Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
114. POSITIF HAMIL


__ADS_3

Mendengar hal itu tanpa pikir panjang Zyano langsung bergegas pergi ke toilet. Dalam hatinya dia berharap kalau itu bukan istrinya. Namun, harapannya langsung pupus saat melihat Katerina tergeletak tak berdaya. Jantungnya seolah berhenti mendadak.


"Kate." lirihnya terbata-bata. Zyano panik dan langsung menghampiri istrinya. Semua orang seketika menyingkir melihat kedatangan Zyano.


"Kate, bangun sayang." panggil Zyano seraya menepuk-nepuk pipi sang istri berharap dia bisa sadar. Namun, Katerina tak kunjung membuka matanya.


"Sayang, hei. Jangan membuat ku takut. Buka matamu, Kate." pinta Zyano. Suaranya terdengar gemetar. Ia sungguh takut melihat Katerina tidak sadarkan diri seperti ini.


"Ya ampun, Katerina." Laura menutup mulutnya saat melihat Katerina pingsan. Begitu pun dengan Noel dan Andrew.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Noel kepada orang-orang.


"Kami juga tidak tahu. Nona ini tiba-tiba pingsan." jawab mereka.


"Siapa yang pertama kali melihat, Katerina pingsan?" tanya Andrew.


"Saya, tuan." sahut seorang wanita.


"Bagaimana kronologi nya?" tanya Noel.


"Saya tidak tahu pasti karena saat saya keluar dari toilet nona ini sudah tergeletak pingsan begitu. Akan tetapi saya sempat mendengar ada suara orang yang muntah-muntah. Saya pikir mungkin nona ini sedang muntah-muntah." ujarnya.


Tatapan Zyano terkunci pada dress Katerina yang kotor. Ia berdecak dan kemudian langsung menggendong istrinya. Semua orang terheran-heran sekaligus bertanya-tanya apa yang sedang terjadi?


Tapi Zyano tidak berniat memberikan konfirmasi apapun. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan berbagai pertanyaan orang lain. Namun, terlihat jelas tatapan Zyano menunjukkan kekhawatiran. Raut wajah kecemasan nya tidak bisa disembunyikan.


Begitu sampai didepan mobil dengan sigap Noel membukakan pintu. Zyano pun langsung merebahkan sang istri di jok belakang.


"Zyan, biar aku saja yang menyetir. Kau jaga istrimu di belakang." ujar Noel menawarkan bantuan.


"Baiklah, ayo."


"Hm, ayo."


"Tunggu, aku ikut!" ucap Laura tiba-tiba.


"Tidak perlu!" ujar Zyano langsung menolak.


"Kenapa, Zyan?" tanya Laura bingung.


"Ini acara keluarga mu. Jadi, sebaiknya kau tetap disini. Lagipula aku juga tidak ingin merepotkan mu karena sudah ada Noel yang membantuku."


"Tapi....."


"Ayo pergi." Zyano bergegas masuk ke dalam mobil. Begitupun dengan Noel. Mobil mereka melaju pergi menuju rumah sakit terdekat. Sedangkan Laura menggeram kesal. Ia menghentakkan kakinya marah. Dan setelah itu ia langsung masuk.


Dalam perjalanan Zyano tak henti-hentinya mencium kening Katerina. Ia benar-benar khawatir melihat kondisi Katerina. Zyano takut kalau terjadi sesuatu dengan istrinya. Ia tak sanggup membayangkan nya.


"Sayang, bertahlah. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Kau harus baik-baik saja, Kate!"


Noel melirik sekilas jok belakang dari pantulan cermin. Ia tidak pernah melihat Zyano se khawatir itu. Ini baru pertama kali baginya. Karena, dulu raut wajah Zyano hanyalah datar.


"Noel, lebih cepat lagi!" pinta Zyano.

__ADS_1


"Baik."


Noel mengangguk paham dan kemudian melajukan mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit. Zyano langsung bergegas keluar dari mobil sambil berteriak memanggil dokter dan suster. Ia meminta agar istrinya bisa langsung diperiksa. Kemudian, mereka disuruh menunggu di luar.


Waktu terus berlalu. Namun, dokter masih tak kunjung keluar dari ruang UGD. Zyano mondar-mandir tak tenang. Perasaan nya tidak keruan memikirkan sang istri.


Noel berdecak. "Zyan, duduklah dulu. Kepalaku pusing melihatmu yang terus mondar-mandir." keluh Noel pusing.


"Mana bisa aku duduk dalam keadaan begini. Aku khawatir takut terjadi sesuatu dengan, Katerina. Kenapa dokternya lama sekali hah?!" protes Zyano menggerutu kesal.


"Tenanglah, Zyan. Aku yakin istrimu baik-baik saja."


"Aku harap juga begitu. Tapi kenapa dokternya lama sekali memeriksa nya hah?!"


"Hei, Zyan. Dokter juga punya beberapa prosedur dalam memeriksa pasien. Mereka tidak bisa sembarangan. Jadi, memerlukan waktu yang banyak. Maka dari itu kau tenanglah. Percaya kan semuanya pada ahlinya." ujar Noel.


"Diamlah! Kau sangat berisik!" bentak Zyano.


"Haish, bro. Duduklah dulu oke?" Noel menarik dan memaksa temannya itu untuk duduk. Ia benar-benar pusing melihat Zyano terus mondar-mandir.


"Apa yang kau lakukan hah?!" bentak Zyano meninggi.


"Shut, jangan berisik, Zyan. Nanti kau malah menganggu konsentrasi dokter. Jadi, duduklah dengan tenang oke?"


"Ck, terserahlah." Zyano duduk sambil memijit pelipisnya. Ia memejamkan matanya berdoa penuh harap. Kedua tangannya tergenggam erat.


