Matthelina

Matthelina
Chapter 36


__ADS_3

Tak ada yang berubah dari wanita ini; masih suka malas beresin rumah, tidur siang lama. Tapi yang berbeda cuma sedikit: badannya tambah kurus.


Elina bertanya apa dia sedang sakit. Sambil membereskan sampah makanan ringan di meja, dia menjawab bahwa dirinya dalam keadaan sehat.


"Lo ke mana aja sih? Nomor nggak aktif, terus nggak kasih kabar perginya," cerocosnya sambil meletakkan dua teh hangat di atas meja, lalu ia duduk di sofa.


"Sori, soalnya mendadak," jawab Elina.


Setelah menyeruput tehnya, Raima kembali bertanya, "Mendadak gimana maksud lo?"


Elina menceritakan kejadian dua tahun yang lalu. Setelah William keluar dari kamar perawatan Elina, Kevin datang dan bertanya apakah ia siap? Elina mengangguk dan buru-buru menyimpan ceknya.


Raima yang terkejut memotong cerita. "Lo pergi sama Kevin? Ada hubungan apa lo sama dia?"


"Nggak ada!" spontan Elina membantah. "Dengerin gue dulu. Jadi, dia ngajak gue ke Jakarta. Dia cerita kalau Matthew selama ini membuat perusahaan sendiri bersama dengan ketiga temannya itu. Terus, gue dijadikan salah satu pemilik saham sekitar 10 persen."


"Gila lo! Berarti lo kaya dong sekarang?" komentar Raima setengah teriak.


Elina mendesis, mengatakan agar jangan buat keributan. Dan Raima segera mengunci rapat mulutnya. Tak lama kemudian, Elina termenung.


"Jadi, dia ke Inggris sebelum kecelakaan karena ingin mengurusi perusahaan dan pembagian saham? Pantas saja, dia mengajak gue tinggal di London setelah menikah," kata Elina menganalisis.


Kemudian, Elina menceritakan bagaimana kehidupannya selama dua tahun terakhir. Elina memilih tinggal di sekitar daerah Bekasi, melanjutkan kuliah, setelah 6 bulan ia lulus kuliah dan bekerja di perusahaan yang ada di Jakarta.


Raima memangku dagu, berpikir beberapa saat setelah mendengar rincian cerita sampai habis. "Dari mana lo dapet duit buat kuliah?"


"Dari bagi hasil perusahaan," jawab Elina. "Tapi sekarang gue menghentikannya, karena gue sudah bekerja."


"Hmm ... Kevin kayak malaikat penyelamat," celetuk Raima. "Apa sekarang lo sudah melupakan Mister ganteng itu?"


Mata Elina menyendu, lalu menunduk sambil tersenyum getir. Apa yang membuatnya harus melupakan Matthew? Sumpahnya telah diikrarkannya, bahwa ia akan terus mencintai pria itu.


"Nggak. Sampai sekarang hati gue cuma milik dia," jawabnya.


-;-;-;-


Wajah cantiknya, senyumnya ... itu memang milik dia. Tapi tidak, mungkin itu hanya halusinasinya saja karena kepalanya yang sedang pusing. Elina sudah meninggalkannya, jadi wanita yang di sana itu bukan dia.


Benar saja, setelah Matthew menatap ke arah bangku itu lagi, bayangan Elina menghilang. Serangan sakit kepala tak tertahankan lagi, iapun bergegas masuk ke dalam rumah dan minum obat.


Pandangannya teralihkan pada ponselnya yang layarnya menyala--ada sebuah pesan. Ia mendengus, Karenina. Wanita itu mengajaknya makan malam di sebuah restoran Prancis.


Wanita yang keras kepala. Sudah berkali-kali ditolak, tetap mengejar. Akibat keserakahan William, Karenina terkena racun bujukannya. Harus pakai cara apa lagi, supaya Karenina menjauh darinya? Rumor bahwa dia pria yang suka bergonta-ganti wanita telah sengaja disebarkannya. Tetapi wanita itu tetap bergeming dan semakin gencar mendekatinya.


Oke jika begitu. Setelah pekerjaannya selesai, esok ia akan menghadiri undangan makan malam dengan gadis itu. Entah apa yang akan dilakukannya lagi, mungkin memakai baju dengan belahan dada terbuka, yang malah membuatnya jijik? Jika Elina yang pakai, tentu ia akan tergoda dan langsung saja menggendongnya ke kamar.


