
"Apa?" Maya refleks bangkit dari duduknya karena shock mendengarnya. "Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?" lanjutnya Maya bertanya.
"Sudah lebih baik tapi tuan ingin bertemu dengan nona. Katanya ada hal penting yang ingin disampaikan. Apa nona bisa datang ke sini?"
"Yah, sekarang juga aku akan langsung ke sana. Kau tunggu dan jaga dia dengan baik!"
"Baik, nona." Setelah itu sambung telpon diputuskan oleh Maya. Wajahnya terlihat panik dan khawatir.
"Kenapa nona? Apa terjadi masalah?" tanya Dave dan Sean bersamaan.
Maya terdiam sejenak. "Em, tidak apa-apa. Hanya sedikit masalah kalian tidak perlu khawatir."
"Masalah apa kalau boleh tau nona? Mungkin kami bisa membantu?" ujar Dave menawarkan bantuan.
"Hehehe, bukan masalah besar kok." ujar Maya tak bisa menceritakan tentang Erland.
"Kau yakin nona?" tanya Sean tak percaya. Melihat dari wajah Maya yang tampak serius entah kenapa Sean merasa ada masalah besar.
"Yah, tapi kalau kalian memaksa aku tidak bisa menolak. Sebenarnya ada salah satu anggota keluarga ku yang sedang sakit. Jadi, aku harus segera pergi mengunjungi nya tapi..."
"Tapi apa nona?"
"Kalau aku pergi bagaimana dengan semua makanan untuk anak-anak panti? Siapa yang akan mengantarkan nya?" ujar Maya kebingungan.
"Ah, soal itu biar Dave saja yang mengurusnya. Dia yang akan mengantarkan semua makanan itu ke panti asuhan. Jadi, nona tenang saja. Iya kan, Dave?" sahut Sean langsung melimpahkan semua tugas kepada Dave tanpa bertanya dulu kepada yang bersangkutan.
Dave tampak terkejut tapi dia tak bisa menolaknya. Maka Dave hanya bisa mengangguk kan kepalanya tanda setuju. Sementara Maya merasa tidak enak hati.
"Apa tidak masalah bagi tuan, Dave ? Saya takut merepotkan tuan." ujar Maya.
"Saya tidak apa-apa nona. Ucapan tuan, Sean ada benarnya biar saya saja yang mengurus makanan untuk anak-anak panti. Nona tidak perlu khawatir."
Maya menghela nafas sambil tersenyum. "Kalau begitu mohon bantuannya ya tuan, Dave."
"Iya nona." Dave membalas senyuman Maya.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita pergi." ujar Sean menyudahi percakapan itu dengan menarik tangan Maya.
"Loh, tunggu sebentar." Maya melepaskan tangan Sean dari pergelangan tangannya sehingga membuat langkah Sean terhenti.
__ADS_1
"Maksud anda pergi kemana?" tanya Maya bingung.
"Tentu saja pergi ke rumah keluargamu yang sedang sakit. Aku tau kau sedang buru-buru. Jadi, biar aku saja yang mengantar mu."
"Apa?" Maya tercengang mendengar perkataan Sean. Bagaimana bisa pria itu memutuskan semua nya sendiri?
"Kenapa kau sangat terkejut begitu nona?"
"Ah, maaf." Maya tersadar sambil mengatur ekspresi nya. Ia melanjutkan perkataannya. "Sebelumnya aku sangat berterima kasih atas niat baik Sean yang ingin mengantarkan ku pergi, tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya."
"Loh, kenapa nona?"
Maya menggaruk keningnya yang gatal. "Em, tidak apa-apa aku hanya tidak ingin merepotkan mu lagi. Lagipula aku juga bisa pergi naik taksi. Jadi, kau tidak perlu repot-repot mengantarkan ku."
"Tapi aku tidak merasa direpotkan oleh nona. Justru aku merasa sangat senang karena bisa membantu nona yang sedang kesusahan." balas Sean pandai menjawab. Sementara Maya mati-matian mencari alasan supaya Sean tak ikut dengannya.
"Sekali lagi maaf, Sean. Aku tidak bisa karena keluarga ku akan merasa aneh kalau aku tiba-tiba membawa seorang pria yang tidak dikenal. Mereka akan berpikir macam-macam tentang kita. Jadi, lebih baik aku pergi sendiri saja." ujar Maya sebenarnya merasa tidak nyaman mengatakan itu tapi dia tak punya alasan lagi untuk menolak Sean.
