
Sementara di kediaman keluarga Cristopher ada seorang wanita yang sedang mondar-mandir tidak tenang. Wanita itu ialah Sera. Dari tadi dia gelisah memikirkan bagaimana pertemuan Katerina dengan Andi. Apakah berjalan lancar ataukah tidak. Namun, Sera berharap kalau masalah ini cepat selesai agar Olivia bisa menikah dengan Rei. Ia lelah karena terus didesak oleh putrinya itu.
"Semoga, Andi tidak membuat masalah." gumam Sera.
"Ibu, aku pulang."
Olivia langsung pulang setelah selesai pemotretan majalah. Ia melempar tasnya ke atas meja dan kemudian membanting pantatnya ke sofa empuk untuk melepas penat. Merasa haus, Olivia pun meminta salah satu ART agar membuatkan minuman untuknya.
Melihat kedatangan putrinya Sera pun duduk di samping Olivia.
"Eh, putri kesayangan ibu akhirnya pulang juga. Bagaimana pemotretan hari ini? Apakah berjalan lancar?"
"Lancar darimana nya? Yang ada malah kacau."
Kerutan di dahi Sera terlihat. "Kacau? Kenapa?"
"Ini semua gara-gara, Celine. Dia selalu mencari celah untuk menyalahkan ku sehingga aku dimarahi oleh ketua tim. Padahal aku sudah melakukan yang terbaik. Tapi selalu saja aku yang disalahkan. Huh, menyebalkan sekali. Kalau bukan karena Ayah dipenjara maka aku tidak mungkin dipermalukan seperti ini."
Olivia mengendus marah. Setiap kali dia melakukan pekerjaan nya selalu saja dia mendapat hinaan dan sindiran. Olivia benar-benar sudah muak mendengarnya. Akan tetapi dia tidak bisa melakukan apapun karena model adalah impiannya. Padahal bisa saja dia berhenti tapi Olivia tak ingin melepas mimpinya dari kecil. Jadi, Olivia hanya bisa bertahan walaupun menyakitkan.
Olivia meraih tangan ibunya, lalu menatapnya serius. "Bu, kapan ayah bebas? Aku tidak sanggup lagi menahan penghinaan ini. Rasanya aku ingin menyumpal mulut mereka satu-persatu, Bu. Aku benar-benar jenuh."
"Olivia, sabarlah. Ibu sedang berusaha mengeluarkan ayahmu dari penjara."
Olivia berdiri marah-marah. "Harus berapa lama lagi aku harus bersabar Bu? Ini sungguh memuakkan. Aku tidak tahan lagi terus di hina. Kalau ayah tidak bebas dalam satu pekan ini maka aku akan memberitahu media tentang kehamilan ku."
"Jangan gila, Olivia! Kau tidak boleh melakukan itu!" Sera membentak tak habis pikir dengan sikap putrinya itu.
"Aku tidak peduli lagi Bu. Hidupku sudah hancur maka biarkan saja hancur. Aku tidak akan membiarkan, Rei begitu saja. Dia harus bertanggungjawab atas anak ini!"
"Olivia, kau jangan egois. Kalau kau memberitahu media maka bukan hanya dirimu yang hancur tapi citra keluarga ini juga akan rusak dimata masyarakat. Sudah cukup ayahmu yang mempermalukan keluarga ini jangan kau tambah lagi!"
"Aku tidak peduli Bu. Bagiku yang penting saat ini adalah aku bisa menikah dengan Rei!"
"Pernikahan mu tidak akan bahagia kalau caramu salah, Olivia. Apa kau mau anakmu dihina saat dia lahir nanti? Dia akan dicemooh oleh semua orang karena dia anak diluar nikah. Apa kau ingin itu terjadi hah?!"
"Tentu saja tidak Bu!"
"Ya sudah, kalau begitu jangan lakukan apapun!" ujar Sera dengan tegas melarang putrinya bertindak gegabah.
"Tapi aku tidak bisa terus menunggu seperti ini Bu! cepat atau lambat perutku akan semakin membesar dan semua orang juga akan tahu kalau aku hamil."
"Ibu tahu, Olivia. Ibu juga memikirkan hal yang sama dengan mu tapi kalau kau memberitahu media sekarang apa untungnya hah?! Semua orang akan tahu kalau kau menikah dengan Rei bukan karena cinta tapi karena sebatas tanggung jawabnya. Apa kau mau seperti itu?!"
