Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
78. KENYATAAN PAHIT


__ADS_3

FLASHBACK ON


***


Saat ini Katerina dan Zahra sedang membuat kue. Zahra bertugas membuat adonan kue sedangkan Katerina memotong anggur untuk topping nya nanti. Keduanya sibuk dengan tugasnya masing-masing.


"Kate, apa pertengkaran kalian karena masalah, Irene kemarin?" tanya Zahra tiba-tiba. Ia terus saja kepikiran perkataan Zyano tadi. Kalau memang karena itu Zahra akan sangat merasa bersalah.


Tak


"Aduh," Katerina refleks memekik saat jari telunjuknya tidak sengaja tergores karena terkejut mendengar pertanyaan Zahra. Darah segar perlahan keluar dari jari telunjuknya.


"Astaga, Kate. Jarimu terluka." teriak Zahra tidak kalah memekik. Ia langsung menyambar tangan Katerina untuk melihat lukanya. Wajah Zahra terlihat sangat panik. Bagaimana tidak? darahnya mengalir deras.


"Aku tidak apa-apa kok, mom. Ini hanya luka biasa." ujar Katerina tidak ingin membuat Zahra khawatir.


"Tidak papa bagaimana. Lukanya cukup dalam, Kate!" ucap Zahra ikut meringis.


"Ella." panggil Zahra berteriak.


"Iya, nyonya sebentar."


"Astaga, itu anak lama sekali." decak Zahra menggerutu kesal. Ia menuntut Katerina agar duduk di salah satu kursi yang ada di dapur itu. Tak beberapa lama kemudian Ella datang dengan wajah ngos-ngosan.


"Ada apa, nyonya?" tanya Ella. Mata Ella melebar saat tidak sengaja melihat jari telunjuk Katerina mengeluarkan darah.


"Ya ampun, nyonya muda terluka." pekiknya shock.


"Makanya cepat ambilkan obat merah!" suruh Zahra.


"B-baik, nyonya. Tunggu sebentar." Ella bergegas mengambil obat merah yang tersimpan di lemari. Ia juga mengambil baskom yang berisi air serta perban untuk membalut lukanya.


"Ini, nyonya."


"Kate, kalau sakit katakan saja ya?" ujar Zahra mulai mengobati lukanya.


Pertama Zahra membasuh darahnya dengan air bersih. Kemudian, Zahra mengoleskan sedikit demi sedikit obat merah ke area yang luka. Katerina mengigit bibirnya bawahnya menahan perih dan sakit di waktu bersamaan.


"Tahan ya, Kate. Ini sedikit menyakitkan." ucap Zahra mengoleskan obat merah itu perlahan karena lukanya cukup dalam.


"Iya, mom." ujar Katerina tersenyum.


"Astaga, itu pasti sangat sakit ya, nyonya muda?" tanya Ella mengigit ujung jarinya ikut merasakan sakit.


Katerina terkekeh geli. "Tidak juga. Ini hanya sedikit perih."


"Nyonya, muda tidak usah sok kuat. Ayo pegang tangan, Ella agar rasa sakitnya tidak begitu terasa." ujar Ella menggenggam tangan kanan Katerina yang tidak terluka.


"Lebay kau, Ella." ejek Zahra.


"Ish, ini bukan lebay, nyonya!" bantah Ella mengerucut kan bibirnya kesal.


"Ya, ya terserah kau saja." Zahra malas meladeni salah satu maid nya itu. Usia Ella memang terbilang masih muda. Dia berusia 17 tahun jadi tingkahnya masih agak kekanak-kanakan. Dia itu anak dari kepala pelayan di mansion utama. Namun, berkat tingkahnya itu juga kadang kala Zahra terhibur. Ia jadi merasa punya anak lagi.


Sedangkan Katerina hanya tertawa kecil lantaran merasa lucu dengan sikap Ella.


"Nah, sudah selesai." ucap Zahra bertepuk tangan ketika melihat luka Katerina yang sudah terbalut perban.


"Yey, lukanya sudah ditutupi." Teriak Ella kegirangan.


"Huh, syukurlah." Zahra bernafas lega.


"Ya sudah, mari kita lanjutkan lagi membuat kue nya mom." ajak Katerina.


Tanpa terduga Zahra menahan tangan Katerina. "Jangan, Kate! Tanganmu sedang terluka. Jadi, ada baiknya kau istirahat saja. Biar mom dan Ella yang membuat kue nya."


"Tapi mom...."


"Sudah ikuti saja perkataan mom!" tegas Zahra tak terbantahkan.


Bahu Katerina merosot lesu. "Iya, mom tapi aku masih boleh melihat dari sini kan?" pinta Katerina.


