
"Aku membencimu, Nathan!" teriak Olivia.
Krak!
Nathan merobek dress Olivia hingga memperlihatkan belahan dadanya yang montok.
"Wow, ini sangat indah." gumam Nathan menatapnya tanpa berkedip. Tangannya gatal tidak tahan menyentuh dua bukit kembar itu. Lagi-lagi Olivia mendesah saat tangan Nathan meremas dua bukit kembarnya. Mulutnya memang berkata tidak tapi tidak dengan tubuhnya yang menginginkan sentuhan.
"Tidak! ku mohon lepaskan aku, Nathan." ucap Olivia terisak. Tanpa sadar bulir bening membasahi pipinya. Olivia merasa seperti ******. Ia tidak rela tubuhnya di jamah laki-laki seperti Nathan.
Nathan tidak peduli dengan tangisan Olivia. Pria itu sudah di selimuti gairah yang membara. Ia tidak bisa menahannya lagi.
"Malam ini, kau akan jadi milikku, sayang." ujar Nathan menciumi leher jenjang Olivia, satu tangannya bergerak meraba kaki Olivia.
"Ahh, tidak! Aku tidak mau!" Olivia terus saja memberontak. Dia menangis terisak. Olivia benar-benar tidak menginginkan nya. Tapi Olivia tidak memiliki tenaga untuk melawan Nathan.
"Nikmati saja, sayang." ucap Nathan membungkam bibir Olivia dengan ciuman panas. Ia mengecap dan membelit lidah Olivia. Sedangkan satu tangannya meremas bukit kembar Olivia.
Tes
Olivia menangis dalam diam. Ia merasa jijik dan kotor karena sudah menerima sentuhan Nathan. Olivia memejamkan matanya. Ia teringat dengan Rei. Sebenarnya Olivia sudah menyukai Rei meskipun dia tahu kalau Rei sudah berpacaran dengan Katerina.
"Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu. Aku harus pergi dari sini!" ucap Olivia bertekad kuat dalam hatinya.
Di saat Olivia mencari cara untuk keluar. Matanya justru tidak sengaja melihat ada vas bunga yang terletak di atas nakas. Tanpa pikir panjang lagi Olivia langsung mengayunkan Vas bunga hingga mengenai kepala Nathan.
"Arghhhhhhh." Nathan menjerit kesakitan. Matanya terkena pecahan Vas bunga. Melihat Nathan yang lengah Olivia langsung menendang perut Nathan dengan kakinya.
"Aku tidak sudi jadi milikmu!" tegas Olivia mendecih.
"Jangan kabur, Olivia!" ucap Nathan menahan tangan Olivia.
BUGH!
Olivia menendang kaki Nathan hingga membuat pria itu kesakitan. "Jangan menyentuhku, bajingan!" ucap Olivia bergegas keluar dari ruangan terkutuk itu.
"Arghhhhhhh, sialan kau, Olivia." teriak Nathan menjerit kesakitan.
Sementara Olivia berlari sejauh mungkin. Ia berjalan gontai sambil memegangi kepalanya yang terus berputar-putar. Efek obat itu ternyata masih terasa. Tubuhnya juga panas dingin.
"Tidak! Aku tidak boleh pingsan di sini. Aku harus keluar dari tempat gila ini." gumamnya.
Dengan setengah kesadaran Olivia berjalan gontai mencari jalan keluar. Tapi keberuntungan tidak berpihak padanya. Tiba-tiba saja dia menabrak seorang pria.
"Hei, apa kau buta hah?!" teriak pria itu marah.
"Maaf, aku tidak sengaja." ujar Olivia.
Pria itu hanya diam. Ia menatap Olivia dari atas hingga bawah. Dress Olivia yang robek memperlihatkan belahan dadanya yang membusung padat. Seketika pria itu tergoda hanya dengan melihat penampilan Olivia.
"Maaf saja tidak cukup! Kau harus bertanggung jawab!" ujar pria itu mendorong tubuh Olivia hingga membentur dinding. Ia mengunci pergerakan Olivia.
"A-apa yang ingin kau lakukan?" tanya Olivia terbata-bata.
"Tentu saja memuaskan mu." Tanpa aba-aba pria itu langsung mencium bibir Olivia. Bahkan ciuman juga sangat kasar.
