
Zyano yang baru saja tiba sudah di hadapkan oleh pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Rahangnya mengerat, sorot matanya tajam dan tanpa sadar tangannya terkepal erat.
Dave yang berdiri di belakang Zyano dapat merasakan kemarahan yang tersimpan. Ia tahu Zyano berusaha menahan diri agar tidak membuat keributan di restoran itu.
"Aku senang, adikku ternyata sudah besar." ucap Katerina senang melihat pertumbuhan Kenzie. Ia pikir dia tidak mungkin bisa bertemu Kenzie setelah anak itu di adopsi orang lain tapi ternyata takdir memihak padanya kali ini.
"Aku kan memang sudah besar, Ka. Kau harus tau adikmu ini sudah tumbuh dewasa!" balas Kenzie mengangkat dagunya menantang.
"Baguslah, apa orang tua barumu memperlakukan mu dengan baik?" tanya Katerina.
"Iya ka, mereka bahkan menganggap ku seperti anak kandungnya sendiri. Aku jadi merasa tidak enak hati. Mereka mau menampung orang luar seperti ku." jawab Kenzie terdengar getir. Ia juga tidak tau diri kalau dirinya hanya anak angkat. Tapi entah mengapa mereka justru memperlakukannya sangat istimewa.
"Jangan bicara seperti itu, Ken. Kau juga berhak bahagia." ujar Katerina.
Kenzie hanya tersenyum. Bahagia? Satu kata yang memiliki makna sangat dalam. Bisa di terima saja Kenzie sudah sangat merasa beruntung. Hidup di hormati sebagai tuan muda. Itu hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Ken, apa kau pernah berfikir untuk mencari tau siapa orang tua kandung mu?"
Kenzie tertawa getir. "Untuk apa mencari seseorang yang sudah membuang ku, Ka? Tidak ada gunanya. Aku juga tidak ingin tau siapa mereka. Malah aku berharap untuk tidak bertemu dengan mereka."
"Maaf, Ken. Aku tidak bermaksud membuat mu sedih. Kau melalui banyak hal dengan rasa sakit. Jadi, sekarang kau harus bahagia!"
"Tidak apa, Ka. Rasa sakit itu justru yang membuat ku jadi dewasa."
"Oh ya? Aku masih tidak menyangka adik kecilku dulu sudah jadi laki-laki dewasa." ujar Katerina tersenyum saat mengingat kenangan nya dengan Kenzie dulu.
"Tentu saja. Dan mulai sekarang adikmu ini yang akan melindungi Kaka!" seru berucap Kenzie mantap.
"Hahaha, kau bisa saja, Ken." Katerina tertawa geli mendengarnya.
"Wah-wah, sepertinya pembicaraan kalian sangat menyenangkan. Apa aku boleh bergabung?" tanya Zyano tiba-tiba datang sambil tersenyum penuh arti.
"Zyan." Katerina refleks berdiri saat melihat kedatangan suaminya.
"Hai, sayang." sapa Zyano menatap istrinya dengan senyuman penuh arti.
"A-apa yang kau lakukan disini, Zyan?" tanya Katerina terkejut akan kehadiran Zyano bersama Dave.
Zyano tersenyum sambil berjalan menghampiri sang istri. Ia merangkul Katerina dan kemudian berbisik di telinganya.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sedang berselingkuh di belakang ku, sayang?" tanya Zyano penuh penekanan. Matanya menyorot tajam kearah Kenzie seolah memberi peringatan keras.
Katerina melotot mendengar ucapan suaminya. "Tidak, Zyan! Kau salah paham!"
"Salah paham? Benarkah?"
"Iya, aku tidak mungkin berselingkuh di belakang mu, Zyan!" tegas Katerina menolak tuduhan Zyano.
"Lalu, bagaimana kau menjelaskan ini semua padaku sayang? Kau bertemu dengan pria lain tanpa memberitahu ku! Apa namanya kalau bukan selingkuh?!"
Katerina menghela nafas. "Zyan, dia itu adikku. Mana mungkin aku selingkuh dengan adikku sendiri. Kau ini aneh-aneh saja." ucap Katerina memijit keningnya.
Asli Zyano berkerut. "Adikmu? Kau punya adik?"
