
Pagi ini di mansion utama keluarga Brawitama tampak dua pasutri sedang menikmati sarapan bersama. Zeano terlihat menikmati sarapan nya tapi tidak dengan Zahra yang hanya mengaduk-aduk tanpa berniat memakannya.
"Sayang, kau kenapa? Apa makanan-nya tidak enak?" tanya Zeano melirik istrinya yang sedari tadi hanya menampilkan wajah di tekuk.
"Tidak." jawabnya singkat.
"Baiklah, kalau begitu akan aku panggil kan pelayan untuk mengganti makanannya." Belum sempat Zeano memanggil pelayan Zahra sudah menolaknya.
"Bukan begitu, Zean!" bentak Zahra.
"Hah? Lalu, kau ingin apa sayang?" tanya Zeano baik-baik. Ia masih mencoba bersabar.
"Ah, sudahlah kau tidak akan mengerti." ujarnya semakin membuat Zeano kebingungan. Tidak biasanya Zahra bersikap seperti ini. Namun, meskipun begitu Zeano tetap mencoba memahami apa keinginan sang istri.
Zeano menghela nafas sejenak, menatap istrinya lembut dan kemudian bertanya. "Aku tidak akan bisa mengerti kalau kau tidak memberitahu ku sayang. Katakan apa mau mu?"
Zahra mendengus. "Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya sedang kesal saja." jawabnya ketus.
Zeano mengernyit tak paham. "Kesal karena apa?"
Zahra mencebikkan bibirnya. "Itu loh putramu sampai sekarang tidak ada mengabari apapun bahkan dia tidak menelepon ku sama sekali. Anak macam apa itu hah?! Haruskah selalu aku yang menelepon nya terlebih dahulu? Kapan dia punya inisiatif sendiri untuk menelepon ibunya?! Apakah dia tidak merindukan ibunya ini?!" celoteh Zahra hanya dalam satu tarikan nafas. Ia mendengus kesal, bersindekap dada. Sudah lebih dari sebulan Zyano tak mengabari nya. Bagaimana Zahra tidak kesal kalau begitu?
Zeano malah terkekeh. "Astaga, sayang kau seperti tidak mengenal putramu saja. Dari dulu dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bukankah ini hal yang biasa?"
"Aku tahu tapi ini bukan hanya tentang putra kita tapi juga menantu kita. Apakah mereka sesibuk itu sampai lupa menelepon ku? Aku hanya sedih. Di usia tua begini aku merasa sangat kesepian." ujar Zahra.
"Kan ada aku sayang."
"Tapi akhir-akhir ini kau juga sibuk dengan urusan mu sendiri!" jawabnya mendelik sinis.
Zeano langsung merasa terhenyak. "Ah, soal itu aku minta maaf sayang. Pekerjaan ku dua kali lipat lebih banyak karena sebentar lagi pelantikan Zyano sebagai Presdir utama. Tapi sebelum itu ada banyak hal yang harus di urus. Makanya aku sangat sibuk."
"Lihatlah, kau dan putramu itu sama saja! Tidak ada yang bisa mengerti perasaanku. Kalian selalu sibuk dengan urusan kantor padahal waktu bersama keluarga itu juga sama pentingnya." ujar Zahra menggerutu tak habis pikir.
"Sayang, ku mohon mengertilah. Ini hanya sementara nanti setelah Zyano resmi di lantik sebagai Presdir utama aku tidak akan mengurus perusahaan lagi. Jadi, kita bisa menikmati waktu bersama." pinta Zeano menggenggam jemari istrinya.
"Terserah kalian. Aku sudah tidak peduli. Lakukan apapun yang kau inginkan dan jangan pedulikan aku!" ucap Zahra ketus. Ia bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Zahra, tunggu."
Namun tak di hiraukan.
"Astaga." Zeano hanya bisa menghela nafas melihat sikap istrinya itu. "Sepertinya aku harus membicarakan ini dengan Zyano."
*****
Sementara itu di tempat lain Sera dan Olivia sedang ada di penjara. Hari ini Andi resmi akan dibebaskan dari tahanan. Sebab, dia telah menyetujui penawaran nya dengan Katerina.
Satu bulan yang lalu, tepatnya setelah Katerina pulang dari Paris sehabis bulan madu. Mereka memutuskan untuk menemui Andi dan membahas soal penawaran itu. Awalnya Andi sempat menolak keras. Namun, setelah memikirkan Olivia maka dengan sangat terpaksa Andi menyetujui nya. Tapi ada satu syarat tak terduga yang di minta oleh Andi. Yaitu, dia berkeinginan tetap berada di perusahaan.
