
Ponsel Katerina berdering. Ada panggilan masuk dari Kenzie.
"Hallo, Ken?"
"Hallo, ka. Aku sudah sampai di Le Grand Restoran!"
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
"Oke, aku tunggu, Kak."
Katerina menutup panggilan telpon. Ia merapikan riasannya sebentar lalu mengambil tasnya dan keluar.
"Nyonya, mau pergi?" tanya Lyla tidak sengaja berpapasan dengan Katerina.
"Iya, apa Budi sudah datang?"
"Sepertinya belum, nyonya. Tadi saat saya ke depan mobil Budi tidak terlihat."
"Astaga, kenapa Budi belum datang ya?"
"Saya tidak tahu nyonya. Coba telpon saja." ujar Lyla menyarankan.
"Ah iya, kau benar."
Katerina pun mencoba menghubungi Budi. Beberapa saat kemudian panggilan terhubung.
"Hallo, Nyonya?"
"Budi, kau di mana?"
"Maaf, nyonya. Saya terjebak macet karena ada kecelakaan lalu lintas." ujar Budi.
"Kira-kira macetnya berapa lama?"
"Saya tidak tahu, nyonya. Kemungkinan masih lama karena macetnya sangat panjang."
"Ya sudah, tidak apa."
"Apa, nyonya ingin pergi?" tanya Budi peka.
"Iya, tapi kalau kau tidak bisa mengantar. Aku bisa naik taksi."
"Jangan, nyonya!" sentak Budi.
Alis Katerina bertautan bingung. "Kenapa?"
"Kalau nyonya naik taksi itu artinya tidak ada yang menjaga nyonya." ucap Budi khawatir.
Katerina tersenyum. "Kau tenang saja, Budi. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula aku hanya bertemu dengan temanku saja."
"Tetap saja saya khawatir, nyonya. Bagaimana kalau ada yang menyakiti nyonya? Saya harus mengatakan apa dengan tuan, Zyano?"
"Tidak perlu cemas. Aku akan menjelaskannya dengan, Zyan. Kau berhati-hatilah"
"Tapi, nyonya..."
"Tidak apa, Budi. Aku tutup dulu telponnya."
Belum sempat Budi berucap panggilan telponnya sudah terputus. Ia menepuk jidatnya pusing.
"Astaga, bagaimana ini? Nyonya pergi tanpa penjagaan. Kalau terjadi sesuatu dengan nyonya habis aku di tangan, tuan." gumam Budi menggaruk kepalanya gatal.
Tittt tittt
"Macetnya sangat panjang. Aku tidak bisa menyusul, nyonya. Apa yang harus kulakukan?" tanya Budi bingung sendiri.
"Satu-satunya cara aku harus memberitahu, tuan." ucap Budi mantap.
******
Katerina memasukkan handphonenya ke dalam tas. "Aku tidak bisa membuat, Kenzie menunggu lama."
"Nyonya pergi tanpa menunggu, Budi?" tanya Lyla.
"Iya, Lyla. Budi terjebak macet dan aku tidak bisa menunggu terlalu lama."
"Tapi, apa tidak apa kalau nyonya pergi sendirian?" tanya Lyla merasa cemas.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku bukan anak kecil yang harus di jaga setiap saat. Lagipula aku juga tidak akan lama." ucap Katerina tersenyum.
"Tapi...."
"Ya sudah, aku pergi dulu ya. Temanku sudah menunggu. By, Lyla." Katerina bergegas keluar dari mansion. Ia tidak ingin Kenzie menunggunya terlalu lama.
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan, Nyonya." gumam Lyla menangkup kedua tangannya berharap penuh.
*****
Di lain tempat Zyano menggebrak meja begitu membaca pesan dari Budi. Ia marah bercampur kesal.
"Ternyata, Katerina benar-benar menemuinya. Dia pergi bahkan tanpa menunggu Budi. Apa sepenting itu sampai dia harus pergi sendirian?" tanya Zyano tak habis pikir. Ia mengepalkan tangannya kuat.
"Arghhhhhhh sial."
PRANG!
Zyano sangat marah hingga tanpa sengaja menjatuhkan cangkir minumnya sampai pecah. Dave yang saat itu sedang berada di depan pintu terkejut mendengar suara barang pecah. Ia langsung masuk ke dalam ruangan Zyano tanpa mengetuk pintu.
