
Sean memarkirkan mobilnya begitu sampai di Le Grand Restoran. Ia mencek ponselnya sebentar, lalu turun dari mobil. Langkahnya terhenti saat melihat ada seorang pria yang sedang mencekik leher wanita.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" teriaknya bergegas menghampiri mereka dan langsung menendang perut pria itu hingga tersungkur di tanah.
Uhuk uhuk uhuk
Maya terbatuk-batuk begitu cekikan lehernya terlepas. Ia mengirup udara sebanyak mungkin. Maya bernafas lega. Hampir saja dirinya mati kehabisan nafas.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sean.
Maya mendongak. "K-kau?" lirih Maya terkejut saat melihat wajah Sean begitupun sebaliknya.
"Astaga, tidak ku sangka kita bertemu lagi nona." ujar Sean tersenyum smirk.
Darren berdecih dan kemudian berdiri. Ia memegangi perutnya yang sakit akibat tendangan Sean yang lumayan keras.
"Siapa lagi kau hah?! Jangan ikut campur dengan urusan ku!" geram nya.
Sean membantu Maya berdiri tanpa menghiraukan perkataan Darren.
"Apa kau terluka?" tanya Sean.
"Tidak."
"Syukurlah."
Maya hanya tersenyum. Ia tidak menyangka pria yang menabrak mobilnya sampai rusak ternyata malah membantunya seperti ini.
"Hei, apa kau tuli?!" decak Darren kesal karena diabaikan.
"Enak saja. Aku yang tampan begini kau bilang tuli? Mulutmu saja yang lemes seperti emak-emak." ujar Sean tak terima.
"Banyak omong."
BUGH
Tanpa aba-aba Darren langsung menonjok wajah Sean hingga membuat tubuhnya limbung. Untung saja Maya dapat menahan tubuh Sean agar tidak jatuh.
Sean mengusap sudut bibir yang berdarah. Ia berdecih. "Wah-wah parah! Beraninya kau menonjok wajah tampanku!"
Merasa tidak terima Sean membalas dengan membogem mentah rahang Darren dengan keras sampai gusinya berdarah.
"Bajingan."
Akhirnya perkelahian pun tak dapat dihindari lagi. Darren yang sangat marah langsung menghajar Sean habis-habisan. Ia seperti kesetanan tak berhenti memukuli Sean dengan brutalnya. Sementara Sean yang tidak bisa bela diri hanya bisa menghindar dari setiap serangan Darren yang ditujukan padanya.
BUGH
Pukulan terakhir membuat Sean jatuh tersungkur di tanah. Wajahnya babak belur habis karena di hajar Darren. Pria itu tak tanggung-tanggung memukulinya.
"Astaga, Apa kau baik-baik saja?" tanya Maya tidak tega melihat Sean yang babak belur. Ia pikir Sean hebat bela diri ternyata tidak.
Uhuk-uhuk
Sean terbatuk-batuk darah. Ia merasa seluruh tubuhnya remuk. Ia tidak menyangka lawannya begitu kuat. Sedangkan Darren tertawa bahagia melihat Sean yang kalah.
"Cih, ternyata segini saja kemampuan mu? Benar-benar payah!" ejek Darren mendecih.
Sean mengepalkan tangannya erat. Ia tidak terima di hina seperti ini. Sean berusaha bangkit. Ia tidak boleh kalah di sini.
"Lumayan juga." ujar Sean mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.
"Apa katamu? Lumayan?!" sentak Darren tidak terima.
"Yah, lumayan. Apa kau pikir kau sudah hebat? Cih, kemampuan segitu saja sudah sombong." Meskipun kalah Sean tidak akan membiarkan Darren menjatuhkan harga dirinya.
"Brengsek!" Darren hendak melayangkan pukulan ke wajah Sean tapi tangannya lebih dulu di cengkeram Maya.
"Lawan mu itu aku, Darren!" tegas Maya berkilat marah. Ia tidak akan membiarkan Darren memukuli Sean lagi.
"Jangan menggangguku, ******!" tegas Darren langsung mendorong tubuh Maya sampai jatuh.
"M-mau apa kau?" tanya Sean refleks mundur ke belakang saat Darren berjalan menghampiri nya.
__ADS_1
"Tentu saja membunuh mu." ucapnya sambil mengeluarkan pisau lipat yang tersimpan di saku jasnya.
"Gawat." gumam Maya.
"Sial, aku tidak punya pilihan lain."
Saat Darren mendekat tanpa di duga Sean langsung menyemprotkan air ladaku hingga mengenai mata Darren.
"Aaaaaa, mataku." teriak Darren menjerit kesakitan. Matanya terasa perih hingga dia tidak bisa melihat.
"Ayo kabur." ajak Sean langsung menarik tangan Maya.
"Hei, jangan lari!" teriak Darren berjalan tertatih tatih karena matanya tidak bisa di buka.
"Ayo cepat, masuk mobil." perintah Sean dan di jawab anggukan oleh Maya.
Setelah keduanya masuk dalam mobil. Sean langsung menginjak gas dan pergi dari restoran itu. Ia bahkan sengaja menabrak Darren hingga terpental jauh.
"Huh, akhirnya kita selamat." ujar Maya bernafas lega. Jantungnya berpacu cepat saking gugupnya.
"Yah, hampir saja aku mati." balas Sean lega.
"Btw apa yang kau semprotkan tadi?" tanya Maya penasaran.
