Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
77. NASEHAT ZEANO


__ADS_3

Tok tok tok


Zyano berdecak. "Sudah kukatakan jangan ada yang menggangguku saat bekerja!" ujar Zyano tegas. Ia tidak suka saat bekerja ada yang menganggu nya.


"Ini, Dad, Zyan." ujar Zeano sambil membuka pintu. Ia berdiri di ambang pintu sambil menyandarkan punggungnya dengan kedua tangan bersindekap dada.


"Ada perlu apa, Dad?" tanya Zyano to the poin.


"Dad ingin bicara denganmu, Zyan." ujar Zeano.


"Aku sibuk, Dad. Nanti saja bicaranya." tolak Zyano kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Ini soal perusahaan pusat, Zyan." Tutur Zeano membuat aktivitas Zyano terhenti. Ia menatap wajah ayahnya yang tampak serius.


"Apa ada masalah?"


Sudut bibir Zeano terangkat. "Kalau kau ingin tahu ikuti, Dad. Kita bicara di taman." ujarnya melangkah pergi. Mau tidak mau Zyano hanya bisa mengikuti perkataan ayahnya.


Begitu sampai taman keduanya duduk di salah satu kursi yang terletak di bawah pohon rindang. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah tampan keduanya. Postur tubuh mereka bahkan hampir sama.


"Sebenarnya, Dad tidak ingin mengatakan nya tapi kau harus tahu." ujar Zeano. Ia melanjutkan perkataannya. "Ada pengkhianat di perusahaan pusat, Zyan."


"Apa?" Zyano sangat terkejut mendengarnya tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah ekspresi Zeano yang terlihat santai saat mengatakan hal itu. Tidak seperti ayahnya yang biasa.


"Dad, tidak tahu pasti siapa orangnya tapi yang pasti dia menentang pengangkatan mu sebagai Presdir." ungkap Zeano.


"Presdir? Apa maksudnya?" tanya Zyano.


Zeano tersenyum. Ia memegang pundak putranya itu. "Zyan, ini sudah waktunya kau menggantikan, Dad sebagai Presdir. Dad, ingin pensiun dan menikmati masa tua bersama mommy mu."


"Tapi masa jabatan, Dad masih satu tahun lagi."


"Yah, kau benar tapi kan kau sudah menikah, Zyan. Dan kau juga sudah memenuhi syarat untuk menjadi Presdir. Jadi, untuk apa terus menunda? Lebih cepat lebih baik." ujar Zeano dengan santainya.


"Tapi..."


"Zyan, kau masih ingat dengan janji, Dad dulu kan? Kalau kau sudah menikah maka Dad akan memberikan semua hak perusahaan pusat kepadamu. Dan inilah saat yang tepat untuk membuktikan kalau kau memang pantas menjadi pewaris Dad." ujar Zeano.


Zyano tersenyum kecut. "Sepertinya aku tidak bisa menolaknya lagi. Dad, sudah memperhitungkan semuanya."


"Tentu saja! Kau tidak diperbolehkan menolak!"


"Jadi, karena ini kemarin Dad melakukan rapat dadakan dengan dewan direksi? Untuk membahas pengangkat ku sebagai Presdir selanjutnya?" tanya Zyano memastikan.

__ADS_1


"Yah, tepat sekali. Tapi tentu saja ini pro dan kontra. Ada beberapa tikus kecil yang tidak setuju bahkan menolak keras pengangkatan mu. Untuk itu, Dad minta kau bereskan tikus-tikus yang tidak tahu tempatnya itu! Buat mereka sadar akan posisinya!" pinta Zeano tersenyum licik.


"Sepertinya pekerjaan ku akan bertambah banyak." ejek Zyano kesal.


Zeano cengengesan. "Hehehe, soal itu Dad minta maaf."


"Tidak masalah. itu sudah menjadi tugasku sebagai pewaris, Dad." ujar Zyano.


"Oh, iya hampir saja Dad lupa. Soal masalah kau dan Kate. Sepertinya kalian sedang bertengkar?" tanya Zeano.


"Aku sangat sibuk, Dad. Aku pergi dulu." ucap Zyano bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Jangan lari dari masalah, Zyan." ucap Zeano membuat langkah Zyano terhenti.


"Apa maksud, Dad?"


"Kau sedang menghindari, Katerina bukan?"


"T-tidak."


"Jangan berbohong, Zyan. Tadi malam Dad tidak sengaja mendengar pertengkaran kalian."


"Apa?"


"Hah, aku jadi malu." ucap Zyano tersenyum hambar. Pertengkaran nya diketahui oleh ayahnya sendiri. Tentu saja Zyano malu.


"Duduklah dulu, Zyan." pinta Zeano menepuk kursi disampingnya. Dengan berat hati Zyano mendudukkan pantatnya.


Zeano tersenyum tipis. "Tidak perlu malu begitu. Pertengkaran antara suami-istri itu hal yang biasa terjadi. Dulu, Dad dan mommy mu juga sering bertengkar bahkan sampai berbeda pendapat. Apalagi kau tau sendiri kan karakter ibumu itu. Dia sangat keras kepala dan tidak bisa di bantah."


