
Semua para pemegang saham keluar dari ruang rapat. Meninggalkan Katerina dan Olivia berdua di ruangan itu.
"Apa maksudnya ini semua ka?!" tanya Olivia marah dan langsung mendorong Katerina hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.
Katerina terhenyak "Apa-apaan kau Olivia." sarkas Katerina membalas dorongan Olivia.
"Aku yang harusnya berkata apa-apaan ini semua hah! Mengapa kau yang menjadi Presdir?" bentaknya sangat marah.
Katerina tersenyum kecut, tangannya terangkat diatas dada menatap remeh sang adik.
"Kenapa hm? Kau tidak suka? Bukankah sudah seharusnya aku yang menjadi Presdir, karena aku anak kandung sementara kau hanyalah anak tiri."
"Aku memang anak tiri tapi ayah jauh lebih menyayangi ku dibandingkan dengan dirimu!" sarkasnya tidak terima.
"Apa pentingnya itu semua hah? sekarang semuanya sudah jelas. Akulah yang menjadi Presdir di perusahaan ini. Jadi jaga sikapmu padaku atau aku akan mendepak mu dari perusahaan ini sama seperti apa yang kulakukan pada ayah kesayanganmu itu." ancam Katerina tajam.
"Dan ingat Olivia, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." ucap Katerina berbisik di telinga Olivia.
Tangan Olivia terkepal kuat. "Dasar wanita gila!" ucap Olivia menyerang Katerina dengan menarik kasar rambutnya sampai Katerina menjerit kesakitan. Tapi dengan cepat Katerina membalas. Ia juga menarik rambut Olivia dengan kencang. Kini keduanya saling menjabak rambut satu sama lain.
Tidak berhenti sampai situ saja Katerina menginjak high heels Olivia agar wanita itu melepaskan jambakan tangannya dari rambut Katerina. Dan karena hal itu Olivia menjerit kesakitan, tubuhnya tidak seimbang. Namun, dengan gerakan cepat Olivia menangkis dan ia juga melakukan penyerangan dengan mendorong kasar tubuh Katerina sampai kepala Katerina membentur ujung meja.
"Akhh." Katerina merintih merasakan kepalanya pusing. Darah segar juga keluar dari pelipisnya membuat Olivia tersenyum senang.
Katerina tidak mau kalah, dia langsung berdiri dan membalas serangan Olivia dengan memelintir tangan Olivia sampai sang empu kesakitan. Katerina juga mendorong tubuh Olivia hingga terjungkal ke depan hingga terjatuh di lantai. Lutut Olivia terasa perih karena darah segar juga keluar dari Lututnya. Melihat Olivia yang terluka Katerina tersenyum bangga. Setidaknya Olivia juga dapat merasakan sakitnya terluka.
"Hahaha rasakan apa itu sakit?" tanya Katerina tertawa bahagia saat melihat Olivia merintih memegangi lututnya yang berdarah.
"Aughhh perutku sakit." Olivia merintih memegangi perutnya yang terasa nyeri akibat benturan dengan lantai. Katerina tersentak saat melihat darah segar perlahan keluar perut Olivia.
"Olivia, apa kau baik-baik saja? Perutmu berdarah." tanya Katerina khawatir apalagi wajah Olivia sangat pucat.
"Sial, jangan sampai kaka tahu kalau aku hamil. Semuanya akan tambah kacau kalau dia tau." batin Olivia gugup. Keringat dingin membasahi pelepisnya.
"Ayo biar kubantu berdiri." tawar Katerina.
"Lepas! jangan sok peduli! Aku bisa sendiri." Olivia menepis kasar tangan Katerina yang hendak membantunya berdiri.
__ADS_1
Katerina berdiri mematung dengan wajah kebingungan. Ia hanya bisa membiarkan Olivia pergi dengan tertatih-tatih memegangi perutnya yang sakit.
"Apa yang terjadi? Aku tidak salah liat bukan? Mengapa perut Olivia berdarah?" gumam Katerina termenung sendiri. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Ia jadi teringat dengan perbincangannya dengan Maya kemarin soal dugaan mereka kalau Olivia hamil.
