Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
109. CEMBURU


__ADS_3

Zyano menatap perempuan itu. "Yah, siapa?"


"Astaga, apa kau sudah lupa? Aku, Laura. Teman mu waktu kuliah." ujarnya tersenyum manis.


"Ah, iya. Maaf, aku baru ingat."


"Ya, tidak apa-apa. Bagaimana kabarmu sekarang?"


"Hm, baik-baik saja seperti yang kau lihat."


Laura tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Oh iya, apa aku boleh bergabung?" tanyanya.


"Tentu nona." bukan Zyano yang menjawabnya akan tetapi Katerina.


"Terima kasih. Btw dia siapa?" tanya Laura kepada Zyano.


"Dia istriku!" jawab Zyano merangkul Katerina sambil tersenyum.


Laura tampak terkejut mendengarnya. "I-istri?"


"Yah, dia, Katerina istriku." ujar Zyano memperkenalkan Katerina kepada Laura.


"Sayang, dia, Laura temanku waktu kuliah." ucap Zyano lembut.


"Hallo, nona, Laura salam kenal." ucap Katerina tersenyum manis seraya mengulurkan tangannya.


"Yah, salam kenal nona, Katerina." ujar Laura membalas uluran tangan itu. Kini keduanya saling berjabat tangan satu sama lain.


"Duduklah, nona Laura." ucap Katerina mempersilahkan.


Laura hanya manggut-manggut. Ia mendudukkan pantatnya. Ia menatap Katerina intens. Jujur saja Laura masih tidak percaya kalau wanita dihadapannya ini adalah istri Zyano. Orang yang sedari dulu dikaguminya. Tapi sayangnya Zyano tak pernah menghiraukan nya.


"Jadi, kalian dulu teman kuliah?" tanya Katerina.


"Benar, nona, Kate. Dulu saat kuliah Zyano sangat terkenal di kampus dan bahkan hampir semua mahasiswi menyukainya. Tapi sayangnya Zyano sangat dingin dengan wanita."


"Ah, begitu tenyata. Tidak heran dia disukai banyak wanita karena wajahnya saja sangat tampan." ujar Katerina.


"Iya benar." balas Laura.


"Lalu, bagaimana kalian bisa berteman?"


"Ah,soal itu karena kami pernah satu kelompok. Makanya bisa akrab."


"Ohh begitu." Katerina manggut-manggut paham sambil melirik sinis kearah suaminya itu.


"Oh iya, kapan kalian menikah? Mengapa aku tidak pernah mendengar berita soal pernikahan kalian? Dan kenapa kau tidak mengundangku, Zyan?!" cerocos Laura marah.


"Ah, soal itu kami memang belum memberitahu media. Kami menikah sudah lebih dari satu bulan yang lalu dan maaf aku tidak mengundang mu karena pernikahan kami saat itu hanya dihadiri oleh kerabat dekat saja." ujar Zyano menjawab.


"Loh kenapa? Bukankah lebih baik diberitakan saja?"


"Tidak apa-apa. Kami memang sengaja menutupinya karena ada beberapa alasan."


"Ohh begitu."


"Iya."


"Ck, tapi tetap saja aku kesal. Mengapa kau tidak memberitahu ku soal ini. Padahal aku ingin datang di pernikahan mu, Zyan." ujar Laura terdengar manja. Membuat kuping Katerina tak nyaman mendengarnya. Karena terdengar seperti mengadu dengan kekasih saja.


"Tapi aku turut bahagia atas pernikahan kalian. Semoga terus langgeng ya?" ujarnya tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Yah, terima kasih." balas Zyano seadanya. Sebenarnya ia tidak begitu suka dengan kehadiran Laura. Malah Zyano risih dengan tatapan dan suara Laura yang terdengar dimanjakan itu.


Katerina pun juga begitu. Ia tersenyum ramah padahal dalam hati gedek. Katerina tahu betul dari tatapan Laura terhadap suaminya itu jelas terlihat berbeda. Tatapannya menunjukkan kekaguman dan rasa suka. Hanya dari situ saja Katerina sudah mengetahui kalau Laura menyukai Zyano. Sebab, Insting seorang wanita itu sangat tajam terlebih lagi kalau ada yang berniat merebut suami nya.