"Tidak! Kau harus istirahat di kamarmu!" bantah Zahra.


"Tapi mom, aku ingin melihat kalian membuat kue nya. Aku janji tidak akan menganggu kalian."


"Tapi, Kate."


"Please, mom." ucap Katerina memohon dengan menampilkan puppy eyes andalannya.


"Bolehkan saja, nyonya. Lagipula, Ella juga ingin menunjukkan kepada nyonya muda kalau, Ella jago bikin kue." sahut Ella tampak bersemangat.


"Ella, jago bikin kue?" tanya Katerina.


"Iya, nyonya muda. Bahkan tuan Zeano juga sangat menyukai kue buatan, Ella." jawab Ella membanggakan dirinya.


"Benarkah?"


"Iya, nyonya muda. Ella yakin nanti nyonya muda pasti suka kue buatan, Ella." ucap Ella percaya diri.


"Halah, si bocah terlalu percaya diri itu tidak baik." ejek Zahra.

__ADS_1


"Wah, kalau begitu aku tidak sabar untuk mencicipi kue buatan, Ella. Boleh kan, mom?" tanya Katerina menatap Zahra.


Zahra menghela nafas berat. "Baiklah, tapi kau hanya boleh duduk di sana! Kalau kau merasa lelah dan tidak enak badan langsung katakan dengan mom! Jangan menahan diri, oke?" pinta Zahra.


"Iya, mom."


Zahra mulai membuat kue kembali sambil di bantu oleh, Ella. Anak itu ternyata cukup lincah bahkan terlihat sangat ahli dalam mengaduk adonan. Katerina dan Zahra dibuat takjub olehnya. Tak perlu waktu lama adonan selesai. Kemudian, Ella memasukkan nya ke dalam oven. Sambil menunggu kue matang mereka berbincang-bincang.


"Wah, Ella ternyata kau sangat hebat." ujar Katerina memuji.


"Tentu saja." balas Ella dengan bangganya.


"Cih, sombongnya mulai kumat lagi." ucap Zahra berdecih.


"Ella, kau sering membuat kue ya?" tanya Katerina.


"Iya, nyonya muda. Habisnya, waktu kecil, Ella suka makan kue. Jadinya, Ella belajar dari mama dan sampai sekarang Ella sudah terbiasa membuat kue."


"Wah hebatnya." ucap Katerina.


Ella tersenyum senang mendengar pujian Katerina. Tidak sia-sia dirinya belajar membuat kue selama ini.


Ting


Setelah lama menunggu akhirnya kue nya matang. Begitu dikeluarkan dari oven tercium bau harum yang sedap. Mereka bertiga terpukau saat melihat kue yang tampak menggiurkan di lidah itu. Topping anggur yang meleleh serta kue yang juicy begitu di potong.


"Ayo makanlah." ujar Ella mempersilahkan.


Katerina tidak sabar mencicipinya. Ia pun langsung menyantap nya. Matanya seketika berbinar saat kue itu terasa di lidahnya. Benar-benar enak. Apalagi rasa anggur yang meleleh itu sangat memanjakan lidah. Zahra pun juga tidak menduga kalau kue nya akan seenak ini. Ia bahkan tak sadar sudah memakan dua potong kue. Saking lezatnya.


"Ini kue terenak yang pernah aku coba, mom." ujar Katerina.


"Ya, kau benar, Kate. Cita rasanya khas sekali."


"Apalagi rasa anggur yang meleleh sangat cocok untuk kue nya." sahut Katerina setuju.


"Perpaduan yang luar biasa. Ella, kue nya sangat enak." ucap Zahra tak tanggung-tanggung memuji.


Ella cengengesan. "Hehehe, baguslah kalau nyonya suka. Ella jadi ikut senang."


"Ella, sebaiknya kau buka toko kue saja. Aku yakin pasti banyak yang beli nantinya." ujar Zahra menyarankan.


"Ella, juga maunya begitu, nyonya tapi modalnya belum cukup." ucap Ella sedih.


"Kau tenang saja, Ella. Soal modal aku bisa membantumu. Yang penting kau ada niatan dulu." ujar Zahra.


"Benarkah? Nyonya mau membantu, Ella?" tanya nya dengan mata berbinar.


"Iya, asalkan nanti kau mau membuatkan kue lagi untukku." jawab Zahra santai.


"Baiklah, aku tunggu."


"Siap." Ella sangat senang karena Zahra mau membantunya. Impiannya untuk membuka toko kue akhirnya bisa tercapai. Ini di luar dugaannya. Katerina pun ikut senang mendengarnya.


