
"Zyan aku sudah menyiapkan air mandi untukmu." ujar Katerina memberitahu.
"Hm, terima kasih sayang. Aku mandi dulu." ucap Zyano dan setelah itu masuk kamar mandi. Sedangkan Katerina mendudukkan pantatnya di kasur. Lagi-lagi dia memikirkan bagaimana caranya memperkuat statusnya.
Drtttt drttttt
Lamunan Katerina buyar saat mendengar dering ponsel nya. Ada panggilan masuk dari Mpok Ijah. Katerina mengerutkan keningnya bingung. Tidak biasanya Mpok Ijah menelponnya. Kira-kira ada apa? batin Katerina.
"Hallo, Mpok Ijah."
"Hallo, ini nona Katerina kan?"
"Iya, Mpok. Ini aku, Katerina."
"Syukurlah, untung saja nona tidak mengganti nomer telpon. Jadi, mpok bisa menghubungi nona, Kate."
"Hm, iya Mpok. Tapi memangnya ada apa? Tumben mpok menghubungi ku."
"Tadi mpok tidak sengaja mendengar obrolan nyonya, Sera dan nona, Olivia. Katanya nona, Kate sudah menikah? Apa itu benar?" tanya Mpok Ijah hendak memastikan.
"Ah, iya. Aku memang sudah menikah Mpok. Maaf aku lupa memberitahukan Mpok soal ini."
"Tidak masalah, nona. Mpok sangat senang begitu mendengar kalau nona, Kate sudah menikah. Itu artinya mpok tidak perlu mengkhawatirkan nona, Kate lagi." ujar Mpok Ijah.
"Iya, Mpok." balas Katerina tersenyum.
Hubungan Katerina dan mpok Ijah sangat istimewa. Katerina sudah menganggap mpok ijah seperti ibu kedua baginya karena selama tinggal di kediaman Christopher hanya mpok ijah yang peduli kepadanya. Jadi, Katerina tidak begitu merasa sendirian. Masih ada yang peduli dengannya.
"Mpok senang, kalau nona bahagia. Jujur saja, saat nona di usir dari rumah mpok sangat khawatir. Takut nona kenapa-kenapa. Mpok ingin membantu nona tapi mpok tidak bisa berbuat apa-apa nona." ungkap mpok Ijah mengusap air matanya yang menetes. Ia tidak ingin Katerina tahu kalau dirinya menangis.
"Tidak apa-apa kok, Mpok. Aku bisa mengerti itu. Apa mpok baik-baik saja di sana? mereka tidak menyakiti mpok kan?" tanya Katerina.
"Nona tenang saja. Mpok bisa menjaga diri. Meskipun mereka sudah menguasai rumah ini, nyonya Sera tidak akan bisa memecat mpok begitu saja."
"Huh, syukurlah. Aku lega mendengarnya Mpok."
"Oh iya, nona. Ada satu hal penting yang harus mpok katakan."
Kening Katerina berkerut. "Apa mpok?"
Mpok ijah mulai menceritakan semua yang di dengarnya tadi. Berbagai ekspresi muncul di wajah Katerina. Ia tidak menyangka kalau dua mak lampir itu sedang merencanakan sesuatu untuknya dan bahkan sampai menyelidiki soal Zyano.
"Jadi, maksud Mpok, mereka menyelidiki tentang suamiku?"
"Iya, nona tapi sepertinya mereka tidak mendapatkan apa-apa dari informasi itu karena mereka mengatakan tidak ada kelemahan apapun. Dan mereka juga merencanakan sesuatu untuk nona, Kate. Mpok harap nona bisa lebih berhati-hati dari sekarang."
"Ohh begitu. Terima kasih banyak mpok sudah memberitahu aku soal ini. Ini benar-benar informasi yang luar biasa."
"Sama-sama, nona. Kalau begitu mpok tutup dulu telponnya takut ketahuan nyonya."
"Iya, Mpok."
Katerina meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula. Ia cukup terkejut dengan pemberitahuan ini.
__ADS_1
"Jadi, mereka menyelidiki, Zyano untuk mengetahui kelemahannya agar mereka bisa membebaskan Andi dari penjara? Heh, dasar licik." umpat Katerina kesal.
"Tapi sepertinya aku mendapatkan ide bagus. Ini akan jadi boormerang untuk kalian. Tunggu saja kehancuran kalian." ucap Katerina tersenyum licik. Tiba-tiba saja dia mendapatkan ide bagus.
"Sayang, mengapa kau tersenyum seperti itu? Ada apa?" tanya Zyano yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia tidak sengaja melihat Katerina sedang tersenyum licik. Seperti ada sesuatu yang dia rencanakan.
Katerina bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri sang suami. "Zyan, kau sudah selesai mandi?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, sayang. Jawab pertanyaan ku tadi!" tanya Zyano tegas.
"Nanti aku ceritakan. Sekarang aku ingin kau mencoba kemeja yang ku belikan untukmu dulu, oke?" ujar Katerina sambil melepaskan jubah mandi suaminya.
Zyano menghempaskan tangan Katerina. "Tidak ada nanti-nanti an. Katakan sekarang, Kate!"
Katerina terhenyak. "Zyan, kau tidak percaya denganku? Bukankah aku bilang aku akan menceritakannya nanti padamu." ujar Katerina memasang wajah sedih.
"Tidak. Aku sangat percaya dengan mu, Kate!"
"Bohong! Aku tau kau tidak akan mudah percaya lagi karena aku dulu pernah membohongi mu. Padahal aku hanya ingin kau mencoba kemeja yang ku belikan untukmu dan setelahnya baru aku ceritakan semuanya tapi sepertinya kau marah." ucap Katerina menunduk sambil terisak. Ia berbalik dan duduk di kasur.
