Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
89. TIDAK PUNYA PILIHAN LAIN


__ADS_3

Katerina berbalik menatap suaminya yang memasang wajah datar. Ia tahu Zyano sedang marah. Akan tetapi Katerina melakukan ini semua agar suaminya tetap bisa menjalin hubungan kerjasama dengan tuan Felix. Ia tidak ingin menjadi penghambat bagi Zyano.


"Hubby, jangan marah. Aku minta maaf kalau kau tidak suka dengan keputusan ku yang memaafkan Tante Irene." ucap Katerina menggenggam tangan suaminya.


"Aku tidak marah, Kate tapi aku tidak suka kalau kau merendahkan dirimu seperti tadi!" ujar Zyano tegas.


"Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya tidak ingin hubungan kau dan tuan Felix hancur karena aku."


"Kau tidak perlu memikirkan orang lain sayang. Tapi pikirkanlah dirimu sendiri!"


"Aku tidak memikirkan orang lain tapi aku memikirkan suamiku. Apa itu salah?" tanya Katerina mulai kesal.


"Astaga, bukan itu maksudku sayang." ujar Zyano jadi serba salah.


"Lalu apa?"


"Begini, dengarkan aku! Aku sangat bahagia kalau kau memikirkan tentang ku tapi kau juga harus memikirkan tentang dirimu sendiri sayang."


"Aku paham, Zyan. Maka dari itu aku ingin membuktikan siapa diriku. Aku tidak ingin semua orang menghina mu hanya karena aku. Jadi, aku akan berusaha keras agar pantas bersanding dengan mu hingga tidak ada siapapun lagi yang menghina keluarga Brawitama!" ujar Katerina.


Katerina melanjutkan perkataannya. "Tapi untuk melakukan itu semua tentunya aku memerlukan dukungan darimu. Ku harap kau bisa mengerti itu hubby." ucap Katerina menatap manik mata Zyano. Ia benar-benar serius dengan ucapannya.


Zyano menghembuskan nafas pelan. "Baiklah, aku mengerti sayang."


"Makasih hubby." ucap Katerina langsung memeluk suaminya Ia senang karena Zyano mau mengerti.


"Sama-sama sayang." ujar Zyano sambil mengecup puncak kepala Katerina dengan sayang.


"Maaf menganggu waktunya tuan. Saya hanya ingin mengingatkan kalau sebentar lagi anda harus meeting dengan klien." ucap Dave tiba-tiba menyela pasutri yang sedang bermesraan itu.


Katerina pun lekas melepaskan pelukannya. "Ah iya, Maaf Dave." ujar Katerina jadi malu.


"Tidak perlu meminta maaf nyonya. Anda tidak salah hanya saja kadang tuan, Zyano lupa waktu." ungkap Dave.


"Diam kau Dave!" tegur Zyano kesal.


Sedangkan Katerina hanya terkekeh. "Sudahlah hubby. Perkataan Dave ada benarnya. Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum terlambat."

__ADS_1


Zyano menghela nafas. "Ya sudah, aku pergi dulu ya sayang. Jaga dirimu baik-baik dan kalau ada apa-apa langsung hubungi aku!"


"Iya hubby." balas Katerina tersenyum.


"By sayang." Sebelum pergi Zyano mencium kening sang istri terlebih dahulu. Dan setelahnya dia masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati di jalan ya hubby." teriak Katerina melambaikan tangannya begitu mobil Zyano keluar dari mansion. Ia tersenyum sebentar dan kemudian masuk ke dalam.


*****


Sementara itu di tempat lain Sera sedang mondar-mandir tidak tenang. Ia di landa kegundahan. Tawaran Katerina membuatnya tertarik tapi dia tidak bisa memberikan perusahaan Cristopher begitu saja. Kalau Andi tahu hal ini dia pasti marah besar.


"Arghhhhhhh aku tidak tahu harus melakukan apa." teriak Sera menjambak rambutnya frustasi. Ia kehabisan akal.


"Olivia terus saja mendesak ku agar secepatnya membebaskan Andi tapi masalahnya aku tidak punya cara untuk melakukan itu!"


"Oh tuhan, apa yang harus kulakukan? Apa aku menyetujui saja persyaratan dari Katerina? Yah, hanya itu satu-satunya cara membebaskan Andi." jerit Sera menggeram pusing. Ia stres karena terus di desak seperti ini sementara dia tidak memiliki rencana apapun.


