
*******
"Ck! Dimana ruangan pria itu? Gedung ini terlalu besar untuk dijelajahi sendiri." gerutu Rei berdecak kesal karena sedari tadi masih belum bisa menemukan dimana letak ruangan CEO.
Rei keluar saat pintu lift terbuka dengan lebarnya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang yang sedikit akrab ditelinga nya.
"Rupanya kita kedatangan tamu tak diundang."
Rei membalikkan badannya dan seketika matanya langsung melebar saat melihat Zyano berjalan bersama Dave.
"Kau.."
"Selamat datang di perusahaan ku, Reino Alberto." sambut Zyano dengan seringai licik menghiasi bibirnya.
"J-jadi kau benar-benar pemilik perusahaan Brawitama Company?" lirih Rei masih tidak bisa mempercayai ini.
"Ya kenapa? Apa kau begitu terkejut?" sambung Zyano.
"Heh! Tidak ku sangka ternyata pemilik nya adalah kau. Pantas saja tawaran kerjasama ku ditolak mentah-mentah." sindir Rei tersenyum kecut.
"Aku menolak kerjasama dengan mu karena aku merasa perusahaanmu tidak cukup kompeten untuk bisa berkerjasama dengan Brawitama Company." tukas Zyano sangat menohok.
"Jaga bicaramu! Atas dasar apa kau mengatakan perusahaanku tidak cukup kompeten hah! Apa kau tidak tahu Alberto Company sudah masuk dalam jajaran 10 perusahaan teratas di dunia." sarkas Rei, tersulut emosi tidak terima perusahaannya dihina.
"Hanya masuk dalam jajaran 10 besar kau sudah bangga? Heh, apa segitu saja pencapaian yang bisa kau dapatkan? Kau harus tahu satu hal, untuk bisa bekerjasama dengan perusahaanku setidaknya kau sudah masuk dalam jajaran 5 besar." ungkap Zyano tersenyum tipis.
Wajah Rei merah padam menahan amarah. Kedua tangannya terkepal kuat. Ingin sekali ia menghajar pria arrogant yang ada dihadapannya saat ini. Perkataan Zyano sangat menusuk hatinya, menghina perusahaannya sama dengan menghina harga dirinya. Rei tidak terima direndahkan apalagi oleh pria seperti Zyano.
"Aku tidak habis pikir mengapa Katerina mau menikah dengan pria arrogant sepertimu." sindir Rei, mengejek.
"Apa urusannya denganmu? Dia istriku dan kau sama sekali tidak berhak untuk menanyakan tentang dirinya! Ini urusan bisnis tidak ada sangkut pautnya dengannya!" tegas Zyano tajam.
"Kenapa kau marah? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau sangat arrogant dan Katerina sangat tidak menyukai pria arrogant. Kau harus ingat, aku pernah menjalin asmara dengan istrimu. Segala hal yang dia sukai dan tidak dia sukai aku sangat tahu." ungkap Rei dengan bangganya.
"Setidaknya, aku lebih baik darimu. Buktinya dia lebih memilih ku daripada dirimu. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa aku lebih baik dimatanya daripada kau." sarkas Zyano menohok.
Lagi-lagi Rei kalah telak. Setiap ucapannya mampu dibalas oleh Zyano bahkan dengan sangat menohok. Rei tidak terima jika kalah dari Zyano.
"Aku akan buktikan kalau aku lebih baik darimu. Sampai hari itu tiba, aku akan merebut Katerina darimu!" tukas Rei lantang dan penuh keberanian.
"Jangan terlalu berharap. Apa yang sudah menjadi milikku tidak akan ku lepaskan begitu saja!" tegas Zyano, menyeringai.
"Dave..seret pria ini keluar! Aku muak melihat wajahnya." perintah Zyano datar.
Dave mengangguk paham. Ia berjalan dan langsung menyeret Rei untuk keluar dari perusahaan. Rei memberontak. Namun, saat pintu lift terbuka terlihatlah kedua satpam. Dave kemudian menyuruh kedua satpam itu untuk menyeret Rei keluar dari perusahaan.
Sementara Zyano kembali ke ruangannya dengan wajah datar. Ia sangat marah karena Rei masih mengharapkan istrinya. Suami mana yang tidak marah kalau ada pria lain yang terang-terangan ingin merebut istrinya. Sampai kapanpun Zyano tidak akan membiarkan itu terjadi.
