Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
S2 : EPISODE 130


__ADS_3

Sementara itu di lain tempat Kenzie terlihat keluar dari sebuah kafe. Setelah menyelesaikan tugas kelompok bersama teman-temannya dia langsung memutuskan untuk pulang. Kenzie melangkah kakinya mencari tempat berteduh karena cuaca hari ini cukup panas. Untungnya di sekitaran kafe ada tempat duduk di bawah pohon rindang. Ia memainkan ponselnya sambil menunggu jemputan nya datang.


Brak


Kenzie tersentak saat mendengar suara barang pecah. Ia refleks bangkit dari duduknya sambil bersikap waspada.


"Siapa disana?"


Hening


Tidak ada sahutan. Kenzie mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh. Jelas-jelas dia mendengar suara barang pecah. Kenzie berniat memeriksanya langsung. Perlahan dia melangkahkan kakinya mendekat arah suara tadi. Dengan perasaan was-was dia mencoba berani walaupun sebenarnya juga takut tapi rasa penasarannya jauh lebih besar daripada ketakutan nya.


"Tuan muda."


Kenzie terlonjak kaget saat merasakan ada yang menyentuh pundaknya. Ia refleks membalikkan badannya bersikap siaga. Tapi helaan nafas terdengar. Dia pikir itu orang jahat tapi ternyata Roy (orang kepercayaan Kenzie).


"Astaga, Roy. Kau mengejutkan saja." ujar Kenzie mengelus-elus dadanya. Jantung nya hampir copot karena takut.


"Maaf tuan muda, saya tidak bermaksud mengagetkan anda. Apa terjadi sesuatu tuan muda? Saya liat wajah anda seperti orang ketakutan?" tanya Roy heran.


"Em...tidak terjadi apa-apa, Roy. Sudahlah, ayo kita pulang." ujar Kenzie berjalan lebih dulu sementara Roy terheran-heran.


Di dalam mobil hanya ada keheningan. Kenzie hanya diam menatap pepohonan rindang yang dilewati sambil memikirkan kejadian tadi. Entah mengapa dia merasa ada yang janggal.


"Tuan muda, tadi nona sasha meminta saya untuk memberitahu tuan muda kalau dia ingin dibelikan kue."


Hening, tidak ada sahutan.


"Tuan muda." panggil Roy sekali lagi.


Kenzie tersentak. "Ah iya? Kenapa, Roy?"


"Itu tuan tadi nona sasha berpesan pada saya agar memberitahu tuan kalau dia ingin dibelikan kue."


"Ohh begitu. Ya sudah sebelum pulang kita mampir ke toko kue dulu."


"Baik, tuan."


Setelah itu hening kembali. Kenzie menyadarkan punggung belakang nya, menatap langit-langit mobil. Ia memejamkan matanya sejenak sambil berfikir.


"Tuan muda, apa anda baik-baik saja?" tanya Roy melirik lewat kaca spion di depannya. Ia merasa Kenzie tampak gelisah.


"Roy, tadi sebenarnya aku berbohong."


Roy tersenyum. "Saya tahu tuan muda."


"Bagaimana kau bisa tahu?"

__ADS_1


"Saya kan sudah bersama tuan muda selama 3 tahun. Jadi, saya bisa mengetahui walaupun hanya melihat dari ekspresi anda. Terlebih lagi gelagat anda juga aneh."


Kenzie terkekeh. "Ternyata kau sangat peka ya, Roy."


"Terima kasih atas pujiannya tuan muda. Tapi kalau boleh saya tahu apa yang terjadi?"


Kenzie membenarkan postur tubuhnya menjadi tegak. Ekspresi wajahnya juga terlihat serius. "Sebenarnya, akhir-akhir ini aku merasa seperti sedang diawasi. Aku juga tidak tahu kenapa tapi kecurigaan ku bertambah saat di kafe tadi. Aku yakin ada yang sedang memata-matai ku."


