
Katerina melingkarkan tangannya ke pinggang Zyano. Ia membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya sambil memejamkan matanya. Samar-samar Katerina bisa mendengar detak jantung Zyano. Hatinya pun menghangat.
"Sayang, kau kenapa hm?" Tanya Zyano hendak melepaskan pelukannya tapi Katerina justru makin mempererat pelukannya. Seakan tidak ingin melepasnya.
"Biarkan seperti ini dulu, Zyan. Aku ingin memeluk mu sebentar." ucap Katerina pelan tapi masih terdengar.
"Lama juga tidak masalah, sayang. Kau bebas memelukku sesuka hatimu." balas Zyano mengecup puncak kepala Katerina sambil mengelus punggung belakangnya dengan lembut.
Katerina terkekeh kecil. Ia memejamkan matanya, menikmati pelukan hangat suaminya yang sangat menenangkan itu. Beberapa menit terlewati tapi Katerina masih diam. Tidak ada pembicaraan apapun diantara keduanya.
Sementara Zyano hanya membiarkan istrinya itu memeluknya. Jujur saja dia merasa sedikit aneh dengan sikap Katerina yang tiba-tiba memeluknya seperti ini tapi Zyano tidak ingin ambil pusing. Lagipula dia juga menikmatinya.
"Zyan." panggil Katerina pelan.
"Hm?"
"Aku punya satu permintaan."
Dahi Zyano mengerut. "Apa?"
"Aku ingin kau mencabut tuntutan mu terhadap, Andi Cristopher." pinta Katerina mengejutkan.
Zyano refleks melepaskan pelukannya. "Hah? Apa maksud mu, sayang?"
"Aku ingin kau mencabut tuntutan mu agar Andi Cristopher bisa bebas dari penjara." ujar Katerina.
"Apa kau gila, Kate?" tanya Zyano terheran-heran. Ia tak mengerti kenapa istrinya itu tiba-tiba meminta hal gila.
"Tenang dulu, Zyan. Aku punya alasan kenapa memintamu melakukan hal itu." ujar Katerina menenangkan Zyano yang hendak marah.
Zyano menghela nafas. "Baiklah, katakan dulu apa alasannya? Jangan membuat ku bingung, sayang."
"Ayo duduk dulu, Zyan." ajak Katerina menarik tangan Zyano agar duduk di kasur.
Katerina mengembuskan napas panjang. "Sebenarnya aku punya rencana. Aku ingin membuat sebuah penawaran dengan Olivia dan juga ibunya."
"Penawaran apa?"
"Aku akan membebaskan Andi dari penjara tapi dengan syarat mereka harus menyerahkan surat kuasa kepemilikan perusahaan kepadaku yang sudah ditandatangani langsung oleh Andi agar aku bisa menjadi Presdir tetap di perusahaan Cristopher." ungkap Katerina menjelaskan rencananya.
"Jadi, kau ingin merebut perusahaan itu?" tanya Zyano.
__ADS_1
"Iya tapi aku perlu bantuan mu, Zyan. Karena kau yang sudah melaporkan ayah ke penjara. Itu artinya hanya kau yang bisa mencabut tuntutannya."
"Tapi ini terlalu beresiko, sayang. Apa kau pikir Andi rela mengorbankan perusahaan nya? Kalaupun dia setuju dan pada akhirnya keluar dari penjara itu lebih berbahaya lagi. Bisa saja dia nanti mencelakai mu. Aku tidak ingin itu terjadi!" tegas Zyano mengkhawatirkan.
"Aku tau, Zyan. Aku sudah memikirkannya dan aku siap menanggung resikonya." ujar Katerina yakin. Ia sudah bertekad akan melakukan apapun supaya misi balas dendam nya berhasil sekaligus membuktikan dirinya agar pantas bersanding dengan Zyano.
"Tapi aku tidak setuju, Kate. Aku tidak akan membiarkan mu dalam bahaya apalagi sampai membuat mu terluka." ucap Zyano membantah keras. Ia tidak ingin mengambil resiko besar karena bisa saja Katerina dalam bahaya.
"Zyan, ku mohon mengertilah. Aku punya alasan kenapa melakukan ini."
"Tapi ini terlalu berbahaya, Kate. Kau tau sendiri ayahmu bisa melakukan apa saja. Dia bahkan membunuh ayah kandung mu. Aku tidak mungkin membiarkan nya bebas begitu saja. Dia ancaman untukmu, Kate."
"Aku tau, Zyan. Karena itu aku ingin balas dendam. Mereka harus kehilangan semua yang mereka miliki. Satu persatu aku akan merebut semuanya." ujar Katerina mengepalkan tangannya erat. Matanya memancarkan dendam yang besar.
"Maaf, Kate. Keputusan ku akan tetap sama. Aku tidak bisa membiarkan dia bebas dari penjara. Dia terlalu berbahaya untuk mu."
"Tapi cepat atau lambat dia akan bebas, Zyan. Hukumannya hanya dua bulan. Apa kau sudah lupa?!" sarkas Katerina.
"Aku bisa menambah masa hukumannya!"
Katerina mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Terlalu banyak kejahatan yang dilakukan ayahmu itu, Kate. Dia pernah menggelapkan dana perusahaan untuk kepentingannya sendiri. Tidak hanya itu dia juga melakukan kerja sama ilegal tanpa sepengetahuan pemegang saham lainnya dan mendapatkan keuntungan sendiri. Aku punya semua buktinya." ungkap Zyano mengejutkan.