Noel melirik sekilas. Ia tersenyum tipis dan kemudian merangkul pundak Zyano. "Hei, bro sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi jujur saja aku tidak pernah melihatmu se khawatir ini. Apa kau sangat takut kehilangan istrimu?" tanyanya.


"Yah, apa kau tahu? Dalam hidup ini aku tidak pernah setakut ini. Aku bisa menghadapi apapun entah itu bahaya sekalipun itu tidak masalah untukku. Tapi entah mengapa aku sangat lemah kalau berhubungan dengan, Katerina. Aku sangat takut kalau dia kenapa-napa. Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai terjadi sesuatu dengannya. Aku mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri." ujar Zyano.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku sendiri tapi satu hal yang pasti aku sangat takut kehilangan, Katerina. Tidak masalah kalau aku yang harus terluka tapi jangan dia! Aku tidak bisa melihatnya terluka sedikitpun." ucap Zyano jujur dari hatinya yang terdalam.


Noel tersenyum. "Itu tandanya kau sangat mencintainya, Zyan. Jadi, wajar kalau kau merasa setakut itu."


Noel, melanjutkan perkataannya. "Haish, astaga, aku tidak pernah menyangka hari ini akan datang. Hari dimana kau benar-benar jatuh cinta. Ku pikir sampai matipun kau tidak akan jatuh cinta. Melihat dari sikap dan karakter mu rasanya tidak mungkin kau menyukai wanita. Tapi aku turut senang kalau kau bahagia, Zyan."


Zyano terkekeh pelan. "Lalu, bagaimana dengan mu sendiri?"


"Astaga, jangan coba-coba mengejekku. Aku tidak seberuntung dirimu yang bisa mendapatkan wanita baik-baik seperti, Katerina." ucap Noel terdengar hambar.


"Jangan berkata seperti itu! Aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan menemukan wanita yang tepat untukmu. Tapi sebelum itu kau harus berhenti bermain-main dengan wanita ******!" peringat Zyano tegas.


Noel malah tertawa renyah.


"Kenapa kau malah tertawa hah?!"


"Tidak apa-apa aku hanya merasa lucu."


"Apanya yang lucu?"


Seketika eskpresi Noel langsung berubah datar. "Entahlah, apa kau tahu, Zyan? Aku sendiripun juga bingung. Setiap kali mempermainkan wanita aku merasa bahagia. Tapi adakalanya aku juga merasa hampa dan bosan. Tidak ada kebahagiaan yang berlangsung lama. Apa ini juga yang dirasakan oleh Kiara?"

__ADS_1


"Apa kau masih belum bisa melupakannya?"


"Haish, apa yang kau bicarakan hah?! Tentu saja aku sudah melupakannya."


"Tidak! Kau belum melupakannya, Noel. Dari hatimu yang paling dalam kau masih menginginkan nya bukan? Karena itu, hatimu selalu merasa hampa dan kosong karena kau belum melepaskannya sepenuhnya."


"Mana mungkin, Zyan. Aku sudah melupakannya!" tegas Noel.


"Jangan membohongi diri sendiri! Kau bisa membohongi orang lain dengan perkataan mu tapi tidak dengan hatimu! Kau masih belum bisa melepaskan masa lalu yang kelam itu, Noel."


Ucapan itu langsung membuat Noel terdiam. Apa yang dikatakan Zyan tidak sepenuhnya salah. Dia pun sebenarnya juga bingung dengan hatinya sendiri. Tapi setiap kali pikiran itu muncul Noel selalu menepisnya. Ia tak ingin mengingat kenangan pahit itu.


"Aku tidak akan berkomentar apapun. Ini memang hidupmu, Noel. Semua keputusan ada di tanganmu. Tapi sebagai temanmu aku hanya bisa berharap kau bahagia. Jangan terus menyiksa diri sendiri. Cobalah membuka lembaran baru. Tidak ada salahnya kau memulai hidup baru. Kau juga berhak bahagia."


Noel tersenyum. "Apa menurutmu aku bisa melakukannya?"


"Tentu. Selama ada keinginan maka tidak ada yang tidak mungkin."


Ceklek


Perhatian mereka teralihkan saat melihat dokter dan kedua suster keluar dari ruang UGD. Zyano pun langsung bangkit dari duduknya. Begitu pun dengan Noel.


"Dokter, bagaimana keadaan istriku? Apa dia baik-baik saja?" cecar Zyano dengan berbagai pertanyaan.


"Tenanglah, tuan. Istri anda baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." jawab dokter itu.


Zyano menghela nafas lega. "Syukurlah kalau begitu. Tapi, mengapa istri saya pingsan?"


"Itu hal yang bisa dialami oleh ibu hamil. Nona, Katerina hanya kelelahan. Makanya dia pingsan."


"Apa? H-hamil?" Zyano tampak shock mendengar nya.


"Iya, selamat ya, tuan. Istri anda sedang hamil. Usia kandungannya memasuki Minggu ke-tiga. Saya sarankan jangan sampai istri anda kelelahan karena kandungannya masih sangat lemah."


"Jadi, istri saya sedang hamil dok?" tanya Zyano memastikan takut salah.


"Benar, tuan."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, tuan."


"Iya, dok terima kasih banyak."


"Astaga, aku akan menjadi seorang ayah." teriak Zyano sangat senang. Wajahnya berbinar penuh kebahagiaan.


"Wah, selamat ya bro. Aku turut bahagia untukmu." ucap Noel.


Zyano benar-benar sangat bahagia. Saking bahagianya dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Tanpa sadar dia sampai meneteskan air matanya.


Bersambung 😎


______________________________________________


Yuhuhuhuhu akhirnya Kate hamidun juga🤩

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote nya yaaa guys 🙏😊


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2