Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
101. TERJEBAK BERSAMA DI PERUSAHAAN


__ADS_3

Arghhhhhhhhhhhhhhh


Di tempat lain seorang pria berteriak frustasi. Ia membanting barang apapun yang ada di dekatnya karena marah. Ruangan yang indah itu berubah jadi lautan pecah belah. Pria itu adalah Vito. Sang ketua mafia dari Black Shadow. Setelah mendapat kabar kalau kakaknya sadar dan sudah melewati masa kritis Vito langsung marah.


"Bagaimana ini? Kakak sudah sadar. Cepat atau lambat dia akan menyadari kalau akulah yang mencoba untuk membunuhnya. Bahkan sekarang Black Shadow sudah hancur. Apa yang harus aku katakan nanti?!" teriak Vito menggeram frustasi. Ia tak tau lagi harus melakukan apa. Bahkan Vito saja belum tau siapa yang sudah menghancurkan bisnisnya. Sekarang masalah bertambah lagi karena kakaknya sadar.


"Tidak! ini tidak boleh terjadi. Black shadow akan tetap berada di tanganku! Aku harus melakukan sesuatu sebelum kakak menyadarinya."


"Kali ini, aku tidak boleh gagal membunuhnya." ujar Vito menyeringai licik.


*******


"Nona, Maya mengapa anda belum pulang?" tanya Dave tak sengaja melihat ruangan Maya yang masih menyela. Padahal hari sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Karyawan lain saja sudah banyak yang pulang.


Maya tersentak saat Dave datang. "Ah iya, maaf tuan, Dave. Pekerjaan ku belum selesai makanya aku belum pulang." ujar Maya.


"Ohh begitu. Kalau nona Maya perlu bantuan katakan saja pada saya. Mungkin saya bisa membantu." ujar Dave menawarkan bantuan.


"Em, itu sebenarnya saya tidak begitu mengerti soal pembaruan data keuangan ini. Saya bingung dengan kurvanya. Terkadang tidak sesuai dengan data yang ada. Jadi, saya berkali-kali menghitung nya sampai pusing sendiri. Namun, hasilnya tetap saja berubah-ubah. Makanya saya jadi bingung sendiri. Apa saya yang salah hitung atau memang datanya yang salah?" ucap Maya menjelaskan ketidakpahaman nya. Ia berkali-kali menggaruk kepalanya karena pusing sendiri.


"Sebentar, coba saya liat dulu." ujar Dave mengambil alih. Ia mulai mencocokan data dan kemudian menghitung nya. Di saat Dave tengah serius Maya justru menatapnya penuh kekaguman. Kalau di lihat dari dekat Dave sangat tampan apalagi kalau sedang serius seperti ini. Kadar ketampanan nya meningkat signifikan. Tanpa sadar bibir Maya tersenyum.


"Astaga, dia sangat tampan." ucap Maya dalam hatinya terpesona. Tapi detik berikutnya dia langsung tersadar. "Astaga, apa yang ku pikirkan? Fokus Maya! Fokus!"


Meskipun mencoba untuk fokus tetap saja konsentrasi Maya buyar. Terlebih lagi, di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Aroma maskulin dari tubuh Dave tercium harum dipanca indra nya bahkan tatapan Maya juga tak pernah bisa lepas dari Dave.


"Jadi, begini nona, Maya. Ada kesalahan dari perhitungan anda. Seharusnya di sini hanya satu juta tetapi anda malah menuliskan nya menjadi sepuluh juta. Makanya perhitungan nya jadi salah. Dan untuk datanya tidak ada masalah apapun. Jadi, inilah hasil akhirnya." ujar Dave menjelaskan dengan rinci kepada Maya.


Maya hanya mengangguk-angguk. Entah dia sudah paham atau tidak. Fokus Maya hanya tertuju kepada Dave. Ia seakan terhipnotis dengan ketampanan pria itu.


"Jadi, bagaimana nona, Maya? Apa anda sudah paham?" tanya Dave.


Namun, tidak ada sahutan dari Maya. Wanita itu hanya menatapnya sambil tersenyum manis.


"Nona, Maya?" panggil Dave. Tapi tidak ada sahutan.


"Nona, Maya" sentak Dave memegang pundak Maya hingga membuat wanita itu terlonjak kaget.


"Ah iya?" tanya Maya seperti orang linglung.


"Apa anda baik-baik saja?" tanya Dave khawatir melihat kondisi Maya yang tidak fokus.


Maya pun tersadar. "Ah, iya tentu. Saya baik-baik saja kok. Terima kasih untuk penjelasan nya. Sekarang saya sudah mengerti." ujar Maya tersenyum canggung. Ia benar-benar malu dengan dirinya sendiri. Bisa-bisa nya dirinya memikirkan Dave. Apa yang terjadi dengan dirinya? pikir Maya.


