Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
S2 : EPISODE 128


__ADS_3

Malam harinya.......


Di sebuah ruang kerja minimalis ada seorang pria tengah berkutik dengan laptopnya. Ia sedang menonton video aksi pemukulan brutal yang terjadi di penjara. Sudut bibirnya terangkat menyeringai penuh arti. Pria itu tidak lain adalah Zyano. Ia meminta asistennya untuk mengirimkan video pemukulan yang terjadi kepada Andi. Namun, Zyano tampaknya masih kurang puas.


"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang, Dave?" Zyano bertanya kepada asistennya lewat panggilan telepon yang terhubung.


"Tidak begitu baik, tuan. Setelah di bawa ke rumah sakit terdekat dia masih belum sadarkan diri. Dokter mengatakan ada banyak luka di tubuhnya sehingga pasien harus dirawat inap selama beberapa hari."


Zyano terkekeh. "Sepertinya, Arkan melakukan nya dengan baik."


"Apa anda sudah puas, tuan?" tanya Dave.


"Sejujurnya tidak, tapi ya sudahlah. Aku cukup puas melihatnya menderita. Itu sebagai balasan karena dia sudah berani menyakiti istriku. Setidaknya, kedepannya dia akan berpikir dua kali ketika mencari masalah denganku." ujar Zyano bersandar di kursi kerjanya, ia melipat kedua tangannya dan tersenyum smirk. Zyano yakin Andi pasti mengumpat marah padanya atau bahkan mungkin dendam. Tapi Zyano tak peduli.


"Oh iya, Dave. Bagaimana dengan wanita itu? Apa dia sudah buka mulut?"


"Belum, tuan. Nona, Aruna terus menolak untuk berkata jujur. Sepertinya firasat tuan benar. Ada yang mereka sembunyikan karena setiap saya bertanya tentang tuan, Andi wanita itu sangat ketakutan. Dia bahkan sampai mengamuk minta dilepaskan. Dia juga mengatakan kalau kita salah mencari lawan."


"Ah, jadi begitu." Zyano mengusap-usap dagu nya, mengukir senyum tipis. "Ternyata, Andi punya backingan di belakang nya."


"Backingan? Maksud tuan, ada seseorang yang membantu tuan, Andi di balik layar?"


"Yah, kurasa begitu."


"Kalau memang benar seperti itu maka tidak mengherankan kenapa tuan, Andi berani melakukan kejahatan karena ada yang menjaminnya. Itu sebabnya dia tidak takut. Tapi siapa yang bisa melakukan itu?"


"Itu tugasmu, Dave. Kau yang harus mencari tahu siapa orang dibalik layar itu."


"Baik, tuan."


Setelah itu sambung telpon diputuskan. Zyano mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya. Ia berusaha mengingat semua perkataan Andi. Jika diingat lagi, setiap berbicara dengan Andi, pria itu tampak tidak takut sama sekali. Zyano baru menyadari satu hal. Ada hal penting yang dia lewatkan.


Zyano menarik sudut bibirnya. "Sepertinya kita akan menemukan harta karun tersembunyi."


BRAK


Zyano tersentak kaget. Pintu terbuka dengan kasar. Katerina berdiri di depan pintu dengan wajah ngos-ngosan. Nafasnya turun naik tak beraturan. Keringat dingin membanjiri keningnya. Zyano pun refleks bangkit dari duduknya, dan berjalan menghampiri sang istri.


"Sayang, ada apa?" tanya Zyano khawatir.


"Zyan, ayah..... dia......." Katerina menggenggam tangan Zyano erat. Ia berusaha mengatakan nya tapi nafasnya terengah-engah. Katerina ngos-ngosan karena terlalu panik.


"Shut, tenang, Kate. Bernafas lah. Ayo kita duduk dulu." Zyano menarik lembut pergelangan tangan istrinya dan menuntunnya agar duduk di sofa yang tersedia di ruang kerja itu. Zyano juga mengambilkan gelas air putih yang disediakan untuknya kepada Katerina.


"Minum dulu sayang."


Katerina meneguknya nya sampai habis tak bersisa. Dia sangat kehausan karena lelah berlari dari kamar menuju ruang kerja suaminya.

__ADS_1


"Sudah lebih tenang?"


"Iya, makasih Zyan." Katerina sudah bisa mengatur nafasnya.


"Katakan, apa yang terjadi hm?" Zyano menatap istrinya dan mengusap kepala nya dengan lembut.


Katerina menarik nafas, lalu menghembuskan nya perlahan sambil mengatur ekspresi nya. "Tadi aku mendapat telpon, katanya ayah masuk rumah sakit karena di pukuli oleh sesama tahanan penjara. A-aku t-tidak habis pikir apa yang ayah lakukan sampai dia bisa terlibat masalah dengan tahanan lain. Bahkan katanya ayah sampai sekarang tidak sadarkan diri."


"Apa kau mengkhawatirkan nya?"


"Apa?" Katerina balik bertanya karena terkejut mendengar pertanyaan suaminya.


"Aku bertanya padamu, apa kau mengkhawatirkan, Andi?" Ujar Zyano mengulang perkataan nya.


Dengan cepat Katerina menjawab sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak! M-mana mungkin aku khawatir padanya." bantahnya.


"Lalu, kenapa kau terlihat panik hm?" Tanya Zyano menelisik netra istrinya.