"Astaga, tuan. Apa anda baik-baik saja?" tanya Dave terkejut melihat pecahan cangkir yang berserakan di lantai.
"Dave, siapkan mobil. Kita pergi sekarang!"
"Pergi ke mana, tuan?"
"Tidak usah banyak tanya! Lakukan saja apa yang aku suruh!" perintah Zyano marah. Wajahnya merah padam menahan amarah.
"B-baik, tuan."
Dave langsung pergi menyiapkan mobil. Sedangkan Zyano berjalan keluar dari ruangannya dengan wajah datar. Semua karyawan yang saat itu berpapasan dengan Zyano tidak berani mengangkat wajah karena saking takutnya. Zyano sudah terlihat seperti singa yang siap menyantap mangsanya.
Zyano berjalan dengan angkuh. Langkah tegapnya mampu membuat orang menunduk takut. Aura intimidasi serta tatapan tajamnya bisa membuat sebagian orang merasa kesusahan untuk bernafas dengan benar. Sungguh, menyeramkan.
Begitu sampai di lobi dengan cekatan Dave membukakan pintu untuk Zyano. Setelahnya mobil Zyano meninggalkan kantor.
"Dave, lacak ponsel, Katerina! Temukan dia dimana pun!"
"Baik, tuan."
"Sebentar lagi kita akan bertemu, Ken." ucap Zyano menyeringai devil.
"Senyum itu, sudah lama aku tidak melihat tuan tersenyum seperti itu. Ini mengingatkanku dengan penyiksaan. Setiap menyiksa orang tuan pasti tersenyum seperti itu. Astaga, apa akan ada nyawa yang melayang hari ini?" gumam Dave dalam hatinya.
*****
Katerina turun dari taksi begitu sampai di Le Grand Restoran. Ia membayar ongkos taksi lalu bergegas masuk ke dalam.
"Kaka." Kenzie melambaikan tangannya saat melihat Katerina.
Katerina tersenyum dan berjalan menghampiri meja Kenzie.
"Hai, Ka." sapa Kenzie berdiri menyambut kedatangan Katerina dengan hangat.
"Hai, Ken. Maaf ya, aku telat. Kau pasti lelah karena menunggu ku terlalu lama." ucap Katerina merasa tidak enak hati karena sudah membuat Kenzie menunggu lama.
"Tidak apa, Ka. Lagipula hari ini aku tidak kuliah. Jadi, santai saja." balasnya.
"Btw mana kak, Maya?" tanya Kenzie heran melihat Katerina datang sendiri.
"Ah iya, Maya tidak bisa datang. Dia bilang dia sedang sibuk dengan pekerjaannya."
"Ohh, gitu. Kaka ingin memesan apa?"
"Cappucino latte dan puding coklat."
Kenzie memberitahukan kepada pelayan tentang pesanannya dan Katerina. Tak perlu waktu lama pesanan mereka akhirnya siap di meja.
Katerina menyeruput minumannya sedikit. "Jadi, bagaimana soal penyelidikan mu tentang, Olivia? Apa dia benar-benar hamil?" tanya Katerina menatap Kenzie serius.
"Iya, dugaan kak, Maya benar. Ternyata Olivia benar-benar hamil kak."
"Benarkah?"
"Iya kak. Ini surat pemeriksaan kandungan dan USG bayi, Olivia." ujar Kenzie
sambil memberikan surat itu kepada Katerina.
__ADS_1
Katerina membuka dan membaca isi suratnya dengan seksama. Ia menutup mulutnya karena saking terkejutnya. Katerina tidak menyangka kecurigaannya ternyata benar.
"Pantas saja, Olivia sangat ketakutan waktu itu. Ternyata dia tidak ingin aku tau kalau dia hamil." batin Katerina teringat kejadian saat diruang rapat.
"Aku tidak menyangka ternyata ka, Olivia hamil di luar nikah tapi anehnya itu bukan anak, kak Rei." ungkap Kenzie sambil menikmati kentang goreng nya.
"Maksudmu?"
"Iya, anak yang sedang di kandung ka, Olivia bukan anak ka, Rei."
"Dari mana kau tau?"
"Aku menyuruh seseorang untuk menyelidikinya, Kak."