"Itu air lada. Aku memang sengaja membawanya setiap hari untuk berjaga-jaga kalau ada bahaya seperti tadi. Tidak ku sangka ternyata sangat berguna." jawab Sean.
"Ohh." Maya hanya mengangguk-angguk paham.
"Siapa pria tadi? Kenapa dia ingin membunuhmu?" tanya Sean.
"Dia.....dia mantan pacarku." jawab Maya menunduk sambil meremas jarinya.
"Mantan? Tapi kenapa dia ingin membunuhmu?" tanya Sean heran.
"Mungkin karena dia membenciku. Aku memutuskan hubungan dengannya secara sepihak. Bisa saja dia marah dan akhirnya ingin membunuhku." ujar Maya.
Sean terkekeh. "Kau pikir aku bodoh?"
"Hah?"
Deg
Maya terdiam.
"Ternyata pria ini tidak bisa diremehkan." batin Maya sambil melirik Sean yang sedang fokus menyetir.
"Tenang saja. Aku tidak tertarik dengan rahasia diantara kalian. Aku hanya membantumu karena aku tidak bisa melihat seseorang mati di depanku."
Maya tersenyum tipis. "Yah, terima kasih atas bantuannya. Aku berhutang nyawa padamu."
"Jangan terlalu menatapku. Aku takut kau akan jatuh cinta padaku." ujar Sean tersenyum menatap Maya.
Mendengar hal itu Maya langsung memalingkan wajahnya keluar jendela. Ia sangat malu karena tercyduk menatap Sean. Wajahnya bahkan sudah seperti kepiting rebus. Rasanya Maya tidak punya muka lagi. Sedangkan Sean malah mengulum senyum. Ia merasa lucu dengan sikap Maya yang malu-malu kucing.
"Kenapa berhenti?" tanya Maya bingung karena Sean menghentikan mobilnya di depan supermarket.
"Ada yang ingin ku beli. Kau tunggu saja di mobil."
Sean keluar dari mobil dan masuk supermarket. Ia berniat membeli obat merah dan salep. Tak perlu waktu lama Sean akhirnya keluar dari supermarket.
"Ini ambilah." ujar Sean memberikan salep kepada Maya.
"Untuk apa?" tanya Maya heran.
"Leher mu memar. Oleskan salep ini setiap selesai mandi supaya tidak sakit." jawab Sean.
"Ah, ya terima kasih. Padahal lukamu yang lebih parah." ujar Maya merasa tidak enak hati.
"Tidak masalah bagi seorang dokter kesehatan pasien lebih penting dari apapun." balas Sean kembali menyetir.
"Jadi, kau seorang dokter?"
"Yah."
__ADS_1
Setelahnya tidak ada pembicaraan apapun. Maya hanya diam sambil menatap pepohonan rindang yang dilewatinya. Sementara Sean fokus menyetir. Suasana canggung menyelimuti keduanya.
Drtttt drttttt
Ponsel Sean bergetar ada panggilan masuk. Ia memasang earphone miliknya ke telinga.
"Hallo."
"Sean, kau di mana. Aku sudah ada di restoran?" tanya Dimas.
"Astaga, aku lupa mengabari mu." ujar Sean menepuk jidatnya.
"Mengabari apa?"
"Maaf, Dimas. Sepertinya kita tidak bisa makan malam bersama hari ini."
"Loh, kenapa? Bukannya tadi sore kau setuju?"
"Yah, aku ada sedikit masalah. Maaf karena telat mengabari mu."
"Masalah apa?"
"Tidak bisa aku ceritakan sekarang."
"Baiklah."
"Kau tidak marah kan?"
"Hanya sedikit kesal. Aku menunggumu sudah lama tapi kau malah tidak jadi datang. Tapi ya mau bagaimana lagi. Aku juga tidak bisa memaksa mu."
"Maaf, Dimas. Aku janji lain kali kalau ada waktu aku traktir kau makan. Bagaimana?"
"Baiklah, aku tunggu janjimu."
"Yah." Setelah itu panggilan berakhir.
"Maaf, karena aku kau jadi membatalkan janji mu dengan temanmu." ujar Maya merasa bersalah.
"Tidak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu. Aku sendiri yang ingin membantumu."
"Tapi tetap saja aku merasa bersalah padamu. Kau membantuku sampai terluka seperti ini. Itu pasti sakit bukan?"
"Kalau kau memang merasa bersalah. Bagaimana kalau nanti kau traktir aku makan?" ujar Sean.
"Hah?"
"Sean. Namaku, Sean. Kita belum berkenalan bukan?"
"Ah, ya. Aku, Maya."
"Nama yang cantik sama seperti orangnya."
Blush
Pipi Maya merona merah. Ia tersipu malu mendengarnya pujian Sean.
"Aku tunggu traktirannya nona, Maya." ujar Sean tersenyum penuh arti.
Bersambung π
______________________________________________
Cieee Sean bisa aja pdkt nyaπ€£π€£
Sebelumnya author mau minta maaf karena kemarin gak bisa update. Author sibuk persiapan kuliah. Dan hari ini kuliah sampe sore. Jadi gak sempet nulis. Maaf bgt ya guysπππππ
Tapi author usahain buat tetap update walaupun rada telat ya. Mungkin bisa malam karena otor kuliah dari pagi sampe soreπππ
Terima kasih yang masih setia menunggu cerita ini update π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
JANGAN LUPA, LIKE, VOTE, KOMEN DAN SHARE YA GUYS :)
VOTE NYAA DONGππππππππ
__ADS_1
^^^Coretan Senja βοΈ^^^