
AC mobil sudah diturunkan, Matthew tak lagi bersedekap. Air yang turun dari awan hitam semakin deras. Matanya terpejam.
Di bawah hujan, ia melamar Elina. Ciuman adalah tanda bahwa wanita itu menerima lamarannya dan cintanya. Melayang rasanya saat itu, seperti terbang oleh sayap harapan yang indah.
Suara dering ponsel membuatnya seketika membuka mata. Tanpa melihat nomor si penelepon, Matthew meletakkan ponselnya di dekat teliganya.
"Matt, kau masih di jalankan?" Tanpa bilang "halo" Monika langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Hmm...," jawab Matthew singkat, dengan malas. Kalau begini, biasanya ada sesuatu.
Tuh, kan, memang benar. Monika menyuruhnya membelikan sekaleng besar susu untuk Justin. "Aku lupa beli tadi." Sekarang ia memelas, mencoba membujuk Matthew.
Matthew menghela napas. "Baiklah."
"Oke. Kau tahu merknya apa, kan?"
"Iya."
Monika mengucapkan "terima kasih" dengan riang, lalu menutup teleponnya. Kakaknya itu sering sekali merepotkannya, walaupun ia tidak bisa menolak. Demi keponakannya, ia terpaksa menyuruh Pak Rano untuk melajukan mobil ke supermarket terdekat.
Saat ini, hanya ada sebuah mall yang dekat di sekitar daerah ini. Dan Pak Rano memilih mall itu sebagai tujuan mereka, lalu menurunkan majikannya di dalam gedung yang tidak terlalu tinggi itu.
Matthew berjalan santai ke lantai bawah yang begitu ramai oleh ibu-ibu dan anaknya. Itu tidak mengherankan, setiap bulan pasti wanita akan membeli keperluan rumah tangga, semisal susu.
Tanpa harus bertanya, Matthew sudah tahu di mana rak susu untuk balita. Tempatnya bersebelahan dengan rak susu untuk wanita hamil, di mana ia berdiri saat ini.
Dulu, ia begitu girang saat membeli sekotak susu hamil untuk Elina. Ia meneliti beberapa merk susu, sampai menanyakan merk susu terbaik pada pelayan. Ia tersenyum, menemukan satu merk susu, yang akan membuat Elina dan bayinya sehat jika meminumnya. Langsung saja ia berjalan ke kasir, membayarnya, dan bergegas pulang, agar ia bisa membuatkan susu itu untuk Elina.
Susu dengan kotak berwarna dasar putih, ada aksen warna ungu pada merknya yang seluruh hurufnya kapital. Sejak tadi, pandangan sendu nan memilukan tertuju pada benda itu. Diiringi oleh kilas balik yang mengiris hatinya yang semakin perih.
Tak ia sadari, bahwa takdir sedang menuntunnya. Wanita yang amat dicintai ada di balik rak itu, sedang mencari sekotak susu untuk dibelinya. Hatinya juga membantunya untuk menunjukkan arah cintanya berada. Perasaan yang begitu kuat, membuatnya merasakan kehadiran Elina.
Jantungnya berdegup kencang. Sangat tak biasa. Apa ini? Pikirannya langsung tertuju pada Elina. Namun, semua itu buru-buru diabaikan. Paling halusinasi lagi. Gumamnya dalam hati.
Walau perasaan itu masih menggelayut di benakknya, Matthew tetap berjalan ke rak susu bayi dengan penasaran. Dihelanya napas lelah, Tuhan mengujinya lagi. Mana mungkin Elina ada di sini. Wanita itu pasti sedang berada di kota lain. Sebab, selama dua tahun, jejak Elina tak ditemukan di Jakarta.
"Maaf, Mbak. Di mana rak vitamin rambut ya?"
Matthew menoleh, tertengun. Suara lembut itu--meski kecil--tapi sangat familiar di telinganya. Elina, kau kah itu?