#Flashback
Drttttt drttttt
Ponsel Katerina berdering. Begitu dilihat ternyata ada panggilan masuk dari Sera. Katerina mengernyit heran. Tumben sekali ibu tirinya itu menelepon. Tak ingin berlama-lama Katerina pun mengangkat nya.
"Hallo."
__ADS_1
"Hallo, Kate."
"Ada apa?" tanya Katerina to the poin.
"Baiklah, aku tidak akan berlama-lama. Aku sudah bertemu dengan Andi dan dia tidak percaya dengan perkataan ku. Kecuali, kalau kau bisa menemuinya langsung dan menjelaskan padanya tentang maksud penawaran yang kau berikan itu." ujar Seja menjelaskan.
"Kenapa saya harus repot-repot menemuinya? Bukankah di surat itu sudah tertulis dengan jelas maksud dan tujuan penawaran nya! Lalu, apa lagi yang harus di bicarakan?!"
"Aku juga sudah mengatakan seperti itu tapi kau tau sendiri bagaimana sikap ayahmu, Kate. Dia tidak akan mau menandatangani perjanjian itu kalau kau tidak menemuinya secara langsung!"
"Itu artinya anda tidak becus."
"Apa katamu?" Sera tak terima dengan ucapan Katerina.
"Yah, coba saja kalau anda becus merayu suami anda sendiri maka dia tidak akan meminta hal yang sulit."
"Jadi, kau menyalahkan ku begitu?"
"Memangnya siapa lagi yang bisa di salahkan selain anda?"
"Hei, jaga bicaramu! Jangan karena kau memegang kunci mati atas diriku kau bisa seenaknya menyalahkan ku begitu saja!" teriak Sera tak terima di salahkan. Ia jadi naik pitam. Dadanya bergemuruh marah.
"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Anda memang tidak becus mengurus masalah sepele seperti ini saja."
"Tutup mulutmu! Aku menelepon mu bukan untuk mendengar kau menyalahkan ku ataupun menghina ku!"
Katerina menghela nafas. "Baiklah, saya juga tidak ingin berdebat dengan anda nyonya, Sera."
"Jadi, apa keputusan mu?" tanya Sera.
Katerina memijit keningnya pusing. "Entahlah, akan saya pikirkan dulu." jawab Katerina bingung. Ia sebenarnya tak ingin bertemu dengan Andi karena hatinya sakit. Ayahnya yang begitu dia sayangi malah tega menyakiti dirinya. Tapi di sisi lain Katerina juga merasa berhutang budi kepada ayahnya.
Katerina tersenyum kecut. "Kenapa anda jadi tidak sabaran nyonya, Sera?"
"Aku tidak ingin terus menunda masalah ini, Kate! Lebih cepat masalah ini di selesaikan maka lebih baik."
"Tentu saja tapi lebih baik untuk anda dan juga putri anda bukan?"
"A-apa maksudmu?" tanya Sera mendadak tegang.
"Ah, bukan apa-apa. Tidak perlu di pikirkan." Hampir saja Katerina keceplosan mengatakan kalau Olivia hamil. Kalau sampai itu terjadi maka semua rencana nya akan hancur. Ia harus lebih bersabar lagi.
"Hari ini saya cukup lelah karena baru saja pulang dari Paris. Mungkin besok saya baru bisa menemui Andi." ucapnya kemudian.
"Baiklah, kalau begitu. Aku tunggu kabar baiknya darimu."
"Hm."
Setelah itu sambung telpon dimatikan. Katerina menghembuskan nafas lelah. Ia memijit ujung keningnya karena merasa pusing hingga membuat Zyano yang tengah duduk di sampingnya menoleh. Pria itu juga meletakkan laptopnya kembali di atas nakas.
"Sayang, kau kenapa? Siapa yang menelpon mu tadi?" tanya Zyano menatap istrinya serius.
"Ibu, Sera."
"Untuk apa dia menelepon mu?"
Katerina menghela nafas, kemudian menatap Zyano lemas. "Ayah, dia ingin bertemu dengan ku. Kalau aku menolaknya maka dia tidak akan bersedia menandatangani surat perjanjian itu."
__ADS_1
"Lalu, apa keputusan mu?"
Katerina menggeleng pelan. "Aku tidak tahu hubby. Aku tidak ingin bertemu ayah karena setiap melihatnya hatiku sakit. Tapi di sisi lain aku juga ingin membalas kan dendam ku. A-aku sungguh tidak tahu harus bagaimana lagi, Zyan." ucap Katerina mengatakan isi hatinya.
