Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
47. MENGAMBIL ALIH


__ADS_3

Saat ini di ruang rapat, suasana begitu menegangkan. Semua para pemegang saham nampak begitu marah. Olivia yang baru saja datang langsung dihadapkan dengan kemarahan para pemegang saham atas turunnya saham perusahaan.


BRAK!


Berkas yang dilempar kasar ke meja oleh salah satu pemegang saham. Semua orang terlonjak kaget apalagi Olivia.


"Lihatlah, saham perusahaan terus saja menurun. Jika begini terus kita akan bangkrut!" ucapnya marah.


"Saat ini perusahaan sudah mengalami kerugian miliaran rupiah hanya dalam beberapa waktu terakhir setelah berita tentang Andi Cristopher di penjara." ungkap pemegang saham lainnya.


"Proyek pembangunan mall di kota city baru saja dilaksanakan tapi sekarang harus tertunda karena kehabisan dana akibat ruginya perusahaan. Tidak ada pemasokan apapun, para pekerja memilih berhenti karena tidak di gajih." sahut lainnya melempar berkas tentang proyek pembangunan mall di kota city.


Olivia mengambil berkas itu lalu membacanya. Matanya langsung terbelalak saat membaca berapa banyak kerugian yang dialami perusahaan saat ini.


"Katakan! apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan semua masalah ini hah!" bentak salah satu dari mereka menggebrak meja begitu keras.


Olivia terdiam. Ia kehabisan akal tidak tahu harus bagaimana. Pasalnya dia juga tidak memiliki solusi apapun terkait masalah ini.


Olivia seorang model dan ia sama sekali tidak mengerti mengenai masalah perusahaan. Lalu, bagaimana caranya dia bisa menyelesaikan masalah besar ini? Olivia menyesal dulunya tidak belajar mengenai bisnis.


"Olivia, sebagai putri dari Andi Cristopher dan sebagai salah satu pemegang saham di perusahaan ini. Aku ingin mendengar apa saran mu untuk menyelesaikan masalah ini?!" tanya salah satu pemegang saham kepada Olivia.


"Heh, ku rasa dia tidak memiliki saran apapun. Untuk berhadir di sini saja kita harus menunggunya. Benar-benar menyebalkan." sarkas pemegang saham lainnya berdecih.


"Tapi setidaknya kau harus punya saran Olivia. Ini semua juga karena perbuatan ayahmu tapi kenapa harus kami yang menanggung kerugiannya."


"Maaf sebelumnya. Saya benar-benar minta maaf kepada kalian semua atas apa yang dilakukan ayah saya. Sebagai putri dari Andi, saya pemegang saham utama di perusahaan ini. Saya akan bertanggungjawab penuh untuk semua masalah ini." perkataan Olivia terhenti karena ada yang memotong nya.


"Tentu saja, siapa lagi yang harus bertanggungjawab selain dirimu dan juga ayahmu? Karena perbuatannya kami semua harus mendapatkan masalah besar seperti ini." sarkasnya.


"Saya tahu untuk itu saya minta maaf sekali lagi."


"Maaf saja tidak bisa Olivia. Apa dengan kata maaf darimu bisa mengembalikan uang perusahaan yang rugi miliaran rupiah? Tidak bukan! jadi jangan terus minta maaf, aku jenuh mendengarnya." tukasnya marah.


"Sial, orang ini benar-benar membuatku kesal. Ingin sekali aku memukul kepalanya yang botak itu." batin Olivia geram.


"Olivia, tolong berikan kami kejelasan. Jika begini terus kami akan sangat terpaksa menjual murah saham kami, sebelum perusahaan ini tutup nama." ancam pemegang saham lainnya.


"Tidak, saya mohon jangan lakukan itu. Perusahaan ini sudah sangat lama berdiri dan kalian juga sudah sangat mengenal ayah saya. Tolong berikan saya kesempatan, saya akan berusaha untuk mengembalikan perusahaan ke titik normal seperti dulu." ucapnya berusaha meyakinkan para pemegang saham untuk tidak menjual saham mereka.


"Olivia, kami juga tidak ingin perusahaan ini bangkrut, tetapi masalah ini sudah sangat besar. Apa kau tidak bisa melihat kurva itu terus turun, saham kita berada dititik paling rendah. Selama aku menanam saham disini, tidak pernah terjadi hal semacam ini tapi sekarang kami sudah tidak bisa bertahan lagi Olivia. Jika kami memaksa bertahan maka kerugian akan terus meningkat." ungkap nya.


"Gawat tuan." ucap salah satu pegawai tiba-tiba nyelonong masuk ke ruang rapat.


"Ada apa?"


"Para pekerja pembangunan mall dikota city demo meminta gajih mereka tuan. Saat ini mereka sedang ada didepan perusahaan untuk meminta gajih mereka segera dibayarkan." jawabnya menjelaskan.


"Astaga, masalah apa lagi ini? bukankah mereka sudah mendapatkan gajih pertama? kenapa malah meminta lagi?"


"Tidak tuan, ternyata tuan Liam selaku penanggung jawab keuangan tidak memberikan gajih mereka, dia membawa uangnya pergi tuan."