Suara itu tak terdengar lagi, tapi hatinya tergerak untuk melangkahkan kakinya menuju ke sumber suara itu berasal. Di samping rak untuk kebutuhan pria, di sanalah suaranya terdengar.
Ia hampir sampai ke sana. Tetapi tidak ditemukan seorang pun, ketika ia berdiri di dekat tempat itu. Matthew menyingkapkan poninya, frustasi. Meskipun begitu, harapannya belum pupus. Ia kembali berjalan ke tempat lain, dan ketika putus asa melanda, ia berseru, "Elina!"
-;-;-;-
"Kak Elina!"
Ternyata yang berseru bukan 'dia', melainkan Frasya. Gadis itu berjingkat girang menghampirinya sambil membawa kereta belanjaan yang penuh dengan bahan-bahan pesanan ibu.
Wajahnya seketika diubah dari wajah penuh kemurungan, menjadi wajah dengan senyuman yang sangat cerah.
"Aku udah. Kakak?" Frasya melongok ke kereta belanjaan Elina. Udah semua kayaknya. "Yuk, bayar ke kasir."
"Tapi aku mau beli vitamin rambut."
"Ya, udah. Aku antre duluan di kasir sebelah sana, ya?"
Elina mengangguk, setelah itu Frasya mendorong kereta belanjaannya ke kasir.
Antre banget! Keluh Frasya. Saat ini, ia tengah berada di barisan belakang. Tangannya mengenggam erat pegangan keranjang, menghela napas tak sabar berkali-kali, sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
Di samping kasir ini, tempatnya lumayan banyak. Hanya saja, bukan itu yang membuat Frasya memusatkan perhatiannya pada tempat kasir sebelah. Seorang pria bule tampan, yang ia pikir hanya Kevin saja pria bule yang memiliki ketampanan memikat. Dia lebih tampan; dengan setelan jas berwarna krem, rambut acak-acakan--yang justru tidak mengurangi ketampanannya--tapi saat melihat barang belanjaanya, Frasya merutuk ilfil. Susu bayi?
Frasya menoleh pandangan, remeh. "Udah punya anak rupanya.
Gadis yang memiliki tinggi badan setara dengan Elina itu tidak tahu, bahwa pria itu adalah orang yang paling kakaknya tunggu, yang namanya selalu disebut dalam setiap doanya, dan memimpikannya.
__ADS_1
Barisan kasir di sebelah bergerak maju. Matthew pun telah keluar dari barisan, berbarengan dengan datangnya Elina yang menghampiri Frasya. Mungkin karena dorongan hati, mata Elina tak sengaja menoleh pada punggung kekar berjas krem yang telah menjauh itu. Bedanya, kali ini keyakinannya tak sejalan dengan hatinya. Pikirannya telah lelah mengikuti nalurinya akan hadirnya pria itu di tempat ini.
Biar saja. Mau dia atau bukan, ia akan terus bersabar. Celengan rindunya telah penuh. Tuhan pasti tidak akan mengingkari umatnya dan mengabulkan doanya. Suatu saat nanti, kerinduannya akan ia luruhkan dalam pelukan pria yang dicintainya itu.
-;-;-;-
"Ngeborong, Bu?"
Ucapan yang Elina dan Frasya dengar, kala ibu membuka pintu rumah. Mereka dikejutkan oleh kedatangan Raima, yang telah duduk di ruang tamu.
"Kak Raima!" seru Frasya bergegas menghampiri Raima, kemudian Elina berjalan menyusul di belakang sambil tersenyum.
"Kapan lo dateng?" Elina meletakkan belanjaannya di dekat Raima, yang langsung menyambarnya untuk sekadar ingin tahu isi kantong-kantong itu.
"Dari tadi, mungkin hampir sejam? Eh, beli apa nih si ibu-ibu? Banyak banget kayaknya?"
"Nggak, cuma beli bahan bikin kue. Ibu ada pesanan kue," sahut Elina.
"Wah, kalo gitu, Tante bikinin aku kue, ya?"
