
"Sayang, kau yakin ingin menemui ayah mu hari ini? tanya Zyano sambil memotong steak daging medium yang ada didepannya. Kini, keduanya tengah menikmati sarapan bersama. Sambil melanjutkan percakapan mereka yang tadinya sempat tertunda.
"Iya, hubby."
"Kenapa mendadak sekali?"
Katerina mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa? Bukankah lebih cepat lebih baik. Aku tidak ingin menundanya lagi."
"Baiklah, kalau itu memang sudah menjadi keputusan mu, maka aku akan mendukung nya." ujar Zyano.
"Makasih hubby." balas Katerina tersenyum senang. Setelah itu mereka melanjutkan sarapannya sampai habis.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita pergi." ujar Zyano seraya bangkit dari duduknya.
"Eh, tunggu dulu hubby." sentak Katerina.
"Kenapa?"
"Bukankah hubby harus berangkat ke kantor?"
"Tidak jadi."
"Hah?"
"Ayo, sayang nanti terlambat." Katerina hanya bisa pasrah saat tangannya ditarik oleh Zyano. Begitu keluar dari mansion ternyata sudah ada Dave dan juga Budi yang sedang menunggu keduanya didepan mobilnya masing-masing.
"Selamat pagi, tuan, nyonya." sapa Dave dan Budi bersamaan tersenyum ramah.
"Pagi, Dave. Budi." Katerina membalas sapaan kedua bawahannya itu dengan senyum manisnya. Sedangkan Zyano sama sekali tak mempedulikan nya. Ia justru membuka kan pintu mobilnya untuk Katerina.
"Masuklah sayang." suruhnya membuat Katerina bingung.
"Loh, bukannya aku akan pergi bersama, Budi? Kenapa jadi malah masuk mobil hubby?" tanya Katerina bingung.
"Siapa yang mengatakan kau akan pergi bersama, Budi?"
"Ya kan memang seperti itu? Aku pergi bersama Budi sedangkan hubby pergi ke kantor bersama, Dave."
"Tidak! Kali, ini biar aku sendiri yang akan menemanimu bertemu dengan Andi Cristopher."
"Apa? Tapi, bagaimana dengan pekerjaan hubby? Memangnya hubby tidak ke kantor?" tanya Katerina bingung.
"Kau tidak perlu memikirkan soal itu sayang. Aku akan ke kantor setelah selesai menemani mu."
"Tapi tuan, pagi ini anda ada rapat dengan dewan komisaris perusahaan." sahut Dave tiba-tiba buka suara.
"Batalkan."
"Tapi, tuan...."
"Aku tidak suka mengulang perkataan ku, Dave!" tegas Zyano tak terbantahkan hingga membuat Dave langsung terdiam.
"Jangan dengarkan perkataannya, Dave!" sahut Katerina. Ia menatap suaminya tajam.
"Sayang."
"Zyan, kau tidak boleh seperti ini. Jangan karena aku pekerjaan mu jadi terbengkalai. Aku tidak ingin kau sampai dimarahi oleh dewan komisaris karena tiba-tiba membatalkan meeting tanpa kejelasan hanya karena demi menemani ku." ujar Katerina merasa khawatir.
"Tapi aku juga tidak bisa membiarkan mu bertemu dengan Andi sendirian, Kate!"
"Kenapa? Apa hubby tidak mempercayai ku?" tanya Katerina terdengar kecewa.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang. Aku tentu saja sangat mempercayai mu tapi aku tidak bisa membiarkan mu bertemu sendirian dengan orang yang jelas-jelas sudah menyakitimu. Meskipun dia ayahmu tapi tetap saja aku tidak tenang."
"Astaga, kekhawatiran hubby sungguh berlebihan. Dia tidak akan bisa menyakiti ku karena di sana penjara dan akan ada banyak penjagaan. Kalau dia berani menyakitiku sama saja cari mati hubby." ujar Katerina lelah seraya memijit ujung keningnya pusing. Lagi-lagi sikap over protective Zyano penghambat segala-galanya.
"Apapun alasannya aku tetap tidak setuju kalau kau menemuinya sendirian!" tegasnya tak bisa diganggu gugat.
"Zyan, ku mohon padamu mengertilah. Aku bisa menjaga diri ku sendiri. Tolong percayalah padaku." pinta Katerina menatap suaminya sendu.
"Keputusanku sudah bulat, Kate! Kau tidak boleh pergi sendirian."
"Aku tidak sendirian hubby tapi aku bersama, Budi!"
"Terakhir kali kau juga pergi menemui Andi bersama Budi tapi pada akhirnya kau terluka bukan?" ujar Zyano.
Skatmat
Katerina langsung terdiam. Ucapan Zyano memang benar sampai dia kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Kali ini Katerina kalah telak. Tak bisa mengelak lagi. Alasannya selalu cepat dibantah.
"Zyan, please." Katerina menatap suaminya dengan wajah memelas, berharap dia luluh. Namun, sayangnya Zyano tetap pada pendiriannya. Sekali tidak maka akan tetap tidak.
"Masuk, sayang."
"Tidak mau!" Katerina menutup kembali pintu mobil yang dibukakan Zyano.
"Jangan menyulitkan ku, Kate."
"Justru aku sedang membantu hubby! Aku tidak ingin hubby dimarahi karena membatalkan rapat dengan dewan komisaris perusahaan."
"Astaga, kau tidak perlu memikirkan soal itu sayang. Itu bisa diurus nanti."
"Mana bisa begitu. Aku yakin itu pasti rapat penting kan?" tanya Katerina mendelik tajam.
"Sepenting apapun tetap saja kau yang paling utama bagiku." ujar Zyano membuat wajah Katerina merona.
"Memangnya siapa yang bercanda?"