"Tidak. Maksudku bukan begitu sayang. Aku....aku hanya." Zyano jadi bingung sendiri. Ia serba salah.
"Tidak apa, Zyan. Aku paham setelah di bohongi orang pasti tidak akan mudah percaya lagi." ujar Katerina tertunduk menatap lantai kamarnya.
"Jangan berkata begitu, sayang. Aku sangat mempercayai mu!" ujar Zyano mengangkat dagu Katerina hingga membuatnya mendongak. Zyano terhenyak melihat wajah Katerina yang berlinang air mata. Ia tidak menyangka Katerina sampai menangis seperti ini.
"Benarkah?" tanya Katerina sendu.
"Iya, sayang. Jangan menangis lagi. Aku minta maaf." jawab Zyano sambil menarik Katerina kedalam pelukannya. Ia meruntuki kebodohannya sudah membuat istrinya menangis.
"Baiklah, sekarang aku akan mencoba kemeja nya. Tolong bantu aku memakainya, sayang."
"Siap." Ucap Katerina penuh semangat. Pertama dia memilih kemeja berwarna biru navy. Ternyata sangat cocok. Dan setelah itu kemeja berwarna merah, hijau dan yang terakhir hitam.
"Wahh, bajunya sangat cocok. Kau sangat tampan, Zyan." ujar Katerina memuji takjub.
"Aku kan memang tampan." ucap Zyano percaya diri.
Katerina terkekeh. "Jadi, yang mana yang kau sukai, Zyan?" tanya Katerina.
"Aku suka semuanya. Apapun yang diberikan istriku aku pasti menyukainya." jawab Zyano membuat Katerina tersipu malu.
"Zyan, kau bisa saja membuat orang terbang dengan ucapan mu itu." ujar Katerina membuang muka malu.
"Aku serius sayang. Tidak peduli apapun yang kau belikan aku pasti menyukainya." ucap Zyano apa adanya. Kali ini dia bicara jujur apa adanya.
"Hm, baiklah. Aku senang kalau kau menyukainya." ujar Katerina tersenyum bahagia.
Zyano menarik pinggang Katerina hingga membuatnya berada di pelukan hangat suaminya itu. Satu tangan Zyano terangkat membelai wajah cantik Katerina.
"Aku lebih suka melihat mu tersenyum begini daripada menangis seperti tadi, Kate. Hatiku sakit kalau melihat mu menangis." ungkap Zyano menatap Katerina. Tatapannya dalam dan penuh kelembutan.
Katerina tertegun mendengarnya. Ia membelai rahang kokoh Zyano. "Baiklah, mulai sekarang aku akan lebih sering tersenyum untukmu, Zyan. Aku tidak ingin membuat suamiku sedih."
__ADS_1
Zyano terkekeh geli mendengarnya. "Membahagiakan mu itu sudah menjadi tugasku sayang."
"Oh ya? Kalau begitu aku juga harus membahagiakan suamiku." balas Katerina tersenyum manis.
"Dengan cara apa?" tanya Zyano.
Katerina berpikir sejenak. "Hm, cara apa ya yang tepat supaya suamiku ini bahagia?" tanya Katerina menopang tangannya di atas dagu.
"Aha, aku tau." ujar Katerina tiba-tiba mendapat ide brilian.
"Apa?"
Cup
Zyano membulatkan matanya terkejut saat bibir Katerina ******* bibirnya. Katerina menciumnya lebih dulu bahkan lebih agresif. Ia mengalungkan tangannya ke leher Zyano.
Tentu saja Zyano tidak menolak ciuman itu. Ia menekan kepala Katerina untuk memperdalam ciuman. Bibir Katerina sangat manis seperti madu dan selembut kapas. Zyano benar-benar terbuai dibuatnya. Ia mengecap, ******* dan membelit lidahnya. Setelah dirasa kehabisan nafas Katerina pun menyudahi ciuman itu. Nafas keduanya terengah-engah.
"Kenapa berhenti, sayang?"
"Kurasa itu cukup untuk membahagiakan suamiku." ujar Katerina sengaja mengerjai Zyano.
"Apa kau bercanda sayang? Ciuman saja mana cukup! Kau sudah membangunkan singa tidur. Jadi, kau harus bertanggung jawab sayang." ucap Zyano di selimuti gairah.
"Ahh, Zyan." ******* lolos dari bibir Katerina ketika tangan Zyano menyusuri perut ratanya dan kemudian meremas dua bukit kembarnya itu.
"T-tunggu, Zyan." ujar Katerina menahan tangan Zyano yang nakal.
"Kenapa, hm?" tanya Zyano. Bibirnya tidak pernah berhenti memberikan kissmark di leher Katerina.
"Kita tidak bisa melakukannya hari ini. Aku sedang datang tamu bulanan." ungkap Katerina.
"What?" Zyano terkejut.
"Maaf." ucap Katerina memajukan bibirnya monyong.
"Kau sengaja mengerjai ku, sayang?"
Katerina cengengesan. "Iya, Maaf ya."
Zyano berdecak sambil memukul tembok disampingnya. Ia sudah diselimuti gairah eh ternyata malah dikerjai. Sungguh menyebalkan.
"Zyan, maaf. Jangan marah."
Zyano memajukan wajahnya dan berbisik. "Tunggu saja, sayang. Kau pasti akan mendapatkan hukumannya!"
"Astaga, mati aku." gumam Katerina dalam hatinya.
Bersambung 😎
______________________________________________
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰🥰👍 🥰👍🥰🥰🥰
__ADS_1
^^^Coretan Senja ✍️^^^