"Ahh, lepaskan aku brengsek!" Olivia mengigit bibir pria itu sampai berdarah.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di wajah Olivia hingga wajahnya oleng ke samping.
"Beraninya, ****** sepertimu mengigit bibirku!" geramnya marah.
Olivia memegangi pipinya yang terkena tamparan. Ia merasa pipinya panas dan perih. Tamparan pria itu berbekas di wajahnya. Baru pertama kali Olivia merasakan wajahnya di tampar. Ternyata sangat menyakitkan.
"Dasar bajingan!" Olivia hendak memukul pria itu tapi dengan cepat pria itu menahan tangannya.
"Jangan coba-coba melawan ku! Atau kau akan tau akibatnya!" ujar pria itu menatap Olivia dengan tajam.
"Ikut aku!" Pria itu langsung menarik tangan Olivia dengan kasar.
"TIDAK! Aku tidak mau!" Olivia memberontak. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman kuat pria itu. Baru saja dia keluar dari kandang buaya. Eh, sekarang malah masuk kandang singa.
"DIAM ATAU MULUTMU AKU ROBEK!" Bentaknya membuat Olivia terdiam.
"Tidak! Kumohon, tolong biarkan aku pergi." pinta Olivia terisak.
"Tentu saja aku akan melepaskan mu, tapi sebelum itu kau harus memuaskan ku dulu!" ujarnya menyeringai.
"AKU TIDAK MAU BRENGSEK!"
__ADS_1
BUGH!
Olivia menendang kaki pria itu hingga cengkraman tangan nya terlepas. Tanpa pikir panjang Olivia langsung berlari tapi sayangnya dia malah menabrak orang hingga terjatuh.
"Hei, kalau jalan liat-liat dong. Apa matamu sudah buta?!" bentak seorang pria merapikan jasnya yang kusut karena Olivia.
Olivia mendongak. Ia menatap pria itu dari bawah. Wajahnya lumayan tampan tapi sedikit menyeramkan. Pakaiannya juga sangat rapi. Olivia yakin orang ini bukan orang sembarang.
"Hei, mau lari kemana kau, sayang?" tanya pria yang tadi menahan Olivia. Ia tersenyum licik melihat Olivia.
Sedangkan Olivia ketakutan setengah mati saat melihat pria itu. Tanpa pikir panjang dia menarik celana pria yang ditabraknya tadi.
"Ku mohon, tolong selamatkan aku." pinta Olivia berlutut di kaki pria sombong tadi.
"Lepas! Aku tidak ingin terlibat dalam urusan rumah tangga kalian!" ujarnya.
"Tuan, Vito?" sapa pria itu ternyata mengenal Vito.
Vito mengernyit. "Kau mengenalku?"
"Tentu saja, tuan. Saya Ardian, temannya Damian yang dulu pernah berkenalan dengan tuan saat acara pelantikan anda sebagai ketua Black Shadow."
"Ah, iya. Aku ingat. Kau temannya Damian."
"Senang bisa bertemu dengan anda lagi, tuan Vito."
"Iya, apa yang kau lakukan disini? Apa wanita ini istrimu?" tanya Vito sembari melirik Olivia yang terlihat berantakan.
"Iya, tuan. Istri saya ingin kabur. Makanya saya kewalahan mengejarnya." jawab Ardian berbohong.
"TIDAK! AKU BUKAN ISTRINYA! DIA BERBOHONG!" ucap Olivia membantah dengan tegas.
"Sayang, apa yang kau katakan? Aku tau kau sedang marah tapi jangan berbuat kekacauan seperti ini. Ayo pulanglah." ujar Ardian pura-pura lembut. Ia berjalan mendekati Olivia.
"TIDAK! Jangan sentuh aku brengsek! Aku tidak mengenalmu!" ucap Olivia menepis tangan Ardian dengan kasar.
"Jangan melampaui batas kesabaran ku, sayang." ujar Ardian menggertak giginya marah.
Olivia menggeleng sambil terisak. "Tidak, aku tidak mau! Ku, mohon tolong aku. Aku tidak mengenalnya! Dia berbohong. Aku bukan istrinya!" ucap Olivia berlutut di kaki Vito memohon pertolongan. Ia berharap laki-laki itu membawa nya pergi dari Ardian.