Pikiran ngaco lagi! Sampai kapan bayangan dan fantasinya terhadap Elina akan berakhir?

__ADS_1


Matthew memasuki restoran dengan penampilan yang agak acak-acakan. Sebenarnya tidak disengaja, karena hari ini dia terlalu sibuk dan tak punya waktu untuk pulang ke rumah dulu. Apalagi, ia sudah terlambat satu jam dari yang disepakati tadi malam bersama dengan Karenina.


Sebelum mendekati meja, ia pikir wanita itu akan mengantuk menunggunya, tapi ternyata sebotol anggur menjadi temannya. Dia tersenyum menoleh padanya, ketika dia menyadari kedatangannya. Tak ada raut wajah lelah dan ngantuk yang membingkai.


Matthew memperhatikan gaya pakaian Karenina malam ini; tidak seksi, tapi kesan anggun dan sederhana yang melekat pada gaun yang dipakainya dan riasan wajah. Ini bukan gaya Karenina, ini adalah gaya khas Elina.


Ia mencibir, apa Karenina sedang mencoba mencontoh Elina? Dari mana lagi dia mendapatkan ide itu? Tidak salah lagi, William!


Ia menjauhkan badannya, ketika Karenina hendak memeluknya. Wanita itu terkejut, lalu perlahan mundur dengan kecewa. Tapi hal itu tak membuatnya tersingung, ia tetap bersikap biasa, mempersilakan Matthew untuk duduk.


"Ada apa kau datang menyusul ke Jakarta?"


Menyusul? Apa wanita itu menyangka bahwa kedatangannya ke Jakarta itu karena dirinya? Di balik gelas anggur, ia tersenyum sinis.


"Tentu saja ada urusan pekerjaan. Memangnya, apa menurutmu?"


Takut Matthew tersinggung, Karenina tersenyum tipis, memilih tak menjawab.


Sekarang, giliran Matthew yang bertanya, "Langsung saja, apa yang ingin kau bicarakan padaku? Jika mengenai perjodohan, katakan pada papaku: tidak!"


Karenina **** bibirnya, apa yang ingin dikatakannya diredam lagi, karena memang itu yang ingin dia bahas.


"Tidak bisakah kau menerimaku?" ucapnya pelan dan memelas.


Matthew menjauhkan gelas dari bibirnya. Apa ini? Dia memohon? Di manakah letak harga dirimu sang putri? Begitu mudahnya takluk pada cinta, sampai mengemis begitu?


Karenina meradang. Inikah penghinaan? "Jadi, siapa yang bisa? Wanita matre itu!"


"Diam! Jangan sebut dia begitu!"


Suara keras mereka membuat mata orang-orang di sekitar mereka tertuju pada mereka. Tetapi mereka tak peduli, Karenina membalasnya, sehingga terlihat sifat aslinya.


"Sudah dua tahun, Matthew. Apa yang membuatmu sulit untuk melupakannya? Dia tidak kaya, tidak terhormat, juga tidak begitu cantik."


"Apa itu standar yang kau gunakan untuk mengukur seseorang?" jawab Matthew sinis. "Kau tidak tahu apa-apa, Karenina. Kau tidak bisa dibandingkan dengan dirinya."


Matthew beranjak dari kursi, lalu membetulkan letak jasnya. Pada saat akan berbalik, Karenina berseru:


"Kalau begitu, katakan. Apa yang ada pada dirinya yang membuatmu tertarik padanya?"


Matthew hanya melirik, tersenyum mencemooh. Tak dipedulikan wanita itu, bahkan saat Karenina berusaha mengejarnya. Akan tetapi, umpatan sakit hati Karenina membuatnya berhenti sejenak.


"Cari saja wanita itu. Kau tidak akan pernah bisa menemukannya. Wanita mana yang mau sama pria dingin dan tidak berperasaan sepertimu! Seumur hidupmu, kau tidak akan pernah bahagia Matthew!"


Tidak pernah bahagia? Itu memang takdirnya. Tapi sempat bulu romanya meremang, ketika kata itu terngiang di telinganya. Apa karena AC mobil yang terlalu dingin, atau hujan deras di malam ini?


Ah, tidak! Bagaimana jika hal itu benar? Apa sampai tua dia akan membujang? Dan kenapa hawanya jadi semakin dingin begini?

__ADS_1


Matthew bersidekap, menyuruh Gery untuk mengecilkan suhu AC mobil dengan nada gusar. Gara-gara sumpah wanita itu, dia jadi kesal. Dan konyolnya, dia malah percaya pada sumpah itu.