"Apa jangan-jangan, Olivia benar-benar hamil?"
"Tidak! aku harus memastikannya." Katerina bergegas keluar menyusul Olivia. Namun, wanita itu ternyata sudah tidak ada lagi.
"Kemana, Olivia pergi?" tanya Katerina celingak-celinguk mencari sosok Olivia.
"Nyonya?" Katerina tersentak kaget saat bahunya disentuh oleh seseorang yang tidak lain adalah Budi.
"Ah ya?"
"Astaga, kening nyonya berdarah." ucap Budi terkejut melihatnya.
Katerina tersadar. "Ah iya, tadi aku tidak sengaja terbentur pintu."
"Apa perlu saya antarkan nyonya ke rumah sakit?" tanya Budi khawatir.
Katerina menggeleng. "Tidak perlu, Budi. Lukanya tidak parah."
"Kau tenang saja, nanti aku akan menjelaskannya dengan, Zyan." ucap Katerina.
"Nyonya yakin tidak apa-apa?"
"Iya, tidak perlu khawatir. Ya sudah lebih baik kita pulang."
"Baik, nyonya."
Katerina memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan dia termenung memikirkan dugaan Olivia hamil. Entah mengapa Katerina jadi yakin kalau Olivia benar-benar hamil.
"Aku harus mencari bukti, kalau Olivia benar-benar hamil maka ini pasti akan jadi hadiah paling menakjubkan. Dua keluarga itu akan hancur secara bersamaan." ucap Katerina dalam hatinya sambil menyeringai.
****
Sementara di lain tempat Olivia sedang berada di rumah sakit. Dokter sedang memeriksa kondisi nya. Olivia terus saja merintih kesakitan. Perutnya terasa dikoyak-koyak dan nyeri yang tak tertahankan.
__ADS_1
"Aughhh perutku sakit sekali." rintihnya panas dingin menahan sakit.
"Tahan ya nona." Dokter mulai menyuntikkan obat pereda nyeri. Perlahan tapi pasti rasa sakit itu mereda. Olivia sekarang bisa bernafas lega.
"Dokter, apa bayi saya baik-baik saja?" tanya Olivia lesu.
Dokter itu menghela nafas berat. "Nona tidak perlu khawatir. Bayi nona baik-baik saja tapi..."
"Tapi apa dok?" Olivia mulai cemas.
"Tapi bayi anda sangat lemah. Oleh karena itu saya minta untuk kedepannya nona bisa lebih berhati-hati. Untung saja benturan itu tidak terlalu keras. Kalau keras nona bisa saja keguguran."
Deg!
Jantung Olivia berdegup kencang mendengarnya. Ia mengigit bibir bawahnya takut. Hampir saja dia kehilangan bayi nya.
"Saya juga minta, nona harus mengurangi stress yang berlebihan karena itu bisa berdampak buruk untuk kandungan nona."
"Tapi bayi saya baik-baik aja kan dok?"
"Iya nona."
"Syukurlah." Olivia bernafas lega mendengarnya.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Nona beristirahat."
"Iya dokter."
Setelah dokter keluar dari ruangan, satu tangan Olivia terangkat mengusap perutnya. Ia sangat takut kalau bayinya kenapa-kenapa. Kalau sampai Olivia keguguran pastinya Rei akan memanfaatkan kesempatan itu. Olivia tidak ingin rencananya hancur. Hanya itu satu-satunya cara untuk menjerat Rei agar jadi miliknya.
"Tumbuhlah dengan baik nak, setelah ini hidup kita pasti akan bahagia." Ucap Olivia mengusap perutnya sambil tersenyum.
"Aku harus memikirkan cara agar pertunangan ini tidak dibatalkan. Dalam waktu dekat ini Rei harus menikahi ku apapun yang terjadi. Aku tidak peduli meskipun ayah masih di penjara. Pernikahan harus tetap dilaksanakan!" gumam Olivia bertekad kuat.
Bersambung 😎
______________________________________________
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys :)
^^^Coretan Senja ✍️^^^