"Pantas saja suamiku sangat suka kue buatan mu." ujar Zahra akhirnya menyadarinya. Ia memang tidak pernah mencicipi langsung kue yang dibuat oleh Ella. Makanya Zahra tidak tahu.


"Hehehe." Ella hanya terkekeh.


Deg


Katerina terdiam. Kepalanya tiba-tiba berdenyut pusing. Tubuhnya mendadak lemas dan hampir saja jatuh kalau Zahra tidak menahannya.


"Kate, kau kenapa?" tanya Zahra khawatir.


"A-aku tidak papa, mom." Katerina memegangi kepalanya. Pandangannya mulai mengabur. Keringat dingin juga membasahi pelepisnya.


"Ini pasti efek samping obat." ucap Katerina dalam hatinya. "Aku harus ke kamar sebelum pingsan di sini."


Katerina melupakan satu hal penting. Setelah meminum obat penenang maka efek sampingnya adalah dia akan tertidur selama kurang lebih tiga jam.


"Ella, tolong panggilkan Budi. Suruh dia ke sini secepatnya!" perintah Zahra.


"Baik, nyonya." Ella mengangguk paham dan bergegas pergi mencari Budi.


"Kate, apa kau masih bisa berjalan?" tanya Zahra.


Katerina tidak begitu mendengar jelas ucapan Zahra. Matanya terasa berat. Ia juga sangat mengantuk dan tidak bisa menahannya lagi.


Bruk


Katerina ambruk pingsan di lantai. Pada saat yang sama Budi juga datang bersama Ella. Mereka langsung bergegas menghampiri Zahra dan membantunya memapah Katerina ke kamarnya. Mereka merebahkan Katerina ke kasur.


"Budi, panggil Zyano. Katakan istrinya pingsan!" suruh Zahra.


"Baik, nyonya." Budi mengangguk paham lalu pergi.


"Ella, bisa tolong panggilkan dokter, Reza?" pinta Zahra.


"Bisa, tunggu sebentar ya nyonya." ujar Ella langsung pergi.


Setelah keduanya pergi tinggal Zahra yang tertinggal di sana. Ia duduk di samping Katerina sambil mengelus kepalanya lembut.

__ADS_1


"Astaga, Kate. Apa yang terjadi denganmu?" gumam Zahra khawatir melihat Katerina yang tiba-tiba pingsan seperti ini. Saat Zahra ingin membenarkan bantal Katerina tanpa sengaja dia menemukan botol kecil yang berisi obat.


"Obat apa ini?" tanya Zahra heran. Ia meneliti obat itu dari dekat. Tidak ada keterangan tentang obat itu karena cap nya sudah tidak ada. Jadi untuk saat ini Zahra tidak bisa mengetahui obat apa itu.


BRAK


Pintu terbuka kasar. Zyano masuk dengan wajah khawatir. Ia panik begitu mendengar kabar kalau istrinya pingsan. Tanpa pikir panjang Zyano langsung bergegas ke kamarnya. Dan berakhirlah dia melihat istrinya terbaring lemah tidak sadarkan diri.


"Mom, apa yang terjadi? Kenapa, Katerina bisa pingsan begini?" tanya Zyano menatap ibunya meminta penjelasan.


Belum sempat menjawab pertanyaan Zyano tiba-tiba saja dokter Reza datang.


"Maaf saya terlambat, nyonya." ucap Reza.


"Tidak papa, cepatlah periksa Katerina!" suruh Zahra cemas.


"Baik, nyonya." Reza pun langsung memeriksa keadaan Katerina. Di mulai dari denyut nadinya dan setelah itu detak jantungnya. Namun, alis Reza mengerut. Ia memastikan dugaannya lagi dengan mengecek kedua mata Katerina yang tertutup.


"Bagaimana? Apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Zyano serius.


"Aneh." gumam Reza tapi masih bisa terdengar.


"Apanya yang aneh?" tanya Zyano heran melihat reaksi Reza yang terlihat bingung.


"Setelah saya memeriksa keadaan, nyonya Katerina dia baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun dan malahan saat ini dia sedang tertidur nyenyak." ujar Reza membuat semuanya kebingungan.


"Tertidur? Tapi bukankah tadi dia pingsan?" tanya Zahra terheran-heran.


"Apa maksudnya itu?" tanya Zyano tidak mengerti perkataan Reza.


Reza berdiri tegak menatap semua anggota keluarga Brawitama. "Jadi, begini tuan, nyonya. Saya sudah memeriksa keadaan nyonya, Katerina tapi dia baik-baik saja. Denyut nadinya normal, detak jantungnya juga normal dan suhu tubuhnya juga normal. Jadi, bisa dipastikan tidak ada masalah apapun dengan nyonya, Katerina."