Sean merasa tertampar mendengar nya. Tapi ucapan Maya memang tak salah karena mereka baru saja berkenalan. Sean juga tak bisa memaksa kan kehendaknya karena hubungan mereka hanya sebatas teman dan tak lebih dari itu. Jadi, Sean tidak punya alasan menemui keluarga Maya dalam kondisi seperti ini. Bahkan, Maya sendiri juga masih berat hati menerimanya sebagai teman. Ah, memikirkan hal itu membuat Sean jengkel. Hubungan nya dan Maya memang setabu itu.
"Baiklah, kalau itu keinginan nona maka aku tidak bisa memaksanya. Aku harap keluarga nona yang sakit segera sembuh." ujar Sean.
Maya tersenyum manis. "Iya terima kasih atas doanya, Sean."
"Kalau begitu saya pamit pergi dulu tuan, Sean." ujar Dave undur diri. Ia hendak mengurus makanan untuk anak-anak panti.
"Tunggu dulu, Dave."
"Ada apa tuan?"
"Dave, aku ingin bertanya padamu tapi kau harus menjawabnya dengan jujur!" pinta Sean menatap Dave dengan serius.
"Bertanya apa tuan?"
Sean meletakkan tangannya di pundak Dave dan berkata. "Apa kau menyukai, Maya?"
Dave langsung terdiam. Tatapan Sean tajam dan serius. Tapi bukannya takut Dave justru membalasnya seolah tak takut sama sekali. Sejujurnya Dave kaget dengan pertanyaan blak-blakan dari Sean apalagi ini terkait perasaan pribadi nya. Dave tidak tahu harus menjawab apa.
"Jawab Dave!" desak Sean perlahan mengencang kan cengkraman tangannya dari pundak Dave.
__ADS_1
"Kenapa saya harus menjawab pertanyaan tuan? Memangnya apa pentingnya itu?" bukannya menjawab Dave malah bertanya balik.
"Karena aku ingin tahu!"
"Kalau begitu saya juga ingin bertanya. Apa tuan menyukai nona, Maya?" tanya Dave membalikkan pertanyaan Sean.
"Yah, aku menyukainya!" Sean menjawab nya dengan tegas. Sorot matanya serius tanpa adanya keraguan. Sesaat, Dave terhenyak.
"Tidak lebih tepatnya aku mencintai nya!" lanjut Sean yakin.
Dave terkekeh pelan.
Sementara Sean membuang muka malu. "Aku tahu ini terdengar konyol dan sulit dipercaya tapi aku serius dengan perkataan ku! Jadi, sekarang katakan apa kau juga menyukai nya?"
Dave tersenyum. "Anda tidak perlu khawatir tuan. Saya hanya menganggap nona, Maya sebagai rekan kerja. Tidak lebih dari itu."
"Apa? J-jadi, maksudmu kau tidak menyukai nya?" tanya Sean memastikan.
"Iya, tuan."
"Huh, syukurlah kalau begitu." ujar Sean bernafas lega mendengarnya. "Aku pikir kau menyukai nya, Dave. Aku sempat khawatir takut bermusuhan denganmu hahahaha."
"Anda berpikir berlebihan tuan, Sean. Saya tidak ada perasaan dengan nona, Maya." ujar Dave.
"Baguslah kalau begitu tapi, Dave memangnya kau tidak ingin menikah? Apa kau tidak pernah menyukai wanita?" tanya Sean bingung.
"Em, saya pikir makanan nya sudah siap. Jadi, saya pergi dulu ya tuan." bukannya menjawab Dave langsung pergi.
"Hei, Dave jangan pergi dulu kau belum menjawab pertanyaan ku!" teriak Sean. Tapi Dave terlanjur pergi.
"Hish, menyebalkan. Kenapa dia malah pergi sih? Tapi mengapa aku merasa, Dave seperti sengaja menghindar ya? Apa jangan-jangan ada yang dia sembunyikan?" gumam Sean bertanya-tanya. Sebab, tingkah Dave lain daripada biasanya.
"Ah, sudahlah bukan urusanku. Tidak baik terlalu kepo dengan masalah orang." Setelah itu Sean juga pergi dari restoran itu.
Bersambung 😎
______________________________________________
Dave kenapa ya guys??
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote nya ya guys ❤️❤️🥰❤️
^^^Coretan Senja ✍️^^^