BRAK!


"Brengsek, di saat seperti ini dia malah korupsi uang perusahaan!" umpat kasar salah satu pemegang saham menggebrak meja.


"Lalu, bagaimana ini tuan? mereka terus saja berteriak minta gajih."


"Kita tidak punya dana lagi, perusahaan sudah tidak mempunyai dana apapun. Bagaimana kita bisa mengajih mereka?" tukasnya.


"Olivia, katakan! Apa yang harus kita lakukan sekarang? kau pemegang saham utama, harusnya kau punya solusinya. cepat katakan!" desak para pemegang saham kepada Olivia.

__ADS_1


Olivia gelagapan tidak tahu harus melakukan apa. Ia dilanda kebingungan, mulutnya terkunci. Olivia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Masalah beruntun menghampirinya. Rasanya kepalanya ingin pecah melihat semua kekacauan ini.


Semua pemegang saham menatap Olivia. Mereka meminta jawaban atas keputusan terkait solusi masalah ini. Tapi nampaknya Olivia tidak memiliki solusi dari permasalahan ini. Wajahnya gusar, penuh kebingungan.


"Cepat katakan Olivia, masalah sudah semakin besar." desaknya.


"Sudahlah, aku rasa dia tidak punya solusi apapun." sahut lainnya.


"Apa begini pemimpin yang kalian harapkan?" tanya seseorang yang baru saja datang.


Semua orang langsung mengalihkan pandangannya ke depan pintu. Terlihatlah sosok perempuan tegas dan berkharisma berjalan dengan penuh wibawa menghampiri mereka. Perempuan itu tidak lain adalah Katerina.


"Maaf atas keterlambatan saya. Setelah mendapatkan pesan dari Austin untuk berhadir dirapat dadakan ini. Saya langsung bergegas kemari tapi tetap saja, ternyata saya terlambat. Maaf kalau begitu." ucap Katerina tersenyum.


"Kaka." lirih Olivia nampak terkejut melihat kedatangan Katerina.


"Katerina, untuk apa kau datang kemari?" tanya salah satu pemegang saham lainnya.


"Untuk apa?" Katerina tersenyum kecut lalu mendudukkan pantatnya di kursi yang kosong.


Semua orang menatapnya heran. Penampilan Katerina terlihat sangat berbeda. Lebih elegan dan penuh wibawa, seperti seorang yang berkuasa.


"Apa kalian sudah lupa kalau saya ini juga putri Andi Cristopher? lebih tepatnya saya putri kandungnya. Itu artinya saya mempunyai hak untuk datang kemari." ungkap Katerina tegas.


"Kami semua tahu tapi bukankah kau sedang berselisih paham dengan ayahmu? itulah sebabnya Andi di penjara. Bukankah itu semua juga karena dirimu?"


"Ya semuanya memang karena saya. Tapi kedatangan saya kemari bukan tanpa tujuan. Saya tahu saat ini perusahaan mengalami kerugian besar bahkan diambang kebangkrutan. Dan karena hal itu juga kalian mengadakan rapat dadakan seperti ini."


"Saham turun signifikan setiap detiknya. Jika tidak ada solusi yang cepat dan tepat untuk penanganan masalah ini, maka sudah pasti perusahaan akan segera tutup nama."


"Jika kau tahu hal itu, maka katakan apa solusi untuk semua masalah ini? jangan bertele-tele, Katerina." sahut lainnya kesal.


Katerina tersenyum tipis. Ia menangkup kedua tangannya di atas meja lalu menatap semua para pemegang saham itu.


"Apa!" teriak semuanya bersamaan dengan wajah terkejut.


"Ka, kau jangan gila." tegur Olivia.


"Kenapa kau mengatakan hal gila, Katerina?"


"Apa-apaan ini maksudnya!"


BRAK!


"Diamlah! tenangkan diri kalian semua." sentak Katerina menggebrak meja.


"Jika kalian menurunkan jabatan Andi Cristopher sebagai direktur utama, maka itu akan membawa pengaruh baik untuk perusahaan. Kalian semua tentu tahu saat ini ayah saya sedang dihujat dimedia sosial dan oleh karena itu juga perusahaan mengalami kerugian besar."


"Dan untuk menyelamatkan perusahaan ke titik normal adalah dengan mendepak Andi Cristopher dari perusahaan. Itu semua dilakukan untuk mengembalikan kembali kepercayaan rekan bisnis terhadap perusahaan ini, jika tidak ada campur tangan dari Andi maka perusahaan bisa berjalan secara normal seperti biasanya."


"Karena kasus ayah saya dipenjara mengakibatkan rusaknya kepercayaan rekan bisnis terhadap perusahaan ini. Sehingga mereka secara sepihak membatalkan kerjasama dengan perusahaan ini, itu sebabnya perusahaan mengalami kerugian karena gagalnya beberapa proyek yang diputus secara tidak hormat. Maka untuk mengembalikan semua itu kita perlu mendapatkan kembali rasa percaya dari masyarakat dan semua rekan bisnis kita. Ya salah satu caranya adalah mendepak Andi Cristopher dari perusahaan ini."


