
Katerina beberapa kali mengalihkan saluran televisi tapi tidak ada yang seru. Hanya berita selebritis yang menurutnya tidak penting. Ia sungguh kebosanan terus di mansion tanpa melakukan apapun. Dia pikir dengan menonton televisi maka bosannya akan hilang tapi justru malah bertambah.
"Hm, bagaimana ya? Apa mungkin ibu Sera akan setuju dengan persyaratan yang ku ajukan? Aku jadi penasaran." gumam Katerina memikirkan tentang keputusan apa yang akan Sera ambil nanti.
Katerina hendak mengambil cemilan kue yang diberikan oleh Ella. Namun, matanya justru tidak sengaja melihat ada sebuah dompet. Katerina pun mengambilnya.
"Loh ini bukannya dompet, Zyano?" gumamnya.
Seketika Katerina tersadar. "Astaga, apa jangan-jangan dia lupa membawanya karena ada tamu tadi?"
"Kalau begitu aku harus memberikan padanya. Di sini banyak kartu penting."
"Aku harus ke kantornya!" ujar Katerina mengambil tasnya sebentar lalu berjalan keluar.
"Budi." panggil Katerina.
Tidak ada yang menyahut.
"Budii." panggil Katerina sekali lagi tapi tetap tidak ada sahutan.
"Astaga kemana, Budi pergi?" tanya Katerina heran. Tidak biasanya Budi tidak ada saat diperlukan seperti ini.
"Lebih baik aku memesan taksi saja." ujar Katerina berjalan sendiri keluar dari Mansion sambil mencari taksi.
Begitu melihat ada taksi Katerina langsung melambaikan tangannya. Ia bergegas masuk dan pergi menuju kantor suaminya.
"Apa, Zyan sadar ya kalau dompetnya ketinggalan?" gumam Katerina dalam hatinya.
"Ah, lebih baik aku telpon saja."
Katerina mengambil ponselnya. Jari lentiknya mencari kontak Zyano. Namun, ternyata nomer handphone suaminya malah tidak aktif.
"Mungkin dia sedang meeting dengan kliennya." ujar Katerina berfikir positif.
Dari mansion ke kantor Zyano memerlukan waktu setengah jam. Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai di depan gedung perusahaan Brawitama company. Katerina baru pertama kali melangkahkan kakinya ke sini. Ia terpesona melihat perusahaan Brawitama yang sangat besar bahkan lebih besar daripada perusahaan Cristopher.
"Wow, luar biasa." ucapnya tertegun.
"Apa neng bekerja di sini?" tanya pak supir taksi itu.
"Tidak pak, suami saya yang bekerja disini."
"Ohh begitu." supir taksi itu mengangguk-angguk paham.
"Oh iya pak, ini uangnya ya." ujar Katerina memberikan uang seratus ribuan kepada supir taksi itu.
"Astaga ini kelebihan neng."
"Tidak apa-apa pak. Ambil saja kembaliannya." ucap Katerina tersenyum.
"Wah terima kasih banyak neng. Semoga rejeki nya lancar terus."
"Aamiin, makasih doanya pak."
"Kalau begitu saya pergi dulu neng."
"Iya pak."
Katerina menarik nafas dan kemudian mengembuskan perlahan. Selanjutnya dia masuk ke dalam perusahaan itu dan bertanya kebagian resepsionis.
"Maaf, permisi sebentar."
"Iya, ada yang bisa saya bantu nona?"
"Em itu saya ingin bertemu dengan Zyano. Apa bisa?"
"Maaf sebelumnya, anda ini siapa ya nona? Apa anda sudah membuat janji temu dengan tuan, Zyano?" tanya resepsionis tersebut.
"Itu......" Katerina terdiam sejenak. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Bagaimana ini? Tidak mungkin kan aku bilang kalau aku ini istrinya? Mereka pasti tidak akan percaya begitu saja. Apalagi Zyano belum mengatakan apapun ke publik soal pernikahan kami. Apa yang harus kulakukan?" gumam Katerina dalam hatinya bingung.
__ADS_1
"Itu apa ya nona?"
"Anu itu, aku ini kerabat jauh nya yang baru saja pulang dari luar negeri. Jadi, karena aku sangat merindukan nya aku langsung mampir kesini tanpa membuat janji terlebih dahulu." ucap Katerina beralasan.
