
Malam yang panjang (part 2)
“Ini kamarnya,” kata Kevin.
Ketiga pria itu mengantarkan Elina ke depan kamar 107. Elina mengangguk, setelah Kevin memberitahukan bahwa pria yang akan dilayaninya ada di kamar itu.
Elina lega karena bukan mereka bertiga yang ia layani. Akan tetapi, ia tetap merasa gugup. Takutnya, pria yang dilayaninya bukan orang yang baik. Raima pernah bercerita, pria yang dilayani olehnya memiliki sifat yang berbeda-beda. Ada yang baik, dan ada yang sifatnya kasar. Hanya satu hal yang sama, yaitu berahi mereka yang besar.
Memikirkannya saja Elina sudah cemas. Tangannya yang berkeringat meraih gagang pintu, lalu diputarnya perlahan. Bukannya langsung masuk, ia mengintip keadaan di sekitar kamar dulu. Sepi, tidak ada siapapun.
Suara pintu tertutup membuatnya terlonjak. Mentalnya yang ciut mulai muncul, ia masih bergeming dan gemetaran di sana.
Namun ia ingat, tubuhnya telah dibayar, dan sekarang adalah waktunya untuk melakukan tugasnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, Elina harus berani berjalan ke dalam kamar itu, menemui pria yang akan dilayaninya.
Perlahan, Elina berjalan menuju bilik yang mengarah ke ranjang. Ah! Sontak, ia menoleh dan menutup mata. Di ranjang itu, ada seorang pria tanpa busana sambil berbaring.
“Tuan, saya Elina. Saya ke sini untuk melayani Anda,” kata Elina terbata, masih memalingkan wajah.
Tidak ada respon, tidak ada jawaban. Maka, Elina melirik sedikit pada pria itu. Masih dalam posisi yang sama. Ada apa dengan pria itu? Apa dia mati?
Benar! Elina mendengar bahwa dua pria asing yang membawanya mengatakan bahwa pria ini dicekoki obat.
Ini berarti pria itu keracunan, atau lebih tepatnya overdosis. Tidak, jangan-jangan ketiga pria itu mencoba untuk menjebaknya, dengan menjadikannya sebagai pembunuh pria ini.
Elina bingung, entah harus bagaimana. Yang lebih gawatnya, pintu kamar ini terkunci! Ya, Tuhan, sial sekali nasibnya.
Dalam keadaan panik begini, ia harus menghubungi seseorang. Raima! Cuma dia yang bisa membantu. Tapi celakanya, ponselnya tidak ada di dalam dompet yang dibawanya.
Elina terduduk lemas di ranjang, menangis. Nasibnya yang buruk—ditinggalkan berdua dengan sebuah mayat, dan sebentar lagi akan dipenjara atas kesalahan yang tidak ia perbuat.
“Maafkan aku Ibu, Frasya. Mungkin akibat keputusanku yang bodoh, makanya aku terjebak seperti ini,” isaknya.
Elina menunduk, lalu mengusap air matanya dengan punggung tangan. Tiba-tiba, ia merasakan pinggangnya dipeluk dari belakang. Embusan napas yang tak beraturan menghela kulit lehernya.
Ia membeku, sekaligus bingung. Bahkan, ia tak berani menoleh, hanya melirik. Biarpun tidak terlihat jelas, ia yakin bahwa pria itu yang sedang menjamah tubuhnya.
Elina mengeluh pelan, kala sebuah ciuman terasa di lehernya. Tangan pria itu mulai menyusup ke dalam bajunya, mengusap lembut ke area sensitifnya.
Sentuhan ini membuat darah Elina berdesir, melupakan sejenak ketakutannya, dan tanpa sadar menikmatinya. Bahkan, ia tak ragu, ketika pria itu merebahkan tubuhnya ke ranjang.
Namun, disitulah Elina kembali takut, saat menatap wajah tampan pria berdarah campuran itu. Mata pria itu setengah terbuka? Mungkin ini reaksi obat yang diberikan oleh ketiga pria tadi? Jadi pria ini tidak mati, melainkan tak sadarkan diri karena pengaruh obat.
Elina terpana. Kedua tangannya *** selimut putih, gugup. Pria itu akan melumat habis dirinya dalam berahi yang tak tertahankan. Raima bilang, itulah reaksi obat kuat.
