
Maya turun dari taksi begitu sampai di depan gedung perusahaan Brawitama. Ia menatap gedung yang menjulang tinggi. Rasa gugup dan bahagia tercampur jadi satu. Antara percaya dan tidak dia bisa bekerja di perusahaan nomer satu di dunia. Ini merupakan suatu keberuntungan bagi Maya.
"Huh," Maya menarik nafas sejenak, lalu masuk ke dalam. Begitu masuk ternyata Maya langsung disambut oleh Dave, asisten pribadi Zyano.
"Selamat pagi nona." sapa Dave.
"Ah iya, pagi." balas Maya tersenyum ramah.
"Kita belum berkenalan secara resmi, saya Dave asisten pribadi tuan, Zyano." ucap Dave memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
"Iya, saya Maya." balas Maya menyambut uluran tangan Dave. Kini keduanya resmi berkenalan.
"Tuan Zyano memerintahkan saya untuk mewawancarai nona terkait pekerjaan yang akan nona lakukan. Nona mendapatkan posisi sebagai sekertaris tuan, Zyano."
"Sekretaris?" Maya sedikit terkejut mendengarnya.
"Betul nyonya, sekretaris lama tuan Zyano berhenti. Jadi, nona yang akan menggantikannya." ucap Dave menjelaskan.
"Ohh begitu."
"Apa nona keberatan?"
"Tentu saja tidak, saya sangat berterimakasih karena bisa diterima bekerja di perusahaan ini." ungkap Maya tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu mari ikuti saya. Saya akan mengantarkan nona ke ruangan tempat nona akan bekerja."
Maya mengangguk paham dan mengikuti langkah Dave. Ia tertegun melihat perusahaan yang sangat besar. Berbagai alat canggih tersedia di sana. Maya masih tidak menyangka dia akan bekerja di perusahaan Brawitama.
"Ini ruangan nona, dan ini juga jadwal tuan Zyano kedepannya."
"Iya, terima kasih banyak tuan, Dave."
"Sama-sama, jika tidak ada lagi saya permisi." pamit Dave undur diri.
"Iya."
Maya meletakkan tasnya di atas meja. Ia menatap takjub karena ruangannya sangat luas dan nyaman. Maya yakin dia pasti akan betah kerja di sini.
"Aku tidak menyangka bisa bekerja di perusahaan nomer satu di dunia. Kalau bukan karena Katerina mungkin seumur hidup aku tidak akan bisa bekerja di sini. Perusahaan ini benar-benar luar biasa. Ruangan sekertaris saja seluas ini apalagi ruangan CEO?"
"Ah sudahlah, aku harus bekerja." Maya mulai memeriksa dan mulai mencocokkan jadwal Zyano karena kedepannya dia yang akan bertanggung jawab. Ia bekerja dengan perasaan bahagia.
******
Setelah merasa baikan Olivia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Ia membayar biaya administrasi dan setelah itu pergi tapi begitu keluar dari lobi tiba-tiba ada orang yang menabraknya.
"Olivia?"
"Bryan." Olivia tampak terkejut saat melihat laki-laki yang menabraknya tadi. Ia refleks mundur.
"Akhirnya kita bertemu lagi sayang." ucapnya dengan binar kebahagiaan. Ia berusaha menyentuh tangan Olivia tapi dengan cepat ditepisnya.
"Jangan menyentuhku brengsek!" umpat kasar Olivia. Ia merasa jijik melihat penampilan Bryan yang terlihat kacau balau. Penampilannya sudah seperti preman yang tidak terurus. Wajahnya bahkan tidak terawat lagi.
"Olivia, kenapa kau meninggalkanku? Bukankah kau mencintaiku?" tanya Bryan.
"Heh, cinta? Hubungan kita sudah berakhir. Kau tidak memiliki apa-apa. Kau sudah bangkrut. Apa kau pikir aku masih mau dengan orang tidak berguna sepertimu? Jangan bermimpi!" ucap Olivia tersenyum remeh menatap Bryan.
__ADS_1
Rahang Bryan mengeras. "Apa maksudmu, Olivia?"
"Bukankah sudah jelas? Sekarang kau bukan siapa-siapa Bryan. Kau hanyalah sampah tidak berguna dan aku tidak memerlukan mu lagi. Lagipula, sebentar lagi aku juga akan menikah. Jadi berhentilah menganggu ku!" tegas Olivia.
"Apa kau sudah lupa kalau selama ini aku yang membantumu? Kalau bukan karena aku kau tidak mungkin jadi model terkenal, Olivia!"
"Iya, untuk hal itu aku sangat berterima kasih. Tapi sekarang itu tidak ada artinya lagi. Kau juga bukan bos ku, dan kurasa lebih baik kita menjaga jarak. Aku tidak ingin calon suami ku salah paham."
"Kau membuang ku setelah apa yang kulakukan untukmu? Kau benar-benar tidak tau terima kasih, Olivia!" geram Bryan mencengkeram pergelangan tangan Olivia dengan erat sampai sang empu meringis.
"Augh, sakit, Bryan. Lepaskan tanganku!" rintih Olivia kesakitan.
"Ingat, Olivia. Kita pernah menjalin cinta satu malam. Aku jadi penasaran. Bagaimana reaksi calon suamimu saat tau kalau ternyata calon istrinya sudah tidak perawan lagi!" ucap Bryan berbisik di telinga Olivia.
Deg!
"Tutup mulutmu, Bryan!"
"Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!"
