Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER TIGABELAS


__ADS_3

Kenan memperhatikan Anna dan Logan secara bergantian, mengernyit penuh tanda tanya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian lirik-lirikan begitu?" celetuknya.


Logan dan Anna terhenyak dan saling membuang muka.


"Aku permisi," kata Logan, gugup.


"Oke," sahut Kenan, tersenyum.


Anna hanya diam tak melihatnya. Namun, begitu Logan menjauh, Anna memperhatikan punggung pria itu, bergumam di dalam hati:


Yang terjadi malam itu, hanya kecelakaan yang tidak disengaja. Hidup aku tidak akan hancur hanya karena hal itu. Waktu terus berjalan, dan aku harus melanjutkan hidup, termasuk," setelah itu, ia menoleh pada Kenan yang sedang tersenyum,"mencoba menerima orang lain."


Senyum Anna terulas, membuat senyum Kenan semakin lebar. "Aku tidak bisa janji kalau siang ini."


"It's okay, tidak masalah," sahut Kenan. "Bagaimana kalau makan malam?"


"Baiklah," jawab Anna seraya mengangguk.


Yes! Hati Kenan seakan melompat karena kegirangan. Hal seperti ini saja membuatnya sudah sangat senang. Awal langkah yang baik. Ia tidak mau berharap apa pun sekarang, biarkan semua berjalan.


.


.


.


Karena mau makan malam, Kenan berinisiatif untuk menjemput Anna. Kehadirannya di depan pintu masuk kantor, apalagi melihat dirinya bersama dengan Anna, mengundang perhatian dan gosip dari karyawan lain. Anna pun jadi jengah.


"Anna, ayo!" katanya.


"Naik mobil kamu?" tanya Anna.


"Iya dong."


"Tapi motor aku gimana?"


Kedua tangan Kenan dimasukkan ke dalam saku, tersenyum sambil berkata santai, "Kasih alamat dan kunci motor kamu. Sopir aku yang akan mengantarkannya ke rumah."


Anna skeptis dengan ide itu. Apa dia bisa dipercaya? Bagaimana kalau motornya dibawa kabur? Biar jelek gitu, motor itu masih berguna.


Kenan pun menjawab keraguan Anna dengan mengatakan, "Tenang saja, sopir aku itu bisa dipercaya kok."


"Em ..." Anna mengatupkan bibirnya. "Baiklah." Diambilnya kunci motor di dalam tasnya, lalu diberikan pada Kenan.


Kenan menerima kunci itu, lalu mengajak Anna untuk ke tempat mobilnya terparkir. Di sana, seorang pria berseragam sopir berdiri di dekat mobil.

__ADS_1


Lantas, Kenan memberikan kunci itu pada sang sopir. "Pak, tolong antarkan motor matik yang ada di sebelah sana ke rumah Nona Anna."


Pria paruh baya itu mengangguk, dan mulai mengeluarkan ponselnya, yang kemudian diberikan pada Anna. Gadis itupun mengetikkan alamat rumahnya disebuah aplikasi note dari ponsel si sopir.


Kenan merentangkan tangan untuk mempersilakan Anna masuk ke dalam mobilnya. Sambil tersenyum, Anna menyambutnya. Tepat saat itu juga, Logan muncul dari kejauhan, melihat adegan itu.


Ponselnya berdering, dan Logan mengangkatnya. "Halo. Apa sudah ada kabar terbaru?" Ia terdiam mendengarkan ucapan yang dikatakan oleh si penelepon. "Bagus. Nanti, datang ke vila saya."


🍀


"Kamu suka makan masakan mana? China, Jepang, atau Korea?" tanya Kenan, selang ia melajukan mobilnya keluar dari kantor. "Sekarang, 'kan zamannya halyu wave. Kamu pasti suka masakan Jepang, 'kan?"


Anna tertawa kecil. Pria macam Kenan mana mungkin tidak tahu soal halyu wave. Dia pasti sengaja ingin mencairkan suasana saja.


"Boleh. Bagaimana kalau kita pesan spaghetti saja, atau kimbab?" Anna menimpali dengan selorohan juga.


Kenan tertawa lepas. "Kamu pintar juga membalasku, ya?" Tawanya reda, lalu ia kembali berkata, "Oke, oke. Sekarang, ini pertanyaan serius. Kamu mau makan apa?"


"Seharusnya, yang memutuskan adalah orang yang mengajak makan dong." Anna menyindir halus.


"Hmm ... benar juga, ya?" gumam Kenan, mengangguk. "Tapi kalau aku yang pilih, takutnya kamu malah tidak suka."


"Justru kalau mengikuti seleraku, kamu malah tidak suka," sela Anna. "Soalnya, selera aku kampungan."


Kenan menoleh sejenak, menyahut cepat, "Seberapa kampungan selera kamu sih? Nasi goreng? Bakso? Mie ayam? Atau terang bulan? Semua makanan itu kesukaan aku sejak SMA, tahu."


Anna tergelak sekejab. "Oke ... bagaimana kalau makan sate padang?"


Anna menunjukkan arah di mana terdapat sebuah kedai sate padang paling enak langganannya. Kenan hanya terpana saat memasuki warung sederhana yang cukup ramai itu. Anna tersenyum geli melihatnya. Sepertinya, Kenan baru pertama kali ke sini.


