Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
97. TERPAKSA MENYETUJUI


__ADS_3

Sesuai janji hari ini Katerina akan bertemu dengan Sera. Mereka bertemu di restoran kemarin. Namun, Zyano tidak bisa menemani istrinya karena dia sedang ada urusan dengan kliennya. Akan tetapi tanpa sepengetahuan Katerina suaminya itu ternyata menyuruh bodyguard bayangan untuk memantau istrinya dari jauh dan mematikan kalau istrinya baik-baik saja.


Katerina turun dari mobil begitu sampai di lokasi. Ia menghela nafas dan kemudian masuk ke dalam dengan di dampingi oleh Budi. Katerina duduk di kursi yang telah dia pesan sedari awal. Sambil menunggu kedatangan ibu tirinya Katerina membaca berkasnya sekali lagi.


"Huh, tenang, Kate. Percayalah semuanya pasti akan berjalan sesuai rencana." gumam Katerina mengatasi rasa gugup dan kekhawatirannya.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya orang yang di tunggu-tunggu nya datang juga. Namun, anehnya kali ini Sera hanya datang sendiri tanpa ditemani oleh siapapun. Kemana dua bodyguard yang kemarin? pikir Katerina bingung. Namun, Katerina tidak ingin ambil pusing. Lagipula itu juga bukan urusan nya.


"Akhirnya anda datang juga, nyonya, Sera." ujar Katerina tersenyum tipis menyambut kedatangan ibu tirinya itu.


"Yah, apa kau sudah menunggu lama?" tanyanya sambil mendudukkan pantatnya di kursi.


Katerina pun ikut duduk bersebrangan dengan Sera. "Hm, tidak juga. Saya baru saja sampai."


"Baiklah, kalau begitu kita langsung ke intinya saja karena aku tidak bisa berlama-lama." ujar Sera sok sibuk.


"Kalau itu mau anda baguslah karena saya juga masih ada urusan lain."


"Hm."


"Bacalah surat ini." ujar Katerina menyodorkan surat kepada Sera.


"Tidak perlu!." Tolak Sera membuat Katerina keheranan. Ia melanjutkan perkataannya. "Aku akan menyetujui semua persyaratan mu asalkan suamiku bisa bebas dari penjara!" ujarnya.


"Apa itu artinya anda menyetujui persyaratan saya?" tanya Katerina memastikan.


"Yah, bukankah aku tidak punya pilihan lain selain menyetujui persyaratan mu itu, Katerina?" ujar Sera balik bertanya dengan nada ketus.


Katerina terkekeh. "Baguslah kalau anda mengerti hal itu. Jadi, saya tidak perlu repot-repot lagi untuk menjelaskannya."


"Yah, langsung saja katakan padaku apa yang harus kulakukan?" tanya Sera to the poin.


Katerina sedikit heran. "Tidak perlu terburu-buru begitu nyonya, Sera. Apa anda sudah tidak sabar melihat suami anda bebas dari penjara?"


Sera berdecih. "Bukankah lebih cepat lebih baik?"


"Yah, anda benar akan tetapi saya merasa anda terlalu terburu-buru seperti dikejar seseorang." ucap Katerina merasa curiga dengan sikap ibu tirinya itu.


Wajah Sera terlihat gugup. "Tidak! bukan begitu, Kate. Aku hanya ingin urusan ini cepat selesai agar suamiku bisa bebas dan setelah itu kita tidak ada urusan lagi."


"Anda salah nyonya, Sera. Justru ini adalah awal dari balas dendam ku kepada keluarga Cristopher!" batin Katerina menyeringai tipis.


"Cih, sial. Kalau bukan karena ancaman pria itu mana mungkin aku akan menyetujui persyaratan gila ini!" batin Sera kesal bukan main tapi dia tidak bisa menolak.


Katerina membuka berkas itu dan memperlihat nya kepada Sera. "Baiklah, yang harus anda lakukan adalah mendapatkan tanda tangan dari suami anda soal hak milik perusahaan nya!"