Katerina berdecak sebal. "Ish, Zyan!" dari tadi dia selalu kalah berdebat dengan suaminya. Ada saja jawaban Zyano yang membuat Katerina kehabisan kata-kata.
"Jadi, kau ingin pergi sekarang atau tidak sama sekali?" tanyanya.
"Kenapa hubby jadi mengancam ku." protes Katerina tak suka.
"Aku tidak mengancam tapi aku memberimu pilihan, Kate. Jadi, kau bebas memilihnya. Ingin pergi atau tidak sama sekali?"
"Bagaimana kalau aku memilih pergi tapi tanpa hubby?"
"Sayangnya itu tidak ada didaftar pilihan. Aku hanya memberimu dua pilihan. Pertama pergi bersamaku atau tidak sama sekali!"
"Mana bisa begitu. Itu bukan pilihan tapi ketentuan sepihak dari hubby!" ujarnya menggerutu.
"Terserah kau ingin menganggap nya seperti apa yang pasti kau hanya bisa memilih salah satunya. Pergi atau tidak?"
"Bagaimana kalau tidak?"
"Aku akan pergi ke kantor."
"Baiklah, kalau begitu aku tidak jadi pergi." ujar Katerina tanpa pikir panjang.
"Kau yakin?"
"Tentu saja."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kau harus tetap berada di mansion dan tidak boleh pergi kemanapun tanpa seizin ku!" perintah Zyano dengan tegas.
Katerina tercengang. "Apa? Kenapa hubby jadi melarang ku pergi?"
"Ohh, jadi kau berniat ingin pergi hm?" tanya Zyano menelisik netra istrinya itu.
"B-bukan begitu maksudku, Zyan. Memangnya aku tidak boleh pergi berbelanja?"
"Kau ingin berbelanja apa? Katakan, biar aku yang membelikan nya untukmu."
"Tidak bisa hubby. Aku ingin membelinya sendiri karena akan lebih baik jika kita bisa memilihnya sendiri. Kalau dibelikan itu seperti hadiah bukan berbelanja."
"Benarkah?" tanya Zyano tampak tidak percaya.
"Iya hubby."
Zyano manggut-manggut pelan, tampak berpikir. "Tapi mengapa aku merasa itu hanya alasanmu sayang. Aku tau kau bukan wanita yang suka berbelanja. Benar bukan?"
Katerina menelan saliva nya susah. "E....itu yah, dulu aku memang tidak suka berbelanja tapi entah, mengapa akhir-akhir ini aku jadi ingin berbelanja hubby. Ada banyak hal yang ingin ku beli. Em, misalnya seperti tas, sepatu, baju dan perhiasan."
"Oh ya? Mengapa bisa sangat mendadak ya?"
"Aku juga tidak tahu hubby tapi mungkin ini karena faktor kehamilan. Jadi, hasrat berbelanja ku tiba-tiba muncul." ucap Katerina tersenyum, pandai memberikan jawaban.
Sementara Dave dan Budi hanya diam menyaksikan perdebatan dua pasutri itu. Mereka tidak berkomentar apapun. Namun, dalam hati Dave berbisik.
"Menyerah lah, nyonya karena sampai kapanpun anda tidak akan menang melawan perintah tuan." batin Dave.
Sejauh ini Katerina bisa menjawab semua pertanyaan Zyano dengan alasan yang masuk akal. Tapi sebenarnya dia tidak tahu kalau dia sudah terjebak dalam permainan suaminya sendiri. Zyano tahu betul niat istrinya itu. Dia beralasan pergi berbelanja padahal ingin menemui Andi diam-diam. Supaya suaminya itu bisa pergi dengan tenang ke kantor.
Niat Katerina memang baik tapi Zyano tidak ingin mengambil resiko. Ia tidak akan bisa tenang membiarkan Katerina sendirian menemui orang yang jelas-jelas sudah menyakitinya bahkan sampai masuk penjara. Walaupun penjagaan nya ketat tapi Zyano tidak senaif itu.
"Ayolah, hubby. Aku boleh pergi berbelanja kan?" pintanya menatap suaminya dengan mata berbinar penuh pengharapan.
"Kalau kau memang benar-benar ingin pergi berbelanja ayo aku temani!"
"Apa? Tapi kan hubby harus ke kantor?"
"Rapatnya sudah dibatalkan jadi untuk apa ke kantor?"
Katerina mendengus kesal. "Hubby sengaja mempermainkan ku ya?!"
"Mana mungkin aku berani mempermainkan mu sayang. Sejak awal aku sudah mengatakan kalau rapatnya batal. Apa kau tidak mendengar nya?"
"T-tapi....." Katerina berdecak marah. Ia baru menyadari satu hal kalau perintah Zyano itu mutlak. Sia-sia saja dia mencari alasan supaya suaminya bisa ke kantor tapi ternyata tidak ada gunanya. "Ah, sudahlah hubby benar-benar keterlaluan."
Setelah mengatakan itu Katerina langsung masuk ke dalam mobil begitu saja. Ia bahkan menutup pintu mobil dengan keras karena marah. Katerina tak terima dirinya dipermainkan. Kalau tau begini dia tidak akan mau repot-repot mencari alasan yang pada akhirnya tidak berguna. Sementara Zyano hanya bisa menghela nafas berat. Ia membuka pintu mobil dan duduk di samping istrinya. Namun, kali ini Katerina menjaga jarak.
"Ayo pergi, Dave."
"Baik, tuan."
Bersambung 😎
______________________________________________
Waduh Katerina ngambek tuh😂😂
Jangan lupa Like dan Vote nya ya guys ❤️❤️❤️❤️
Makasih dah mampir 🤩🤩🎉🎉
__ADS_1
^^^Coretan Senja ✍️^^^