"Sayang, bicaramu sudah makin melantur. Ayo, kita pergi dari sini." ujar Nathan takut kalau Vito tahu kebohongannya.
Olivia menggeleng. Air matanya terus saja mengalir. Sebelum pergi ia menatap Vito seolah meminta bantuan pria itu. Olivia berharap Vito mengerti akan kode yang dia berikan karena hanya Vito satu-satunya orang yang bisa membantunya terlepas dari Ardian.
"Tunggu dulu, Ardian!" sentak Vito membuat langkah Ardian terhenti.
"Sial." umpat pelan Ardian. Ia berbalik dan menatap Vito dengan senyum ramah.
"Ada apa, tuan?" tanya Ardian berusaha sebaik mungkin.
"Kau membohongi ku?!"
"Mana berani saya membohongi anda, tuan. Bisa-bisa leher saya di penggal."
"Benarkah?"
Nafas Ardian tercekat. Vito berjalan menghampiri nya. Ardian berusaha untuk tetap tenang. Meski satu tangannya sudah terkepal erat.
"Kau bilang dia istrimu? Tapi kenapa kau malah membawanya ke tempat seperti ini? Padahal, kau bisa saja melakukan itu di rumahmu bukan?!" tanya Vito menyeringai. Bisa-bisanya dia tertipu oleh kebohongan Ardian.
Ardian terdiam. Sedangkan Olivia tersenyum lega. Ia senang Vito akhirnya menyadari kebohongan Ardian.
"T-tentu saja tuan, tapi istri saya berniat jual diri. Makanya saya sangat marah, tuan." ucapnya mencari alasan lain.
BUGH!
"Beraninya kau menipuku! Kau mau mati hah?!" sungut Vito menonjok wajah Ardian sampai tubuhnya limbung ke belakang.
Vito mencengkeram kerah baju Ardian dengan kasar. "Jangan coba-coba untuk membohongi ku! Atau kau akan mati!"
Ardian menelan ludah susah payah. "Maaf, tuan. Saya tidak bermaksud untuk membohongi anda. Wanita itu, dia yang lebih dulu menggoda saya." ujar Ardian menyalahkan Olivia.
"DIAM! Cepat pergi dari sini sebelum aku menghabisi mu!" bentak Vito mengancam. Sorot matanya tajam. Rahangnya mengeras. Ia tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"B-baik, tuan." Tanpa banyak pikir Ardian langsung pergi. Ia lebih sayang nyawanya. Daripada mati sia-sia lebih baik pergi.
"Huh," Vito menghembuskan nafas kasar. Ia membenarkan kerah bajunya yang sedikit berantakan. Bisa-bisanya dia ditipu sampah seperti Ardian.
"T-terima kasih banyak, tuan. Anda sudah menolong saya." ujar Olivia.
Vito menyeringai. "Aku tidak menolong mu secara gratis!"
__ADS_1
"A-apa maksud anda, tuan?" tanya Olivia gugup saat Vito mengurung tubuhnya ke dinding.
Vito mengangkat dagu Olivia hingga membuatnya mendongak. "Sepertinya, dia memberimu obat perangsang?" tanya Vito curiga karena melihat gelagat Olivia yang aneh.
"D-dari mana anda tahu kalau saya diberi obat itu?" tanya Olivia menahan ******* saat tangan Vito meraba kaki jenjangnya.
"Cukup mudah. Tubuhmu bereaksi saat ku sentuh. Itu pasti karena pengaruh obat perangsang." jawabnya.
Olivia hanya diam. Ia memejamkan matanya menikmati sentuhan Vito. Nafasnya menderu turun naik. Efek obat itu benar-benar sangat kuat.
Vito memajukan wajahnya dan mulai membisikan sesuatu di telinga Olivia. "Bagaimana, kalau aku membantumu? Aku tau, kau pasti sangat tersiksa karena obat itu." tawarnya.
"Tidak perlu!" tolak Olivia mendorong tubuh Vito agar menjauh darinya.
Vito menyeringai tipis. "Manarik, ****** sepertimu masih bisa menolak rupanya?"
"JAGA BICARAMU! AKU BUKAN ******!" teriak Olivia tidak suka mendengar ucapan Vito.
