
Zyano meminta pihak rumah sakit agar memindahkan istrinya ke ruang VIP supaya lebih nyaman saat dikunjungi. Noel beranjak dari duduknya menghampiri Zyano yang sedang mengurus administrasi.
"Zyan, karena tidak ada lagi yang dibutuhkan aku pulang dulu." pamit Noel.
"Baiklah, terima kasih banyak karena kau sudah membantuku." balas Zyano.
Noel mengerutkan keningnya heran. "Apa aku tidak salah dengar? Kau mengucapkan terima kasih?"
"Tentu. Apakah itu aneh? Kenapa semua orang selalu heran saat aku mengucapkan terima kasih? Bukankah itu wajar-wajar saja?" tanya Zyano tak mengerti dengan respon setiap orang yang mendengarnya mengucapkan kata terima kasih pasti langsung bengong.
Noel tertawa. Ia menepuk pundak Zyano. "Hei, bro. Bagaimana aku tidak heran. Aku sangat mengenalmu. Kau itu manusia paling datar yang pernah ku kenal. Bahkan, saat kita masih kuliah dulu kau sangat jarang mengucapkan kata terima kasih. Jadi, tentu saja aku merasa agak aneh hahahaha." ucapnya mengejek.
"Apa citraku di matamu seperti itu?" tanya Zyano memasang wajah serius.
Lagi-lagi Noel tergelak tawa sendiri. "Apa kau tidak mengingat bagaimana sikapmu dulu? Kau sangat datar, Zyan! Aku saja masih ingat betul kau hanya memasang ekspresi datar dan dingin. Kau bahkan jarang tersenyum. Hm, kalau diingat lagi aku tidak pernah melihatmu tersenyum."
Zyano terdiam, merasa tertampar atas perkataan temannya itu. Ia jadi mengingat-ingat kenangannya di masa lalu. Apakah dia sedingin itu? Zyano mulai bertanya-tanya.
Noel terkekeh dan merangkul Zyano. "Bro, aku senang melihat banyak perubahan dalam dirimu. Apa ini semua karena istrimu? Yah, kurasa dia lah yang sudah merubah mu jadi seperti sekarang. Karena tidak mungkin ada orang yang bisa merubah mu selain orang yang kau sayangi. Tapi aku ikut bahagia melihat nya. Itu artinya dia membawa pengaruh positif untukmu."
Zyano hanya terkekeh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
"Nah, lihatlah dirimu sekarang. Kau bahkan tersenyum seperti anak muda yang sedang dimabuk cinta. Tidak heran banyak pepatah mengatakan kalau cinta bisa melembutkan hati sekeras batu. Ternyata itu memang benar adanya hahahaha." ujar Noel tertawa renyah.
"Jangan mengejek ku!" tukas Zyano mengubah ekspresi wajah nya jadi datar.
"Hahahaha, baiklah. Aku hanya bercanda."
Zyano melepaskan rangkulan Noel. Ia melipatkan kedua tangannya di atas perut. Wajahnya datar. Namun, tetaplah terlihat tampan.
Noel mendekat dan berbisik. "Kau harus berhati-hati, Zyan. Aku yakin banyak diluar sana yang menginginkan istri mu termasuk diriku!"
"Kau berani?" tanya Zyano tajam.
"Kenapa harus takut? Wanita mana yang tidak bisa ku taklukkan?" ujarnya menantang.
"Heh, sebelum itu terjadi aku sendiri yang akan menghabisi mu!" geram Zyano mengeratkan rahangnya.
"Coba saja kalau bisa!"
Noel hampir memekik lantaran Zyano tiba-tiba menarik kerah bajunya. Tatapannya tajam seperti hendak membunuh. Noel merasa nafasnya tercekat. Ia kesusahan bernafas karena hawa membunuh terasa menusuk kulitnya.
"Kau yakin?" tanya Zyano datar.
Noel membuang nafas dari mulutnya. Ia menelan saliva susah payah. "Hahahaha, tidak, Zyan. A-aku hanya bercanda! Mana berani aku merebut wanitamu! Lagipula, aku tidak menyukai wanita yang sudah memiliki suami. Aku tidak mau dicap sebagai pebinor (perebut bini orang)"
Cengkraman tangan Zyano mulai melemah. "Jangan bermain-main dengan ku kalau menyangkut soal, Katerina! Aku tidak suka!" tegasnya.
"Yah, maaf, Zyan. Niatku hanya ingin bercanda tetapi tampaknya kau sangat serius menanggapi nya." ujar Noel tersenyum canggung.
"Sudahlah, aku tidak ingin ribut denganmu!"
"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang dulu."
"Hm."
***
Kedua mata Katerina perlahan terbuka. Ia meringis memegangi kepalanya. Sedikit demi sedikit pandangan nya mulai terlihat jelas. Hal pertama yang dilihatnya adalah ruangan bercat putih dengan bau obat yang menyeruak panca indera penciuman nya.