"Astaga, Kate." Zyano memijit pelipisnya pusing. Ia tidak mengerti mengapa Katerina tiba-tiba ingin melakukan hal ini. Bukannya Zyano tidak mau membantu tapi dia hanya takut Katerina akan dalam bahaya kalau membebaskan Andi dari penjara.
Katerina menggenggam tangan suaminya. "Zyan, kumohon mengertilah. Aku melakukan ini semua bukan tanpa alasan. Kau percaya padaku, kan?"
Zyano menghela nafas berat. Ia menatap Katerina serius. "Sayang, aku sangat percaya denganmu tapi kali ini aku tidak setuju. Aku bisa membantumu mendapatkan perusahaan itu tapi tidak dengan cara mengeluarkan Andi dari penjara!"
"Itu artinya kau tidak percaya denganku, Zyan!" Sarkas Katerina membentak. "Kalau kau memang percaya denganku harusnya kau mendukung ku! Tapi apa? Kau malah tidak setuju."
"Ini berbeda, Kate. Aku bisa mendukung mu dalam segala hal tapi tidak dengan cara yang seperti ini!" bantah Zyano.
Zyano melanjutkan ucapannya. "Mengeluarkan Andi dari penjara sama halnya aku membuka peluang untuknya menyakiti mu lagi! Terakhir kali dia melukai lehermu untuk mendapatkan kerja sama. Lalu, nanti apa lagi hah?!" bentak Zyano tegas.
Katerina tersenyum hambar. "Kupikir kau mengerti apa yang ku inginkan, Zyan tapi ternyata tidak."
"Apa maksudmu, Kate?"
"Kau punya segalanya, Zyan. Uang, kekuasaan, jabatan dan kedudukan. Apapun yang kau inginkan itu bukan hal yang sulit untuk dicapai. Tapi berbeda dengan ku. Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan. Aku hanya orang yang beruntung bisa menikah denganmu, Zyan!" ucap Katerina mengeluarkan isi hatinya yang selama ini terpendam.
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan, Kate? tanya Zyano tidak mengerti mengapa Katerina tiba-tiba mengatakan hal aneh.
"Kau mungkin tidak pernah memikirkannya, Zyan tapi aku selalu kepikiran. Aku hanyalah orang biasa yang tidak memiliki apa-apa. Sedangkan kau memiliki segalanya. Lalu, apa pantas seseorang sepertiku bersanding dengan mu?"
"Kenapa kau jadi memikirkan itu, Kate? Bukankah sudah kukatakan dengan jelas! Aku tidak peduli tentang semua itu. Aku punya penilaian ku sendiri!"
"Kau bukan tidak peduli tapi kau menutup matamu, Zyan!" Sarkas Katerina. Ia melanjutkan perkataannya. "Mungkin kau memang tidak mempermasalahkan hal itu tapi tidak dengan ku! Aku bisa menerima saat orang lain menghinaku tapi aku tidak bisa membiarkan mereka menghinamu dan keluarga Brawitama."
"Aku tidak peduli penilaian orang lain terhadap ku, Zyan tapi aku tidak mungkin diam saja saat keluarga ini dihina hanya karena memiliki menantu tidak berguna sepertiku. Aku tidak mau menjadi beban di keluarga Brawitama!"
"KAU TIDAK PERNAH MENJADI BEBAN, KATE!" bentak Zyano membantah keras.
Ia bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Katerina. "Kau istriku, Kate. Tidak peduli siapapun yang menghinamu itu berarti juga menghinaku!"
"Karena itu aku tidak ingin mempermalukan mu lagi, Zyan. Aku tidak ingin mereka menghinamu hanya karena aku Istri yang tidak memiliki apa-apa. Putri yang dibuang oleh ayahnya sendiri. Semua orang pasti mengatakan kalau aku hanya beruntung karena bisa menikah dengan pria hebat sepertimu. Tapi itu memang faktanya kan?" tanya Katerina tersenyum masam. Meskipun dia berusaha untuk tidak peduli tetap saja itu mengganggu nya.
"CUKUP! Aku tidak ingin mendengar nya lagi!" bentak Zyano marah.
"Kau pasti muak mendengarnya kan? Begitu pun aku, Zyan."
"Bukan itu, Kate. Aku hanya tidak suka kalau kau merendahkan dirimu sendiri." ujar Zyano.
"Tapi itulah faktanya! Kau tidak bisa mengabaikan kenyataan itu, Zyano!" tegas Katerina ingin Zyano mengerti. Ia sengaja memancing kemarahan Zyano agar bisa mengerti tentang keinginannya.
"Cukup! Kurasa pembicaraan ini tidak bisa dilanjutkan lagi. Aku tidak ingin berdebat denganmu dan aku juga ada pekerjaan. Kau tidurlah lebih dulu." ucap Zyano keluar dari kamarnya.
Tes
Air mata Katerina jatuh begitu saja. Ia menatap punggung suaminya yang hampir tidak terlihat lagi. Katerina terduduk lemah di kasur.
"Maaf, Zyan. Aku tidak ingin berjalan dibelakang mu terus. Tapi aku ingin berdiri di samping mu agar kau tidak malu. Untuk itu aku akan berusaha keras meskipun sulit." gumam Katerina mengigit bibirnya menahan isak tangis.
Bersambung π
______________________________________________
Part ini nyesek sampai tulangπππ
Menurut kalian gimana nih, apa Kate salah?
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya π₯°ππ₯°ππ₯°π₯°
__ADS_1
^^^Coretan Senja βοΈ^^^