
Maya sibuk berkutik dengan berbagai dokumen yang harus dia cek. Pekerjaannya bertambah banyak karena Zyano yang sedang cuti. Maya harus memperbarui jadwal bos nya itu dan menyesuaikan nya kembali. Jadi sekertaris tidak semudah yang dibayangkan. Banyak tugas dan pekerjaan yang menanti.
Drttttt drttttt
Fokus Maya terpecah kala mendengar ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenalnya. Tanpa pikir panjang Maya langsung menerima panggilan telpon itu.
"Hallo."
"Hallo, apa benar ini nomer telpon nona, Maya Anastasia?"
"Yah, ini dengan siapa?"
"Ini aku, Sean Salvador. Orang yang membantumu kemarin. Kau masih ingat bukan?" ujar Sean.
"Tentu saja. Mana bisa aku melupakan orang yang sudah menabrak mobilku sampai rusak parah." balas Maya sambil menyindir.
Sean tercengang. "Hei, jangan hanya mengingat keburukan ku tapi ingat juga kebaikan ku!" tukas Sean kesal. Apa citranya begitu buruk dimata Maya?
"Yah, maaf. Aku hanya bercanda. Tapi kenapa kau menelpon ku? Apa mobilku sudah selesai diperbaiki?" tanya Maya to the poin.
"Hm, karena itu aku ingin mengajak mu bertemu."
"Tidak perlu bertemu. Katakan saja di mana bengkelnya? Biar nanti aku sendiri yang mengambil mobilnya."
"Itu tidak etis. Aku ingin mengembalikan nya langsung padamu. Jadi, kapan kau bisa?"
"Kenapa kau harus repot-repot melakukan itu padahal kau hanya perlu memberitahu ku di mana bengkelnya?! dan kita tidak harus bertemu!" ujar Maya bingung.
"Aku hanya ingin mengembalikkan citraku yang buruk dimatamu agar kau tidak menganggap ku sebagai pria yang tidak bertanggung jawab!" ucap Sean tegas.
"Astaga, kau terlalu berlebihan."
"Tapi bagiku itu tidak berlebihan dan malahan sudah seharusnya." ujar Sean tersenyum tipis.
Maya menghembus nafas panjang. "Baiklah, tapi saat ini aku sedang sibuk bekerja. Jadi, bagaimana kalau kita bertemu saat jam makan siang nanti?" tawar Maya.
"Hm, ide bagus. Aku setuju. Lagipula aku juga masih harus memeriksa beberapa pasien lagi." ucap Sean.
"Oke." Setelah itu Maya menutup panggilan telpon nya. Ia melanjutkan pekerjaannya kembali sedangkan Sean menyungging kan senyum tipis. Sebenarnya itu hanya alasan saja karena dia ingin bertemu Maya. Entah mengapa Sean merasa tertarik apalagi sepertinya Maya bukan wanita yang mudah untuk didekati. Tapi karena hal itu juga Sean jadi merasa tertantang.
****
Di tempat lain saat ini Zyano dan Katerina sedang berkemas untuk pulang. Mereka memasukkan barang-barang mereka ke dalam kopernya masing-masing. Sebenarnya Katerina merasa sedikit berat hati meninggalkan mansion ini tapi keadaan memaksa nya untuk pulang. Di tambah dia juga harus mengurus perusahaan Cristopher. Mau tidak mau dia harus tetap pulang.
"Sayang, apa kau sudah selesai mengemasi barang-barang mu?" tanya Zyano.
Tidak ada sahutan. Katerina masih sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia bahkan tidak sadar kalau suaminya sedang bertanya padanya.
"Kate." panggil Zyano sambil memegang pundak istrinya.
Katerina tersentak. "Ah ya, kenapa?" tanyanya linglung sesaat.
"Apa yang kau pikirkan sayang? Kulihat dari tadi kau hanya melamun?" tanya Zyano duduk di samping istrinya.
"Em.... tidak apa-apa. Aku hanya sedih karena kita cuman sebentar tinggal di sini." ujar Katerina.