"Tapi, kenapa dia tiba-tiba pingsan?" tanya Zahra bingung.


"Hm, soal itu menurut perkiraan saya sepertinya nyonya, Katerina habis meminum obat tidur dan efeknya berasa sekarang. Dia bukan pingsan tapi tertidur karena tidak bisa menahan efek obatnya lagi. Oleh karena itu makanya saat ini nyonya, Katerina bisa tertidur pulas seperti ini." jawab Reza menjelaskan.


"Obat tidur?" tanya Zyano.


"Yah, semacam itulah." ujar Reza.


"Apa ini yang kau maksud, Reza?" tanya Zahra langsung menunjukkan obat yang ditemukan nya tadi.


"Itukan obat yang tadi pagi di minum, Katerina?" gumam Zyano teringat saat melihat Katerina yang meminum obat itu. Tapi dia juga ingat kalau Katerina mengatakan itu vitamin. Apa Katerina berbohong? pikir Zyano.


"Darimana kau mendapatkan nya sayang?" tanya Zeano menatap istrinya.


"Di bawah bantal Katerina." jawabnya.


"Apa ini benar-benar obat tidur? Tapi kenapa, Katerina mengonsumsinya?" tanya Zahra kepada Reza.


"Biar saya liat dulu obatnya, nyonya." ujar Reza. Ia pun mulai meneliti obat kapsul tersebut.


"Obat apa itu, Reza? Apa itu benar-benar obat tidur?" tanya Zyano mulai penasaran.


"Ini Benzodiazepin, obat penenang untuk penderita gangguan kecemasan atau biasa disebut panic attack. Seseorang yang memiliki gangguan kecemasan memerlukan obat ini untuk merelaksasi kan dirinya. Terlepas dari resikonya obat ini tergolong aman dan efektif untuk meredakan kecemasan dengan level rendah." ungkap Reza.


"Apa kau bilang? Kecemasan?"


"Yah, tuan. Sepertinya nyonya, Katerina menderita gangguan kecemasan. Ini bisa di picu dari kejadian masa lalu yang mungkin membuatnya depresi sehingga dia mudah khawatir, cemas dan gelisah dalam beberapa hal. Maka pada saat itu terjadi nyonya pasti akan mengonsumsi obat ini." ujar Reza.


"Depresi?" gumam Zahra shock mendengar nya begitu pun dengan Zyano. Ia tidak pernah menduga kalau istrinya menderita gangguan kecemasan sebab selama ini Katerina terlihat baik-baik saja.


"Iya, nyonya tapi kalian semua tenang saja. Saya menduga kalau depresi nyonya, Katerina ringan. Karena obat yang dikonsumsinya nya juga tergolong ringan. Hanya saja obat ini tidak baik kalau terlalu sering di konsumsi. Untuk itu kita harus lebih sering membuat nya bahagia dan melupakan rasa sakit. Karena hal itu bisa memicu munculnya panic attack lagi."


"Tapi, Katerina baik-baik saja kan?" tanya Zyano.


"Untuk saat ini dia baik-baik saja. Jadi, tidak ada yang perlu di cemaskan." ujar Reza membuat semuanya lega mendengarnya.


"Syukurlah." ujar Zahra menghela nafas lega.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Kita biarkan nyonya, Katerina istirahat sampai efek obatnya hilang." ucap Reza.


"Yah, kau benar. Kalau begitu mom sama Dad keluar dulu ya, Zyan."


"Iya, mom."


Setelah semuanya keluar dari kamar. Kini hanya Zyano yang tertinggal. Ia merebahkan dirinya di samping Katerina. Tangan kanannya dijadikan tumpuan untuknya sedangkan tangan kirinya membelai wajah Katerina. Zyano menatap wajah istrinya yang tertidur dengan damai itu.


"Kate, kenapa kau tidak pernah memberitahu ku soal ini? Apa saja yang selama ini mereka lakukan padamu sampai kau depresi seperti ini?" tanya Zyano tersenyum getir. Ia merasa menjadi suami yang tidak becus.


"Maaf sayang, aku tidak tahu apapun yang kau alami. Tapi aku tidak akan pernah bisa memaafkan mereka yang sudah menyakiti mu. Aku pastikan mereka akan menderita melebihi apa yang kau rasakan, Kate." ujar Zyano bertekad.


Bersambung 😎


______________________________________________


Kasian Katerina 😭😭😭


Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰👍🥰👍🥰🥰🥰👍🥰


__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE HARI SENIN YA GUYS 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2