
Saat ini Katerina sedang memilih baju. Ia bingung memakai pakaian apa ke mall. Baju yang dibelikan Zyano untuknya terlalu banyak sampai-sampai Katerina bingung sendiri ingin mengenakan apa. Setelah berpikir lama akhirnya Katerina memutuskan untuk memakai dress selutut bermotif tumbuhan abstrak. Ia juga memakai bandu yang senada dengan dress nya.
"Zyan, bagus tidak?" tanya Katerina meminta pendapat pada suaminya.
Zyano yang saat itu sedang sibuk dengan i-pad nya langsung mengalihkan pandangannya. Ia tertegun melihat kecantikan Katerina. Zyano meletakkan iPad nya di atas nakas dan kemudian berjalan menghampiri sang istri.
"Kau cantik memakai apapun, sayang." ujar Zyano memuji.
Katerina tersipu malu mendengarnya. "Terima kasih."
Tangan kanan Zyano terangkat menyelipkan helaian rambut Katerina ke daun telinganya sehingga memperlihatkan anting nya yang bagus. Zyano memajukan wajahnya dan berbisik.
"Tapi lebih cantik lagi kalau kau tidak memakai apapun, sayang." bisiknya menggoda.
"Zyan!" tegur Katerina mencubit pinggang Zyano karena malu. Ucapan Zyano terlalu vulgar. Sementara Zyano malah terkekeh geli.
"Zyan, kau yakin tidak ingin ikut?" tanya Katerina sedikit sedih.
"Tidak sayang. Aku ada urusan penting hari ini. Jadi, aku tidak bisa menemanimu belanja."
"Apa itu sangat penting?"
"Yah." jawab Zyano mengangguk.
"Baiklah, aku mengerti." ujar Katerina terdengar kecewa.
"Sayang, jangan marah." ucap Zyano menarik tangan Katerina dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Aku tidak marah."
"Lalu, kenapa wajahmu cemberut begini, hm?" tanya Zyano sambil mencubit pipi Katerina.
"Augh, sakit, Zyan."
Cup
"Maaf sayang." ucap Zyano mengecup singkat pipi Katerina yang tadi dicubitnya.
"Sebagai gantinya nanti aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Bagaimana hm?"
"Kemana?"
"Adalah, itu rahasia."
"Hm, oke. Kalau gitu aku tunggu." ujar Katerina tersenyum manis.
"Ya sudah, ayo kita turun. Mom pasti sudah menunggu."
"Ayoo."
...*****...
"Kate, apa kau sudah siap?" tanya Zahra begitu melihat Katerina turun dari kamarnya bersama suaminya.
"Sudah, mom." jawab Katerina tersenyum.
"Ya sudah, let's go." ajak Zahra.
Begitu keluar dari mansion mereka disambut baik oleh Budi. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Zahra dan juga Katerina.
"Zyan, mom and Katerina pergi dulu, ya." pamit Zahra masuk lebih dulu ke dalam mobil.
"Iya mom, hati-hati."
Tatapan Zyano beralih kepada sang istri. Ia meraih tangan Katerina dan menggenggam nya.
"Sayang, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, ya." pinta Zyano.
"Iya, Zyan. Kau tenang saja aku pasti akan langsung menghubungi suamiku ini." ujar Katerina mengangkat tangannya membelai rahang tegas Zyano.
__ADS_1
Zyano terkekeh. "Oh, iya belanja lah sesuka hatimu sayang. Beli apapun yang kau mau dan jangan lupa pakai kartu yang aku berikan padamu."
"Kau tidak takut kalau aku akan menghabiskan uang mu? Bagaimana kalau aku jadi boros?" tanya Katerina tidak habis pikir dengan Zyano yang sangat santai.
"Tidak masalah. Uangku sangat banyak. Kau tidak perlu khawatir boros atau semacamnya. Lagipula, kartu itu memang khusus untuk mu, sayang."
"Kau yakin, Zyan? Aku tidak mau jadi boros. Suamiku susah-susah bekerja dan aku malah berfoya-foya. Aku jadi merasa tidak enak hati."
"Memangnya kenapa? Ada yang melarang mu? Tidak ada bukan?! Kau tidak perlu mengkhawatirkan uangku sayang. Lagipula, aku bekerja juga untuk kebahagiaan istriku. Dan kau juga harus ingat ini sayang. Milikku juga berarti milikmu." Tutur Zyano sambil menggoda Katerina.
Katerina tersipu malu. "Baiklah, aku akan belanja sesuka hatiku. Jadi, jangan salahkan aku kalau uang mu habis!"
"Terserah padamu, sayang." balas Zyano santai.
"Kate, ayo kita pergi." ucap Zahra.
Katerina tersadar. "Iya, mom tunggu sebentar."
"Zyan, aku pergi dulu ya?" ucap Katerina memeluk suaminya.
"Iya, sayang." Zyano membalas pelukan istrinya.
"Haish, pasutri ini tidak bisa berpisah sebentar saja. Padahal hanya belanja ke mall tapi rasanya sudah seperti berpisah untuk waktu yang lama." gerutu Zahra melirik Zyano dan Katerina yang berpelukan.
"Mereka lagi dimabuk asmara, nyonya." sahut Budi terkekeh mendengar celotehan Zahra.
"Yah, kau benar. Lalu, kau kapan, Budi?" tanya Zahra.
"Saya? Yah, saya kan belum punya pasangan, Nyonya." jawab Budi malu-malu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Halah, bohong. Aku tau kalau kau sedang dekat dengan, Lyla. Benar bukan?"