"Memata-matai? Memangnya tuan muda memiliki musuh? Tapi setahu saya tuan muda bukan orang yang suka cari masalah. Jadi, tidak mungkin tuan muda memiliki musuh."


"Yah, kau benar Roy. Makanya aku merasa aneh. Aku tidak tahu ini benar atau hanya perasaanku saja. Tapi aku ingin memastikan nya langsung."


"Maksudnya?"


"Aku ingin kau mencek rekaman cctv tempat kafe tadi. Sebelum kau datang aku merasa ada yang mencoba mendekati ku tapi saat aku ingin memastikan nya kau tiba-tiba datang. Untuk itu aku ingin melihat rekaman cctv nya. Kalau dugaan ku benar maka ada yang bersembunyi di balik semak-semak."


"Baik, tuan muda saya akan mencek nya."


"Tapi ingat, kau harus melakukan nya dengan hati-hati."


"Baik, saya mengerti tuan muda."


Kenzie menghembus nafas gusar. "Aku harap ini hanya perasaanku saja. Semoga kecurigaan ku tidak benar." batinnya berharap.


"Tapi kalau benar apa yang harus aku lakukan?"


*****


"Makanya sudah kubilang jangan mendekat tapi kau keras kepala. Untung saja kita tidak ketahuan." balas satunya marah-marah.


"Ya maaf. Lagian sampai kapan kita harus memata-matai bocah itu?"


"Aku juga tidak tahu. Kita tunggu kabar dari bos saja."


"Ah, ini sungguh membosankan. Memangnya bocah itu melakukan apa sampai kita harus mengawasi nya seperti ini?"


"Kau pikir untuk apa kita mengawasinya kalau bukan untuk mengetahui apa saja yang dia lakukan?! Huh, dasar bego."


"Jangan mengejekku. Aku hanya bertanya kenapa kau jadi sensi hah?!"


"Berisik."


"Lama-kelamaan aku bisa mati kebosanan kalau begini terus."


"Jangan banyak mengeluh kalau kau ingin dapat uang."


"Huh, menyebalkan."

__ADS_1


"Sudahlah, ayo pergi."


******


Sementara itu Maya sedang sibuk bekerja sampai lupa waktu makan siang. Ada banyak berkas yang harus di periksa nya terutama saat nanti dia pindah tugas ke perusahaan Cristopher. Jadi, ada banyak hal yang Maya urus sebelum berhenti menjadi sekretaris Zyano.


Tok tok tok


"Ya masuk."


"Selamat siang nona, Maya."


"Ah, siang tuan, Dave. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Maya tampak terkejut melihat kedatangan Dave.


"Iya tuan, Zyano meminta jadwalnya untuk minggu depan. Apakah sudah selesai?"


"Ah iya, sudah tuan. Ini." Maya menyerahkan jadwal Zyano kepada Dave.


"Terima kasih nona, Maya."


"Sama-sama tuan." balas Maya tersenyum.


Kruk-kruk


Dave mengulum senyum, menahan diri agar tidak tertawa. "Nona, anda belum makan siang?"


"Em, itu...iya." Maya menunduk sangat malu. Mengapa perutnya berbunyi di depan Dave. Sungguh Maya ingin menghilang karena sangat malu. Rasanya dia tidak memiliki muka lagi.


Dave terkekeh pelan. "Kalau begitu bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kebetulan saya juga belum makan siang. Jadi, sekalian saja Itupun kalau anda mau."


"Apa?" Maya tampak shock tapi dengan cepat dia mengendalikan ekspresi wajahnya.


"Apa anda mau makan siang bersama saya?" tanya Dave sekali lagi.


Maya mengangguk pelan. "Ah, iya saya mau."


"Ya sudah, kalau begitu ayo nona, Maya." ajak Dave.


"Ayo." Tanpa sadar Maya tersenyum. Entah mengapa dia merasa bahagia.


*****


Bersambung 😎


______________________________________________


Jangan lupa VOTE nya guyssssa🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2