"Bukan adik kandung tapi aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri!"
"Apa dia suamimu, kak?" sahut Kenzie bertanya.
"Iya, Ken. Kenalkan, dia, Zyano suamiku." ucap Katerina memperkenalkan Zyano kepada Kenzie.
"Hallo, Kak. Aku, Kenzie. Salam kenal." ucap Kenzie sembari mengulurkan tangannya kepada Zyano.
__ADS_1
Zyano hanya diam tanpa berniat membalas uluran tangan Kenzie. Wajahnya bahkan sangat datar. Meskipun Kenzie hanyalah adik angkat Katerina tetapi tetap saja dia tidak suka melihat Katerina dekat dengan pria lain. Terlebih lagi tadi dirinya melihat Kenzie menggenggam tangan Katerina.
"Em.... ayo duduk dulu, Zyan." ujar Katerina berusaha mengatasi suasana canggung ini. Sedangkan Kenzie menarik tangannya kembali.
"Zyan, apa kau lapar? Biar aku pesankan makanan untukmu ya?" ucap Katerina menawarkan.
"Tidak perlu! Aku tidak lapar!" jawabnya dingin. Tatapan mata Zyano tak pernah lepas dari Kenzie seolah mengibarkan bendera peperangan. Sementara Kenzie tersenyum, berusaha bersikap baik karena dia ingin menghargai suami Katerina.
"Ah begitu, kalau kau mau pesan apa, Dave?" tanya Katerina menatap Dave yang juga ikut duduk di sana.
"Tidak, nyonya. Tadi saya sudah makan siang di kantor. Jadi, saya masih kenyang, nyonya." ujar Dave menolak dengan sopan.
"Ohh begitu. Ya sudah." Katerina tersenyum canggung. Ia benar-benar tidak suka dengan suasananya.
"Astaga, aku tidak suka suasana mencekam seperti ini. Kenzie, pasti merasa tidak nyaman. Aku tau, Zyan juga pasti marah dan butuh penjelasan." ucap Katerina dalam hatinya.
Katerina menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya. Jadi, hari ini aku dan Kenzie bertemu karena ingin membahas masalah, Olivia. Dia hamil diluar nikah." ungkap Katerina menjelaskan.
Zyano hanya diam tidak bereaksi apapun. Ekspresi nya masih tetap datar. Tidak ada yang tau dia marah atau tidak.
"Nona, Olivia hamil?" tanya Dave cukup terkejut mendengarnya.
"Iya, Dave. Aku juga baru tau hari ini. Kenzie menyuruh orang suruhannya untuk mengikuti, Olivia kemarin. Saat itu juga Olivia ke rumah sakit untuk pemeriksaan kandungan." jawab Katerina apa adanya.
"Pantas saja, nona Olivia dan tuan Rei langsung memberitahu media kalau mereka akan bertunangan, ternyata karena hal ini?" ujar Dave akhirnya paham.
"Iya, mungkin mereka tidak ingin media tau soal kehamilan Olivia."
"Kenapa, nyonya?"
"Karena keluarga Rei sangat menjunjung tinggi harga diri. Mereka tidak mau di cap jelek kalau sampai masyarakat tau masalah ini. Makanya mereka langsung membuat konferensi pers dan memberitahu media soal pertunangan Olivia dan Rei."
"Belum saatnya. Ini terlalu awal untuk memberitahu media. Aku punya rencana lain yang lebih bagus." jawab Katerina tersenyum licik.
"Kalau, kaka butuh bantuan katakan saja padaku. Aku pasti akan membantu kaka." sahut Kenzie.
"Iya, terima kasih, Ken." balas Katerina tersenyum.
BRAK!
Zyano tiba-tiba bangkit dari duduknya hingga membuat mereka bertiga menatapnya.
"Baiklah, ini sudah sore. Lebih baik kita pulang!"
"Ya sudah, aku pulang duluan ya, Ken." Katerina hanya bisa mengikuti keinginan Zyano. Saat ini pria itu terlihat marah.
"Iya, tidak apa Ka. Hati-hati dijalan." ujar Kenzie.
"Iya, kau juga."
"Ayo."