Katerina membuang muka. "Em.... itu a-aku hanya tidak ingin mendapat masalah karena perbuatannya."


Zyano terkekeh pelan. "Kau tidak pandai berbohong, Kate. Aku bisa melihat dari wajahmu kalau kau sangat mengkhawatirkannya."


"Aku tidak mengkhawatirkan nya! Hubby jangan sok tau!" teriak Katerina mendengus, sambil melipat kedua tangannya di atas perut. Ia tidak mau mengakui perasaannya sendiri.


Zyano tertawa kecil. "Baiklah, kau tidak perlu berteriak sayang. Aku hanya bercanda."


"Kenapa kau jadi marah hm?" Zyano mengangkat tangan nya, menyisipkan helaian rambut Katerina ke daun telinganya.


Katerina menghela nafas, sambil mengatur ekspresi wajahnya lebih serius. "Ah sudahlah, lupakan saja! Aku kemari karena ingin bertanya hal penting dengan hubby."


Kedua alis Zyano bertautan. "Bertanya soal apa?"


Katerina membenarkan posisi duduknya tegak. "Sebelum bertanya aku ingin minta maaf dulu karena pertanyaan ini akan menyinggung perasaan hubby tapi aku tidak bisa menahan rasa penasaran ku."


"Katakan saja sayang."


"Ini hanya dugaan ku saja tapi, apa benar hubby yang melakukan ini semua?"


"Apa maksudmu, Kate?" wajah Zyano berubah menjadi lebih serius.


"Maksudku apakah yang terjadi dengan ayah di penjara hari ini semuanya karena perbuatan hubby?" ucap Katerina bertanya blak-blakan.


Zyano menarik sudut bibirnya. "Kau bertanya atau sedang menuduhku, sayang?"


"Aku tau ini akan terdengar seperti tuduhan tapi sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya bertanya karena ingin tahu saja." ujar Katerina dengan tatapan sendu.


"Bagaimana kalau iya? Apa kau akan marah?" Bukannya menjawab Zyano justru balik bertanya.

__ADS_1


"J-jadi, itu benar? Hubby yang melakukannya?"


"Yah, semua yang terjadi dengan, Andi itu aku yang melakukannya. Aku menyuruh seseorang untuk memukuli nya." ungkap Zyano jujur.


"K-kenapa?"


"Karena dia sudah menyakitimu."


Katerina terdiam sejenak mendengar jawaban Zyano. Ia tak tau lagi harus berkata apa. Sesaat, keheningan menyelimuti keduanya.


Zyano melirik sang istri. "Kate, kenapa kau malah diam saja? Apa kau marah?" Zyano tak tahan lagi dengan keheningan itu akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Yah, tadinya begitu tapi sekarang tidak lagi karena hubby sudah berkata jujur. Jadi, untuk apa lagi aku marah?"


"Apa? Tapi harusnya kau marah karena aku sudah menyakiti ayahmu!"


"Yah, dia memang ayahku tapi itu dulu dan sekarang sudah tidak lagi." Katerina berdiri, sambil melipat kedua tangannya. "Sejak aku memutuskan balas dendam aku sudah tidak mempedulikan apapun lagi. Dan kemarin, saat bertemu ayah aku menyadari satu hal. Tidak ada gunanya bersimpati kepada orang yang sudah jelas-jelas menyakiti ku. Itu hanya akan menghambat balas dendam ku dan aku tidak ingin itu terjadi!"


"Ohh, itu artinya kau sengaja menguji ku ya? Kau sudah tahu aku yang melakukannya tapi kau malah pura-pura bertanya hm?"


"Yah, bisa dikatakan begitu. Aku hanya ingin mengetes apakah hubby akan jujur atau malah berbohong."


Zyano tersenyum sinis. "Heh, istriku ternyata lebih pintar dari dugaan ku."


Katerina tertawa pelan. "Apa kau baru menyadarinya, Zyan?" tanyanya membelai wajah sang suami.


Zyano tersenyum, menarik pinggang Katerina agar lebih dekat. "Aku tidak ingin mengakuinya tapi itulah kenyataannya."


Katerina melingkarkan tangannya di leher Zyano dan berbisik. "Kalau begitu kedepannya kau harus lebih berhati-hati hubby. Jika tidak maka kau akan ditipu oleh istrimu sendiri."


"Hm, coba saja kalau kau bisa." ujar Zyano menyentil hidung istrinya gemas.


Hahahaha


Setelah itu keduanya tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu. Katerina memeluk suaminya, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Zyano.


"Tapi aku senang karena hubby tidak berbohong." Zyano hanya tersenyum tanpa berniat membalas perkataan istrinya.


"Haruskah aku memberitahu, Katerina soal identitas ku? Tapi bagaimana kalau dia jadi takut padaku atau lebih parahnya dia malah meninggalkan ku?" Zyano mengeratkan pelukannya. "Tidak! Aku tidak ingin itu terjadi. Maaf, sayang. Aku belum bisa sepenuhnya jujur padamu. Aku tidak bisa mengambil resiko kehilangan mu."


"Maaf, Kate. Lebih baik kau tidak tahu siapa aku."


Bersambung 😎


______________________________________________


Jangan lupa Like dan Vote nya dong 🥰❤️🥰❤️🥰❤️

__ADS_1


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2