"Baguslah kalau begitu saya senang bisa membantu nona, Maya." ujar Dave tersenyum tipis hingga membuat Maya terdiam beberapa saat karena terpesona. Sebab, Maya tidak pernah melihat Dave tersenyum. Ternyata saat Dave tersenyum dia terlihat sangat tampan.


"Baiklah, saya akan menyelesaikan pekerjaan ini dulu."


Saat Maya hendak duduk di kursi dia malah tidak sengaja tersandung sepatu Dave hingga membuat tubuhnya hilang keseimbangan. Untungnya, dengan gerakan cepat Dave menarik pinggang Maya dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Kini, posisi mereka tampak intim. Sesaat, mata keduanya saling bertatapan satu sama lain.


Titititi


Dering alarm membuat keduanya tersadar. Seketika Maya langsung membenarkan posisinya. Ia jadi salah tingkah sendiri begitupun dengan Dave. Jantung Maya bahkan berpacu lebih cepat. Mengapa dia jadi gugup?


"Maaf, tuan Dave. Saya tidak memperhatikan jalan dengan baik."


"Em, tidak apa-apa nona, Maya. Tapi anda baik-baik saja kan? Sepertinya anda terlihat kelelahan?"

__ADS_1


"Yah, mungkin begitu tapi anda tidak perlu khawatir karena saya baik-baik saja." ujar Maya.


"Sebaiknya anda pulang saja nona, Maya. Ini masih bisa dilanjutkan besok. Tidak baik terlalu memaksakan diri. Kasian tubuh anda sudah lelah." ucap Dave.


Maya menguap. "Tapi ini tinggal sedikit lagi tuan, Dave. Rasanya tanggung jika tidak diselesaikan sekarang. Apalagi besok mungkin saja pekerjaan saya akan bertambah lagi." ujar Maya.


"Tidak perlu khawatir nona, Maya. Besok tuan, Zyano tidak masuk."


"Loh, kenapa?"


"Tuan, Zyano sedang pergi berbulan madu."


Maya tersentak. "Eh, tunggu. Bukankah seharusnya masih 3 hari lagi?" tanya Maya bingung.


"Yah, seharusnya memang begitu tapi tuan, Zyano membatalkan nya. Jadi, dia sudah berangkat satu jam yang lalu."


Maya terkejut mendengarnya. "Apa? Satu jam yang lalu? Tapi, bagaimana dengan semua persiapan nya? Bukankah itu memerlukan waktu yang banyak?"


Dave terkekeh. "Anda tidak perlu heran begitu nona Maya. Bagi kita itu memang terlihat sulit dan tidak mungkin tapi tidak bagi tuan, Zyano. Hanya dengan satu perintah saja maka semua keinginan nya terwujud. Tidak ada yang bisa membantah semua perkataannya!"


"Wow." Maya terpukau sesaat. "Orang kaya memang berbeda. Dia hanya perlu menggunakan uang maka semua urusan akan lancar."


"Tentu saja. Uang adalah segalanya."


Maya mengembuskan napas panjang. "Apa karena hal itu anda jadi pulang terlambat juga tuan, Dave?"


"Yah, begitulah. Tapi saya sudah terbiasa bahkan pernah satu kejadian di mana tuan, Zyano harus pergi ke luar negeri dan hanya dalam waktu 20 menit saya mempersiapkan semuanya."


"Wow, itu gila. Bagaimana anda bisa melakukan itu tuan, Dave?"


"Tentu saja dengan uang. Tapi tuan, Zyano tidak pernah mempermasalahkan uangnya. Baginya yang terpenting semua urusannya lancar."


Dave tersenyum tipis. "Awalnya begitu tapi itu sudah menjadi resiko dari pekerjaan saya. Sejak memutuskan untuk menjadi asisten Tuan, Zyano saya sudah siap menerima resiko nya. Karena sebelum bekerja Tuan, Zyano sudah menekankan pada saya kalau asistennya harus cekatan dan gesit dalam segala hal. Tidak boleh ada kesalahan apapun. Semuanya harus sempurna. Entah itu untuk urusan perusahaan ataupun pribadi."


"Kalau saya menjadi anda mungkin saya tidak akan bisa bertahan dalam waktu seminggu. Saya pasti sudah gila karena tertekan." ujar Maya.


Dave hanya tertawa kecil. Begitu pun dengan Maya. Keduanya tampak nyaman berbicara satu sama lain hingga tidak menyadari hari sudah menunjukkan pukul 01.00. Semua lampu tiba-tiba padam.


"Astaga, apa yang terjadi? Mengapa semua lampu mati?" tanya Maya tersentak kaget.


Dave melirik jam yang melingkar di tangannya. "Astaga, maaf saya lupa memberitahu nona, Maya kalau setiap jam 1 malam maka semua listrik harus di matikan karena semua pegawai pasti sudah pulang."


