Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
S2 : EPISODE 123


__ADS_3

Zyano menatap istrinya lembut. "Sayang, kau keluarlah dulu. Aku ingin bicara berdua dengan, Andi Cristopher." pintanya.


Katerina mengerutkan alisnya. "Bicara apa hubby?"


"Ini urusan sesama pria sayang. Kau tidak perlu tahu." jawab Zyano terdengar misterius.


"Tapi...."


"Kate, please." tatapan Zyano mengisyaratkan ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan Andi tapi Katerina tampak ragu. Ia khawatir suaminya akan melakukan hal berbahaya karena marah. Namun, Katerina tak bisa menolaknya.


Katerina menghela nafas. "Baiklah, aku akan keluar tapi hubby jangan melakukan hal aneh ya?" pintanya cemas.


Zyano tersenyum. "Kau tenang saja sayang. Percayalah padaku." ucapnya sambil mengusap kepala istrinya lembut. Ia bisa mengerti kekhawatiran sang istri. Namun, Zyano bukanlah pria yang bertindak tanpa berpikir panjang. Apapun yang dia lakukan sudah pasti ada dalam rencana nya.


"Iya hubby." Katerina mengangguk paham. Sebelum pergi dia menatap Andi sebentar. Kemudian, dia melangkah keluar meninggalkan Zyano dan Andi berduaan. Meskipun agak berat hati tapi dia selalu mempercayai suaminya.


Setelah melihat kepergian sang istri tatapan Zyano berubah drastis. Wajahnya datar. Iris matanya menggelap. Andi menelan saliva susah. Tiba-tiba udara di sana terasa sesak karena aura intimidasi Zyano. Ada perasaan takut menyelimutinya.


"A-apa yang ingin kau lakukan?" tanya Andi sedikit was-was. Zyano terlihat mengerikan. Pria itu menatapnya dengan seringai licik.


"Hm, aku sedang memikirkan hukuman apa yang pantas untukmu karena kau sudah berani melukai istriku." ujar Zyano tampak berpikir.


Ia melanjutkan perkataannya. "Tapi aku bingung. Haruskah aku membunuhmu?" tanyanya dengan seringai licik.


Andi berdecih remeh. "Heh, kau pikir kau bisa membunuh ku?"


"Kenapa tidak bisa? Hanya karena kau terkurung dalam jeruji besi bukan berarti aku tidak bisa melakukan apapun padamu! Justru sebaliknya, ditempat inilah aku bisa melakukan apapun sepuasnya." ucap Zyano menyeringai licik.


Bukannya takut Andi malah tertawa. "Jangan coba-coba mengancam ku. Kau pikir aku akan takut dengan gertakan mu itu hah?!" bentaknya. "Aku sama sekali tidak takut!" ujarnya menantang.


Zyano hanya terkekeh. Ia menyilangkan kakinya sambil menatap Andi dengan remeh. "Membunuh tikus kecil sepertimu bukan hal yang sulit untuk ku tapi aku tidak ingin mengacaukan rencana istriku. Dia tidak menginginkan kematian mu tapi kehancuran mu. Jadi, sebagai suami yang baik tentunya aku harus mendukung nya bukan?"


"Jangan sombong. Hanya karena kau memiliki segalanya bukan berarti kau bisa melakukan apapun padaku."


"Kau salah, jika tidak memikirkan keinginan istriku sudah lama aku membunuhmu." ujar Zyano tajam.


Andi malah tertawa mengejek. "Lantas, kenapa kau tidak membunuhku hah? Bunuh saja aku kalau kau bisa!"


"Yah, aku pasti akan membunuhmu tapi tidak sekarang. Jadi, nikmatilah sisa hidupmu yang berharga ini." ujar Zyano.


"Halah, bilang saja kau tidak bisa melakukannya. Tidak usah banyak alasan."


"Aku tidak suka tergesa-gesa. Jadi, bersabarlah karena aku lebih suka melihat musuh ku hancur sampai dia frustasi hingga akhirnya dia berpikir untuk menghabisi nyawanya sendiri."


"Kau...." Andi menggertak kan giginya. Kedua tangannya terkepal erat. "Jangan terlalu percaya diri! Karena semua itu tidak akan pernah terjadi!" ucapnya tegas. Padahal dalam hati khawatir.


Zyano hanya tersenyum tipis. "Baiklah, karena kau berkata begitu maka tidak ada lagi yang bisa ku katakan. Tapi sebelum itu aku ingin kau menyetujui penawaran istriku!"


"Bagaimana kalau aku menolaknya?" tanya Andi menantang.


"Kau tidak diperkenankan untuk menolak karena ini perintah!" balas Zyano tegas.

__ADS_1


"Memangnya siapa kau yang bisa memberiku perintah hah?!"


"Siapapun aku tidak penting." ujar Zyano menyunggingkan seringai tipis. "Jika tidak ingin rahasia mu terbongkar maka turuti saja permintaan istriku!"


"Aku tidak mau! Kau tidak bisa memaksakan kehendak mu!"


"Jika begitu aku tidak punya pilihan lain, selain menunjukkan ini padamu." ujar Zyano tersenyum penuh arti.


"Apa maksudmu?" tanya Andi mengerutkan keningnya bingung.


Zyano merogoh ponselnya yang tersimpan di balik jas. Ia menghubungi asistennya hingga tak beberapa lama kemudian panggilan tersambung.


"Hallo, tuan."


"Dave, tunjukkan wanita itu!" perintah Zyano.