Vito mencengkeram dagu Olivia. "Beraninya ****** sepertimu berteriak di depan wajahku!"
"M-maaf." tubuh Olivia bergetar ketakutan. Vito terlihat sangat menyeramkan saat marah.
"Aku sudah membantumu, lalu bagaimana caramu membalas nya?" tanya Vito tersenyum licik. Ia tiba-tiba saja merasa tertarik dengan Olivia.
"A-aku akan memberimu uang, tapi ku mohon tolong biarkan aku pergi dari sini." pinta Olivia.
Vito tertawa renyah. "Apa kau pikir aku kekurangan uang? Aku sama sekali tidak butuh uang mu!"
"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanya Olivia menunduk takut.
"Bercinta denganmu." jawabnya tanpa ragu.
Olivia melotot mendengarnya. "Kau jangan gila!"
"Kenapa, hm? Kau tidak mau?" tanya Vito menatap Olivia dengan tatapan nakal.
"Dengar ya, tuan. Aku sangat berterima kasih karena kau sudah menolong ku tapi bukan berarti kau bisa seenaknya padaku! Aku bukan ****** yang bisa kau perlakukan sesuka hatimu!" ujar Olivia tegas. Ia hendak pergi tapi dengan cepat Vito menarik tangannya sehingga Olivia terjatuh dalam pelukannya.
"Bisa-bisanya aku di tolak oleh wanita sepertimu. Jangan sok suci. Aku tau kau wanita yang seperti apa! Kau datang ke tempat seperti ini apalagi kalau bukan untuk menjual tubuhmu! Jadi jangan berlagak di depanku!" ucap Vito langsung menerkam Olivia dengan mencium bibirnya yang dari tadi sangat menggoda di matanya.
"Ahh, lepaskan aku brengsek!" teriak Oliva memberontak.
"Diamlah atau mulutmu aku robek!"
Ancaman Vito membuat Olivia terdiam. Ia sangat takut. Vito menggendong tubuh Olivia dan membawanya ke sebuah kamar VIP.
"Malam, ini aku akan memuaskan mu. Anggap saja itu sebagai bayaran karena aku sudah menolong mu." ucap Vito.
"Tidak! Aku tidak mau! Lepaskan aku, tolong. Siapapun tolong aku!" ucap Olivia berteriak sekeras mungkin.
"Berteriak lah sesuka hatimu karena tidak akan ada yang mendengar nya. Ruangan ini kedap suara." ujar Vito menyeringai licik.
"Ahh, tidak. Jangan lakukan itu!" Olivia hanya bisa pasrah saat tubuhnya di jamah oleh Vito.
"Yah, mendesah lah untukku dan sebut namaku." ucapnya mencium leher Olivia dan meninggalkan banyak bekas di sana.
"Ahh, Vito." Olivia sudah tidak berdaya. Tenaga Vito di luar kendalinya. Ia kewalahan menyeimbangi permainan Vito.
"Aku akan masuk sekarang." bisiknya di telinga Olivia.
Olivia menggeleng. "Tidak! Jangan lakukan itu, ku mohon! Akhhh sakit."
Olivia berteriak histeris saat pertahanan nya jebol. Air matanya mengalir deras karena kesuciannya telah di renggut oleh laki-laki yang tidak dia cintai. Malam itu Olivia kehilangan hal yang paling berharga baginya.
"Ahh, kau luar biasa. Ternyata kau masih perawan?" tanya Vito di sela-sela pergulatan panasnya.
Olivia hanya diam sambil menangis. Ia merasa jijik dan kotor. Dirinya sudah tidak suci lagi.
Cup
Vito mencium kening Olivia. "Katakan siapa namamu? Mulai sekarang kau akan jadi wanitaku."
Olivia tidak menjawab. Kesadarannya hampir sirna sebelum akhirnya dia benar-benar pingsan karena kelelahan.
Bersambung 😎
______________________________________________
Jadi begitulah masa kelam Olivia.........
Author minta maaf update nya lama ya soalnya review nya lama juga tpi tenang aja cerita ini pasti update tiap hari 🥰👍
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Vote Komen dan Share ya guys :)
^^^Coretan Senja ✍️^^^