"Tapi bagaimana kalau Andi marah? Apa yang harus kukatakan padanya nanti?!" gumamnya pusing.


"Arghhhhhhh ini membuatku gila!"


Tok tok tok


Sera tersentak kaget begitu mendengar pintu diketuk. Begitu dibuka ternyata ada Olivia yang sedang menangis.


"Ibuuuuuu." Olivia langsung memeluk Sera dengan erat.


"Olivia, apa yang terjadi sayang?" tanya Sera heran mengapa putrinya itu tiba-tiba menangis.


"Ibu, tadi Rei menelpon ku dan dia mengatakan kalau ayahnya memberikan waktu seminggu. Kalau dalam waktu seminggu ayah belum bebas maka pertunangan aku dan Rei harus di batalkan!" ujar Olivia mengadu.


"Apaa? Mereka mengatakan itu?"


"Iya ibu, aku harus bagaimana? Aku bingung Bu. Aku tidak ingin pertunangan ku dan Rei batal hanya karena masalah ini." ujar Olivia menangis tersedu-sedu.


"Oh astaga, tenangkan dirimu Olivia." ujar Sera mengusap punggung belakang putrinya itu.

__ADS_1


"Mana bisa aku tenang Bu! Hubungan ku dan Rei sedang dipertaruhkan! Kalau sampai pertunangan kami batal bagaimana nasib anak yang ada di perutku ini Bu? Apa ibu pernah memikirkan itu!" sarkas Olivia marah.


"Olivia, apa kau pikir ibu tidak memikirkan itu hah?! Ibu saja sedang stress memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan ayahmu dari penjara! Apa kau pikir itu mudah hah?!" ujar Sera tersulut emosi.


"Lalu kita harus bagaimana Bu? Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi." ucap Olivia terisak.


"Tenanglah Olivia, saat ini ibu sedang memikirkan sesuatu agar bisa membebaskan ayahmu. Jadi berhentilah merengek seperti anak kecil. Harusnya kau juga bisa membantu ibu jangan malah membuat ibu semakin pusing!" ujar Sera muak dengan tingkah putrinya itu. Bukannya membantu dia malah semakin merepotkan.


"Loh, kenapa ibu malah memarahi ku?!" tanya Olivia tidak terima.


"Ibu tidak memarahi mu, Olivia. Ibu hanya ingin kau bersikap dewasa. Jangan terus merengek tidak berguna seperti ini. Itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Daripada menangis tidak jelas seperti ini lebih baik kau bantu ibu memikirkan solusinya!"


"Aku tidak tahu ibu! Aku kan sudah mengatakan kalau aku tidak punya rencana apapun! Aku juga tidak bisa membujuk kakak."


"Ya sudah kalau begitu kau keluar saja! Ibu ingin istirahat agar bisa memikirkan semua ini! Tolong jangan ganggu ibu untuk sementara waktu!"


"Jadi ibu mengusir ku?"


"Terserah lah yang penting kau keluar sekarang!" ujar Sera menunjuk pintu.


Olivia berdecak." Ish, sebal. Ibu tidak berguna!" ujar Olivia keluar sambil menginjak-injak kakinya marah seperti anak kecil yang tidak diberi uang jajan.


Sera memijit keningnya pusing. "Astaga, anak itu terlalu di manjakan! Jadi dia bersikap seenaknya."


Sera terduduk di kasurnya. "Aku harus memikirkan alasan yang tepat agar Andi setuju dengan rencana ku."


"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan, Katerina. Karena hanya itu satu-satunya cara untuk membebaskan Andi dari penjara." gumam Sera bersandar di headboard. Kepalanya benar-benar pusing memikirkan masalah yang terus datang bertubi-tubi seperti tidak ada habisnya.


Sedangkan Olivia keluar dari kamar Sera dengan wajah masam. Ia sangat marah karena diabaikan ibunya. Padahal Olivia hanya ingin dimengerti tapi dia malah dimarahi oleh Sera.


"Ish, menyebalkan. Ibu tidak bisa diandalkan. Kalau begitu aku harus mencari cara sendiri! Aku tidak boleh tinggal diam seperti ini. Bagaimanapun caranya aku harus membebaskan ayah dari penjara agar aku bisa menikah dengan Rei." ucap Olivia menyeringai licik dan setelah itu pergi.


Bersambung 😎


______________________________________________


Dih mau apa lagi si Olivia 😑

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰🥰🥰👍🥰


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2