Tapi sebagai rasa hormat karena Laura adalah teman suaminya. Maka, Katerina hanya bisa memperlakukan nya dengan baik. Ia tidak ingin memberi kesan buruk terhadap Laura kalau bersikap tidak baik kepadanya. Lagipula dia tidak begitu mengenal bagaimana sifat wanita itu. Maka dari itu Katerina harus mengenalinya terlebih dahulu.


"Oh, iya kita sudah lama tidak berkomunikasi. Ku lihat dari berita kau sudah sukses, Zyan bahkan memimpin perusahaan Brawitama company."


"Em, ya. Lalu, kau sendiri bagaimana?"


"Ya kau tahu sendirilah. Dulu aku sangat menyukai perhiasan. Dan impianku adalah memiliki perusahaan perhiasan sendiri. Dan akhirnya impian itu tercapai. Sekarang aku sudah memiliki perusahaan perhiasan sendiri."


"Wahh, hebat sekali nona, Laura. Di usia yang masih muda sudah memiliki perusahaan sendiri." sahut Katerina memuji.


"Ah, tidak. Itu menurutku biasa saja nona, Kate. Tidak sehebat Zyano yang sudah memimpin perusahaan Brawitama company. Jika dibandingkan dengan ku itu masih tidak ada apa-apa nya."


"Tapi menurutku itu sudah sangat luar biasa karena tidak banyak orang bisa seperti nona, Laura." ujar Katerina.


"Ah, ya. Aku jadi malu." Laura jadi merasa tersanjung mendengarnya. Memang itu niatnya sejak awal. Mendapatkan pujian tapi sayangnya Zyano sama sekali tidak peduli.


"Tidak perlu malu, nona Laura. Saya memuji berdasarkan fakta bukan?"


"Lalu, nona, Kate sendiri bagaimana? Saya yakin anda juga pasti orang yang hebat." ujar Laura balik bertanya.


"Em, tidak saya....." belum sempat Katerina berucap sudah di potong oleh Zyano.


"Sayang, apa kau haus? Ck, mengapa mereka lama sekali?!" decak Zyano protes.


"Aku tidak haus hubby."


"Jangan berbohong sayang. Lihatlah kau sudah berkeringat begini. Apa sebaiknya aku lepaskanlah saja jas-nya." ujar Zyano sengaja.


"Hubby!" tegur Katerina menghunus tatapan tajam. Sementara Zyano hanya mengulum senyum. Ingin sekali dia tertawa tapi sebisa mungkin ditahannya takut Katerina marah lagi. Namun, tanpa di sangka ternyata Laura bisa melihat tanda kiss mark dileher Katerina. Tanpa sadar tangan Laura terkepal.


"Aku tidak takut dengan hubby!" bukannya takut Katerina malah balik menantang.


"Coba saja kalau berani sayang." ucap Zyano menyeringai devil.


"Ish, menyebalkan." decak Katerina menggerutu sebal.


"Aku tidak menduga, Zyano akan menikah dengan wanita ini. Memangnya dia siapa? Sehebat apa sampai Zyano begitu perhatian dengannya?!" batin Laura iri.


"Awas, saja nanti. Cepat atau lambat aku pasti akan merebut, Zyano kembali. Tunggu saja tanggal mainnya." batinnya menyeringai licik.


"Maaf, tuan, nyonya. Ini pesanannya." ujar pelayan akhirnya datang membawakan makanan yang mereka pesan.


"Ck, lama sekali. Apa kau tidak tahu kalau istriku sudah sangat lapar?!" ujar Zyano memarahi pelayan itu.


"Maaf, tuan atas keterlambatan nya. Tadi ada sedikit masalah."


"Ah, sudahlah."


"Ayo, makalah sayang. Kau pasti sangat lapar." ujar Zyano memberikan perhatiannya tanpa menghiraukan keberadaan Laura.


"Hubby, saja yang duluan. Kan tadi hubby yang ingin makan."