Zyano tersenyum, menarik Katerina dalam dekapannya. Ia mengecup puncak kepala istrinya lembut. "Tidak apa-apa sayang. Kalau kau bingung tenangkan dirimu dulu. Mungkin karena dia ayahmu jadi hatimu sedikit melemah karena biar bagaimanapun dia tetaplah orang yang sudah merawat mu dan juga membesarkan mu. Aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu saat ini."
"Iya, hubby. A-aku merasa tidak tega melihat ayah di penjara tapi disisi lain aku juga marah karena dia memperlakukan ku seperti ini. Kadangkala aku merasa jadi anak durhaka karena sudah menjebloskan ayahnya sendiri kedalam penjara tapi saat teringat dengan sikapnya yang dingin dan kasar kemarahan ku pun menjadi-jadi. Apakah aku salah? A-aku sungguh bingung hubby." ucap Katerina sambil terisak pelan. Tubuhnya bergetar menahan isak tangis. Entah kenapa perasaan Katerina jadi lebih sensitif.
Zyano hanya diam membiarkan istrinya menangis untuk meluapkan segala isi hatinya yang selama ini tertahan. Ini baru pertama kalinya dia melihat sisi lain Katerina. Selama ini Katerina hanya menampilkan sisi luarnya yang kuat namun ternyata dari dalam sangatlah rapuh. Sedikit saja di sentuh maka akan hancur.
Setelah lama menangis akhirnya Katerina jauh lebih tenang. Perasannya nya plong. Seperti beban yang dipikulnya lenyap begitu saja.
"Ya ampun, maaf hubby. Pakaian mu jadi basah karena air mataku." ujar Katerina terkejut melihat kemeja tidur Zyano basah akibat tangisannya.
"Tidak apa-apa sayang. Apa kau sudah lebih tenang?"
Katerina mengangguk malu. "Iya, hubby. Maaf aku jadi cengeng."
"Jangan meminta maaf, Kate. Justru aku lebih menyukai kalau kau menangis didepan ku. Itu tandanya kau mempercayai ku."
Pipi Katerina langsung merona merah mendengarnya. Mengapa dia jadi merasa malu?
"Ah, sudahlah. Lupakan saja apa yang terjadi tadi." ujar Katerina.
Zyano tersenyum tipis. Ia meraih, dan kemudian menggenggam tangan istrinya lembut. "Sayang, kita ini adalah pasangan suami istri. Jadi, kau tidak perlu malu berbagi suka dan duka denganku. Karena apapun keluh kesah mu pasti aku dengarkan."
"Memangnya hubby tidak bosan mendengar curhatan ku?"
"Kenapa bosan? Aku malah menyukai nya. Apalagi wajahmu terlihat lucu saat menjelaskannya."
"Ish, hubby nyebelin." Katerina mencebikkan bibirnya kesal. Sementara Zyano malah terkekeh geli.
"Jangan cemberut begitu sayang. Dan untuk masalah ayahmu. Kau tidak perlu terlalu memikirkannya sayang. Tidak hanya anak saja yang harus berbakti kepada orang tua nya tetapi orang tua juga harus tau bagaimana bersikap terhadap anaknya. Kita tidak bisa membuat semua orang bersikap baik atau bahkan menyukai kita akan tetapi kita juga tidak bisa tinggal diam kalau ada seseorang yang memperlakukan kita dengan kasar. Maka dari itu jangan menyalahkan diri sendiri karena ini bukan salahmu!"
"Apapun keputusan mu nanti aku akan selalu mendukungmu sayang. Jadi, kau tidak perlu cemas ataupun khawatir karena aku akan jadi orang pertama yang melindungi mu dan juga berdiri di samping mu! Ingat itu baik-baik." ucap Zyano tegas.
Mata Katerina mendadak merah. Ia langsung memeluk suaminya erat. Sungguh, Katerina terharu mendengar perkataan suaminya.
"Makasih hubby."
"Sudah, jangan menangis. Air matamu terlalu berharga." ujar Zyano seraya menyapu air mata Katerina.
"Ish, hubby sekarang jago gombal ya?"
"Itu bukan gombal."
"Ah, sudahlah terserah hubby." Katerina menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya karena meresa malu. Tadi baru saja dia menangis, sekarang hatinya malah berbunga-bunga. Perasaan ibu hamil memang tidak bisa ditebak.
"Makasih, untuk semuanya, Zyan." gumam Katerina pelan dengan sudut bibir yang mengembang senyum penuh arti.
Bersambung 😎
______________________________________________
Di kasih yg romantis dulu sebelum masuk ke sesi tegang😂😂
Jangan lupa Like dan Vote nya ya guys 🥰🥰🥰❤️❤️❤️
__ADS_1
Makasih
^^^Coretan Senja ✍️^^^