"Penuh. Kita makan di mana nih?" tanya Kenan, cemas.


Siapa bilang tidak ada tempat kosong? Dengan mata tajamnya, Anna menemukan sebuah tempat yang pas hanya untuknya dan Kenan.


"Kita duduk di sana!" seru Anna sambil menunjuk sebuah meja panjang, di mana ada kursi kosong di bagian ujung.


Mereka duduk berhadapan. Kenan masih melihat ke sekeliling, seolah tak terbiasa dengan suasana seperti ini. Maka, sebuah pertanyaan tercetus dari Anna.


"Apa kamu tidak nyaman makan di tempat ramai begini?"


Kenan menoleh, tersenyum lebar. "Nggak. Aku udah lama nggak makan di tempat seperti ini. Karena dicekoki oleh budaya barat kali, ya?"


Anna memangku dagunya, tersenyum memandang Kenan. Pria yang begitu menarik dengan ucapan polos yang cukup lucu.


"Nggak juga. Tapi karena kamu tidak sempat jalan-jalan ke berbagai tempat selain Mall," sarkas Anna.


"Waw, ucapan kamu cukup berani juga, ya?" seru Kenan, alih-alih memuji.

__ADS_1


Kenan yang supel dan lucu, cukup mengelitik hati Anna untuk lebih dekat dengannya. Atau mungkin, Kenan memang bisa menaklukkan sedikit hati Anna? Kenan pandai membuat senyum Anna mengembang oleh ucapan-ucapannya.


Sambil mengunyah dan menatap Kenan, ia bergumam dalam hati. "Untuk kesan pertama kali yang aku dapat dari Kenan ... 'Lumayan'."


🍀


Sebuah berkas yang terdiri beberapa lembar kertas diberikan oleh seorang pria muda yang terlihat cukup cerdas. Dia adalah sekretaris Logan.


Logan mengambil berkas itu dan membacanya dengan dahi mengernyit. Kemudian, ia menatap pria yang sedang berdiri di dekat mejanya. "Kamu yakin ini laporan asli?"


"Tentu saja, Pak," jawab pria itu dengan tegas. "Nona Anna memang ditempatkan di kamar 101, sedangkan kamar Anda ada di nomer 201."


Logan merenung dan bergumam, "Tidak mungkin. Saya diantarkan oleh pelayan...." Tiba-tiba, ia tertegun.


Kalau memang salah kamar, pelayan itu tidak mungkin memiliki kunci yang sama, kecuali kalau dia punya niat buruk dan memakai kunci cadangan.


Logan memangku dagunya, dan menghela napas panjang. "Kalau memang begitu? Apa motifnya melakukan itu?"


"Maksudnya, Tuan?" tanya sekretarisnya, mengernyit heran.


Logan terkesiap. "Pak Evan, saya mau lihat rekaman CCTV yang saya minta itu."


Evan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah flash disk, yang kemudian diserahkan pada Logan. Tanpa buang waktu, Logan memutar rekaman CCTV saat malam ia mabuk dan masuk ke kamar Anna.


Rekaman itu sangat jelas, tetapi Logan masih belum menemukan sesuatu yang mencurigakan. Wajah si pelayan pun tak tampak di CCTV karena mengambil posisi agar wajahnya tak terekam. Si pelayan itu terlalu pintar agar tidak bisa diselidiki.


Logan memukul mejanya, menggeram kesal. Keningnya dipijat sambil bersandar di punggung kursi. "Kalau begini, bagaimana bisa kita mencari pelayan itu?" gumamnya gusar.


Evan berpikir sejenak. "Apa Bapak ingat bagaimana wajah dan nama pelayan itu?"


Lantas, ia beranjak mendekati Logan, membuka beberapa lembar, dan berhenti di sebuah dokumen "Data-data pegawai yang bertugas" pada hari itu.


"Coba Bapak cari mereka di sini," kata Evan lagi.


Logan mencari rupa si pelayan dari berbagai foto dan identitas orang itu. Beberapa saat kemudian, ia menghela napas, putus asa.


"Tidak ada," gumamnya kecewa.


"Kalau namanya?" tanya Evan.


Namanya? Agak susah sepertinya, karena saat itu ia dalam keadaan mabuk. Namun, ia mencoba mengingatnya lagi sampai dahinya mengkerut.


Matanya terpejam erat, melafalkan nama yang ada di name tag pelayan itu. "Sep ...ti ... tian Ha ... lim. Ya! Septian Halim!" Tiba-tiba membuka matanya, berseru, lalu menatap Evan.


"Septian Halim," ulang Evan, bergegas mencari nama itu di dokumen. Setelah ketemu, ia menunjuk sebuah foto. "Apa dia orangnya?"


"Bukan," jawab Logan, melihat foto seorang pria berpipi tirus, mata sipit dan sayu.

__ADS_1


Kedua pria itu semakin bingung. Kenapa bisa seperti ini? Apa Logan yang salah mengingat nama pelayan itu? Atau....


Logan menyipitkan mata. Dengan cepat, tatapannya beralih pada Evan. "Pak Evan, tolong selidiki pria yang bernama Septian Halim itu!"[]


__ADS_2