"T-tidak Bu." Olivia menunduk karena tersadar.
Sera mengangkat tangan, memegang pundak putrinya itu, menyuruhnya untuk duduk.
"Ya sudah, ibu juga tidak ingin itu terjadi. Maka dari itu jangan lakukan apapun yang bisa merusak rencana kita! Percayalah, ibu akan mengurus segalanya untukmu, Olivia."
"Iya, Bu."
"Baiklah, sekarang pergilah ke kamarmu dan istirahat lah. Kau perlu menenangkan dirimu."
Olivia mengangguk patuh, dan kemudian beranjak pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sementara Sera memijit keningnya pening. Ia berdecak pusing. Hampir saja putrinya itu mengacau kan segala-galanya. Untungnya, Olivia masih bisa di bujuk. Kalau tidak maka habislah sudah.
"Apa yang harus kulakukan?"
*
__ADS_1
*
...#AREA KEKERASAN MOHON JANGAN DITIRU!...
*
Sedangkan di lain tempat Andi tampak senang karena sebentar lagi dia akan bebas dari penjara yang menyiksa ini. Walaupun perusahaannya berada di tangan Katerina tapi dia akan merebut nya kembali. Andi terlalu percaya diri. Biarlah, kesenangan hanya bersifat sementara.
"Aku harus menyusun rencana setelah keluar dari sini." gumam Andi menyeringai licik.
"Katerina benar-benar bodoh. Dia pikir memimpin perusahaan itu mudah? Huh, lihat saja nanti tidak lama setelahnya perusahaan akan hancur karena dia tidak berpengalaman. Dan begitu hancur maka aku akan mengambil alih apa yang seharusnya menjadi milikku." ujarnya percaya diri.
Andi terkekeh bahagia. Namun, tiba-tiba dia teringat akan ucapan Zyano. Sebenarnya Andi penasaran tapi dia tidak ingin ambil pusing.
Ceklek
Andi tersentak saat seorang petugas keamanan datang membuka jeruji besi. Petugas itu datang untuk memberitahu kalau sudah waktunya makan siang. Tak ingin berlama-lama Andi pun keluar mengikuti langkah petugas itu. Ia di bawa ke sebuah ruangan khusus tempat dimana para tahanan penjara makan bersama. Tempat itu sangat luas. Di sana sudah tersedia berbagai macam makanan enak. Hanya tinggal mengambil nya saja lagi. Namun, sebelum itu mereka harus mengantri dulu.
Saat giliran Andi, dia mengambil nasi yang sudah disediakan, kemudian menambahkan lauk pauk dan juga beberapa sayuran pelengkap. Namun, saat dia hendak pergi kakinya malah tersandung hingga jatuh tersungkur di lantai.
Prang
Suara piring pecah mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana. Fokus mereka jadi tertuju kepada Andi yang sedang jatuh. Namun, bukannya membantu mereka semua malah diam saja. Tidak ada satupun yang bergeming dari tempatnya.
"Hei, pak tua. Apa matamu rabun? Berhati-hati lah saat melangkah jika tidak kau akan terjatuh." ujar seorang pria berbadan besar. Dia adalah pimpinan dari salah satu geng. Semua orang yang ada di sana takut dengannya sebab dia bisa memukuli orang tanpa ampun. Jika ada orang yang cari masalahnya dengannya maka dipastikan orang itu akan habis di tangannya.
"Apa-apaan ini, kau yang lebih dulu menghalangi kaki mu sehingga aku terjatuh bukan mataku yang rabun!" bantah Andi.
"Beraninya kau menyalahkan ku!"
Sret
Andi terbatuk-batuk karena pasokan oksigen nya kian menipis. Lehernya membiru karena cengkraman tangan pria itu sungguh kuat. Andi tak mampu melepaskan diri. Seluruh tubuhnya tak berdaya.
"T-tolong." pinta Andi terbata-bata.
"Apa? Kau mengatakan apa pak tua?" pria itu menyeringai licik.
"T-tolong lepaskan aku." Mata Andi terpejam. Kepalaku terasa pening. Rasanya dia ingin pingsan. Tapi pria itu sudah melepaskan cengkraman nya lebih dulu.
Uhuk-uhuk
Andi terbatuk-batuk. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, menetralkan kondisi pernafasan nya. Nafasnya tersengal-sengal. Jantung nya mempopa lebih cepat. Hampir saja dia mati kehabisan nafas.