"Kalau bukan anak, Rei. Lalu, anak siapa?" tanya Katerina bingung.
Srupppp
Kenzie menyeruput minumannya. "Soal itu aku masih belum tau ka. Orang suruhan ku masih menyelidikinya."
"Astaga." Katerina menghembuskan nafas gusar. Ia memijit keningnya yang terasa pusing. Berita ini cukup mengejutkan.
"Kemarin, Ka Olivia juga bertemu dengan seorang pria yang bernama Bryant Astrope. Dia mantan pacar ka Olivia dan ada kemungkinan kalau dia ayah biologis bayi itu tapi ini masih harus diselidiki lebih lanjut kak."
"Bryant Astrope? Sepertinya aku tau kenal dengannya." ucap Katerina merasa tidak asing saat mendengar nama itu.
"Benarkah?"
"Ah iya, aku ingat. Dia itu dulunya bos Olivia. Lebih tepatnya pemilik perusahaan Starlight, tempat Olivia bekerja dulu saat jadi model." ujar Katerina mengingat dirinya pernah bertemu dengan Bryant.
"Itu artinya kaka pernah bertemu dengannya?" tanya Kenzie.
Katerina mengangguk. "Iya, aku pernah bertemu beberapa kali tapi aku tidak begitu akrab dengannya."
"Ohh gitu. Jadi, apa kesan kaka saat bertemu dengannya? Menurut kaka, apa mungkin dia ayah biologis anak itu?"
Katerina menopang tangannya ke dagu. "Dia baik hanya saja dia playboy."
"Playboy?"
"Iya, dia sempat menggoda ku terang-terangan padahal saat itu aku sudah berpacaran dengan, Rei."
"Itu artinya bisa saja dia ayah biologis anak itu kan? Secara dia playboy."
"Entahlah, Ken. Aku juga tidak tau karena aku tidak begitu mengenalnya." ucap Katerina terdengar ragu.
"Lalu, apa kaka akan memberitahu ka, Rei soal ini?" tanya Kenzie berhati-hati takut Katerina tersinggung.
Katerina terdiam sesaat. Ia cukup terkejut dengan pertanyaan Kenzie. Sedangkan Kenzie menatap Katerina, menunggu jawaban dari wanita itu.
Katerina mengambil minumannya dan meneguknya sampai habis. Setiap membahas soal Rei entah mengapa dia kesal, marah dan kecewa. Perasaannya campur aduk.
"Maaf, kak kalau pertanyaan ku membuat mu tidak nyaman. Kalau kaka tidak ingin menjawabnya tidak masalah." ujar Kenzie merasa tidak enak hati. Ia meruntuki dirinya karena sudah bertanya soal itu.
Katerina menghembuskan nafas kasar. "Tidak apa, Ken. Aku hanya kesal saat mengingat soal Rei."
"Apa kaka membencinya?"
"Iya, aku sangat membencinya. Ketulusan ku selama ini dibalas dengan pengkhianatan. Itu sangat menyakitkan. Sampai matipun aku tidak akan pernah lupa." jawab Katerina mengepalkan kedua tangannya erat. Ingatan tentang pengkhianatan itu sangat membekas di kepalanya. Kekecewaan, kemarahan dan dendam bercampur jadi satu.
Kenzie menggenggam tangan Katerina yang terkepal. "Jangan sedih ka. Kalau kaka butuh bantuan ku untuk membalas dendam. Aku pasti akan membantu kaka sebisaku. Aku tidak terima dia menyakiti kaka ku yang paling aku sayangi." ucap Kenzie berusaha menghibur Katerina.
Katerina terkekeh geli. "Kau bisa saja, Ken. Aku senang, adikku ternyata sudah besar." balas Katerina tersenyum manis.
"Brengsek!" Umpat kasar Zyano mengepalkan tangannya kuat melihat Katerina berpegang tangan dengan seorang laki-laki. Darah Zyano mendidih saat melihat istrinya tersenyum bersama pria lain.
"Astaga, apakah akan terjadi pertumpahan darah di sini?" batin Dave.
Bersambung 😎
______________________________________________
Haduh Zyano salah paham guys😭😂
kira-kira singa ngamuk gak ya?
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys :) 👍❤️🌹
__ADS_1
^^^Coretan Senja ✍️^^^