
Di sebuah ruangan ada seorang pria yang sedang tersenyum tipis menyaksikan pertunjukan aksi Katerina. Pria itu adalah Zyano. Ia menyuruh bodyguard bayangan nya untuk merekam semua yang terjadi di restoran itu. Zyano benar-benar di buat kagum oleh sikap tegas istrinya itu.
"Seperti yang ku harapkan istriku memang luar biasa." gumam Zyano tersenyum puas melihat ketidakberdayaan Sera. Tidak sia-sia dirinya bertemu kemarin dengan wanita itu.
Drttttt drttttt
Zyano mengalihkan pandangannya saat ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari seseorang. Itu tidak lain adalah Sera. Tak perlu waktu lama Zyano langsung menerima panggilan telpon tersebut.
"Hallo." sapa Zyano.
"Kau sudah melihat bukan? Aku sudah mengikuti semua yang kau inginkan. Jadi, kau juga harus menepati janji mu!" ujar Sera.
Zyano terkekeh pelan. "Yah, aku tau. Kau tenang saja karena semua rahasia mu akan aman dan ku pastikan tidak ada siapapun yang bisa mengetahui nya. Yah, anggap saja pembicaraan kita kemarin itu tidak pernah terjadi!"
Sera berdecih. "Cih, ternyata kalian berdua memiliki sifat yang sama. Yaitu, suka mengancam orang lain!" ujar Sera mengejek.
"Itulah tugas seorang suami. Melindungi istrinya dan memastikan semua rencana yang disusunnya berjalan lancar tanpa hambatan apapun." balas Zyano sambil bersandar angkuh.
Sera tertawa sarkas. "Cih, apa kau tidak takut kalau istri yang sangat kau cintai itu justru malah mengkhianati mu?"
"Jaga ucapan anda! Atas dasar apa anda bisa mengatakan hal seperti itu hah?!" bentak Zyano tak terima mendengar Sera menghina Katerina.
"Yah bisa saja kan dia hanya ingin memanfaatkan mu. Karena kebanyakan wanita selalu seperti itu. Setelah semua misi balas dendam nya berhasil mungkin saja dia akan meninggalkan mu. Tidak ada yang tahu hal itu bukan?" ujar Sera.
"CUKUP!" Bentak Zyano benar-benar marah. "Sekali lagi anda menghina istri saya maka saya pastikan anda akan menyesal!" ancamnya.
"Hei, aku ini hanya memperingati mu agar kau lebih berhati-hati. Aku bisa mengerti saat ini kau sedang dimabuk cinta akan tetapi kau baru mengenal Katerina. Jadi, kau tidak begitu tau bagaimana sifat wanita ular itu. Dia memang manis di depan tapi sebenarnya licik dibelakang!"
"DIAM!" bentak Zyano. Ia melanjutkan perkataannya. "Tidak peduli bagaimanapun sifat Katerina itu bukan urusan anda! Saya memang baru mengenalnya tapi saya tahu kalau dia wanita baik-baik. Walaupun dia licik tapi setidaknya dia lebih baik daripada putri anda yang bermuka dua!" ujar Zyano menohok.
"Apa katamu?" Sera menggeram tak terima.
Zyano tersenyum kecut. "Cih, anak dan ibu sama saja ternyata. Apa anda tidak bisa berkaca? Lihatlah diri anda sendiri. Apa anda merasa lebih baik dari istri saya?! Heh, bahkan orang gila pun tahu mana berlian dan mana yang sampah. Saya sarankan kepada anda sebelum memperingati seseorang ada baiknya ada berkaca dengan diri sendiri. Karena bagi saya anda lebih buruk!" ujar Zyano mengejek.
"Hei jaga bicaram....."
Tuttt
Panggilan dimatikan Zyano secara sepihak. Ia benar-benar muak mendengar omong kosong Sera. Sedangkan Sera malah tersenyum puas.
"Yes, rencanaku berhasil. Aku harap pria itu termakan ucapan ku. Setidaknya dengan itu mereka jadi bertengkar hahahaha. Rasakan itu, Katerina." ujar Sera tertawa bahagia.
Sementara itu Zyano justru sangat marah. Ia melempar gelas minuman yang ada di mejanya sampai pecah.
Prang!
Dave yang saat itu ada didepan ruangan Zyano terkejut mendengar ada barang pecah di kantor tuanya itu. Ia pun langsung mencek nya. Kedua matanya langsung melebar melihat kantor Zyano yang berserakan. Dave juga bisa melihat wajah Zyano yang sangat marah. Rahangnya mengeras dengan tangan terkepal kuat.
"Ada apa ini, tuan?" tanya Dave bingung tiba-tiba Zyano terlihat marah.