"Kau masih ingin tinggal di sini?"
__ADS_1
Katerina menunduk. "Yah, tapi itu tidak mungkin kan?! Selain kau punya pekerjaan aku juga ada hal penting yang harus ku bereskan. Jadi, tidak mungkin kita bisa tinggal di sini."
"Jangan khawatir sayang. Nanti kalau ada kesempatan kita akan datang lagi ke sini." ujar Zyano mengusap kepala istrinya lembut.
"Iya, Zyan." balas Katerina tersenyum.
"Oh iya, aku punya sesuatu untukmu." ujar Zyano bangkit dari duduknya dan kemudian membuka laci mejanya. Ia mengambil sebuah map berwarna kuning, lalu memberikannya kepada Katerina.
"Apa ini?" tanya Katerina mengerutkan keningnya.
"Buka saja sayang." jawab Zyano tersenyum membuat Katerina makin bingung. Ia menatap wajah suaminya sebentar, lalu membuka map itu. Katerina membulatkan matanya begitu membaca surat yang ada di map itu.
"Apa maksudnya ini, Zyan? Bukankah kau tidak setuju dengan rencana ku?" tanya Katerina bingung.
Surat itu berisikan tentang pembebasan bersyarat untuk Andi Cristopher dan sudah di tandatangani oleh Zyano sendiri. Tidak hanya itu saja bahkan ada juga surat tentang berbagai macam kejahatan yang pernah dilakukan Andi di masa lalu. Terkait penggelapan dana perusahaan serta bisnis legal lainnya.
Zyano meraih tangan Katerina dan menggenggam nya. "Aku memang tidak setuju tapi setelah ku pikir-pikir tidak ada salahnya dengan rencana mu. Aku kan juga pernah berjanji akan membantu balas dendam. Jadi, aku merubah keputusan ku."
"Tapi....kenapa tiba-tiba kau merubah keputusan mu, Zyan?" tanya Katerina penasaran. Tidak mungkin suaminya itu mendadak berubah pikiran yang tadinya menentang sekarang malah menyetujui. Ini sedikit aneh untuk Katerina.
"Aku telah salah menilai mu sayang. Kau melakukan itu semua bukan tanpa alasan kan? Aku tidak pernah memikirkan pendapat orang lain terhadap mu karena kupikir itu tidak penting tapi ternyata aku salah. Kau bukan malu karena dihina tapi kau hanya tidak ingin membuat ku dan keluarga Brawitama malu. Dan bodohnya aku tidak memikirkan itu. Aku memang suami tidak becus." ujar Zyano tersenyum getir.
"Itu bukan salahmu, Zyan. Bagiku kau suami terbaik. Aku merasa jadi wanita yang paling beruntung karena bisa menikah denganmu. Jadi, jangan katakan hal itu. Aku tidak suka mendengar nya." ucap Katerina membelai rahang kokoh suaminya.
Zyano terkekeh. "Bukan hanya kau sayang. Aku juga beruntung bisa memiliki istri sepertimu. Sudah cantik, baik, pengertian lagi." ujar Zyano memuji.
Katerina membuang muka malu. "Halah gombal." ejek Katerina merona.
"Itu bukan gombal tapi kenyataan sayang."
"Hm, aku hanya ingin menjadi suami yang selalu percaya dengan istrinya. Lagipula sudah menjadi tugasku untuk mendukung dan melindungi mu sayang." ucap Zyano tulus.
Katerina tertegun mendengarnya. "Makasih, Zyan." ujar langsung memeluk suaminya. Ia tersenyum dan berkata. "Aku senang kalau kau mendukung ku." ucapnya.
"Sama-sama tapi aku ingin kau berjanji satu hal padaku."
Katerina mendongak. "Berjanji apa?"
"Jangan membahayakan dirimu sendiri. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan mu, Kate. Jadi, ku mohon jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuan ku! Dan kalau pun kau ingin melakukan sesuatu beritahu aku lebih dulu!" pinta Zyano tegas.
"Iya, Zyan. Aku janji akan mengatakan semuanya padamu." ucap Katerina.