"Itu hanya saran saya, jika kalian setuju maka kalian bisa mempertimbangkannya tapi jika tidak ya juga tidak apa." ucap Katerina menyadarkan punggung belakangnya dengan santai.


"Tapi tidak seharusnya ayah diberhentikan sebagai Presdir diperusahaan ini." sarkas Olivia nampak tidak setuju.


"Ayah adalah pemilik perusahaan ini dan kalian semua tidak bisa sembarangan memberhentikan ayah dari jabatannya hanya karena masalah ini." sentak Olivia.


"Ya aku tahu tapi sekarang dia ada dipenjara. Menurutmu, apa bisa dia menyelesaikan masalah ini? untuk keluar dari jeruji besi saja dia tidak bisa, lantas bagaimana dengan masalah perusahaan yang sedang dalam keadaan krisis seperti ini hah. Jika tidak cepat menyelesaikannya maka perusahaan akan bangkrut dan tutup nama begitu saja." timpal Katerina.


"Tapi setidaknya jangan korbankan jabatan ayah ka. Kalian semua harus ingat, Andi Cristopher adalah pemegang saham utama di perusahaan ini, tidak bisa begitu saja jabatannya digeser."

__ADS_1


"Bisa Olivia, jika para pemegang saham lain setuju. Semua keputusan tergantung masing-masing pemilik saham."


"Aku hanya menyarankan saja, semuanya terserah pada kalian. Jika ingin tetap perusahaan ini berjalan seperti biasa maka satu-satunya cara hanya menggeser Andi dari jabatannya." ungkap Katerina.


"Lalu, siapa yang akan menjadi Presdir jika Andi lengser?" tanya salah satu pemegang saham lainnya.


"Menurut aturan, yang menjadi Presdir adalah orang yang memiliki saham terbanyak di perusahaan ini. Jadi kita lihat saja siapa pemilik saham yang paling besar di sini." jawab lainnya.


"Apakah, Olivia?"


"Olivia, menurut surat wasiat dari tuan Andi, kau mendapatkan saham 35% dan itu di bagi dua dengan milik ibumu Sera. Jadi mungkin kau mendapatkan saham hanya 20% saham saja dan sisanya untuk ibumu 15%." jawab Evan menjelaskan.


"Sementara untuk nona Katerina hanya mendapatkan saham sebanyak 15% saja. Ini semua sudah berdasarkan pembagian saham menurut keputusan tuan Andi sendiri."


"Kalian semua sudah mendengar bukan? Aku memiliki saham terbanyak disini. Itu artinya akulah yang akan menjadi Presdir di perusahaan ini." ungkap Olivia tersenyum sombong.


"Kata siapa, Olivia?" sarkas Katerina.


"Kau hanya memiliki 20% saham sedangkan aku 35% . Jadi akulah yang berhak menjadi Presdir." ujar Katerina tersenyum.


"Apa-apaan ka, kau hanya memiliki saham 15%. Jangan terlalu bermimpi." sarkas Olivia tersenyum ejek.


"Lihatlah, ini saham ku!" balas Katerina melemparkan berkas yang berisi pernyataan sahamnya 35%.


Saham yang diberikan Andi kepada Katerina 15% sedangkan untuk 20% nya adalah saham yang sudah dibeli oleh Zyano dan diberikannya langsung kepada Katerina.


Semua para pemegang saham membaca dan mereka dapat mengetahui, memang benar kalau Katerina adalah pemilik saham terbanyak untuk saat ini.


"Sudah jelas bukan? Jadi akulah yang akan menjadi Presdir di perusahaan ini!" tegas Katerina tersenyum tipis.


"Tidak bisa! Dari mana kau mendapatkan saham 20% ini hah?!" sarkas Olivia protes.


"Dari manapun aku mendapatkan nya, itu tidak ada hubungannya denganmu. Yang pasti sekarang akulah yang memiliki saham terbanyak disini."


"Aku tidak setuju jika kau menjadi Presdir." balas Olivia menyatakan ketidaksukaan nya.


"Tapi kami semua setuju." ucap pemegang saham lainnya bersamaan.


"Benar, aku setuju jika Katerina yang menjadi Presdir di perusahaan ini. Menurutku Katerina jauh lebih bisa diandalkan." sahut lainnya.


"Iya, aku juga setuju."


"Baiklah, jika begitu maka sudah diputuskan kalau Katerina yang akan menjadi Presdir selanjutnya."


Prok prok prok


Suara tepuk tangan meriah memenuhi ruangan itu. Mereka semua setuju kalau Katerina yang menjadi Presdir selanjutnya.


"Terima kasih, saya akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini." ucap Katerina membungkukkan sedikit badannya hormat.


"Baiklah, rapat selesai. Semuanya boleh bubar."


Bersambung 😎


______________________________________________


Hahaha Olivia kalah😆😆🤭


Jangan lupa Vote, Komen, and Share ya guys🥰🥰


Masukkan juga di perpustakaan kalian😆

__ADS_1


Terimakasih untuk dukungan nya


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2