Zyano tak menjawab. Ia hanya mengatakan. "Beraninya wanita sampah sepertinya menghina istriku! Akan ku buat dia menyesal dan menarik semua ucapan nya!" geram Zyano mengeratkan rahangnya marah.
"Apa? Siapa yang berani menghina nyonya dan membuat tuan semarah ini?" tanya Dave dalam hatinya.
"Tuan, apa yang terjadi?" ujar Dave memberanikan diri bertanya.
Lagi-lagi Zyano tidak menjawab. Ia sedang kalut dengan kemarahannya. Rasanya Zyano ingin memotong lidah Sera yang sudah berani menghina istrinya. Sampai kapanpun Zyano tidak bisa menerima hal itu. Sedangkan Dave justru makin kebingungan dengan sikap tuannya yang marah tanpa alasan itu. Dave bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
"Aduh, bagaimana ini? Tuan sepertinya sangat marah. Aku tidak bisa bertanya dalam kondisi seperti ini. Aku hanya bisa berharap jangan sampai tuan mengamuk lagi." batin Dave.
Drttttt drttttt
Ponsel Zyano berdering. Ada panggilan masuk. Ia hendak menolaknya tapi begitu melihat nama istrinya yang tertera Zyano pun membatalkan niatnya tersebut dan menerima hal istrinya.
"Hallo hubby."
"Iya sayang. Ada apa?" tanya Zyano berusaha mengendalikan emosi nya yang tadi menggebu-gebu. Ia tidak ingin Katerina tahu kalau dirinya sedang marah.
"Hubby, apa kau sedang sibuk?" tanya Katerina.
"Hm tidak juga. Memangnya kenapa sayang?"
"Tidak apa-apa hubby. Aku hanya ingin bertanya. Apa hari ini hubby pulang cepat?"
"Yah, kalau pekerjaan ku selesai aku akan pulang sayang."
"Baiklah. Oh iya, makan malam nanti hubby ingin makan apa?"
"Terserah saja "
"Yakin? Hubby tidak ingin sesuatu gitu?"
"Hm, bagaimana kalau omellete makaroni saja? Sudah lama aku tidak makan itu."
"Oke."
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan soal makanan sayang?"
"Hm, ada deh. Pokoknya kalau hubby sudah selesai bekerja hubby langsung pulang ya. Jangan kemana-mana oke?" pinta Katerina.
Katerina terkekeh geli mendengarnya. "Ya sudah, selamat bekerja hubby. Aku tunggu di mansion ya. Dah. Muach." Katerina memberikan ciuman jarak jauh dan setelahnya menutup panggilan telpon.
Zyano hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Yang awalnya marah jadi bahagia setelah menerima panggilan telepon dari istri tercinta. Sedangkan Dave sedari tadi hanya berdiri tanpa berucap satu patah katapun.
"Astaga, Dave. Sejak kapan kau berdiri disana?" tanya Zyano terkejut melihat asistennya.
"Sejak anda marah sampai kemudian bahagia lagi, tuan." jawab Dave apa adanya.
"J-jadi, dari tadi kau?" Zyano tak melanjutkan perkataannya karena Dave sudah mengangguk.
Zyano hanya menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar. Bagaimana bisa dia tidak menyadari kehadiran Dave? Apakah dia terlalu kalut akan amarahnya? pikir Zyano.
"Baiklah, karena kau sudah ada di sini aku punya tugas khusus untukmu, Dave." ujar Zyano menyeringai licik.
"Apa tuan?"
Zyano pun langsung memberikan instruksi tugas kepada Dave sampai asistennya itu mengangguk paham. Ia berniat memberikan Sera pelajaran karena sudah berani menghina istrinya.
"Kau sudah mengerti tugasmu bukan, Dave?"
"Yah, saya mengerti tuan."
"Baguslah, kalau begitu kau boleh keluar."
"Baik, tuan."
__ADS_1
Saat Dave hendak keluar tiba-tiba Zyano teringat sesuatu. "Tunggu dulu, Dave."
"Ada apa, tuan? Apa ada hal lain lagi yang perlu saya lakukan?"
"Tidak! Aku hanya ingin bertanya bagaimana soal persiapan bulan maduku dengan istriku. Apa semuanya sudah beres?" tanya Zyano.
"Anda tidak perlu khawatir, tuan. Semuanya sudah saya persiapkan sesuai perintah dan konstruksi dari anda. Hotel, pesawat pribadi dan semua bodyguard anda juga sudah siap. Jadi, anda dan nyonya hanya tinggal berangkat saja lagi." ujar Dave.
"Good, kau memang Asisten terbaikku, Dave."