"Ngarep banget, sih, Kak!" ledek Frasya tertawa kecil.
"Ya kali gitu, ada sisanya," Raima terkekeh.
Ibu menanggapi becandaan Raima dengan serius. "Iya, nanti Tante buatin." Dan senyum Raima merekah, lalu memeluk wanita yang telah dianggapnya sebagai ibunya itu.
Percakapan berlanjut pada Frasya, yang begitu senang membeli beberapa buku yang diinginkannya. Dia memperlihatkan isi kantong putih berlabel nama toko buku, yang terdiri dari buku pelajaran dan sebuah novel romantis.
"Kalau baca novel roman bikin kamu mengkhayalin cowok terus tahu!" celetuk Raima, mengambil novel itu.
Frasya merengut sambil merebut novel itu dari tangan Raima. Wanita itu suka sekali menggoda Frasya yang kadang kekanak-kanakan dan gampang ngambek.
"Biarin. Sekali-kali boleh lah mengkhayal. Soalnya, hidup ini nggak bakal bisa kayak dalam cerita. Mana ada kisah Cinderella ketemu pangeran ..." Tiba-tiba Frasya teringat pada sesuatu. "Kak, masa tadi aku ketemu cowok yang mirip banget kayak pangeran. Gantengnya, kulitnya putih, mirip bule. Tapi sayang, udah punya anak."
Elina dan Frasya terkekeh. Lalu, Elina menimpali, "Emang tahu dari mana kalo udah punya anak?"
Dari ciri-cirinya Elina tahu merek susu itu. Justin juga minum susu dengan merek yang sama.
"Terus, kamu kenalan sama dia?" tanya Raima.
Frasya menggeleng dengan mulut yang berisi air teh. "Nggak. Ngapain, dia aja berdiri di kasir sebelah."
"Mungkin aja dia beli susu untuk keponakan atau adiknya."
Frasya mengedikkan kedua bahunya. Baginya, itu sudah tak penting lagi untuk dibahas. Kemudian, ia melirik kakaknya yang tengah termangu memikirkan sesuatu. Mental remaja yang dimilikinya beraksi, ia mencoba mengisengi kakaknya dengan menepuk pundaknya keras sambil bersorak.
"Hayo, ngelamunin apa?"
"Ish, si Adek mah," keluh Elina memprotes. "Nggak. Tadi selain itu, ada ciri-ciri lain yang kamu perhatikan dari cowok itu?"
Frasya berpikir sembari menepuk-tepuk dagunya dengan jari telunjuk. "Dia tinggi ... kurang lebih sejengkal dari aku, mungkin. Terus ... ah, matanya biru!"
Elina mengepalkan tangannya. Benar, yang tadi itu bukan cuma perasaan, Matthew memang ada di supermarket itu! Apa dia sekarang sedang ada di Jakarta? Ia harus cari tahu.
Tanpa mengatakan apa-apa, Elina beranjak pergi dari ruang tamu dengan langkah cepat. Tak menyadari bahwa 6 pasang mata sedang tercengang heran melihatnya.
Kemudian, Frasya berujar, mengemukakan pandangannya pada sikap Elina selama dua tahun ini. "Aku tidak mengerti, kak Elina berubah total sejak pulang ke rumah dua tahun yang lalu."
Hal ini menarik perhatian ibu, apalagi Raima. Keduanya menoleh pada Frasya.
"Dia jarang tersenyum; sekalinya senyum, hanya senyuman yang dipaksakan," lanjut Frasya. "Dia suka merenung. Terus waktu di panti asuhan--ibu lihat tidak?--dia menangis saat menggendong bayi Eiliya."
"Siapa bayi Eiliya?" tanya Raima menyela.
"Anak yang baru dibuang di panti asuhan." Frasya menanggapi. "Tadi juga. Dia nangis waktu lihat jaket buat anak umur kisaran 2 tahun yang dipajang di etalase toko."
