitu deh." Anna masuk ke dalam mobil.


"Terus, gimana?" tanya Ranti, terdengar antusias. "Cocok, nggak, sama lo?"


"Nggak," sahut Anna cepat. Dan sebelum Ranti bertanya soal hal umum, ia lebih dulu menjawab, "Bukannya dia nggak ganteng, dan dia juga lumayan mapan sih. Tapi dia nggak lulus tes."


Tes? Awalnya Ranti mengernyit bingung, tapi kini ia mulai mengerti. Apalagi, setelah mengingat sesuatu.


"Oh. Pantes tadi waktu aku telepon, kamu bilang aku 'pak'. Jadi, kamu kerjain dia lagi?" ujarnya agak berseru.


"Yap!" sahut Anna riang.


"Aduh, ada-ada kerjaan lo. Emak lo bakal marah lagi nanti," tegur Ranti, mulai ribut lagi ala ibu-ibu.


Anna terkekeh. "Lo nggak usah khawatirin gue. Urusin aja baby Dito. Gue bisa memadamkan amarah ibu gue."


Ranti hanya bisa menghela napas. Susah memang ngomongin cewek yang hidupnya "semau gue". Apa dia tidak ingat umur? Mau sampai kapan melajang, Sis?


"Eh, ngomong-ngomong. Lo masih di resto?" Jadinya, Ranti mengalihkan topik.


"Lagi di mobil," jawab Anna. "Nggak bagus, 'kan kalau naik mobil sambil menelepon?"


Walau begitu, Ranti suka dengan sifat bijak Anna yang datangnya kadang-kadang.


"Ya, udah. Nanti aja telepon gue lagi. Lo balik deh." sarannya.


"Oke!"


Baru saja ia akan menghidupkan mesim mobil, ponselnya berdering lagi. Ia berdecak. "Siapa sih yang telepon?" Setelah melihat nama adiknya yang tertera di layar, diangkatnya telepon itu. "Iya. Ada apa, Sya?"


"Kak, ini gue Adnan," jawab seseorang, alih-alih suara adik perempuan Anna.


Anna mengernyit heran, lalu melihat layar ponselnya. "Mana kakak lo? Kok lo yang angkat?"

__ADS_1


Bocah itu terkekeh. "Emang gue yang telepon. Habis, lo nggak pernah angkat telepon dari gue."


"Dan sekarang, gue juga akan tutup teleponnya—"


"Eh ... jangan dong, Kak!" sahut Adnan cepat. "Ini penting nih."


Anna menghela napas, menyerah. "Ya, udah cepetan mau ngomong apa?"


"Kakak masih di resto MC?"


"Iya, kenapa emang?"


"Beliin gue chicken sandwich itu dong?" pinta Adnan memelas.


"Gue udah bungkusin beef burger double cheese nih," decak Anna.


"Iih, tapi gue maunya yang itu. Burger-nya buat kak Tasya aja." Adnan bersikeras. "Ayolah, Kak. Beliin, ya. Kakak cantik, baik, nggak pelit lagi. Pokoknya, Kak Elin paling best deh!"


Kalau sudah maunya, Adnan ini pasti susah dibujuk, malah orang lain yang dia bujuk untuk menuruti keinginannya. Dasar!


"Anak siapa sih lo?" gerutu Anna, pelan. "Iya, gue beliin."


Sorak riang mengakhiri telepon itu. Anna keluar dari mobil dengan sedikit kesal, yang akhirnya kalah karena rasa sayang ke adik bungsunya itu.


Baru ia akan menyentuh gagang pintu, seorang pria membuka pintu restoran dari dalam. Ia terkejut sekejab, lalu bergeser ketika pria berbadan tinggi itu melintas di depannya.


Anna menoleh sebentar pada pria itu, kemudian masuk ke dalam restoran. Namun, tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang wanita yang sedang berseru memanggil seseorang sambil terisak. Tanpa bisa dihindari, ia bertabrakan dengan gadis itu.


"I ... iya. Nggak apa-apa kok," balas Anna kikuk.


Setelah itu, gadis tadi berlari keluar. Mungkin, mengejar pria itu? Pasalnya, Elina melihat raut wajah pria tadi dalam keadaan marah.


Begini nih, hal yang tidak disukai oleh Anna dalam berpacaran. Bertengkar memang biasa. Tapi kalau sama pasangan yang ribet dan egois, cuma capek hati, stress, dan lainnya. Makanya, menurutnya enaknya menjomblo.


