
"Jeng, Zahra?" sapa seorang wanita yang seumuran dengan Zahra.
"Ah, iya. Jeng, Irene?" balas Zahra.
"Lama tidak bertemu, Jeng." Ucap Wanita yang bernama Irene Khalista itu sambil memeluk Zahra.
"Iya, Jeng. Bagaimana kabarmu? Bukankah kau bilang tinggal di luar negeri?" tanya Zahra.
"Kabarku baik, jeng. Aku hanya liburan sebentar ke sini sambil mengunjungi putraku." jawab Irene. Ia merasa senang bisa bertemu Zahra, teman lamanya itu.
"Ohh begitu."
"Iya, Jeng. By the way siapa wanita cantik ini?" tanya Irene melirik ke arah Katerina.
"Astaga, aku sampai lupa memberitahu mu. Kenalkan, dia Katerina, menantuku." ujar Zahra memperkenalkan Katerina dengan bangganya.
"Omoooo, dia menantumu? Astaga, aku tidak percaya ini." Tutur Irene shock mendengar nya.
"Hallo, saya Katerina." ucap Katerina tersenyum manis.
"Yah, aku Irene, temannya mertuamu. Kau sangat cantik, Kate." balas Irene memuji.
"Anda juga cantik, tante." ujar Katerina.
"Zahra, apa ini mimpi? Aku tidak percaya putramu yang dingin dan tidak tersentuh itu bisa menikah dengan wanita secantik ini? Apa kau tidak membohongi ku?" tanya Irene masih sulit percaya. Bukan apa-apa dia juga mengenal Zyano. Tentu saja dia tahu betapa dinginnya sikap Zyano selama ini.
"Haish, mana mungkin aku berbohong. Dia memang istrinya, Zyano." balas Zahra terkekeh.
"Sulit di percaya. Bukankah putramu itu selalu menolak kalau kau menjodohkannya dengan wanita lain? Mengapa sekarang dia tiba-tiba sudah menikah? Dan kenapa kau tidak mengundang ku, Jeng?!"
"Aku tau kau pasti akan terkejut tapi itulah faktanya. Aku bukan tidak ingin mengundang mu tapi pernikahan mereka hanya di hadiri kerabat dekat saja. Jadi, tidak banyak yang tahu." ujar Zahra menjelaskan.
Irene mengerutkan keningnya. "Loh, kenapa? Bukankah seharusnya pernikahan itu diadakan secara megah?!"
"Em....itu permintaan mereka berdua."
"Ohh begitu. Sayang sekali ya padahal, Katerina sangat cantik tapi kenapa tidak ingin media tau?"
"Kurasa aku tidak bisa menjawabnya karena mereka pasti punya alasan tersendiri."
"Yah, tapi aku turut senang dengan pernikahan mereka. Ku harap kau selalu bahagia, Kate." ujar Irene.
"Iya, terima kasih, tante." Katerina hanya bisa tersenyum walaupun sebenarnya dia merasa tidak nyaman. Dia tidak ingin mempermalukan Zahra kalau bersikap tidak sopan.
"Ayo duduk dulu, Jeng. Aku ingin mengobrol banyak denganmu. Kau tidak sibuk kan?" ajak Irene.
"Ah, ya. Tentu saja." ujar Zahra terpaksa. Mau tidak mau Zahra hanya bisa pasrah. Ia tidak mungkin menolak tawaran teman lamanya itu.
"Ayo pesan makanan lagi." tawar Irene.
__ADS_1
"Tidak perlu. Kami baru saja selesai makan." tolak Zahra halus.
"Baiklah, kalau begitu aku saja yang pesan." Irene memangil salah satu pelayan. Ia memesan makanan nya. Setelahnya mereka mengobrol tentang banyak hal.
"Apa putramu masih jadi pengacara?" tanya Zahra.
"Yah, begitulah. Dia benar-benar mewujudkan mimpinya menjadi pengacara sampai-sampai dia tidak mau ikut dengan ibunya sendiri untuk tinggal di luar negeri." jawab Irene terdengar kesal.