Ekspresi Ibu berubah cemas. Waktu Elina menangis menggendong bayi itu, ibu berpikir kalau itu hanya perasaan iba terhadap si bayi. Tapi setelah mendengar penuturan Frasya, dugaan pun muncul. Ada apa dengan anak sulungnya itu? Mungkin ada sesuatu yang telah terjadi padanya?
__ADS_1
-;-;-;-
Elina mengunci pintu kamarnya. Buru-buru ia mencari nomor kontak seseorang sambil berjalan menuju ke ranjang.
Telepon itu lama sekali tersambungnya. Diliriknya arloji miliknya, masih jam 7 malam. Biasanya, pria itu sedang makan siang sekarang. Dimatikan telepon itu, lalu dihubunginya kembali. Ia terkesiap saat mendengar sapaan halus nan ramah dari pria itu.
"Vin!" cecar Elina langsung. "Apa kau tahu kalau Matthew ke Jakarta?"
Di seberang sana senyap sejenak, lalu muncul lagi suara. "Tidak. Memang kau bertemu dengannya?"
"Tidak." Nada bicaranya getir. "Frasya yang melihatnya. Dia tidak kenal Matthew, tapi dari ciri-ciri pria yang disebutkannya, aku yakin itu Matthew."
"Kau pasti salah duga...."
"Tidak. Aku yakin, perasaanku bilang kalau itu adalah Matthew," Elina tetap ngotot.
Elina menunggu, orang yang ada di seberang sana masih tidak menjawabnya.
"Mungkin memang dia ada di sana." Akhirnya Kevin menjawab. "Nanti akan aku beritahu kalau ada kabar, oke?"
Elina bungkam, tak perlu ditanyakan lagi karena sudah cukup jelas. Ia menutup teleponnya dan akan kembali ke ruang tamu. Hanya saja, ada lagi yang membuatnya dongkol.
Bosnya baru saja mengirimi dia pesan, bahwa bosnya sedang ke Bali bersama istrinya, entah mungkin untuk bulan madu ke berapa--itu nggak penting bagi Elina. Jadi, bosnya itu ingin Elina menemui seorang pengusaha yang akan berinvestasi ke perusahaannya.
Tapi ... ada gitu rapat di dalam kamar hotel? Elina saja sampai tercengang saat membacanya. Yang lebih keteraluan, hanya dia sendiri di sana. Hii ... bulu romanya berdiri. Bukan hantu yang akan dihadapinya, tapi seorang pria yang tidak tahu apa kelakuannya baik atau tidaknya. Takutnya dia sebejat Prasetyo, om-om yang mau memperkosanya dulu.
Habis bagaimana? Bukan salah ibu dan ayahnya yang melahirkan dia dengan rupa yang cantik, kulit yang putih, walau memiliki badan yang mungil. Semua pria memuja mata indah dan bibir kecilnya yang merah jambu. Tak jarang banyak karyawan pria yang menyukainya. Tapi untungnya, dia memiliki seorang bos yang tidak genit dan sayang keluarga. Jadi, ia tidak akan dilecehkan oleh pria tua berperut gendut itu.
Ingat, berpakaian yang rapi! Kata si bos, dan Elina menurutinya. Setelah jam kerjanya usai, Senin malam itu ia ke hotel yang dimaksud oleh bosnya. Namun, begitu mendapatkan kunci kamarnya, Elina tidak langsung masuk, mematung di depan pintu kamar bernomor 107.
Deja Vu lagi. Dua tahun yang lalu, ia juga mematung di depan kamar, sebelum menemui Tuan Takdirnya di dalam. Hotel yang sama, dan nomor kamar yang sama, semua kisah cinta yang pahit, manis, menyedihkan berawal di sini. Apakah akan ada takdir lain yang datang kali ini? Tidak mungkin. Sebuah kebetulan tidak akan terjadi sesering itu.
Elina menghela napas, rasa optimisnya dan khayalan yang absurd ia singkirkan. Sekarang Elina, raih gagang pintu itu, dan masuk ke dalam kamar!