__ADS_1


"Apa?! Mengapa harus memakai tanda tangan Andi?" tanya Sera terkejut.


"Yah, karena dialah pemilik dari perusahaan Cristopher. Itu artinya hanya tanda tangan darinya lah yang resmi. Maka dari itu tugas anda adalah membuatnya menandatangani surat ini agar kepemilikan perusahaan itu berpindah menjadi milik saya seutuhnya." jawab Katerina tersenyum licik.


Sera tercengang dibuatnya. "T-tapi bagaimana caranya aku bisa mendapatkan tanda tangannya? Aku yakin dia pasti tidak akan menyetujui persyaratan gila ini, Kate!"


"Itu urusan anda nyonya, Sera. Anda yang harus memikirkan nya karena itu tugas anda. Saya hanya menunggu hasilnya dari anda." ucap Katerina tersenyum puas.


BRAK


"Kau ingin menjebak ku hah?!" bentak Sera menggebrak meja dengan keras hingga membuat orang menatap kearah mereka.


Katerina tertawa mengejek. "Apa anda baru menyadarinya nyonya, Sera?"


"Apa maksudmu hah?!"


Katerina bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri ibu tirinya itu. "Sejak awal anda menyetujui untuk bertemu dengan saya maka sejak itu juga ada sudah terjebak dalam rencana saya nyonya, Sera yang terhormat." bisiknya di telinga Sera.


"Apa?" Sera melotot mendengarnya.


"Bukankah roda itu berputar? Tidak selamanya orang akan terus berada di atas karena akan ada saatnya dimana dia akan jatuh terpuruk! Anda tidak mungkin lupa bukan? Dulu anda sering menipu saya dan kali ini sebaliknya. Bukankah ini menyenangkan?"


Sera murka. "Beraninya kau." satu tangannya hendak menampar Katerina tapi dengan cepat di tahan oleh Katerina sendiri.


"Kenapa? Anda ingin menampar saya? Jangan harap nyonya, Sera!" tegas Katerina menghempas tangan Sera dengan kasar.


"Kau." Sera menggertakkan giginya marah. Ia manatap Katerina penuh dendam. Kedua tangannya terkepal kuat. Sedangkan Katerina hanya tersenyum manis. Ia puas karena Sera sudah terjebak dalam permainannya sendiri.


Katerina duduk kembali ke kursinya dengan kaki menyilang. Ia menatap Sera dengan seringai tipis di bibir nya.


"Saya tidak ingin berlama-lama. Entah bagaimana pun caranya anda harus bisa mendapatkan tanda tangan suami anda. Saya juga tidak peduli anda ingin melakukan apapun. Yang pasti anda harus bisa membuat ayah mendatangi surat pemindahan kekuasaan itu. Saya akan memberikan anda waktu 1 Minggu. Setelahnya kita bertemu lagi di tempat ini dan di jam yang sama!" tegas Katerina memerintah.


Sera terkekeh. "Bagaimana kalau seandainya aku tidak bisa mendapatkan tanda tangan darinya? Apa yang akan kau lakukan padaku hah?!"


"Saya yakin anda pasti bisa melakukan itu nyonya, Sera. Karena kalau tidak maka hidup anda dan juga putri kesayangan anda itu akan hancur!"


"Apa maksudmu, Kate?" tanya Sera tidak mengerti.


Katerina tersenyum dan memajukan wajahnya agar tidak ada yang bisa mendengar. "Saya tahu kalau Olivia sedang hamil." ucapnya mengejutkan.


Sera tercekat. Tubuhnya menegang. Kedua matanya melotot tajam karena terkejut mendengar perkataan Katerina. Dari mana wanita itu tahu? pikirnya.


"Apa yang kau katakan, Kate? Olivia, hamil? Tidak! Mana mungkin kau jangan mengada-ada." ujar Sera tersenyum paksa. Ia takut kalau rahasia Olivia terbongkar.