Zyano merogoh ponsel yang ada dibaliknya jasnya untuk menelepon Katerina. Ia merasa hanya Katerina yang dapat meredakan emosinya.
"Hallo." ucap seseorang yang disebrang sana terdengar sangat lembut.
"Apa kau sudah sampai?" tanya Zyano.
"Aku baru saja tiba di Le Grand Restoran. Kenapa, Zyan?"
"Tidak apa, aku hanya ingin memastikan istriku baik-baik saja."
"Astaga..kau terlalu berlebihan, Zyan."
"Aku hanya khawatir, istriku sangat cantik takutnya ada banyak pria yang menggodanya." ucap Zyano menggoda.
__ADS_1
Pipi Katerina tersipu "Kau tidak perlu khawatir. Kalaupun ada pria yang menggodaku. Aku juga tidak tertarik." balas Katerina.
"Benarkah?" tanya Zyano seakan tidak percaya.
"Iya, untuk apa melirik pria lain jika aku saja sudah mempunyai suami super tampan dan kaya raya." jawab Katerina membuat Zyano sangat senang mendengarnya.
"Aku pegang ucapanmu sayang."
"Apa kau sedang berpikir aku ingin selingkuh, Zyan?" tanya Katerina curiga.
"Em.. tidak." jawabnya.
"Baguslah, aku pikir kau tidak percaya padaku. Kau harus percaya bahwa aku hanya setia pada suamiku." ungkap Katerina tegas.
"Hm, aku percaya."
"Ya sudah, aku tutup dulu telponnya."
Zyano menutup sambungan telponnya dengan perasaan bahagia. Setelah mendengar perkataan Katerina tadi hatinya menjadi sedikit lega. Setidaknya kegelisahan hatinya yang takut Katerina akan berpaling darinya tidak akan terjadi.
...Kunci bertahannya sebuah hubungan adalah saling mempercayai satu sama lain dan tidak membiarkan pihak ketiga untuk ikut campur....
*****
Sementara Katerina mengernyit bingung. Ia heran mengapa tiba-tiba perkataan Zyano terdengar seolah sedang meragukan ketulusannya. Apa ada sebenarnya? pikir Katerina.
"Ah sudahlah, nanti aku tanyakan saja padanya saat pulang." gumam Katerina melangkah masuk kedalam restoran.
"Kate, sini." panggil Maya melambaikan tangannya saat melihat Katerina masuk.
Katerina bergegas menghampiri Maya dan langsung memeluknya erat.
"Aku juga, Kate." balas Maya memejamkan mata menikmati pelukan hangat.
Setelah dirasa cukup keduanya pun melepaskan pelukan itu dan kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Kate, bagaimana harimu setelah menikah? Apa kau bahagia?" tanya Maya menatap lekat sahabatnya.
Penampilan Katerina hari ini terlihat sangat berbeda dari dulu. Dari pakaian yang dia kenakan terlihat lebih bermerek dan sangat elegan bahkan wajahnya juga nampak berseri-seri.
"Tentu saja, aku sangat bahagia apalagi keluarga Zyano menerima ku apa adanya. Kau tahu Maya, aku merasa hidupku sekarang lebih berwarna." ungkap Katerina tersenyum bahagia.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya." balas Maya juga tersenyum.
"Ternyata menikah tidak seburuk itu. Aku sempat berpikir kalau menikah maka kebebasan ku akan hilang tapi ternyata tidak juga, hanya saja setelah menikah kau akan merasa bahwa dirimu tidak sendirian dan ada batasan yang harus kau jaga." seru Katerina tersenyum.
"Melihatmu yang bahagia seperti ini hatiku jadi lega. Artinya pria itu tidak menyakitimu dan sekarang aku tidak perlu khawatir lagi karena ada orang yang akan menjaga mu Kate." balas Maya mengungkapkan isi hatinya.
Katerina meraih tangan Maya lalu menggenggam nya erat.
"Maya, aku juga berharap kau bisa bahagia dan mendapatkan pasangan hidup yang kau cintai. Aku akan selalu ada untukmu sama seperti apa yang kau lakukan padaku. Jadi, jangan sungkan untuk bercerita padaku ya." ucap Katerina menatap lekat kedua mata sahabatnya.
"Ah ya, aku sampai lupa kau ingin memesan apa, Kate?" tanya Maya mengubah topik.