Lihatlah, bagaimana pria asing itu mencium bibir Elina dengan penuh nafsu, tangannya begitu agresif menyentuh dan membuka seluruh benda yang menempel di tubuh Elina, lalu melemparkannya ke sembarang tempat.
Spontan Elina menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. Karena sudah dipengaruhi oleh nafsu, pria itu menyingkirkan tangannya, lalu menyergap kedua tangan Elina.
__ADS_1
Detak jantung Elina semakin kencang, gugup karena hal yang selama ini tidak diinginkannya akan terjadi sebentar lagi. Jari-jarinya menggenggam kuat jari-jari pria itu, perlahan memejamkan mata. Pasrah, menyerahkan seluruh tubuhnya untuk pria ini.
Diawali oleh ciuman, tubuh mereka menyatu lebih intim lagi. Elina hanya dapat mengikuti permainan panas pria itu, meski ia tak ingin. Tangis dan rintih kesakitan mengiringinya melewati malam yang panjang ini.
Air mata mengalir, bersamaan dengan suara lirih penyesalan di dalam hati.
Maafkan aku, Ibu.
-;-;-;-
Pengecut, brengsek, dan segala umpatan diucapkan setelah Franz membaca sebuah pesan tertulis yang diletakkan di atas nakas kamar Fritz.
Sial, pria itu pergi sebelum matahari terbit. Fritz menyerahkan soal Matthew pada Kevin dan Franz, kembali ke Inggris dengan alasan “ada urusan mendadak”.
“Bilang saja kalau dia takut jika Matthew marah,” kata Franz geram, duduk di sofa dengan surat yang telah diremas olehnya. Lalu, ia mengacak rambutnya dengan frustasi, menatap Kevin. “Sekarang bagaimana?”
Kevin berjalan mendekat, berpikir keras. “Aku sendiri juga tidak tahu. Mau tidak mau, kita harus menghadapinya. Lagi pula, ini ide kita. Jika kita jelaskan alasannya, Matthew pasti mengerti.”
Ucapan yang seperti itu tidak akan menghilangkan keresahan Franz. Kevin membujuknya untuk tenang dulu, baru memikirkan cara yang tepat untuk mengatasi Matthew. Akhirnya, Franz mengangguk, menyetujui saran Kevin.
“Yuk, kita sarapan di restoran,” ajak Kevin. “Matthew pasti masih tidur jam segini.”
-;-;-;-
Suara dering ponsel membangun Matthew. Tangannya meraba nakas, mencari ponselnya. Tetapi sebelum ditemukan, suara deringnya telah mati.
Ia tersentak melihat jam yang tertera pada layar ponsel. Baru kali ini, ia bangun pada jam 10 pagi.
“Aduh.” Spontan, Matthew memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Kejadian tadi malam, kenapa ia tak bisa mengingatnya? Yang ia ingat, ia sedang minum di sebuah klub malam, sehabis itu … entahlah, ia tak tahu lagi apa yang terjadi.
Lantas, ia beranjak dari tempat tidur, memungut pakaiannya di lantai. Tanpa sengaja, matanya terfokus pada setitik noda merah yang ada di seprai putih itu. Ia mendekat, melihat dengan seksama.
“Darah?” gumamnya.
Apa dia terluka? Seingatnya, tadi malam ia tidak berkelahi maupun kecelakaan. Setelah diperiksa, di tubuhnya tidak ditemukan bekas luka. Jadi, noda apa itu?
Matthew semakin bingung. Ia akan melangkah ke kamar mandi. Akan tetapi, sebuah benda terinjak olehnya. Diambilnya benda itu, dan diperhatikannya.
Sebuah kalung emas putih berliontin bintang, yang di tengahnya terdapat sebuah huruf “E”. Tentu saja, ini pasti bukan miliknya, juga bukan milik ketiga temannya. Apa ini milik pelayan hotel?
Ya, sudahlah. Ia tidak mau ambil pusing. Ia akan meminta staf hotel untuk mencari tahu nanti, setelah ia mandi dan sarapan.
Saat tubuhnya dibasahi oleh air dari shower, ada hal lain yang baru disadarinya. Tubuhnya tercium aroma manis yang bercampur dengan aroma parfumnya. Ini seperti aroma parfum wanita.