"Kenapa dia tidak ingin ikut keluar negeri? Bukankah dia bisa menjadi pengacara terkenal kalau ikut denganmu?"
"Ya, kau tau sendirilah. Dia tidak suka kalau aku mengurusi hidupnya. Padahal, aku hanya ingin dia cepat menikah dan punya anak agar hatiku tenang. Tapi ya dia selalu beralasan." ujar Irene curhat.
"Wajarlah, namanya juga anak-anak. Zyano juga dulunya begitu kan? Aku sampai lelah dibuatnya." balas Zahra memijit keningnya lelah saat mengingat betapa susahnya mengatur hidup Zyano.
"Hahahaha, kau benar, Jeng. Aku jadi merasa lucu kalau mengingat dulu saat kau beberapa kali memaksa putramu itu untuk kencan dengan wanita yang kau pilih. Dan hasilnya dia terus menolak."
"Iya, kau benar hahahaha." Zahra terpaksa tertawa walaupun sebenarnya dia tidak ingin.
"Dan bahkan aku juga pernah mendengar kalau kau dulunya ingin menjodohkan, Zyano dengan desainer ternama itu kan? Tapi kenapa malah tidak jadi?" tanya Irene.
"Iya, karena mereka sama-sama sibuk jadi menolak kencannya." jawab Zahra mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Ia melirik Katerina yang hanya diam. Zahra dapat mengerti bagaimana perasaan Katerina.
"Astaga, sayang sekali ya." ujar Irene menyayangkan.
"Apa dia tidak memiliki perasaan? Tidakkah dia melihat disini sudah ada istrinya, Zyano? Apa pantas membahas masa lalu? Haish, benar-benar." batin Zahra mengumpat kesal. Ia menahan diri agar tidak marah.
"Ah, saya hanya pegawai kantoran biasa, Tante." jawab Katerina apa adanya.
Katerina belum dilantik secara resmi menjadi Presdir di perusahaan Cristopher karena Katerina menjabat hanya sementara sampai Andi keluar dari penjara. Katerina belum mendapatkan hak kuasa penuh agar bisa sepenuhnya menguasai perusahaan ayahnya itu. Makanya dia hanya bisa mengatakan kalau dia pegawai kantoran biasa.
"Hah?" Irene terkejut. "Sulit di percaya. Maaf, ku pikir kau seorang Presdir atau desainer." ejek Irene. Kebanyakan wanita kelas atas memang sering memandang seseorang dari status dan kedudukan nya. Makanya Irene sangat terkejut mendengar kalau Katerina hanya pegawai kantoran biasa. Padahal Zyano dari keluarga yang berpangkat tinggi.
"Bukan, Tante. Saya hanya orang biasa." ucap Katerina meremas jemari nya di bawah meja. Ia tahu diri kalau dia bukanlah orang hebat yang memiliki kedudukan tinggi.
Irene tertawa renyah. "Hahahaha, aku masih tidak bisa mempercayai ini. Tapi ku ucapkan selamat untuk pernikahan kalian berdua. Kau sangat beruntung bisa menjadi istrinya, Zyano. Kate." ujar Irene menyanjung. Padahal dibaliknya dia merendahkan Katerina. Tanpa dia ketahui Katerina dapat mengerti arti ucapan Irene.
"CUKUP!" Zahra menggebrak meja. Ia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Zahra tidak terima Katerina direndahkan seperti ini. Itu sama saja merendahkan harga dirinya.
"Kenapa, jeng?" tanya Irene tanpa tau rasa bersalah.
"Kurasa sepertinya tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Aku sibuk. Jadi, aku pulang dulu." ucap Zahra bangkit dari duduknya. Ia tidak tahan lagi duduk di sana. Kuping dan hatinya panas mendengar ucapan Irene yang menghina Katerina.
"Ayo, Kate." ajak Zahra menarik tangan Katerina.
Irene menahan tangan Zahra. "Tunggu, Jeng. Bukankah tadi kau bilang tidak sibuk? Aku masih ingin mengobrol dengan mu."