"Yah tuan, saya harap gajih saya bulan ini dinaikkan karena kedepannya saya harus bekerja lembur untuk menggantikan anda." ujar Dave blak-blakan.
"Of course. Gajihmu akan ku gandakan dua kali lipat, Dave." balas Zyano santai.
"Baik, tuan. Kalau tidak ada lagi saya permisi dulu." pamit Dave undur diri.
"Hm."
Setelah asistennya itu keluar Zyano menghembuskan nafas panjang. Ia mengusap wajahnya gusar. Zyano masih saja terus kepikiran dengan perkataan Sera tadi. Hati dan pikirannya bertolakbelakang. Di satu sisi dia percaya tapi di lubuk hatinya yang paling dalam sejujurnya Zyano merasa ragu. Ia hanya takut Katerina akan meninggalkan nya. Dia tidak mempermasalahkan kalau Katerina benar-benar hanya memanfaatkannya akan tetapi yang Zyano takutkan adalah di tinggalkan sang istri.
"Tidak! aku tidak boleh ragu seperti ini. Apa yang sudah kupikirkan? Katerina bukan wanita seperti itu. Mengapa aku harus terpengaruh ucapan orang itu. Astaga bodoh kau, Zyan." umpat Zyano berusaha menepis segala pikiran buruk tentang istrinya.
Zyano melirik sebuah bingkai foto yang ada di atas mejanya. Ia mengambilnya dan menatap foto itu. Tanpa sadar sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Itu merupakan foto wedding nya dengan Katerina. Dalam foto itu keduanya tampak serasi. Padahal waktu itu mereka berdua masih belum menyatakan perasaannya masing-masing.
Tangan kanan Zyano terangkat membelai foto tersebut tepat di wajah Katerina. Ia bisa melihat di foto itu senyum tulus Katerina.
"Di lihat darimanapun kau memang sangat cantik, Kate hingga membuat ku sangat takut kehilanganmu sayang." Jemari Zyano mengusap foto tersebut.
"Aku tidak peduli meskipun kau hanya ingin memanfaatkan ku demi balas dendamu tercapai. Tapi aku hanya takut setelah itu kau akan meninggalkan ku, Kate. A-aku sungguh tidak bisa membayangkan hal itu." gumam Zyano terdengar getir. Rasa takut itu muncul karena Zyano sudah menyadari rasa cinta nya yang dalam kepada Katerina. Oleh karena hal itu dia jadi merasa takut kalau seandainya ucapan Sera tadi terbukti. Ketakutan Zyano bukan tanpa alasan. Sebab dia tahu sendiri Rei jelas-jelas mengibarkan bendera permusuhan padanya. Pria itu sungguh terang-terangan ingin merebut Katerina. Tentu saja Zyano khawatir akan hal itu.
"Hubby, apa kau tidak percaya dengan cintaku? Ku mohon percayalah dengan ku hubby, aku tidak akan meninggalkan mu hanya karena masa laluku. Hubungan ku dan Rei sudah berakhir. Dia sudah tidak ada artinya lagi hubby."
Zyano terhenyak saat mengingat ucapan Katerina kemarin malam. Ia bisa mengingat dengan jelas saat Katerina mengatakan itu maka terlihat jelas raut keseriusan di wajahnya. Dan tidak ada keraguan sama sekali dibalik perkataan nya.
"Astaga, lagi-lagi aku berpikir buruk. Tidak! aku tidak boleh meragukan cinta, Katerina. Dia saja sangat mempercayai ku. Lantas, kenapa aku justru tidak percaya dengannya? Bodoh kau, Zyan! Aku harus percaya dengan istriku sendiri. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh suami. Bukan malah meragukan nya seperti ini." Zyano meruntuki kebodohannya sendiri. Ia menepuk-nepuk jidatnya.
Huh
Zyano menghela nafas. "Sebaiknya aku pulang saja. Tidak ada gunanya berpikir buruk mengenai hal yang belum pasti akan terjadi. Ini hanya akan membuat hubungan ku dan Katerina renggang. Aku harus menjernihkan pikiran ku." ucap Zyano.
Zyano memencet panggilan telepon yang terhubung dengan asistennya.
"Hallo, Dave. Siapkan mobil aku ingin pulang sekarang juga!" perintahnya.
"Baik, tuan."
Zyano meletakkan kembali bingkai foto tadi dan kemudian dia memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Setelahnya Zyano keluar dari ruangannya.
Bersambung π
______________________________________________
Astaga nenek lampir nih nyari penyakit π¬π€¦
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya π₯°ππ₯°ππ₯°π
Maaf kemarin gabisa update karena sibuk kuliah sampe sore jadi ga sempet nulis dehπ©
__ADS_1
^^^Coretan Senja βοΈ^^^