"Hah? Kerabat jauh?" Resepsionis itu memandangi Katerina dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia merasa curiga dengan Katerina. Tidak mungkin kerabat jauh datang tanpa memberitahu pikir resepsionis itu.
"Iya, apa aku bisa bertemu dengannya?" tanya Katerina.
"Maaf nona, sepertinya tidak bisa." tolak resepsionis itu.
"Loh kenapa tidak bisa?"
"Penampilan nona cukup mencurigakan. Kalaupun nona datang dari luar negeri harusnya nona membawa koper tapi ini tidak ada satupun. Dan pakaian nona juga terlihat sangat santai. Tidak seperti habis berpergian jauh." ujar resepsionis itu.
Katerina meneguk ludahnya susah. "Astaga, ini resepsionis sangat teliti seperti penjaga penjara saja. Bagaimana ini? Ayo berpikir Katerina."
"E....... ya aku membawa koper tapi ku letakkan di mobil. Masa iya aku repot-repot menarik koper sih. Hahahaha tidak mungkin kan?" ucap Katerina tersenyum paksa.
Resepsionis itu mengernyit. "Kalau begitu bolehkah saya melihat KTP anda dan juga pasport anda sebagai bukti kalau anda tidak berbohong?"
Bola mata Katerina melotot. "Apa? KTP dan pasport? Apa itu harus?"
"Yah tentu saja, saya ingin tahu apa anda berbohong atau tidak." jawab resepsionis itu.
"Astaga, mati aku. Kenapa aku harus membuat alasan pergi keluar negeri sih. Haduh, jadi ribet sendiri kan." batin Katerina meruntuki kebodohannya sendiri. Ia jadi pusing sendiri dengan alasannya.
"Kenapa diam nona? Oh atau jangan-jangan anda benar-benar berbohong ya? Dengan mengaku-ngaku kalau anda kerabat jauh tuan, Zyano? Maaf saya tidak mudah di tipu nona." tuduh resepsionis itu.
"Hei, jangan bicara sembarangan ya! Aku ini memang kerabat jauh nya Zyano!" tegas Katerina tidak terima.
"Ya sudah, kalau begitu tunjukan KTP dan pasport anda!"
"Em itu, KTP dan pasport ku ada di mobil. Yah, di mobil aku lupa membawa nya." ujar Katerina beralasan.
"Halah, jangan berbohong nona. Saya tahu anda ini penipu kan? Anda pikir mudah membohongi saya!" ucap resepsionis itu langsung menuduh.
"Saya bukan penipu! Dan saya juga tidak berbohong. Kamu jangan menuduh sembarangan ya!"
"Yah, sudah kukatakan bukan?! Kalau KTP dan pasport ku ada di mobil! Kenapa kau ini ribet sekali sih. Aku hanya ingin bertemu Zyano apa sulitnya itu hah?!" ketus Katerina kesal.
"Maaf nona, saya hanya mengikuti aturan yang berlaku di sini. Kalau ingin bertemu dengan tuan, Zyano harus membuat janji terlebih dahulu." ucap resepsionis.
"Oh astaga, aturan macam apa itu?! Mengapa untuk bertemu dengan Zyano saja sudah seperti ingin bertemu dengan tahanan penjara. Ketat sekali." gerutu Katerina tak habis pikir.
"Tapi itulah aturannya nona. Saya hanya mengikuti prosedur dari pimpinan. Saya harap anda bisa mengerti hal itu."
"Tapi kan aku ini kerabatnya! Lagipula aku hanya ingin bertemu sebentar saja. Tidak akan lama kok." pinta Katerina keras.
"Maaf nona, tetap tidak bisa." tolak resepsionis itu.
"Ya sudah, kalau begitu jangan salahkan aku kalau memaksa masuk!" ujar Katerina langsung berlari.
"Hei tunggu nona. Satpam." teriak resepsionis itu.
"Ada apa?" tanya dua orang satpam.
"Tolong kejar nona itu. Dia penyusup!"
"Baik." kedua satpam tadi langsung bergegas mengejar Katerina.
"Oh astaga, mengapa lift ini lama sekali." gumam Katerina panik.
"Hoooo, mau lari kemana nona?" tanya satpam tadi langsung menahan kedua tangan Katerina hingga membuatnya kesusahan untuk bergerak.
"Augh, sakit! Lepaskan saya pak!" jerit Katerina meringis kesakitan.
"Maaf tidak bisa nona. Anda harus kami bawa ke kantor polisi." ujar satpam tadi.
