
Malam harinya..........
Di sebuah kamar modern tampak Kenzie sedang sibuk belajar tapi dia tak bisa fokus karena memikirkan kejadian di kafe tadi siang. Ia masih sangat penasaran. Terlebih lagi sampai saat ini belum ada kabar dari Roy.
Kenzie menutup bukunya dan kemudian merebahkan dirinya ke kasur. Ia tak bisa belajar dengan kondisi pikiran yang kacau. Otaknya tak bisa berkonsentrasi. Sehingga dia lebih memutuskan agar berhenti sejenak sambil menenangkan pikirannya. Sudut matanya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 21:30. Hari sudah larut malam.
Tok tok tok
Kenzie tersentak mendengar suara ketukan di jendela. Tatapan matanya langsung teralihkan ke jendela. Namun, Kenzie teringat satu tal. Ia langsung bergegas bangun membuka tirai. Dugaannya benar ternyata yang mengetuk jendela adalah Roy. Tanpa banyak bicara Kenzie langsung membukakan jendela supaya Roy bisa masuk.
"Selamat malam tuan muda. Maaf mengganggu waktu istirahat nya." ujar Roy tersenyum. Ia sengaja masuk lewat jendela karena dia tidak bisa masuk lewat pintu jika sudah pukul 21:00.
"Yah, masuklah." setelah Roy masuk dia segera menutup jendelanya.
"Jadi, bagaimana Roy? Apa kau sudah mendapatkan rekaman cctv nya?" tanya Kenzie to the poin.
"Sudah tuan."
Roy segera menyambungkan rekaman cctv tersebut ke laptop milik Kenzie. Tak beberapa lama kemudian muncul di layar monitor kejadian tadi siang di kafe. Kenzie terlihat serius memperhatikan nya terutama saat dia duduk santai di bawah pohon rindang. Dugaannya benar, ada dua pria yang bersembunyi di balik semak-semak tapi wajah keduanya tertutupi. Tak hanya itu Kenzie juga mengecek rekaman saat dia menuju kafe. Ada satu mobil hitam yang mengikuti nya dari jarak jauh.
"Dari rekaman cctv ini terlihat jelas kalau mereka memang sedang memata-matai tuan muda." ujar Roy.
"Huh, menyebalkan. Aku tidak menduga ternyata dugaan ku benar. Padahal aku berharap kalau ini salah."
"Lalu, apa yang akan tuan muda lakukan?" tanya Roy.
"Aku juga tidak tahu, Roy." jawab Kenzie menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ia bergumam. "Aku bingung harus bagaimana. Ini di luar dugaan ku."
"Tapi aku tidak bisa diam saja. Aku harus mencari tahu siapa mereka dan apa tujuannya? Aku yakin ada seseorang yang mengirim mereka untuk memata-matai ku dan bisa saja mereka membahayakan keluarga ku maka sebelum hal buruk terjadi aku aku harus melakukan pencegahan." ucap Kenzie.
"Kalau begitu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu tuan muda?"
"Untuk saat ini tidak ada yang perlu dilakukan. Kita tidak bisa bertindak sembarangan. Jadi, Aku akan memantau keadaan sambil membuat rencana. Dan yang paling penting jangan sampai mereka mencurigai kita. Untuk itu kita harus bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apapun. Aku tidak ingin membahayakan nyawa siapapun karena kita tidak tahu siapa yang mengirim mereka."
__ADS_1
"Baik tuan muda. Saya mengerti."
"Ya sudah kalau begitu kau bisa pulang, Roy. Aku ingin istirahat."
"Baik tuan muda. Saya permisi dulu."
Kenzie membanting tubuhnya ke kasur dengan terlentang. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut pusing. Ia tak menduga akan jadi begini. Pantas saja akhir-akhir ini dia merasa tak nyaman. Sebelumnya, Kenzie tak pernah mengalami hal semacam ini. Jadi dia bingung harus melakukan apa.
"Huh, merepotkan saja." gumamnya.
******
Sementara itu Rei baru saja menyelesaikan pekerjaan nya. Saking banyaknya dia sampai tak sadar hari sudah malam. Rei pun memutuskan untuk pulang karena mereka lelah. Ia diantarkan oleh Angga asistennya.
Di perjalanan tanpa sadar Rei teringat perkataan Olivia. Ia berdecak kesal. Selalu saja wanita itu menganggu ketenangan nya.