Katerina hanya tersenyum tipis. "Anda tidak perlu membohongi saya karena tanpa diberitahu pun saya bisa tahu hal itu, nyonya Sera."

__ADS_1


Sera tertawa paksa. "Apaan sih yang kau katakan, Kate? Olivia tidak hamil. Darimana kau punya pemikiran seperti itu hahaha." ucap Sera gugup. Keringat dingin membasahi pelepisnya. Dar gelagatnya saja Katerina sudah tahu kalau ibu tirinya itu ketakutan.


"Sudahlah, seribu kali anda berbohong saya akan tetap tahu. Tapi saya tidak peduli soal itu. Entah Olivia hamil ataupun tidak itu juga bukan urusan saya! Bagi saya yang terpenting sekarang adalah perusahaan Cristopher karena sejak awal itu milik almarhum ibu saya dan saya pasti akan merebutnya kembali dari kalian semua!" ucap Katerina dengan tegas.


Sera hanya diam tanpa kata apapun. Ia benar-benar mati kutu. Sera tak menduga kalau Katerina tahu rahasia kehamilan Olivia. Padahal mereka sudah menyembunyikan nya rapat-rapat.


"Baiklah, saya rasa perbincangan kita cukup sampai disini. Anda juga sudah paham tugas anda bukan? Jadi, saya permisi dulu." ujar Katerina bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Tunggu, Kate." ucap Sera menahan tangan Katerina.


"Ada apa lagi?"


Sera terlihat ragu untuk mengatakannya tapi rasa penasaran membuat nya tak bisa diam saja. "A-aku hanya ingin bertanya. D-darimana kau tau soal kehamilan, Olivia? Apa, Rei yang memberitahu mu?"


Katerina terkekeh pelan. "Siapapun orangnya itu tidak penting bukan?" bukannya menjawab Katerina malah balik bertanya.


"Tentu saja itu penting, Kate! Semua orang tidak ada yang boleh tahu soal kehamilan, Olivia!" tegas Sera.


"Hohoho tenanglah, nyonya Sera. Anda tidak perlu emosi begitu."


"M-maaf aku hanya terbawa suasana saja." ujarnya gugup.


Katerina tertawa renyah. "Sungguh menyenangkan saat melihat raut wajah ketakutan anda nyonya, Sera. Apa anda takut kalau saya akan membeberkan hal ini kepada media?"


Sera makin takut. "K-kau tidak mungkin akan memberitahu media soal ini kan, Kate?"


"Memangnya kenapa kalau aku memberitahu media soal itu? Bukankah berita kehamilan itu merupakan rasa syukur?"


"Rasa syukur apanya hah?! Yang ada itu akan merusak reputasi Olivia dan Rei! Kau tidak boleh melakukan itu, Kate!" tegas Sera melarang keras.


Katerina menyeringai. "Itu tergantung anda sendiri nyonya, Sera. Kalau anda berhasil mendapatkan tanda tangan suami anda maka saya juga tidak akan memberitahu media soal itu. Tapi kalau anda tidak berhasil maka saya tidak punya pilihan lain. Jadi, pikirkanlah baik-baik! Karena hasil akhir bergantung kepada usaha anda sendiri!" ujar Katerina.


"Saya permisi dulu. Sampai bertemu Minggu depan nyonya, Sera. Saya tunggu kabar baiknya dari anda." ucap Katerina tersenyum dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Sera yang terdiam mematung.


Sera terduduk shock. "Hancur sudah! semuanya hancur kalau, Katerina mengatakan kehamilan Olivia ke media!"


"Arghhhhhhhhhhhhhhh. Apa yang harus kulakukan?" jerit Sera menggeram frustasi.


Bersambung 😎


______________________________________________


Noh tau rasa kau nenek lampir🤣🤣🤣


Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰🥰🥰👍🥰

__ADS_1


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2