
"Sean, sebenarnya apa yang terjadi padamu kemarin? Kau tiba-tiba membatalkan makan malam dan besoknya kau malah babak belur. Memangnya apa yang terjadi padamu? Apa kau di rampok?" tanya Dimas sangat penasaran. Ia terus mengikuti kemanapun Sean pergi sampai dia mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
Sean berdecak. "Bisakah kau berhenti mengikuti ku, Dimas?!" pinta Sean kesal. Sedari tadi dia terus diikuti oleh temannya itu membuat Sean benar-benar risih.
"Tidak bisa! Kecuali, kau menjawab pertanyaan ku dulu dan setelah itu aku tidak akan menganggu mu lagi!" tegas Dimas menghalangi langkah Sean.
Dimas berdiri tepat di depan Sean dengan wajah serius. Ia sungguh penasaran dengan apa yang terjadi pada Sean. Dimas tak akan berhenti mengganggu temannya itu sampai dia mendapatkan jawaban yang pasti.
"Aku tidak ingin membahas itu!"
"Loh kenapa, Sean?" tanya Dimas semakin bingung.
"Bukan urusanmu!" ujar Sean tegas. Ia tidak ingin membahas kejadian memalukan itu. Apa kata orang nanti kalau tahu kalau Sean tidak pandai bela diri? Bisa-bisa Dimas mengejek nya habis-habisan.
"Maaf menyela dokter, Sean. Pasien rawat inap 304 kejang-kejang dan segera membutuhkan perawatan." ucap seorang perawat tiba-tiba datang menghampiri Sean dengan wajah panik.
"Baiklah, ayo." Sean langsung pergi begitu saja diikuti oleh perawat tadi. Meninggalkan Dimas yang berdiri mematung seperti orang kebingungan.
"Ck, sial. Kenapa, Sean tidak mau memberitahukan ku? Apa jangan-jangan terjadi suatu hal yang besar? Heh, aku tidak akan berhenti sampai aku tau apa yang terjadi. Sepertinya ini menarik." ujar Dimas menyeringai dan kemudian pergi.
Setelah selesai memeriksa pasien Sean langsung kembali ke ruangannya. Begitu masuk dia dikejutkan oleh kehadiran Dimas yang sedang duduk di kursinya seperti seorang bos. Wajahnya bahkan songong layaknya bos killer.
"Apa yang kau lakukan di ruangan ku?" tanya Sean baik-baik. Ia tidak ingin membuat keributan.
"Sudah ku katakan bukan?! Aku tidak akan berhenti menganggu mu sampai kau memberitahu ku apa yang terjadi padamu kemarin? Kenapa kau sampai babak belur?" ujar Dimas menyeringai tipis sambil mengangkat Kedua kakinya di atas meja seolah bos besar.
Sean menghembuskan nafas kasar. Ia berusaha sabar menghadapi orang seperti Dimas yang tingkat penasarannya terlalu tinggi.
"Harus berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak ingin membahas soal itu! Bisakah kau berhenti mengganggu ku, Dimas?!" tegas Sean kesal. Dari semalam Dimas selalu menanyakan soal itu. Lama-lama dia juga bisa jenuh.
"Kalau kau terus bersikeras menolaknya aku justru semakin penasaran, Sean. Makanya cepat katakan padaku apa yang terjadi dan setelah itu aku tidak akan menganggu mu lagi!" ujar Dimas keras kepala.
"Memangnya kenapa kau sangat ingin tahu hah?! Apa pentingnya itu untukmu?" tanya Sean tidak mengerti mengapa Dimas begitu ingin tahu.
"Ya tentu saja karena kita teman. Jadi aku harus tahu apa yang terjadi padamu." jawabnya santai.
"Teman juga tidak harus selalu tau! Ada batasan yang tidak bisa di langgar dalam pertemanan! Apa kau pikir aku tidak punya privasi?!" tukas Sean.
"Tapi kita kan teman sehati, Sean. Masa aku tidak boleh tau?" ujar Dimas berasalan.
"Aku bilang tidak ya tidak! Jangan memaksa!" sarkas Sean.
"Ohh ayolah, Sean. Jangan begitu dengan ku." ucap Dimas memelas.
"Keluar dari ruangan ku!" perintah Sean menunjuk pintu.
"Tidak mau."
"Keluar atau ku seret!" ancam Sean.
"Coba saja kalau bisa!" Bukannya takut Dimas malah balik mengancam. Ia sudah bertekad akan mencari tahu apa yang terjadi dengan Sean entah bagaikan pun caranya.
"Ck, dasar keras kepala." decak Sean.
__ADS_1
Tok tok tok
"Ya masuk." ujar Sean.