"Baiklah, ayo kita turun. Dave sudah menunggu di bawah!" ujar Zyano sambil membawa koper miliknya dan juga Katerina. Setelah itu keduanya turun dan disambut baik oleh Zahra dan Zeano yang sudah menunggu mereka. Bahkan Dave dan Budi juga ada.
"Zyan, apa kalian tidak bisa menginap semalam lagi? Mom masih merindukan kalian." pinta Zahra memelas. Ia masih tidak ingin berpisah dengan keduanya terutama Katerina.
"Tidak bisa mom. Ada banyak hal yang harus kulakukan begitupun, Katerina. Lagipula kalau mom merindukan kami mom bisa datang langsung ke mansion lama." ujar Zyano.
Bahu Zahra merosot lesu. Katerina berjalan menghampiri Zahra.
"Mom tenang saja kalau ada waktu luang aku dan Zyan pasti akan datang lagi ke sini. Iya kan, Zyan?" ujar Katerina sambil melirik suaminya.
"Iya sayang."
"Oke, mom tunggu kedatangan kalian nanti. Awas saja kalau kalian sampai melupakan mom!" ancam Zahra.
"Astaga, mom kau seperti anak kecil yang ditinggal pergi orang tuanya." ejek Zyano tak habis pikir.
__ADS_1
"Jangan mengejek mom, Zyan!" ujar Zahra tidak terima.
"Mom jangan khawatir kalau seandainya Zyan lupa kan aku bisa mengingatkannya." sahut Katerina tersenyum.
"Aaaaaa kau memang menantuku yang paling pengertian." ujar Zahra memeluk Katerina sayang. Sedangkan Zyano hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Maaf, tuan mobil sudah siap." ucap Dave.
"Baiklah, ayo kita keluar sayang." ajak Zyano menarik tangan istrinya.
Keduanya pun keluar diikuti oleh Dave dan Budi begitupun Zahra dan Zeano juga ikut keluar untuk mengantar kepergian mereka.
"Mom, dad. Aku dan Katerina pergi dulu. Jaga diri kalian terutama mom. Jangan sampai sakit lagi." ujar Zyano menatap kedua orang tuanya.
"Tergantung kau, Zyan. Mom sakit karena terlalu merindukan kalian." ucap Zahra.
"Astaga mom." decak Zyano.
"Tenang saja, Zyan. Mommy mu pasti aman kalau bersama Dad." sahut Zeano buka suara.
"Iya, aku tau Dad."
"Ya sudah pergilah. Hati-hati di jalan ya."
"Iya, Dad." Zyano mengangguk paham. "Ayo sayang."
"Tunggu, nyonya muda." teriak seorang gadis yang tidak lain adalah Ella. Nafasnya menderu turun naik karena berlari.
"Loh, Ella? Kenapa kau berlari?" tanya Katerina.
"Ini untuk nyonya." ucap Ella memberikan sebuah toples plastik kepada Katerina.
"Apa ini?"
"Itu kue kering buatan Ella untuk nyonya muda. Saat mendengar dari nyonya, Zahra katanya nyonya muda akan pulang Ella langsung membuat nya kemarin." jawabnya tersenyum.
"Wah, terima kasih, Ella. Aku jadi tidak enak hati. Kau pasti lelah membuat nya."
Ella menggeleng. "Tidak nyonya muda. Aku malah senang membuat nya."
Katerina tersenyum. "Kau memang anak baik, Ella." puji Katerina sambil mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
"Ayo sayang kita harus pergi sekarang."
"Iya, Zyan."
Katerina menatap Ella sebentar. "Jaga dirimu baik-baik, Ella. Sampai jumpa lagi."
"Iya, nyonya muda. Sampai jumpa lagi." ujar Ella melambaikan tangannya begitu mobil yang ditumpangi Katerina pergi meninggalkan mansion.
Bersambung 😎
______________________________________________
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰👍🥰👍🥰🥰🥰
^^^Coretan Senja ✍️^^^
__ADS_1