Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
S2 : EPISODE 131


__ADS_3

"Nona Maya, anda ingin makan di mana?" tanya Dave sambil mengemudikan mobilnya. Tapi sesekali dia melirik kearah Maya. Kini keduanya sedang mencari restoran untuk makan siang. Tapi sebelum itu Dave ingin menanyakan dulu karena mungkin saja Maya ada rekomendasi tempat restoran yang makanan-nya enak. Tidak ada salahnya bertanya bukan?


Maya menoleh. "Em, sejujurnya saya tidak terlalu pemilih dalam makanan. Jadi, terserah tuan, Dave saja."


"Hm, baiklah. Kalau begitu kita makan di restoran tempat favorit saya saja. Di sana makanan-nya enak dan harganya juga terjangkau."


Maya menanggapinya hanya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Setelah itu hening kembali tanpa adanya percakapan. Sebenarnya Dave bisa saja bertanya apa makanan kesukaan maya tapi Dave bukan tipikal cowok yang banyak bicara ataupun banyak bertanya. Dia bicara sesuai keperluan saja karena Dave sudah terbiasa diam saat bersama Zyano. Itulah kalau kita bekerja bersama orang yang tidak banyak bicara. Kepribadian kita jadi ikut sama seperti bos. Kebiasaan memang sulit di rubah tapi bukan berarti tidak bisa.


Namun, hal itu berbanding terbalik dengan sikap Maya yang terbilang cerewet dan bawel. Dia sebenarnya tak nyaman dalam situasi mengheningkan cipta seperti ini tapi Maya juga tak bisa membuka obrolan karena takut tak di tanggapi atau kesannya malah jadi boring (Membosankan). Jadi, akhirnya dia memilih diam sampai mereka tiba di tempat tujuan.


"Wah, ternyata ada tempat seperti ini ya?" tanya Maya terpukau dengan restoran klasik bergaya tradisional. Udara di sana juga menyejukkan dan setiap sisi jalanan ada tumbuh rerumputan hijau yang menambah keasrian restoran itu.


Dave tersenyum tipis. "Ini belum seberapa. Ayo masuk nona, Maya." ajaknya.


Maya mengikuti langkah Dave dari belakang. Ia benar-benar terpukau dengan restoran itu. Di luarnya saja sudah bagus apalagi dalamnya. Tempat itu sangat luas. Banyak orang berlalu lalang. Dave memilih duduk di samping air mancur. Dia berniat makan sambil menikmati pemandangan indahnya air mancur. Udara di sana juga sejuk.


Seorang pelayan datang membawaku buku menu.


"Selamat siang tuan, nona. Kalian ingin memesan makanan apa? Restoran ini menyediakan berbagai macam makanan internasional. Dan Ini buku menunya. Silahkan di pilih." ujar pelayan ini menyodorkan buku menu kepada Dave dan juga Maya.


"Nona, Maya anda ingin makan apa?" tanya Dave.


"Em, saya bingung. Kalau menurut tuan, Dave makanan apa yang enak?" ujar Maya balik bertanya.


Dave terkekeh pelan. "Semuanya enak nona tapi kalau boleh tau nona suka makanan yang pedas atau tidak?"


"Saya suka makanan pedas." jawab Maya bersemangat.


"Ah, kalau begitu saya ada beberapa rekomendasi makanan pedas dan katanya enak."


"Apa saja tuan, Dave?"


Pelayan itu bersiap menulis menu yang akan Dave pesan. "Chili Crab (Singapura), Lasagna (Italia), Tom Yum Goong (Thailand) dan Veggie Spiring Rolls (China)."


"Ah iya dan untuk makanan penutup nya Melktert (Afrika)." ujar Dave menambahkan.

__ADS_1


"Baik, tuan. Apa ada lagi?" tanya pelayan itu.


"Kalau dari saya tidak ada tapi mungkin nona, Maya ingin menambahkan lagi?" tanya Dave menatap Maya.


Maya menggeleng. "Saya rasa itu juga sudah cukup." jawabnya tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu mohon di tunggu ya tuan, nyonya." Ujar pelayan itu. Dave dan Maya mengangguk bersamaan. Dan setelah itu pelayan tadi pergi.


"Oh iya tuan, Dave anda tidak suka makanan yang pedas ya?" ucap Maya memberanikan diri untuk bertanya.


"Iya hehe, saya tidak tahan dengan bubuk cabai." jawab Dave merasa malu.


"Ah, jadi begitu." Maya mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Ternyata tidak hanya dari sikap tapi makanan pun juga berbeda.