"Bagaimana rasanya pak tua?" tanya pria itu menyeringai. Ia melipat kedua tangannya menatap remeh Andi.
"Kau....." Andi menggeram marah. Kedua tangannya terkepal kuat. Andi menatap pria itu tajam. "Aku tidak akan pernah memaafkan mu. Kau akan ku laporkan karena sudah melakukan penganiyaan terhadap tahanan lain."
"Lakukan saja jika kau ingin mati di sini!"
Andi mendengus marah. Ia berusaha bangkit dengan tangan menopang meja. Andi berdiri tegak menghunus tatapan dendam pada pria itu. Ia menatap beberapa anak buah pria itu. Mereka berjumlah lima orang. Andi tak mungkin melawannya karena dia jelas akan kalah. Tubuh mereka saja berotot sementara dirinya kurus dan sudah tua. Bagaimana dia bisa melawannya? Kalau Andi nekat dia hanya akan mati di tangan mereka.
"Cih," Andi berdecih, hendak pergi tapi ditahan pria itu.
"Hei, pak tua. Mau ke mana? Urusan kita belum selesai."
"Aku tidak ingin ribut denganmu."
"Tapi kau duluan yang cari masalah denganku!"
__ADS_1
"Baiklah, aku minta maaf." ujar Andi cari aman.
"Aku tidak butuh maaf mu!"
"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanya Andi.
"Kematian mu."
"Apa?"
"Habisi dia!" perintah pria itu.
Sebelum Andi sempat protes, anak buah pria itu sudah lebih dulu membogem mentah wajahnya. Mereka menghajar Andi habis-habisan. Andi hendak melawan, tapi dia kalah jumlah. Jangankan untuk melawan, bergerak saja dia sulit. Mereka sama sekali tidak memberi celah untuk Andi melawan. Pukulan, hantaman, tonjokan mereka layangkan kepada Andi secara membabi-buta. Sementara pria itu hanya diam sambil tersenyum menyaksikannya.
"Cukup!"
Seruan itu langsung membuat anak buahnya berhenti. Pria itu berjalan mendekati Andi yang sudah tepar. Wajahnya lebam penuh dengan luka dan memar. Andi sudah tak berdaya. Tubuhnya lunglai. Kesadarannya hampir sirna.
Brush
Andi terlonjak kaget saat pria itu menumpahkan air di kepalanya. Seluruh tubuh Andi basah. Andi mengigit bibirnya menahan perih. Luka saat terkena air sungguh menyakitkan.
Pria itu mencengkram dagu Andi dengan kasar hingga membuatnya mendongak. "Hei, pak tua. Siapa yang memberimu izin untuk pingsan hah?!"
"Aku bahkan belum puas mendengar rintihan mu." lanjut pria itu.
"Bangun!"
BUGH!
BUGH!
"Wah ini sungguh menyenangkan." ujarnya tak berhenti memukuli wajah Andi. Ia tertawa bahagia melihat Andi yang kesakitan.
"BERHENTI! APA-APAAN INI HAH?!" Teriak beberapa petugas akhirnya berdatangan. Sementara Andi bernafas lega. Bala bantuan akhirnya datang.
Pria mendesah kecewa. "Huh, padahal aku belum puas."
"Cukup Arkan! Lagi-lagi kau menyiksa orang! Kau akan dihukum di sel pengasingan." teriak petugas itu tak habis pikir. Lagi-lagi dia membuat masalah.
"Ayo bawa mereka semua!"
"Tunggu dulu."
Sebelum pergi, Arkan membisikkan sesuatu ke telinga Andi. "Bagaimana hadiahnya? Apa kau menyukainya, ayah mertua?"
Setelah mengatakan itu Arkan dan anak buahnya di seret paksa oleh petugas keamanan untuk diamankan ke tempat pengasingan. Sementara Andi shock mendengar perkataan Arkan tadi. Tubuhnya mendadak kaku. Nafasnya tercekat. Aliran darahnya terasa mendidih. Andi menyadari satu hal.
"Sialan kau, Zyano."
Bersambung π
______________________________________________
Wow ngeri ya hadiah Zyanoππ
Jangan lupa Like dan Vote nya dungππ
VOTE HARI SENIN NYAA YAK
__ADS_1
^^^Coretan Senja βοΈ^^^