"Maaf, tapi sayangnya aku tidak ingin bicara dengan mu!" ujar Zahra menolak terang-terangan. Kali ini dia akan bersikap tegas.
"Loh, kenapa? Apa aku ada salah bicara?"
__ADS_1
Zahra tersenyum kecut. "Kau pikir aku tidak tau? Dari semua ucapan mu tadi itu jelas sekali kau sedang menghina menantuku! Meskipun tidak secara langsung tapi aku bisa mengerti semua perkataan mu tadi sama dengan mengejek Katerina yang hanya orang biasa!"
"T-tapi kan aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Lalu, apa salahnya itu semua?" tanyanya.
"JELAS SALAH! Kau menghina Katerina itu sama artinya kau menghina ku! Katerina itu sudah jadi bagian keluarga Brawitama!" tegas Zahra sangat marah.
"Kenapa kau jadi marah begini, Zahra?!" ujar Irene ikut tersulut emosi.
"Kau yang membuat ku marah, Irene! Kau menghina menantuku jelas aku marah. Siapa yang tidak marah kalau menantunya direndahkan hah?!" sarkas Zahra kesal bukan main.
"Mom, tenanglah. Semua orang memperhatikan kita." ucap Katerina tidak nyaman.
Irene tersenyum ejek. "Kau sangat aneh, Zahra. Kau marah hanya karena aku mengatakan fakta kalau menantu mu bukan dari kalangan atas? Padahal kan itu kenyataan nya. Menantu mu saja tidak marah tapi kenapa kau jadi sensitif begini?!" ujarnya bersindekap dada.
"Cih, kau memang tidak pernah berubah, Irene. Kau selalu memandang seseorang dari status dan jabatan nya. Tidak heran kalau putramu tidak ingin tinggal bersama ibunya sendiri." ejek Zahra menghina.
"TUTUP MULUTMU, ZAHRA!" sarkas Irene tak terima.
"Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya bukan?" ujar Zahra membalikkan perkataan Irene tadi.
Irene tertohok bukan main. Ia memutar bola matanya malas. "Yah, tidak heran kau marah. Bukankah kau juga dari kalangan bawah? Kalau bukan karena suamimu itu kau tidak mungkin bisa seperti sekarang, Zahra!"
"JAGA BICARA ANDA, NYONYA IRENE!" bukan Zahra yang menjawab tapi Katerina.
Katerina melangkah maju. "Anda bisa menghina saya sesuka hati anda tapi saya tidak bisa menerima kalau anda menghina ibu mertua saya!" tegas Katerina tajam.
"Oh astaga, apa begini sikap menantu mu, Zahra? Bad attitude sekali yah." ejek Irene.
"Saya tidak peduli dengan penilaian orang lain. Tapi satu hal yang harus anda tahu. Saya bersikap sesuai dengan perlakuan orang lain terhadap saya! Kalau dia baik maka saya akan memperlakukannya dengan baik. Tapi kalau buruk maka saya bisa bersikap lebih buruk dari yang dia bayangkan!" ujar Katerina tegas. Ia bahkan mengangkat wajahnya tanpa menunduk. Dia tidak akan membiarkan seseorang merendahkan Zahra.
"Kau mengancam ku?" tanya Irene tidak terima.
"Terserah anda mau mengartikan nya seperti apa. Tapi yang pasti saya hanya ingin memberitahu anda."
"Ayo kita pergi, mom." Katerina langsung menarik tangan Zahra untuk pergi dari sana.
"Arghhhhhhh sial." Irene menendang meja dengan kesal. Ia tidak terima di rendahkan oleh Katerina yang hanya dari kalangan bawah.
"Cih, bisa-bisanya wanita itu bersikap Arrogant denganku! Awas saja nanti." gumam Irene mengepalkan tangannya erat. Ia bertekad akan membalas penghinaan ini.
Bersambung 😎
______________________________________________
Aduhhhhhhh si emak lampir cari masalah aja dah😬
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰🥰👍🥰🥰🥰👍🥰👍
^^^Coretan Senja ✍️^^^
__ADS_1