Begitu mendapat izin perawat tadi pun masuk ke ruangan Sean. Namun, dia terkejut saat melihat pemandangan di depannya. Dimas yang sedang duduk di kursi Sean seolah bos besar sedangkan Sean justru berdiri layaknya bawahan. Bukankah itu terbalik? Harusnya Sean yang duduk karena dia merupakan direktur utama tapi kenapa justru Dimas? pikir perawat itu heran.
"Ada apa?" tanya Sean.
Perawat itu lekas tersadar. "Maaf dokter, Sean saya hanya ingin memberikan dokumen ini." ujarnya menyodorkan dokumen kepada Sean.
"Dokumen apa ini?"
"Ah itu, soal dokter yang akan di kirim ke pedalaman. Saya sudah mencantumkan beberapa kandidat dokter yang akan pergi ke pedalaman untuk melakukan pemeriksaan kesehatan warga yang ada di sana." ucap perawat itu menjelaskan.
"Oh iya, hampir saja aku lupa. Terima kasih ya."
"Sama-sama, dokter Sean. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Tunggu dulu!" sentak Sean membuat langkah perawat tadi terhenti.
"Iya ada yang bisa saya bantu, dokter?" tanyanya.
"Perbarui dokumen ini!"
Perawat itu mengernyit. "Loh kenapa dokter? Apa ada yang salah?"
"Yah, kau lupa mencantumkan nama, Dimas. Harusnya dia menjadi dokter utama yang akan pergi ke pedalaman!" ujar Sean.
"Tapi dokter, Dimas kan..."
"Ini perintah dari ku! Apa kau ingin membantahnya?!"
Perawat itu menelan saliva susah. "T-tidak dokter, Sean."
"Bagus, perbarui dokumen itu dan berikan secepatnya padaku!" perintah Sean tak terbantahkan.
"Baik, dokter Sean. Saya permisi dulu." ujar perawat itu lekas undur diri.
"Apa-apaan kau, Sean? Kenapa kau menyuruhku pergi ke pedalaman?!" tanya Dimas tidak terima.
"Memangnya kenapa? Kau kan dokter berbakat dan berpengalaman. Jadi sudah seharusnya bakat mu itu di gunakan untuk hal yang baik."
"Tidak! Aku tidak mau pergi ke pedalaman!" tolak Dimas mentah-mentah.
"Kau tidak bisa menolak!"
"Kenapa tidak bisa?"
"Aku direktur nya! Kau harus ingat jabatan mu apa! Jangan hanya karena kau temanku kau jadi berlaku seenaknya! Ingat posisimu, Dimas!" ujar Sean tegas.
"Tapi kenapa harus aku, Sean? Tidak bisakah dokter yang lain saja? Aku tidak mau pergi." ujar Dimas.
"Salahkan dirimu karena kau terus mengganggu ku! Yah, setidaknya satu bulan kedepan kau akan tinggal di pedalaman." ucap Sean tersenyum puas.
__ADS_1
"Apa? Satu bulan katamu?!" Dimas makin shock dibuatnya.
"Yah, satu bulan atau kau mau aku tambahkan lagi menjadi dua bulan?" tawar Sean.
"Tidak! Kau jangan gila, Sean!" sarkas Dimas marah.
"Sepertinya memang harus dua bulan." ujar Sean.
"Tidakkkkkkkkkkkkk. Ku mohon jangan lakukan itu!" teriak Dimas frustasi.
"Kalau kau tidak ingin aku menambahnya lagi cepat keluar dari ruangan ku!" perintah Sean.
"Tapi......"
"Satu...duaa...tiiiiii"
"Baiklah, okeee aku keluar!" ujar Dimas pasrah. Ia berjalan gontai keluar dari ruangan Sean. Sedangkan Sean justru tertawa bahagia apalagi saat melihat wajah lesu Dimas.
"Cih, diancam baru keluar. Dasar, Dimas." ejek Sean mendudukkan pantatnya ke kursinya.
Drtttt drttttt
Perhatian Sean teralihkan saat ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari orang yang tidak dikenal.
"Hallo."
"Hallo, apa benar ini dengan tuan, Sean?"
"Yah, benar. Ini siapa?"
"Saya tukang bengkel. Saya hanya ingin memberitahu kalau mobil anda sudah bisa diambil."
"Mobil? Ah, iya mobil wanita yang aku tabrak kemarin. Astaga aku lupa." batin Sean menepuk jidatnya. Bisa-bisanya dia lupa.
"Oh jadi mobil itu sudah selesai diperbaiki?" tanya Sean.
"Sudah tuan, Sean. Anda hanya perlu mengambilnya saja."
"Baiklah, terima kasih."
"Yah, sama-sama."
Setelah itu Sean menutup panggilan telpon nya. Ia memainkan pulpennya sambil menyeringai tipis.
"Sepertinya kita akan bertemu lagi nona, Maya." gumam Sean tersenyum penuh arti.
Bersambung 😎
______________________________________________
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰👍🥰👍🥰🥰🥰👍
^^^Coretan Senja ✍️^^^
__ADS_1