-;-;-;-


"Kak, kayaknya supermarket ada di lantai bawah," seru Frasya girang, menatap puas pada kantong belanjaannya yang penuh oleh beberapa buku yang ingin dibelinya dari kemarin.


Namun, ia berhenti, tatkala kakaknya tak menyahut omongannya. Lantas, ia berbalik, menemukan Elina tengah mematung di depan etalase baju bayi.


Jaket berwarna biru yang terpajang di sana yang sedang dipandangi oleh Elina. Jaket itu untuk anak usia sekitar dua tahun. Jika anaknya lahir, pasti sangat pas dan tampan dipakai olehnya.


Matanya terasa panas, air mata mengalir tanpa disadari. Ia tersentak begitu Frasya berseru dan menepuk pundaknya. Gadis itu berusaha melihat wajahnya yang ia palingkan sambil menghapus sisa air mata.


"Kakak kenapa?"


"Ah, nggak. Cuma suka aja melihat jaket itu."


Frasya melirik sejenak pada benda yang terpajang di sana. "Emang bagus, sih? Tapi harganya pasti mahal. Mending beli di toko baju yang ada di pasar, harganya dua kali lipat lebih murah, dengan kualitas yang sama."


Elina tersenyum mendengar ocehan adiknya itu. Dia sudah lebih pintar mengenal soal barang dagangan karena bergaul dengan seorang gadis pelayan toko di pasar.


"Yuk, ke supermarket," ajaknya kemudian.


Mereka turun ke lantai basement dengan eskalator. Hari Sabtu yang begitu ramai. Banyak sekali pengunjungnya. Frasya sampai menggerutu karena harus mengantre lama saat di kasir nanti.


"Ini daftarnya, kamu beli ya? Kakak akan ke rak yang lain untuk membeli sisa bahan yang lain," kata Elina. Setelah itu, mereka berpisah.


Bukan karena sok kaya--memang Elina bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji tinggi--tapi mereka belanja di sana karena ada bahan yang tidak dijual di pasar. Ibunya kini bukan hanya penjual nasi uduk, tapi juga membuat kue pesanan. Dan lagi, Frasya ingin membeli buku. Karena hari ini Elina pulang cepat, maka ia menjemput Frasya dan langsung meluncur ke mall ini.


Ia berhenti di sebuah rak susu. Tangannya akan meraih sekotak susu ukuran besar di rak itu, tapi tiba-tiba berhenti karena ia merasakan sesuatu. Jantungnya berdetak kencang. Apa ini? Ia merasakan kehadiran seseorang yang wajahnya selalu tersimpan dalam benak dan hatinya. Ia menoleh ke kiri dan kanan, tapi sosoknya tidak ada.


Elina menggeleng, menganggap bahwa itu hanya perasaannya saja. Lalu, ia mendorong kereta belanjaannya ke rak berikutnya.


Beberapa barang telah ia beli, hanya tinggal satu barang lagi, tapi bukan kebutuhan untuk membuat kue. Sambil mendorong kereta belanjaan, ia berkeliling, tapi tak ditemukan. Akhirnya, ia bertanya pada seorang pelayan.


Namun tiba-tiba jantungnya berdetak lagi. Elina memegang dadanya, cemas. Perasaan kuat bahwa sosoknya ada sini, begitu dekat, begitu terjangkau. Tuhan, ini bukan sekadar perasaan saja kan? Detakan jantung yang semakin kencang, membuatnya sesak.


Ia melihat pelayan itu akan pergi. Akhirnya, ia berusaha tak hiraukan perasaan itu, berlari menghampiri pelayan yang hendak berjalan. "Maaf, Mbak. Di mana rak vitamin rambut ya?"


"Di rak sebelah sana, Mbak." Tunjuk si pelayan.


Elina berjalan perlahan. Jantungnya masih deg-dengan. Tapi kali ini, ia samar-samar mendengar suaranya. Ia terperanjat. Ini bukan halusinasi kan? Apakah hari ini adalah waktunya pertemuan sepasang insan yang telah digariskan Tuhan? Rasanya kedua matanya akan mengucurkan air mata lagi.


"Elina!" Meski samar, suara itu jelas miliknya.


Penasaran, haru, dan bahagia, Elina pun menoleh.[]


maaf kalo cuma dua bab, soalnya lagi agak sibuk banget. silakan baca dan tunggu bab berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2