"Apa? I-itu artinya kita tidak bisa keluar dari sini?"


Dave tertunduk. "Yah, karena semua pagar pasti sudah dikunci."


"Astaga, lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Maya kebingungan. Ia hendak membuka pintu tapi tidak bisa.


"Loh, kenapa dengan pintunya? Mengapa tidak bisa di buka?" tanya Maya panik. Ia berusaha menarik ganggang pintu tapi tetap tidak bisa dibuka.


"Semua pintu di sini otomatis karena menggunakan listrik. Kalau listriknya mati maka pintunya tidak akan bisa berfungsi."


"Apa? Mengapa bisa seperti itu?"


"Tuan, Zyano yang menerapkan sistem nya seperti itu. Ini semua dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."


"Itu artinya kalau seandainya ada penyusup ataupun maling yang masuk maka dia akan terjebak di sini?"

__ADS_1


"Yah, benar. Tuan, Zyano tidak ingin ada masalah di perusahaan nya. Makanya dia melakukan pencegahan dengan cara yang seperti ini."


Maya mengusap wajahnya frustasi. "Ya ampun. Jadi, kita tidak bisa keluar dari sini?"


Dave hanya mengangguk sedangkan Maya menghela nafas pasrah. Ia terduduk lemas di kursinya.


"Ya sudah, tidak ada yang bisa kita lagi kalau begitu." ujar Maya.


"Maaf, nona Maya seharusnya saya tidak melupakan hal sepenting ini."


"Anda tidak perlu meminta maaf tuan, Dave. Ini bukan salah anda. Lagipula tadi anda sudah menyarankan saya untuk pulang tapi saya malah menolaknya. Seharusnya saya mengikuti perkataan anda agar tidak kejadian seperti ini. Jadi, jangan menyalahkan diri anda sendiri."


"Tapi....." Dave hendak berupa tapi langsung di potong oleh Maya.


"Ah ya, ada baiknya kita istirahat karena ini sudah larut malam. Anda juga pasti sangat kelelahan bukan?" ujar Maya sambil mendudukkan pantatnya di sofa. Ia meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku.


"Yah, anda benar nona, Maya." ujar Dave duduk bersebrangan dengan Maya. Ruangan itu hanya di terangi cahaya remang-remang dari sinar bulan yang terpancar masuk.


Dave meletakkan tas nya di atas meja. Kemudian dia melepaskan jas nya karena merasa gerah. Melihat hal itu sontak saja membuat pipi Maya memerah. Dave terlihat sangat tampan hingga membuat Maya jadi salah tingkah. Bahkan Maya merasa jantung nya berdebar tak karuan.


"Ada apa nona, Maya?" tanya Dave heran karena Maya terus saja menatapnya.


"Ah, tidak. Itu saya agak haus. Hehehe." ujar Maya sangat malu karena tercyduk sedang memperhatikan Dave.


"Anda haus?"


"Iya."


"Tunggu sebentar, sepertinya saya punya satu botol Aqua." ujar Dave membuka tasnya. Dan benar saja ada satu botol Aqua yang masih tersegel.


"Ah, ini dia." Dave langsung memberikannya kepada Maya.


"Terima kasih." ujar Maya. Karena merasa sangat haus Maya langsung meminum Aqua tadi sampai habis. Setelahnya Maya jadi merasa malu karena dia minum dengan tergesa-gesa. Hancur sudah image nya. Seharusnya wanita saat minum harus terlihat elegan bukan malah sembrono.


"Anda pasti sangat haus ya?" bahkan Dave sampai menanyakan hal itu.


"Em, iya hehehe." ujar Maya tersenyum paksa. Ia benar-benar merasa tidak punya muka lagi. Arghhhhhhhhhhhhhhh, rasanya Maya ingin berteriak.


Dave hanya menanggapi nya dengan tersenyum. Hal itu tentu saja makin membuat Maya frustasi. Ia yakin Dave pasti berpikir aneh tentang nya.


"Tidurlah nona, Maya. Biar saya yang berjaga." ujar Dave.


"Eh, tapi anda juga harus tidur tuan, Dave."


"Tidak, saya masih ada sedikit pekerjaan yang harus di selesaikan. Jadi, anda tidurlah lebih dulu." ujar Dave seraya membuka laptop nya.


"Ohh begitu. Baiklah, selamat malam." ujar Maya memejamkan kedua matanya.


"Yah, selamat malam."


Tak lama setelah itu Maya benar-benar tertidur karena sangat kelelahan. Tubuhnya meringkuk saat merasa kedinginan. Dave melirik sekilas. Ia bangkit dari duduknya dan menutupi tubuh Maya dengan jas miliknya. Setelahnya Dave melanjutkan pekerjaannya.


Bersambung 😎


______________________________________________


Cieeee Dave nih yeee😚😚😚

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰👍🥰👍🥰🥰


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2