Budi terkejut. "D-dari mana, nyonya tahu?"
"Aku punya banyak mata-mata di mansion, Zyano. Kau pikir bagaimana aku bisa tahu kehidupan Zyano selama ini kalau bukan menaruh mata-mata di mansion nya?" ujar Zahra.
Budi menelan saliva susah. "Ah, begitu ya nyonya. Maaf saya tidak tahu."
"Baik, nyonya."
"Jadi, kapan kau melamar, Lyla?" tanya Zahra.
Lagi-lagi Budi terkejut dengan pertanyaan Zahra. Jujur saja Budi masih belum memikirkannya. Hubungan nya dengan Lyla masih canggung. Tapi baru-baru ini mereka sering mengobrol bersama. Jadi, Sedikit demi sedikit mulai nyaman walaupun masih agak canggung.
"Anu, soal itu saya belum tahu nyonya." ujar Budi cengengesan malu.
"Loh, kenapa? Kau tidak berniat untuk menyakiti, Lyla kan?" tanya Zahra tajam. Memberikan peringatan lewat tatapannya.
"T-tentu saja tidak, nyonya. Saya hanya takut kalau, Lyla akan menolak saya." jawab Budi jujur.
"Apa kau sudah menyatakan perasaan mu dengan, Lyla?"
"B-belum, nyonya."
"Astaga." Zahra menepuk jidatnya lelah.
"Bagaimana bisa kau lemot begini, Budi? Kalau kau memang menyukai, Lyla. Maka katakan langsung padanya. Jangan tarik ulur begini. Seorang wanita itu perlu kepastian. Kalau tidak, dia mungkin akan mencari pria lain yang lebih serius." ujar Zahra memberi nasehat.
"T-tapi bagaimana kalau, Lyla tidak menyukai saya, nyonya? Saya hanya takut ditolak."
"Kau ini pria atau bukan hah?! Mencoba saja belum bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?! Haish, benar-benar." gerutu Zahra berdecak tidak habis pikir.
"M-maafkan saya, nyonya."
"Jangan meminta maaf denganku tapi minta maaf dengan, Lyla!"
"Kenapa saya harus minta maaf dengan, Lyla nyonya?" tanya Budi bingung.
"Astaga, Budi. Kau ini polos atau bego sih?!" Zahra berkali-kali menepuk jidatnya letih.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak mengerti maksud nyonya."
__ADS_1
Zahra menghela nafas. "Baiklah, mulai sekarang aku akan membantumu. Kali ini kau harus mendengarkan saran ku baik-baik."
"Nyonya, mau membantu saya?"
"Yah, untuk kali ini aku akan membantumu mendapatkan hati, Lyla. Tapi kau harus mengikuti semua perkataan ku!"
"Baik, nyonya."
Zahra menghembuskan nafas panjang. Ia memijit keningnya yang berdenyut pusing. Tidak hanya Zyano yang tidak peka tapi ternyata Budi pun juga begitu. Mungkin karena Budi terlalu lama bekerja dengan Zyano. Jadi kepolosannya ikut terjangkit.
"Mom, kenapa? Apa mom sakit kepala?" tanya Katerina yang baru masuk ke dalam mobil. Ia khawatir melihat Zahra yang memiji keningnya.
"Tidak papa, Kate. Mom baik-baik saja."
"Syukurlah, kalau begitu."
"Apa kau sudah selesai bicara dengan suamimu itu?" tanya Zahra menyindir.
Katerina terkekeh malu. "Iya mom. Maaf sudah membuat mom menunggu lama."
"Tidak apa, Kate. Mom mengerti kalau suamimu itu super posesif sama seperti Daddy nya." ejek Zahra hapal betul. Like father like son.
"Daddy juga posesif?" tanya Katerina.
"Yah, ternyata benar kata pepatah. Kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." ujar Zahra.
"Tapi mom suka kan?"
"Terkadang suka, terkadang risih."
"Pastinya lebih banyak suka nya dong?" ujar Katerina menggoda.
"Ya, begitulah." balas Zahra terkekeh geli. Bukan berarti dia tidak suka saat Zeano posesif terhadapnya tapi terkadang posesifnya di luar batas. Sehingga kadangkala Zahra merasa jenuh.
"Budi, ayo berangkat!" perintah Zahra.
"Baik, nyonya."
Katerina melambaikan tangannya kepada Zyano saat mobilnya perlahan meninggalkan mansion utama. Melihat istrinya yang sudah pergi Zyano menelpon seseorang.
"Hallo, tuan."
"Istriku sudah pergi. Jangan lupakan tugasmu!"
"Baik, tuan."
"Ingat, aku tidak mentolerir kesalahan apapun. Jaga istriku dari jauh. Kalau sampai terjadi sesuatu dengannya. Maka nyawamu jadi taruhannya."
"Baik, saya mengerti tuan."
Tuut
Panggilan di matikan secara sepihak. Zyano sengaja menyuruh orang kepercayaan untuk menjaga Katerina dari jauh. Ia tidak ingin mengambil resiko apapun. Baginya keselamatan Katerina adalah prioritas utama.
"Keluar, Dave. Aku tau kau sudah datang."
Mendengar hal itu Dave langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Ia membungkukkan badannya.
"Maaf, tuan."
"Ayo pergi ke markas!"
"Baik, tuan."
Bersambung 😎
______________________________________________
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰🥰👍🥰👍🥰🥰
TAMBAHKAN FAVORIT JUGA YAK!
__ADS_1
^^^Coretan Senja ✍️^^^