"Baik, tuan." Dave mengubah panggilan telpon menjadi video call hingga kemudian memperlihatkan seorang wanita sedang duduk terikat dengan tali. Matanya tertutup dengan kain hitam sedangkan mulutnya di tutup menggunakan plester. Wanita itu berusaha keras melepaskan diri tapi sayangnya tidak bisa. Ada dua pria bertubuh besar yang menjaganya.


"Kau tahu kan siapa wanita itu?" tanya Zyano menatap Andi dengan seringai licik nya.


"A-apakah dia Aruna?" ujar Andi balik bertanya.


"Yah, tepat sekali. Dia Aruna Delvira, wanita simpanan mu atau lebih tepatnya selingkuhan mu." ucap Zyano menjawab.


"Apa yang ingin kau lakukan padanya?" tanya Andi was-was, takut Zyano melukai wanita simpanannya. Ia tak menduga kalau Aruna akan di culik.


Sudut bibir Zyano melengkung membentuk senyuman tipis. "Apapun yang akan kulakukan semuanya tergantung pada keputusan mu. Jika kau tetap bersikeras menolak tawaran istriku maka jangan salahkan aku kalau wanita itu terluka."


Zyano menyilang kan kaki nya seraya menyungging kan senyum liciknya. "Jadi, apa keputusan mu, Andi Cristopher?"


Andi berdecih sinis. "Cih, aku tidak menyangka ternyata kau sangat pengecut tuan Zyano. Kau mengancam ku dengan wanita? Apa ini caramu mengalahkan musuh?"


"Aku hanya mengikuti trik mu. Bukankah kau juga melakukan ini pada istriku? Kau bahkan melukai leher nya demi mencapai tujuan mu. Lantas, kenapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama sepertimu?" ujar Zyano membalikkan kata-kata Andi.


"Katerina itu putriku! Jadi, aku berhak melakukan apapun padanya!" bentak Andi masih menolak keras.


"Kalau begitu aku juga berhak melakukan apapun pada wanita selingkuhan mu bukan?"


"Apa?"


"Dave, gores leher wanita itu!" perintah Zyano.


"Baik, tuan." Dave segera menyuruh salah satu anak buahnya yang menjaga wanita itu untuk menggores lehernya.


Blesh


Darah segar mengalir dengan deras dari leher wanita itu. Teriak kan kesakitan menggema begitu penutup mulut Aruna di lepaskan. Wanita itu menjerit kesakitan sambil menangis menahan sakit. Sementara Andi melotot melihat wanitanya terluka.


"Apa yang kau lakukan hah?! Kenapa kau melukainya?!" teriak Andi protes marah.


"Bukankah ini yang kau inginkan? Aku sudah mengatakan padamu apapun yang terjadi padanya itu semua karena keputusan mu. Jadi, jangan salahkan aku kalau wanita kesayangan mu itu terluka."

__ADS_1


"Sialan kau." Andi mengumpat marah.


"Leher kanannya sudah tergores. Selanjutnya apa?" tanya Zyano tampak berpikir. "Ah, bagaimana kalau leher kirinya? Bukankah akan terlihat cantik?"


"Psikopat kau." teriak Andi membentak marah.


"Dave, selanjutnya gores leher kirinya!" perintahnya lagi.


"TIDAK! jangan lakukan itu!" ujar Andi berteriak.


Blesh


"Terlambat." ujar Zyano.


"Aakhhhhhh." lagi-lagi Aruna menjerit kesakitan. Darah segar mengalir begitu deras dari kedua lehernya hingga membasahi lantai. Andi berteriak frustasi sementara Zyano tertawa bahagia. Baginya jeritan kesakitan itu seperti irama yang menenangkan.


"Kau benar-benar gila!" ujar Andi berteriak. Ia benar-benar marah.


"Itu yang sering mereka katakan sebelum mati. Mereka mengatakan kalau aku Psikopat, gila, dan manusia tidak punya hati. Hinaan seperti itu sudah sering aku dengar." ujar Zyano datar.


"Apa?"


Zyano tersenyum. "Selanjutnya kau ingin apa? Wajahnya atau setiap jarinya saja ku potong satu-satu? Tapi sebelum itu aku ingin mendengar apa keputusan mu?"


"A-aku....." Andi mengigit bibirnya kasar. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Andi tak pernah merasa setakut ini. Salah sedikit saja wanita itu akan terluka lebih parah. Ia menatap Aruna yang berlinang air mata. Setelah menjerit kesakitan mereka menutup kembali mulut wanita itu.


"Akan ku hitung dari satu sampai lima. Jika lama mungkin saja satu jarinya sudah terpotong." ujar Zyano membuat Andi melotot


"Satu...."


"Dua...."


"Tiga...."


Jantung Andi berdegup kencang. Ia tak pernah merasa setakut ini. Setiap hitungan yang terdengar seperti jeritan kematian. Andi tidak bisa berpikir jernih. Otaknya terasa buntu. Pilihannya menentukan hidup dan mati. Sementara hitungan terus berlanjut.


"E....empat....."


"Li...."


"Yaaa, baiklah. Aku akan menyetujui nya!" ujar Andi akhirnya memutuskan.


Bersambung 😎


______________________________________________


Jangan lupa Like dan Vote nya ya guys 🥰🥰❤️🥰❤️


Apa yang akan terjadi selanjutnya?? Kalau mau tau tunggu aja🤭🤭🤭


^^^Coretan Senja ✍️^^^

__ADS_1


__ADS_2