"Apa? Ke kantor polisi? Jangan gila! Apa kalian pikir saya ini penjahat?" tanya Katerina shock mendengar nya.
"Yah, nona kan sudah melanggar aturan dan merobos masuk padahal sudah di larang. Itu berarti sudah jelas kalau nona berarti penyusup!" tuduh polisi itu.
__ADS_1
"Astaga, tuduhan macam apa itu? Saya bukan penyusup pak. Saya kesini ingin bertemu dengan Zyano!" ujar Katerina memberontak.
"Maaf nona, kami tidak percaya. Mana ada penyusup yang mau mengaku?"
"Aduh, saya tidak berbohong pak. Saya memang bukan penyusup! Tolong lepaskan saya!"
"Maaf tidak bisa nona!"
"Aduh, jangan ditarik pak. Tangan saya sakit." rintih Katerina terus memberontak.
"Jangan salahkan kami nona, itu semua salah anda. Kalau anda tidak ingin sakit maka jangan memberontak dan ikuti saja kami dengan tenang ke kantor polisi."
"Tidak mau! Saya bukan penjahat! Lepaskan!"
Semua karyawan melihat kearah Katerina yang diseret paksa oleh kedua satpam. Mereka merasa kasihan tapi kalau penyusup memang harus ditindak tegas seperti itu sesuai dengan aturan yang diterapkan Zyano.
"Pak tolong lepaskan saya!"
"Tidak bisa nona!"
"Baiklah, saya akan mengaku." ujar Katerina membuat langkah kedua satpam tadi terhenti.
"Mengaku apa?" tanya satpam itu kebingungan.
"Sebenarnya.......... saya itu istrinya Zyano!" ucap Katerina membuat semua orang yang berjalan jadi terhenti karena kaget mendengar pengakuan dari Katerina.
Hahahaha
"Mana mungkin nona, anda jangan membual." ujar kedua satpam tadi tertawa renyah.
"Saya tidak membual. Saya memang istrinya Zyano. Kami menikah satu bulan yang lalu." ungkap Katerina terpaksa mengakui hal itu karena dia tidak mau dibawa ke kantor polisi.
Bukannya percaya semua karyawan malah tertawa mengejek.
"Hei, nona jangan terlalu mengkhayal. Mana mungkin tuan, Zyano yang super dingin itu menikah. Kalaupun dia menikah pasti sudah heboh berita nya di televisi. Tapi ini malah tidak ada berita apapun. Anda jangan membohongi semua orang seperti ini!" tegur karyawan lain.
"Yah benar, kami tidak percaya!" teriak semua karyawan.
"Aku tidak berbohong! Aku dan Zyan memang sudah menikah satu bulan yang lalu!" tegas Katerina.
"Tapi kenapa tidak ada beritanya?"
"Itu.... karena kami setuju untuk merahasiakannya."
"Halah, jangan percaya guys. Wanita itu pasti sudah gila. Mungkin saja dia menyukai tuan, Zyano dan karena di tolak dia jadi mengaku-ngaku seperti ini. Haduh, kasian sekali. Cinta bertepuk sebelah tangan ya?" ejek para karyawan wanita.
"Hahahaha miris sekali. Ayo cepat bawa dia ke kantor polisi! Wanita ini hanya merepotkan orang lain saja!"
"Tidak! Aku tidak berbohong! Augh, lepaskan aku!" pinta Katerina menjerit karena pergelangan nya terasa perih.
"Berhentilah membuat keributan nona!" tegas satpam itu menarik tangan Katerina kasar. Tapi Katerina terus saja memberontak sampai tangannya tergores.
"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak ingin dibawa ke kantor polisi." batin Katerina.
"Hubby, tolong aku." pinta Katerina memejamkan matanya dan tanpa sadar bulir bening membasahi pipinya. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Tangannya sakit di tambah kepalanya pusing karena dikerumuni banyak orang.
Ting
Pintu lift terbuka lebar memperlihatkan Zyano, Dave, Maya dan juga rekan bisnisnya. Mereka sehabis dari ruang meeting. Dan berniat mengantarkan klien itu sampai keluar. Akan tetapi Zyano malah diperlihatkan oleh pemandangan yang tidak mengenakan.
"Hubby." lirih Katerina pelan.
"Apa-apaan ini?!"
Bersambung 😎
______________________________________________
Cari mati sih satpam nya🤣🤣
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰👍🥰👍🥰👍
__ADS_1
^^^Coretan Senja ✍️^^^