"Lalu, bagaimana cara Daddy membujuk mommy?"


Zeano terkekeh pelan. "Pertanyaan yang bagus."


"Hm.... Melihat dari karakter ibumu yang keras kepala. Dad tidak mungkin bisa menang melawan mommy mu itu. Tapi, Zyan biarpun dia keras kepala saat dilembutkan ibumu itu juga akhirnya luluh. Terkadang kau harus mengerti. Ketika seseorang keras kepala jangan melawannya dengan keras juga. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Cobalah untuk memahami dulu apa keinginan nya."


"Tapi bagaimana kalau keinginan nya itu bisa membahayakan dirinya sendiri, Dad?"


"Dad, paham kau sangat mencintai istrimu, Zyan. Kau pasti tidak ingin dia terluka tapi menurut Dad caramu salah."


Zyano mengernyit. "Salah bagaimana, Dad?"


"Kau terlalu berlebihan mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Itu sama saja kau tidak mempercayai, Katerina. Padahal dia sangat mempercayai mu."

__ADS_1


"Mempercayai ku?"


"Yah, dia menceritakan semua rencananya padamu itu artinya dia sangat mempercayai mu, Zyan. Padahal bisa saja dia melakukannya sendiri tanpa memberitahu mu terlebih dahulu. Tapi apa? Dia malah membicarakan itu lebih dulu denganmu. Itu tandanya dia mempercayai mu sebagai suaminya! Tapi kau malah tidak mempercayai nya!" tukas Zeano.


"Aku sangat mempercayai, Dad!" ujar Zyano membantah keras.


"Tidak! Kau tidak mempercayai nya, Zyan! Kau tidak setuju dengan apa yang dia rencanakan sama halnya dengan kau tidak percaya dengan istrimu!" bantah Zeano tegas.


"Kau harus mengerti apa keinginan istrimu melakukan hal itu! Dia bertindak bukan tanpa perencanaan! Katerina pasti sudah memikirkan semua konsekuensinya. Dan tugasmu sebagai suami adalah mendukung dan melindunginya!"


"Dad, paham kalau kau takut akan terjadi sesuatu dengan, Katerina tapi bukankah kau bisa melindunginya? Sudah tugas suami kan melindungi istrinya? Tapi kenapa kau tidak melakukan itu, Zyan?! Kau malah menentang nya! Padahal dia mempercayakan semuanya padamu. Yah, hanya saja Katerina tidak mengatakan nya langsung! Dia pikir kau bisa mengerti tapi ternyata tidak. Inilah pemicu permasalahannya."


"Dan juga kekhawatiran mu itu terlalu berlebihan, Zyan. Kau bukan menjaganya tapi mengekang kebebasan nya! Dia tidak ingin jadi burung yang terkurung dalam sangkar. Dia ingin terbebas. Kau harus mengerti itu, Zyan!"


"Jadi, selama ini aku sudah salah?" tanya Zyano baru menyadari. Semua perkataan Zeano memang benar dan Zyano tidak bisa menyangkalnya.


"Yah, tidak bisa dikatakan salah juga. Kau hanya ingin melindungi istrimu hanya saja caramu salah." ujar Zeano menepuk pundak putranya itu.


"Lagipula, alasan utama Katerina melakukan itu semua kan karena dia tidak ingin mempermalukan mu. Dia hanya ingin dianggap berguna."


Zyano tersenyum hambar. "Aku tidak pernah memikirkan itu semua, Dad. Ku pikir Katerina melakukan ini hanya karena ingin balas dendam. Tapi ternyata lebih dari itu." ujar Zyano merasa bersalah.


"Tidak apa, Zyan. Kau hanya perlu memperbaiki nya. Sebagai ayahmu, Dad tidak ingin kau salah jalan. Hubungan suami-istri itu kadang memang tidak selalu berjalan dengan baik. Pasti ada saja pertengkaran. kecil. Jadi, kita sebagai suami harus bijaksana dalam bertindak."


"Makasih, Dad."


"Sama-sama. Kau itu putra kebanggaan Dad, Zyan. Jadi, jangan sampai mengecewakan Dad apalagi mommy mu."


"Iya, Dad." Keduanya saling berpelukan. Zeano tidak pernah menyalahkan putranya karena dia paham betul sifat anaknya itu sama seperti dirinya. Terlalu mencintai hingga kadangkala melupakan hal penting lainnya. Tapi melihat Zyano yang sudah menyadari kesalahannya Zeano bisa bernafas lega.


"Tuan gawat." ujar kepala pelayan tampak ngos-ngosan sehabis berlari.


"Ada apa?"


"Itu tuan, nyonya Katerina pingsan."


"Apa?" pekik Zyano dan Zeano bersamaan karena terkejut mendengarnya.


Bersambung 😎


______________________________________________


Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰👍🥰👍🥰🥰🥰👍

__ADS_1


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2