"Nona, Olivia?"
Olivia dan Bryan refleks menoleh ke arah suara. Seorang dokter berjalan menghampiri keduanya.
"Iya dokter?"
"Saya hanya ingin memberikan jadwal pemeriksaan kandungan anda." ucap sang dokter sembari menyerahkan sebuah surat kepada Olivia.
"Ah iya, terima kasih dokter."
"Tunggu! Kandungan? Olivia hamil?" tanya Bryan sangat terkejut mendengarnya.
"Iya, apa anda suaminya nona, Olivia?" ucap dokter itu balik bertanya.
"BUKAN! Dia bukan suami saya dokter!" sahut Olivia membantah dengan tegas.
"Oh begitu, maaf. Saya pikir dia suami anda nona."
"Tidak apa-apa dokter."
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu." dokter itu berlalu pergi meninggalkan Olivia dan Bryan.
Bryan menyeringai tipis. "Jadi, kau hamil, Olivia?"
Olivia tidak berniat untuk menjawab. Ia hendak pergi tapi tangan nya dicekal lebih dulu oleh Bryan.
"Lepas!"
Bukannya terlepas cekalan itu justru makin mengerat. Olivia berusaha mati-matian melepaskan tangan Bryan.
"Augh sakit! Lepaskan tanganku, Bryan!" Olivia merintih menahan perih karena cekalan itu.
"Olivia, kau belum menjawab pertanyaan ku. Kau benar-benar hamil?" tanya Bryan.
"Aku hamil atau tidak itu bukan urusanmu!"
Bryan tertawa renyah membuat Olivia mengerutkan keningnya bingung. Ia tidak bisa menebak apa isi kepala Bryan.
__ADS_1
"Kenapa Olivia? Apa kau takut kalau aku tau? Oh, atau jangan-jangan dia itu anakku? Mengingat, kita pernah melakukannya berkali-kali bukan?" ucap Bryan menduga-duga.
"TIDAK! DIA BUKAN ANAKMU!" ucap Olivia membantah dengan tegas.
"Benarkah? Kenapa kau sangat yakin kalau itu bukan anakku?"
Olivia terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa karena pertanyaan Bryan seperti pedang bermata dua. Laki-laki itu berusaha mengoyak informasi darinya. Kalau salah jawab sedikit saja rahasianya bisa terbongkar.
"Kenapa diam, Olivia? Apa kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Bryan sambil membelai rambut Olivia.
"Sudah kubilang bukan, ini tidak ada urusannya denganmu! Jadi berhenti menggangguku!" tegas Olivia melangkah pergi.
"Kalau bukan anakku, apa itu artinya dia anak orang yang sudah merenggut kesucian mu?" tanya Bryan.
Langkah Olivia terhenti saat mendengar pertanyaan Bryan. Ia mendadak gugup dan takut. Sedangkan Bryan justru menarik sudut bibirnya, tersenyum licik.
"Sudah kuduga, ternyata dia memang anak orang yang merenggut kesucian mu, Olivia Natasha Cristopher." ucap Bryan menekankan setiap katanya dengan tegas.
"Tutup mulutmu, Bryan. Jangan sok tau!"
"Aku selalu tau apapun tentangmu, Olivia bahkan aku juga tau kalau kau menjebak kekasih kakakmu sendiri."
"Kau bicara apa hah?! Jangan memfitnah ku!"
"Heh, kau pikir aku tidak tau? Kalau bukan karena pesta itu kau tidak mungkin bisa berhubungan dengan Rei. Jangan kira aku tidak tau apapun!"
"Kau wanita yang sangat licik, Olivia. Kau menjerat Rei pasti dengan alasan kehamilan mu ini bukan? Itulah sebabnya kalian tiba-tiba ingin bertunangan. Benar bukan?"
"Aku penasaran, bagaimana kalau seandainya Rei tau itu bukan anaknya!"
"DIAM! Aku muak mendengar omong kosong mu!" bentak Olivia berteriak hingga membuat orang-orang menatap kearahnya.
"Dengar, Bryant Astrope. Apa kau pikir Rei akan mempercayai ucapan mu? Heh, tidak semudah itu!"
"Apa kau sudah lupa kalau sekarang kau bukan siapa-siapa. Lihatlah penampilan mu? Mataku saja sampai sakit melihatnya. Kau itu sampah! Dan apa yang bisa dipercaya dari ucapan mu?" sarkas Olivia menghina Bryan.
"Beraninya kau menghina ku!" rahang Bryan mengeras mendengar ucapan Olivia.
"Aku hanya bicara apa adanya. Lebih baik berkaca dengan penampilan mu sendiri!" setelah mengatakan itu Olivia melenggang pergi.
"Liat saja nanti, aku tidak akan membiarkan mu bahagia, Olivia! Tunggu saja pembalasan ku!" ucap Bryan dengan tangan terkepal kuat.
Perlu diketahui, Bryan ini dulunya bos besar perusahaan model tapi sekarang dia bangkrut. Olivia bahkan juga sempat bekerja dengan Bryan hingga melewati malam panas bersamanya. Kalau bukan karena Bryan, Olivia tidak mungkin bisa jadi model terkenal.
"Sepertinya ini akan jadi berita bagus." tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan pertengkaran Olivia dan Bryan tadi.
Bersambung 😎
______________________________________________
Hohoho kira-kira itu anaknya siapa ya??
Coba tebak?🤭
Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Share ya guys :)
^^^Coretan Senja ✍️^^^
__ADS_1