"Di mana ini?" gumamnya. Kepalanya menoleh ke samping kiri. Ia melihat Zyano sedang terlelap tidur di sofa. Tanpa sadar sudut bibir Katerina melengkung membentuk senyuman tipis. Ia melirik jam dinding ternyata sudah pukul 23:00.
"Ehem." Katerina berdehem merasa tenggorokannya gatal dan haus. Ia melirik ada gelas berisi air putih yang terletak di atas nakas. Katerina pun berusaha menggapainya. Namun, begitu hendak diangkat malah jatuh.
Prang
Zyano langsung terbangun begitu mendengar suara barang pecah. Ia panik dan bergegas menghampiri istrinya.
"Sayang, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi" tanyanya mencek keadaan Katerina.
Katerina menjawab. "Aku baik-baik saja hubby. Aku hanya ingin minum tapi gelasnya malah jatuh. Maaf ya, hubby jadi terbangun gara-gara aku."
Zyano bernafas lega. "Syukurlah. Tidak apa-apa sayang. Kalau kau ingin minum panggil saja aku!"
"Tapi tadi hubby sedang tidur. Jadi, aku tidak enak kalau harus membangunkan hubby." ujar Katerina.
"Astaga, sayang. Kau sedang sakit jadi tidak masalah kalau harus membangunkan ku. Lain kali kalau ada apa-apa langsung beritahu aku, oke?"
__ADS_1
Katerina mengangguk paham. "Iya hubby."
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan minuman untuk mu." ujar Zyano. Kemudian, melangkah keluar. Tak beberapa lama akhirnya Zyano kembali dengan membawa segelas air putih hangat untuk istrinya itu.
Zyano membantu Katerina agar bisa bersandar. Ia duduk di samping Istrinya.
"Ini minumlah, sayang." ujarnya membantu Katerina minum sampai airnya habis. Setelah itu, dia meletakkan kembali gelasnya diatas nakas.
"Apa sudah mendingan?"
"Iya, hubby."
"Baiklah."
"Oh, iya hubby. Ini dimana?" tanya Katerina merasa asing dengan tempat disekitarnya.
"Kita ada di rumah sakit sayang. Tadi kau pingsan. Makanya aku langsung membawa mu ke sini." jawabnya.
"Pingsan?" Katerina mengulang perkataan Zyano.
"Iya, kau membuatku sangat takut, sayang. Aku takut kalau terjadi sesuatu dengan mu karena kau ditemukan pingsan di toilet."
"Benarkah?"
"Iya, apa kau tidak ingat?"
Katerina terdiam sejenak. Ia mulai mengingat-ingat apa yang terjadi padanya. Namun, kepalanya justru sakit.
"Kenapa sayang? Apa kepalamu sakit?"
"Sedikit hubby tapi seingatku aku hanya muntah-muntah saja. Setelahnya aku tidak ingat lagi apa yang terjadi." ujar Katerina.
Zyano menghela nafas. Ia menarik Katerina dalam pelukannya. "Sudahlah, sayang. Jangan terlalu memaksa untuk mengingat. Sekarang yang terpenting kau harus istirahat yang banyak supaya tubuhmu sehat lagi. Aku tidak ingin kau sampai kelelahan karena ada anak kita yang harus kau jaga."
Katerina mengerutkan keningnya. "Hubby bilang apa tadi? Anak kita? Apa maksudnya?"
Zyano terkekeh geli. "Iya, sayang. Dokter bilang kau sedang hamil." ungkapnya mengejutkan Katerina.
"Apa? Hamil? Hubby jangan bercanda!"
"Aku serius, Kate! Kau memang sedang hamil dan usia kandungan mu sudah memasuki Minggu ke-tiga." ujar Zyano menjelaskan.
Katerina mengusap perutnya yang masih rata. "Jadi, di dalam sini ada bayi kita?" tanyanya masih tidak percaya.
"Iya, sayang."
"Aaaa makasih banyak hubby." lagi-lagi Katerina memeluk suaminya. Ia benar-benar sangat bahagia. Katerina tak tau lagi harus mengatakan apa. Ini benar-benar kabar membahagiakan untuknya.
Zyano melonggarkan pelukannya. Menatap Katerina lembut. "Aku yang harusnya berterima kasih sayang. Kau memberikanku kado terindah sepanjang masa. Anak yang kita impikan akhirnya akan hadir. Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya."
"Aku juga tidak sabar hubby. Kita akan memberi namanya apa ya? Kira-kira menurut hubby nama apa yang bagus dan memiliki makna? Astaga, aku sama sekali belum memikirkan nya. Ya ampun. Bagaimana ini?" cecar Katerina berisik.
"Shutttt." Katerina terdiam saat mulutnya ditutupi oleh jari telunjuk Zyano.
"Sebelum memikirkan itu sebaiknya kau istirahat sayang. Kata dokter kau tidak boleh kelelahan. Jadi, nanti saja kita pikirkan soal namanya oke?"