"Angga, apa kau tahu kenapa Andi Cristopher bisa dibebaskan dari penjara?"
"Kenapa?"
"Saya juga tidak tahu tuan."
Rei mengusap wajahnya gusar. "Apa dia sudah gila? Mengapa dia mencabut tuntutannya padahal jelas-jelas Andi menyakiti Katerina?!"
Rei berdecih sinis. "Heh, pria itu memang tidak becus. Kalau aku jadi suami Katerina aku tidak akan mencabut tuntutan ku. Malahan aku akan membuatnya mendekam lebih lama supaya dia tahu diri. Benar-benar suami bodoh. Dia tidak cocok bersama Katerina." ujar Rei mengejek.
Angga hanya diam mendengarkan ocehan Rei. Ia tak ingin berkomentar takut salah berucap. Padahal orang yang dihina Rei merupakan pimpinan perusahaan ternama dan pastinya tidak bodoh. Menurut Angga kasus seperti Andi ini hal yang biasa dihadapi oleh Zyano. Bayangkan saja untuk memimpin perusahaan sampai terkenal bukan hal mudah. Akan ada banyak musuh politik dan semacamnya. Jadi pastinya lebih berpengalaman.
"Aku tidak habis pikir kenapa, Katerina mau menikah dengan pria bodoh seperti itu. Padahal aku lebih baik daripada nya. Kalau saja aku tidak tergoda dengan Olivia maka aku dan Katerina pasti bahagia. Ah, Olivia sialan. Gara-gara dia aku harus kehilangan Katerina!" geram Rei mengepalkan tangannya kuat.
Rei memukul-mukul kepalanya merasa bodoh karena sudah tergoda dengan Olivia. Ia meruntuki kesalahannya. Jika saja waktu bisa di putar kembali maka Rei tidak akan menyia-nyiakan cinta Katerina. Dia mungkin sudah bahagia. Tapi apalah daya nasi sudah jadi bubur. Kesalahannya terlalu fatal untuk dimaafkan. Akan tetapi meskipun begitu kenyataannya, Rei masih mengharapkan cinta Katerina. Dia bahkan sampai berniat merebut cinta nya kembali. Entah kenapa Rei merasa kalau wanita itu masih ada rasa padanya walaupun kemungkinannya tipis. Tapi lagi-lagi Olivia datang sebagai pengacau yang mengancam ketenangan hidup nya.
"Aku harus memikirkan cara supaya pertunangan ini dibatalkan. Sampai kapanpun aku tidak sudi menikah dengan wanita ular seperti Olivia. Hidupku mungkin akan lebih sengsara kalau menikah dengannya." ujar Rei merinding membayangkan kehidupan nya setelah menikah dengan Olivia.
__ADS_1
"Tapi apa yang harus aku lakukan? Masalahnya Olivia memegang kunci mati atas hidupku. Walaupun aku membantah tapi aku tidak bisa membuktikan kalau itu bukan anakku. Aku juga sudah menyuruh Angga untuk menyelidiki nya tapi sampai saat ini tidak ada hasil apapun. Jalanku benar-benar buntu." ucap Rei dalam hatinya kebingungan. Ia memijit ujung keningnya pusing. Rei kehabisan cara. Dia tak tau lagi harus melakukan apa.
"Tuan kita sudah sampai." ujar Angga.
Rei pun tersadar dari lamunannya. "Ah, iya." setelah itu dia bergegas keluar dari mobil.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu tuan."
"Hm."
Setelah itu mobil yang dikemudikan Angga melaju pergi. Rei pun masuk ke dalam rumahnya.
"Rei, akhirnya kau pulang nak." ujar Ranti bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan putranya semata wayangnya itu.
"Iya mah."
"Loh, Olivia?" Rei membulatkan matanya melihat Olivia sedang duduk di ruang tamu.
"Hai, babe." sapanya tersenyum manis.
Bersambung 😎
______________________________________________
Maaf guys lama gak update soalnya otor lagi sibuk di real life jadi ga sempet nulis hehehe 🙏🙏🙏🙏
tpi otor selalu usahakan untuk update kok walaupun lama. Maaf bgt ya🙏
Btw selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya 😊
Jangan lupa Like dan Vote nya ya guys ❤️❤️❤️
^^^Coretan Senja ✍️^^^
__ADS_1