Anna terkesiap. "Eh, kenapa malah ngurusin orang sih?" gumamnya.


Baru akan melangkah, tak sengaja ia menoleh ke bawah dan menemukan sesuatu. Iapun jongkok, meraih ke sebuah benda itu—sebuah kalung emas putih liontin batu rubi berbentuk hati.


"Punya siapa ini ...," kemudian, ia mendelik. "Jangan-jangan punya Mbak yang tadi?"


Anna bergegas berlari keluar, berharap menemukan perempuan yang menabraknya tadi. Namun, sia-sia, wanita itu tidak di manapun, setelah ia mencari di sekitar restoran.


Akhirnya, ia melaporkan pada manager restoran soal ini. Namun, kalung itu tidak diberikan pada mereka, malah ia memberikan nomer ponselnya agar si pemilik kalung menghubunginya.


🍀


"Wah," kata Tasya, terpesona melihat kalung temuan, yang langsung Anna ceritakan padanya. Gadis itu menoleh pada kakaknya, dan bertanya, "Pasti kalungnya mahal?"


Anna menaikkan kedua bahunya. "Mungkin. Makanya, gue yang simpan. Takutnya, mereka malah menjualnya."


"Hem ... segitu skeptisnya lo sama orang?" komentar Anna sambil memangku bantal guling yang tadi diraihnya.

__ADS_1


"Di jaman sekarang ini, sulit bisa percaya sama orang," timpal Anna.


"Jadi, lo nggak pernah percaya sama gue dong?" sahut Tasya, niatnya cuma mau jahil.


"Itu lain cerita, Sya."


Tasya mengangguk, puas dengan jawaban Anna. "Terus, mau lo apain tuh kalung, kalau pemiliknya nggak nyariin?"


Anna memandang kalung yang ada di dalam genggamannya, termenung mencari jawaban. Lalu, ia berucap lirih, "Nggak tahu deh. Mungkin mau gue gadai buat beli hp baru."


"Yeeee!" seru Tasya sambil menepuk pelan lengan Elina. "Punya orang tahu."


"Biarin. Kan kata lo kalo orangnya nggak nyariin."


"Ya ... kalo ini kalung emas putih benaran. Kalau imitasi, gimana?"


"Ya, gue pake dong," sahut Anna, jail.


.


.


.


Anna tiduran di kamar, termenung sambil menatap laman e-mail yang kosong oleh pesan baru.


"Apa gue ditolak, ya?" gumam Anna, lalu menghela napas dan meletakkan ponselnya di ranjang.


Disandarkan kepalanya di atas bantal, tengkurap, lalu kemudian termenung memikirkan sesuatu.


Sudah sepuluh hari di Jakarta, menganggur, jadi kaum rebahan—" Ia terhenyak, lalu sekonyong-konyong beranjak dari pembaringan. "Oh, iya. Kalung!"


Anna memeriksa ponselnya, mencari pesan atau telepon masuk yang tak disadarinya selama 2 hari ini.


Nihil. Hanya telepon dari nomer yang ada di kontaknya, dan pesan yang kebanyakan dikirim oleh operator.


"Nggak ada. Apa orang itu nggak nyariin?" gumamnya menduga. "Atau jangan-jangan, ini kalung palsu?"


Selang sedetik kemudian, sebuah notifikasi masuk. Sebuah e-mail!


Anna langsung menyambar ponselnya, dengan riang dan penuh harap, membuka pesan itu. Benar, dari perusahaan yang ia ajukan lamarannya sebelum ia kembali dari Singapura.


Dibacanya pesan itu. Lama-lama, senyumnya terkembang lebar. "Yes! Gue diterima kerja!" serunya senang.


Kemudian, ia mendengar suara gaduh seperti teriakan dari lantai bawah. Ia mengernyit dan bergumam, "Mama ngapain panggil-panggil aku?"


Anna menghampiri pintu, hendak turun ke bawah. Namun, baru akan membukanya, tiba-tiba pintunya diketuk. Lantas, ia membuka pintu, dan muncullah Tasya yang ekspresinya tampak cemas.


"Kenapa lo, Sya?" tanya Anna, mengernyit heran.


"Kak, gawat! Mama marah besar sama lo," kata Tasya, setengah berbisik, ngeri.

__ADS_1


Anna termenung, cemas. Bakal kena omel lagi kayaknya.[]


__ADS_2