Matthew mematikan keran. Ada keganjilan, dan itu baru disadarinya setelah menemukan hal-hal aneh di dalam kamarnya pagi ini. Pasti ada sebuah kejadian yang ia lewatkan tadi malam. Apa mungkin ada hubungannya dengan kalung berinisial “E”?
__ADS_1
“Tidak mungkin. Tidak mungkin,” gumamnya cemas.
Pasti salah. Tidak mungkin ia melakukan sesuatu yang sedang ia pikirkan saat ini. Ia memegangi kepalanya, mencoba mengingatnya dengan keras.
“Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak mengingat apa pun?” gumamnya geram.
Kemudian, ia mendelik dan termenung. Perlahan, tangannya diturunkan dari kepalanya. Rasanya, tubuhnya seakan melemas, lalu bersandar pada dinding kamar mandi. Pandangannya kosong beberapa saat, sebelum ekspresi wajahnya berubah seperti seseorang yang sedang menyesali sesuatu.
-;-;-;-
Sebuah ketukan pintu mengganggu Raima yang sedang tertidur. Diliriknya jam dinding yang ada di ruang tamu. Jam 7 pagi? Siapa yang datang pada jam segini?
Meskipun kesal, ia tetap membuka pintu untuk orang itu. Ia menguap; tapi begitu melihat Elina yang muncul, Raima langsung terkejut.
“Elin?”
Raima melihat penampilan Elina dari atas ke bawah; gaunnya kusut, wajah Elina terlihat lelah dan kuyu, tak memakai alas kaki—Elina menenteng sepatu heels berwarna merah itu.
Apa kedua pria itu memperkosanya? Kenapa Elina sampai seperti ini? Namun, semua pertanyaan itu disimpannya. Raima bergegas membawa Elina masuk ke dalam rumahnya.
Secangkir teh hangat, hanya itu yang ditawarkan oleh Raima. Elina membutuhkan minuman itu untuk menenangkan diri. Ia tidak bisa membelikan Elina makanan karena ia belum mandi.
Elina sendiri tidak masalah, sekalipun Raima hanya menyuguhkannya air putih. Kedatangannya adalah untuk mengambil pakaiannya yang tertinggal. Ia akan memakainya sekalian di sini, karena tidak mungkin ia pulang dengan gaun seseksi itu.
“Jadi, apa yang terjadi? Apa mereka berbuat kasar? Apa mereka memaksa dan memperkosa lo?” Raima langsung mencecar, setelah Elina menyesap tehnya.
Elina tercengang sejenak. Mereka? Apa maksud Raima, kalau ia melayani dua pria bule itu? “Nggak. Gue cuma melayani seorang pria. Dia teman ketiga orang asing itu.”
Raima langsung merasa lega mendengarnya, tapi ia mengernyit saat Elina bilang: “Ketiga orang asing?” tanyanya mengulang.
Elina mengangguk. “Iya. Dan dia—” Sekelebat bayangan kejadian pada malam itu terlintas dipikirannya.
“Dia kenapa?” tanya Raima, rupanya sangat penasaran.
“Dia … ganteng banget,” goda Elina, diam-diam tersenyum di balik gelasnya.
“Ah, Elina!” seru Raima merajuk.
-;-;-;-
Hari menjelang sore, Kevin dan Franz keliling Jakarta tanpa Matthew. Tempat-tempat yang mereka kunjungi, rupanya membuat mereka melupakan kecemasan yang mendera tadi pagi.
Mereka berbincang dan mengomentari beberapa sebuah tempat wisata sambil berjalan menuju kamar Franz.
“Minum dulu, yuk, di kamarku,” ajak Franz, membuka pintu kamarnya.
Kevin mengangguk setuju. Merekapun masuk ke dalam kamar yang gelap. Franz meraba dinding, mencari tombol lampu. Seketika ruangan menjadi terang, setelah Franz menekan tombolnya.
__ADS_1
Namun mereka mendelik, menemukan seorang pria tengah duduk di sofa tunggal, sedang memegang segelas wine di tangan kanannya. Senyuman misteriusnya mengerikan, membuat Kevin dan Franz bergidik.
“Dari mana saja kalian?”[]