"Sebentar aku liat buku menunya dulu." Katerina membuka buku menu lalu memilih makanan yang dia suka dan memesannya.
"Oh iya Kate, kau ingin membicarakan apa?" tanya Maya penasaran.
"Aku ada kabar bahagia untukmu Maya." seru Katerina sok misterius.
"Kabar bahagia apa?" tanya Maya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Coba tebak?"
"Hm, apa jangan-jangan kau hamil?" tebak Maya.
Katerina melongo "Hah? Aku tidak secepat itu hamil Maya. Coba tebak lagi."
"Lalu apa, Kate? aku tidak pandai main tebak-tebakan. Katakan saja apa kabar bahagianya."
Katerina manyun "Ish tidak seru, harusnya kau bisa menebak nya Maya."
"Kate, tinggal katakan saja apa kabar bahagianya? Jangan membuatku penasaran." seru Maya malas menebak.
"Baiklah, jadi kabar bahagianya adalah kau bisa bekerja di perusahaan Brawitama Company." ungkap Katerina.
"What? Are you seriously?" pekik Maya terkejut bukan main.
"Iya Maya, aku sudah bertanya langsung pada Zyano dan dia mengatakan bahwa kau bisa bekerja di perusahaannya. Apa kau senang Maya?" tanya Katerina.
"Oh my good, aku tidak percaya ini." seru Maya menutup mulutnya dengan kedua tangannya saking shock nya.
"Apa kau tahu? dulu saat aku melamar pekerjaan di sana. Aku selalu saja ditolak tapi sekarang aku malah bisa berkerja di sana dan itu semua berkat bantuan mu Kate...Aaaaaa thank you so much my best friend." ucap Maya sangat bahagia, memeluk Katerina dengan eratnya. Menyalurkan betapa bahagianya dirinya bisa bekerja di perusahaan Brawitama Company.
"Aku senang jika kau bahagia, Maya." balas Katerina tersenyum.
"Jadi, kapan aku bisa bekerja di sana Kate?" tanya Maya antusias.
"Kau bisa tanyakan langsung dengan Zyano atau kalau mau besok kau bisa datang ke perusahaannya."
"Baiklah, besok aku akan ke sana. Sekali lagi terimakasih banyak Kate."
"Sama-sama, Maya."
Tak beberapa lama kemudian pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan. Katerina dan Maya pun menikmati makanan itu sambil sesekali bercerita dan tertawa bahagia.
"Oh iya Maya, aku juga ingin memberitahukan padamu kalau Andi Cristopher masuk penjara." ungkap Katerina.
"Apa! Bagaimana bisa? Maksudku, kenapa sampai bisa masuk penjara?" cecar Maya terkejut sekaligus bingung mengapa Andi masuk penjara.
Katerina menceritakan semuanya kepada Maya. Wanita itu mendengarkan dengan seksama dan sesekali menggumpat kasar. Namun, detik berikutnya Maya terlihat sangat senang.
"Ck! Dasar pria tua tidak tahu diri. Beraninya dia menyuruh mu untuk menikah dengan pria genit seperti tuan Heri. Jangankan kau, aku saja tidak mau jadi istri ke 10 nya." gerutu Maya berdecak.
"Itulah sebabnya aku tidak habis pikir, apa dia sama sekali tidak menyayangi ku walau sedikitpun? kenapa dia begitu tega menyuruhku untuk menikah dengan tuan Heri. Apa dimatanya aku sama sekali tidak berarti apa-apa?" lirih Katerina terdengar getir.
"Kate..."
"Aku tahu dia lebih menyayangi Olivia tapi kenapa harus aku yang selalu dikorbankan? Dia pikir aku akan selalu jadi putri lemah yang bisa ditindas sesuka hatinya? Heh, Katerina sudah berubah." ucap Katerina menyeringai licik.
"Satu persatu dari mereka akan merasakan kehancuran. Tunggu saja tanggal mainnya, aku tidak akan tinggal diam melihat kebahagiaan mereka. Setidaknya mereka juga harus merasakan penderitaan melebihi apa yang kurasakan."
"Kau benar, Kate. Mereka harus mendapatkan balasannya."
"Tentu saja, setiap rasa sakitku harus terbayar dengan mahal." ucap Katerina tegas. Senyum licik menghiasi bibirnya.
Bersambung 😎
______________________________________________
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys :)
^^^Coretan Senja ✍️^^^
__ADS_1