"Baiklah, kalau begitu suapi aku." pinta Zyano manja.


"Ish, merepotkan. Sudah besar masih saja bersikap seperti anak kecil."


"Memangnya kenapa? Sudah sewajarnya kan aku minta disuapi oleh istriku sendiri." ujarnya tanpa malu.

__ADS_1


"Apa hubby tidak malu?"


"Kenapa harus malu? Aku malah bahagia."


"Ck, terserahlah. Ayo buka mulut." pinta Katerina hendak menyuapi Zyano tapi Laura menahannya.


"Tunggu! Bukankah, Zyano tidak suka makanan pedas?" tanya Laura. Seingatnya dulu Zyano tak bisa makan makanan yang pedas.


Katerina terkekeh. "Apa anda tidak tahu nona, Laura? Justru suami saya sekarang sangat suka makanan yang pedas. Iya kan hubby?"


"I-iya sayang." ucapnya ragu.


"Tuh, kan. Ini Lihatlah." Katerina semakin menambah sambal. Ia sengaja melakukan itu karena ingin mengerjai Zyano. Tapi tidak disangka Laura malah tahu kalau Zyano tidak bisa makan makanan pedas. Hal itu tentu saja membuat Katerina cemburu.


"Sejauh mana dia sudah mengenal hubby?" batin Katerina kesal. Karena merasa kesal Katerina terus saja memasukkan sambal sebanyak banyaknya sampai habis.


"Ayo buka mulutmu hubby."


"Tapi..." Zyano menelan saliva nya susah. Melihat kuah yang tampak merah itu membuat Zyano takut. Ia yakin itu sangat pedas. Tapi kalau menolak nanti istrinya itu tambah marah.


"Ayoo hubby."


Zyano menghela nafas pasrah. Ia pun membuka mulutnya hingga akhirnya satu suapan itu masuk ke dalam mulutnya. Namun, begitu sampai lidahnya langsung mati rasa. Zyano ingin memuntahkannya tapi sayangnya dia tak bisa melakukan itu. Ia pun terpaksa menelan nya.


Uhukkkkkkk uhukkkkkkk


Zyano langsung mengambil minumannya dan meneguknya sampai habis. Ingin sekali dia berteriak pedas tapi sebisa mungkin Zyano menahannya. Namun, wajahnya tak bisa dibohongi. Wajah Zyano memerah karena kepedasan.


"Hubby kenapa?"


Zyano tak bisa menjawab karena bibirnya terasa tak nyaman. Laura yang peka dengan keadaan langsung pergi mencari susu.


"Minum susu ini, Zyan." ujar Laura. Tanpa pikir panjang Zyano langsung meminum nya sampai habis.


"Bagaimana? Apa sudah mendingan atau kau mau lagi?" tanya Laura khawatir.


"Tidak apa-apa. Sudah lebih baik. Terima kasih." ujar Zyano bernafas lega.


Laura menatap Katerina. "Apa nona, Katerina tidak tahu kalau Zyano tidak bisa makan makanan yang pedas?"


"Em....itu...."


"Astaga, harusnya anda tahu kalau suami anda tidak tahan dengan makanan yang pedas. Untung saja ada susu. Bagaimana kalau tidak? Mungkin saja hal buruk akan terjadi!" ujar Laura memarahi Katerina.


Katerina terdiam. Semua perkataan Laura memang benar. Ini semua karena dirinya. Kecemburuan membuat nya jadi bodoh.


"Yah, nona, Laura benar. Ini memang salahku. A-aku minta maaf." ucap Katerina menunduk merasa bersalah. Ia tidak bermaksud membuat Zyano seperti itu.


"Sudahlah, aku juga tidak apa-apa."


"Tapi tetap saja itu berbahaya, Zyan. Lain kali nona, Katerina harus lebih berhati-hati."


"Iya." Katerina hanya mengangguk. Ia menyadari kesalahannya. Jadi, dia tidak akan berkomentar apapun.


Bersambung 😎


______________________________________________


Cemburu bisa membuat seseorang jadi bodoh?


Jangan lupa Like nyaaa ✔️✔️

__ADS_1


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2