"Dari mana nona, Maya tahu?" tanya Dave penasaran padahal dia tidak memberitahu.


"Itu dari pesanan tuan, Dave, saya liat tidak ada yang pedas. Jadi, saya pikir tuan Dave tidak suka makanan yang pedas."


Dave tersenyum malu. "Iya, nona Maya. Sebenarnya ini cukup memalukan bagi saya karena tidak tahan pedas. Kalau saya makan-makanan yang pedas tubuh saya akan muncul bintik-bintik aneh semacam benjolan dan lebih parahnya saya bisa demam tinggi. Saya juga tidak tahu kenapa. Itu terjadi sejak saat saya masih kecil."


Dave yang mendengarnya hanya tersipu malu. Sebab, dulu dia selalu di ejek teman-temannya karena tidak tahan pedas tapi maya malah mengatakan sebaliknya. Untuk itu Dave sering memaksakan diri mencoba tahan dengan makan-makanan yang pedas tapi ujung-ujungnya dia selalu berakhir di rumah sakit.


"Oh iya, dari mana anda tahu restoran ini tuan, Dave?"


"Ah soal itu." Belum sempat Dave berucap tiba-tiba datang seorang pria yang memotong percakapannya.


"Loh, Dave. Ternyata kau makan di sini juga?"


"Tuan, Sean?" Dave refleks bangkit dari duduknya begitu melihat kedatangan Sean. Pria itu berdiri di belakang Maya.


"Wah-wah kau makan bersama siapa? Jangan bilang dia kekasihmu? Oh astaga aku tidak percaya ini." ucap Sean menggoda. Dia masih belum melihat wajah Maya. Karena posisi Maya membelakangi Sean.


Wajah Dave memerah. "Tidak, tuan. Dia bukan kekasih saya tapi teman kerja." bantah Dave.


"Tidak usah malu, Dave. Katakan saja kalau dia kekasihmu. Aku pasti akan mendukung kebahagiaan kalian." ujar Sean suka sekali menggoda.

__ADS_1


"Maaf, tuan sepertinya anda salah paham. Saya dan tuan, Dave hanya rekan kerja." ujar Maya bangkit dari duduknya, kemudian berbalik menatap Sean.


"Loh nona?" Sean tampak terkejut melihat Maya begitupun sebaliknya. Dia tak menduga kalau wanita yang disebutnya sebagai kekasih Dave ternyata Maya.


"Wah, tidak disangka kita bertemu lagi ya nona, Maya Anastasia?" ujar Sean dengan senyum penuh arti. Seolah-olah dia mengharapkan bertemu Maya. Tapi kenyataannya memang begitu.


"Hallo dokter, Sean." balas Maya tersenyum tipis. Terakhir kali mereka bertemu setelah Maya menampar nya karena pria itu tiba-tiba mengajak nya berkencan. Padahal mereka baru saja bertemu. Hal itu membuat Maya jadi berpikir kalau Sean adalah pria playboy yang suka gonta-ganti pacar. Meskipun kenyataannya berbanding terbalik.


"Apa kalian berdua saling mengenal?" tanya Dave buka suara. Ia merasa interaksi keduanya tampak akrab.


Sean tersadar dan lekas menjawab. "Ah iya, Dave. Kami sudah saling kenal. Aku dan nona, Maya beberapa kali bertemu. Iya kan nona?"


"Hm." Maya terlihat malas.


"Wah kebetulan sekali." Ujar Dave sumringah. Sedangkan Maya hanya biasa saja.


"Kalau begitu apa aku boleh bergabung?" tanya Sean tanpa tahu malu.


"Apa anda belum makan siang tuan, Sean?"


"Em, sebenarnya sudah tapi aku masih lapar. Jadi, tidak masalah kan kalau aku ikut bergabung makan bersama kalian?"


"Tentu saja. Anda tidak keberatan kan nona, Maya?" tanya Dave.


"Yah, tentu."


"Baiklah, terima kasih nona, Maya." ujar Sean menekan kata-katanya dengan sengaja. Sementara Maya memutar bola matanya malas. Ia sungguh malas bertemu Sean karena kesan terakhirnya tak berakhir baik tapi dia juga tak bisa menolak karena tampaknya Dave telah lama mengenal Sean. Lagipula Maya juga tidak ada alasan untuk menolak. Kalau dia menolak itu pasti akan terlihat aneh bukan?


Bersambung 😎


______________________________________________


Jangan lupa Like dan Vote nya ya guys 🥰🥰🥰🥰


Terima kasih dah mampir🙏🥳

__ADS_1


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2