"Halo," seru Elina pelan sembari melongok ke dalam. Sepi, hening, tak ada seorangpun. Jangan-jangan ada orang, tapi orang itu sengaja bersembunyi atau ... hush! Elina menghalau prasangka buruk itu. Tetap fokus Elina! Gumamnya dalam hati.
Dengan langkah perlahan dan hati-hati, Elina masuk lebih ke dalam lagi. Napasnya ditahan karena terlalu tegang dan gugup. Namun, ia menghela napas lega, kala dilihatnya ranjang dalam keadaan kosong.
Di dekat kamar yang luas ini--mungkin lebih dari 20 orang bisa tidur di sini--ada sebuah sofa panjang dan dua sofa tunggal di dekat ranjang. Elina memilih tempat duduk di sofa tunggal yang berwarna jingga agak kemerahan itu.
Lamakah pengusaha itu muncul? Elina melirik jam tangannya, sudah sekitar 10 menit ia menunggu di sini. Elina meggerutu, pengusaha macam apa yang ngaret begini? Bosnya ini serius mau mempertemukannya dengan pengusaha itu? Sebenarnya Elina curiga, mungkin dia dikerjai, atau bosnya yang salah? Mana bosnya itu juga tidak memberitahu nama pengusaha itu.
Elina menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa sambil menghela napas. Sabarin aja dulu kali, ya? Jika pengusaha itu tidak datang dalam 30 menit, Elina akan pergi dari tempat ini.
"Oke," desah Elina, meraih sebuah berkas yang ia letakkan di atas meja. "Sambil nunggu, lebih baik pelajari berkasnya dulu."
Penantiannya tidak sia-sia. Kurang dari setengah jam, suara ketukan pintu terdengar. Elina tersenyum, lantas buru-buru membereskan berkas-berkas itu, sebelum menghampiri pintu dan membukanya.
Mulutnya akan terbuka untuk berbicara. Namun, ia tertegun dan senyumnya memudar, begitu melihat seseorang yang muncul di balik pintu ini.
Dia datang dengan tubuh yang sulit ditegakkan, mata terbuka setengah, dan mulut yang bau alkohol. Pria itu melonggarkan dasinya, lalu mendongak, melihat seseorang yang membukakan pintu untuknya.
Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. "Berhentilah muncul dari hadapanku! Aku lelah dibayang-bayangi olehmu!" ceracaunya.
Jika Elina bisa berkata: "Aku juga lelah karena hanya dapat membayangimu, mendamba kehadiranmu, dan menangisimu. Tapi aku tidak lelah menunggumu dan mencintaimu, Matthew."
Elina tak dapat menahan air matanya. Doanya terjawab oleh Tuhan. Pertemuan ini terjadi, walau dengan cara dan keadaan yang agak aneh. Sungguh, ia merasa bahagia sekali.
Matthew mengibas-kibaskan tangannya, terhuyung berjalan ke dalam hingga hampir terjatuh. Untungnya, Elina masih ada di depannya, tubuh Matthew jatuh dalam pelukan hangat dari tubuh yang sangat dirindukannya.
"Kau bukan bayangan, kan?" gumam Matthew, suaranya serak.
Sambil tersedu pelan, Elina menjawab, "Bukan. Aku memang Elina."
Matthew melepaskan pelukannya, menatap wajah Elina. Kedua tangannya memegang wajahnya, meneliti setiap lekut wajahnya dengan jemarinya, lembut, hingga sentuhan itu berakhir di bibirnya. Tanpa meminta ijin dari pemiliknya, lalu Matthew mengecup bibir itu.
Keterkejutan Elina hanya sekejab. Kala rindu itu meledak dalam hatinya, ia membiarkan pria itu melakukan yang dia mau. Elina pun turut larut, memejamkan matanya, kemudian melingkarkan tangannya ke leher Matthew.[]
__ADS_1