"Tapi hubby...."
"Kate!"
Katerina mendengus kesal. "Iya-iya, aku akan istirahat!"
"Good. Ayo tidurlah."
Zyano menarik selimut supaya menutupi tubuh Katerina. Ia terkekeh geli melihat Katerina yang sedang kesal.
Cup
"Hubby!" Katerina melotot karena serangan tiba-tiba dari Zyano. Ia langsung menutupi bibirnya takut kena serang lagi.
"Ciuman selamat malam sayang."
"Ish, hubby mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
Zyano tertawa lepas karena merasa lucu dengan sikap istrinya yang terlihat seperti anak kecil. Sementara Katerina justru mendengus marah. Ia mengusap perutnya dan berkata.
"Anakku, sayang. Jangan tiru sikap ayahmu ya. Pokoknya kau harus jadi anak yang baik. Oke sayang?" ucap Katerina berbicara dengan anak yang ada di perut nya.
__ADS_1
"Loh, kenapa bicara begitu sayang?" protes Zyano tak terima.
"Shut! Hubby tidak usah banyak protes!"
"Hm, baiklah." Zyano tak ingin berdebat nanti Katerina tak kunjung tidur kalau dia meladeninya.
"Hubby, mau kemana?" tanya Katerina menahan tangan suaminya yang hendak pergi.
"Keluar sebentar. Ada urusan."
"Jangan! Hubby, disini saja temani aku tidur ya? Please?" pinta Katerina memelas.
"Tapi..."
"Hubby jahat!" tukas Katerina memalingkan wajahnya marah.
Zyano hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. "Baiklah, sayang. Aku tidak akan kemana-mana. Ayo tidurlah."
"Ayo, sini. Hubby juga harus tidur!" ujar Katerina menggeser tubuhnya agar Zyano bisa tidur di sampingnya.
"Tidak perlu sayang. Aku tidur di sofa saja." tolaknya. Zyano hanya tak ingin Katerina tidur kesempitan, sebab kasurnya kecil.
"Kalau hubby tidak mau aku tidak akan tidur!" ancamnya.
"Astaga, Kate! Jangan begitu."
"Aku serius hubby!"
"Kate, please. Jangan menyulitkan ku sayang. Aku tidur di sofa saja ya? Kasur ini terlalu sempit. Nanti pinggang mu sakit sayang."
"Kalau hubby tetap bersikeras menolak. Jangan harap di rumah nanti hubby bisa tidur bersama ku! Biar selamanya saja hubby tidur di sofa!" ancamnya.
Zyano tercengang mendengarnya. "Apa? Bagaimana bisa? Ini tidak adil sayang!" protes Zyano tak terima.
"Kan hubby sendiri yang mau. Aku sih tidak masalah."
Zyano berdecak sebal. "Oke-oke, aku akan tidur di kasur!" putusnya menyerah. Zyano tak akan sanggup kalau harus tidur selamanya di sofa. Niatnya kan hanya tidak ingin Katerina kesempitan kalau di rumah sakit tapi beda lagi ceritanya kalau di rumah.
"Nah, gitu dong dari tadi. Ayo, sini hubby."
Zyano hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia merebahkan dirinya di samping istrinya itu. Kasurnya benar-benar sempit. Ia merasa terhimpit. Bergerak sedikit saja dapat dipastikan dia dan Katerina jatuh.
"Jangan banyak bergerak sayang. Nanti kau jatuh!" peringatin Zyano.
"Aku tidak akan jatuh karena ada hubby." ucapnya yakin.
Zyano tersenyum. "Mulutmu semakin manis saja sayang. Ayo tidurlah."
Katerina memeluk suaminya erat. "Aku lebih suka tidur di pelukan hubby seperti ini karena rasanya aman dan nyaman." ucap Katerina jujur.
"Baiklah, kalau begitu setiap malam aku akan memelukmu seperti ini." ujar Zyano.
"Janji ya hubby."
"Iya."
"Good night hubby."
"Good night sayang."
Setelah itu keduanya terlelap tidur dengan posisi saling berpelukan erat. Malam ini merupakan malam terindah bulan madu mereka yang tidak akan pernah terlupakan.
...Selesai...
Menikah dengan Mafia Arrogant season 1 sudah selesai guys
nantikan Season 2 nyaa yak
Kenapa aku habiskan di sini soalnya aku mau fokus UAS dulu. Nanti aku back lagi bulan Januari setelah selesai UAS dengan lanjutan cerita yang lebih seruuuuuuu pastinya 🤩🤣😌
oke makasih untuk kalian yang sudah setia menunggu cerita ini
Makasih juga atas dukungannya yaaaa
aku pamit undur diri dulu🙏😊😊😊
Aku ucapkan terima kasih banyak ❤️❤️❤️
__ADS_1
^^^Coretan Senja ✍️^^^