Zyano berjalan lebih dulu tanpa menunggu sang istri. Katerina yang melihat itu hanya bisa menghela nafas. Sementara Dave justru mengulum senyum. Rasanya dia ingin tertawa karena Zyano terlihat seperti anak kecil yang lagi ngambek.
Dalam mobil tidak ada pembicaraan apapun. Zyano hanya diam bahkan dia juga duduk berjauhan dengan Katerina. Ia masih kesal meskipun ternyata Kenzie hanyalah adik angkat Katerina tapi tetap saja Zyano tidak suka melihatnya. Apalagi Katerina sempat berbohong padanya.
Sesampainya di mansion Zyano bergegas keluar tapi tangannya lebih dulu di tahan oleh Katerina.
"Zyan, apa kau marah?"
Zyano menepis tangan Katerina. "Kita bicarakan itu didalam!" jawabnya dingin, lalu keluar begitu saja.
__ADS_1
"Tunggu, Zyan." Katerina buru-buru keluar dari mobil untuk mengejar Zyano sampai-sampai dia terjatuh karena tidak memperhatikan jalan dengan baik.
"Aduh." pekik Katerina meringis memegangi lututnya yang ternyata berdarah akibat tergores semen.
"Astaga, nyonya. Apa anda terluka?" tanya Dave khawatir.
"Tidak. Aku baik-baik saja." ucap Katerina berusaha berdiri meskipun kakinya terasa sakit.
"Ck." Zyano berdecak dan tanpa di duga dia langsung menggendong Katerina.
"Dave, panggilkan Bi, Asri dan suruh dia datang ke kamarku! Setelah itu kau boleh pulang."
"Baik, tuan."
Setelah mengatakan itu Zyano masuk ke dalam mansion. Ia menaiki tangga menuju kamarnya. Zyano membuka pintu dengan satu kakinya. Ia mendudukkan Katerina di kasur dengan hati-hati.
"Zyan, kau mau ke mana?" tanya Katerina menahan tangan Zyano yang hendak pergi.
"Aku mau mengambil obat untuk mengobati lukamu."
Katerina melepaskan tangannya, membiarkan Zyano pergi mengambil obat. Tak beberapa lama kemudian Zyano datang membawa baskom dan obat merah.
Zyano menyingkap dress Katerina agar bisa melihat lukanya lebih jelas.
"Apa ini sakit?" tanyanya.
"Tidak terlalu."
Tok tok tok
"Permisi, apa tuan memangil saya?" tanya Bi Asri.
"Iya, Bi. Tolong ambilkan air putih untuk Katerina." pinta Zyano.
"Astaga, nyonya. Kenapa?" tanya Bi Asri kaget melihat lutut Katerina yang berdarah.
"Tidak apa, Bi. Ini hanya luka biasa." jawab Katerina tidak ingin membuat Bi Asri cemas.
"Luka biasa bagaimana, nyonya. Itu sampai berdarah pasti rasanya sangat sakit."
"Ya sudah, bibi ambilkan air putih dulu." Ujar Bi Asri bergegas ke dapur.
Sedangkan Zyano mulai mengobati luka Katerina. "Beritahu aku kalau sakit!"
Zyano membersihkan luka itu terlebih dahulu dengan air agar tidak ada bakteri yang tersisa. Kemudian, setelahnya Zyano meneteskan obat merah sedikit demi sedikit.
Saat obat merah itu menyentuh permukaan kulitnya yang terluka Katerina mengigit bibirnya bawahnya menahan perih. Sebisa mungkin dia tidak ingin mengeluarkan suara.
"Kalau sakit katakan saja, Kate. Jangan di tahan." ucap Zyano sesekali melirik Katerina. Ia tahu wanita itu sedang kesakitan tapi dia menahannya.
Katerina hanya tersenyum. Ia senang karena Zyano masih peduli walaupun pria itu sedang marah. Itu terbukti karena, Zyano masih mau mengobati lukanya seperti ini. Katerina jadi tambah merasa bersalah.
Bersambung 😎
______________________________________________
Semarah apapun Zyano masih tetap peduli sama Katerina 🥺🥺 Suami the best🥰🥰
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys :)
^^^Coretan Senja ✍️^^^
__ADS_1