Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
S2 : EPISODE 141


__ADS_3

Saat ini di kediaman keluarga Cristopher semua orang tampak sibuk. Olivia menyuruh beberapa pelayan untuk menyiapkan ruang makan untuk acara nanti malam. Tak hanya itu dia juga mendekorasi ruangan tersebut agar berkesan di mata keluarga calon mertuanya.


"Olivia, apa yang terjadi di sini? Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sera baru saja turun dari kamarnya karena mendengar keributan di dapur. Dia mengernyit heran melihat semua pelayan sibuk memindahkan kursi ke ruang makan.


"Apalagi kalau bukan untuk mempersiapkan acara nanti malam." ujar Olivia bersindekap dada sambil menyuruh pelayan menata kursi dan meja sesuai keinginannya.


Sera mengerutkan keningnya bingung. "Acara apa?" tanya Sera sama sekali tak tau.


"Makan malam bersama keluarga, Rei bu." jawabnya santai.


"Apa?" Sera membulatkan matanya terkejut.


"Jangan terkejut begitu Bu. Memangnya aneh ya kalau aku ingin makan malam bersama keluarga calon suamiku sendiri?" ujar Olivia bertanya.


"Tentu saja itu bagus, Olivia hanya saja kenapa mendadak sekali? Kau juga tidak memberitahu ibu. Kapan kau mengundang mereka?"


"Tadi malam Bu." jawab Olivia.


"Tunggu dulu. Jadi, maksudmu tadi malam kau menemui keluarga, Rei sendirian?" tanyanya baru menyadari. Dia tahu kemarin malam putrinya itu pergi tapi dia tidak tahu kalau Olivia menemui keluarga Rei seorang diri bahkan tanpa memberitahu nya.


"Hm."


Sera semakin terkejut dibuatnya. "Kenapa kau tidak memberitahu ibu, Olivia? Harusnya kau membicarakan ini dengan ibu terlebih dahulu!" bentaknya marah.


"Untuk apa Bu? Aku juga bisa mengurus nya sendiri! Apa ibu pikir aku anak kecil yang tidak bisa melakukan apapun?!"


"Bukan begitu, Olivia." Sera menghela nafas jenuh. Ia memijit pelipisnya merasa pusing dengan tingkah putrinya.


"Lalu, apakah aku salah menemui keluarga Rei? Lagipula aku juga tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin bertemu sekaligus menyapa keluarga Alberto. Yah, sekalian memberitahu mereka soal ayah yang sudah bebas dari penjara." ujarnya santai.


"Astaga, kau selalu saja bertingkah seenaknya tanpa memikirkan konsekuensinya." ucap Sera lelah.


"Sudahlah Bu, aku tidak peduli. Lagipula ibu juga suka seenaknya."


"Apa maksudmu, Olivia?"


Olivia menarik sudut bibirnya menyeringai. "Bukankah ibu juga seperti itu? Ibu membuat kesepakatan dengan kaka tanpa memberitahu ku kan?" ujar Olivia menyindir.


Sera tampak terkejut. Ia mendadak gugup "D-dari mana kau tahu?"


Olivia menarik sudut bibirnya menyeringai tipis. "Yah, aku punya banyak sumber informasi Bu. Aku juga tahu ibu melakukan pertemuan rahasia dengan kaka di belakang ku untuk membebaskan ayah. Tapi aku tidak peduli karena bagiku yang terpenting aku bisa menikah dengan, Rei. Hanya itu satu-satunya keinginan ku." ucapnya penuh ambisi.


"Jadi, maksudmu kau memata-matai ku?" tanya Sera sedikit kesal.


"Hm, bukan memata-matai bu tapi bersikap waspada." ujarnya membantah.


Sera mengepalkan kedua tangannya sambil mengatur ekspresi nya. "Baiklah, terserah mu saja. Lakukan apapun yang kau inginkan tapi jangan sampai melewati batas!"


"Aku juga tahu batasan ku bu." balas Olivia jenuh.


"Tapi terkadang kau suka nekat, Olivia. Ibu hanya tidak ingin kau menyesal karena salah dalam bertindak."

__ADS_1


"Itu tidak akan pernah terjadi Bu. Percayalah pada putrimu sendiri." ujarnya tersenyum manis tapi mematikan.


Sera hanya tersenyum canggung dan setelah itu tak menanggapi nya lagi. Rasanya dia ingin tertawa mendengar perkataan putrinya.


"Percaya? Heh, bagaimana aku bisa mempercayai orang yang sudah memata-matai ku seperti seorang penjahat." batin Sera tersenyum masam.


"Ayah dan anak ternyata sama saja." decak Sera menggerutu dalam hati.


*


*


*


*


Di lain tempat Zyano sedang bergelut dengan berbagai macam berkas. Pekerjaan nya sungguh banyak hanya karena beberapa hari tidak ke kantor. Di tambah hari pelantikan nya yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Ada banyak hal yang mesti dipersiapkan.


Zyano mengembuskan nafas panjang sambil memijit keningnya pusing. Baru setengah hari dia bekerja tapi lelahnya sudah terasa padahal dia dulu orang yang gila kerja. Tapi sekarang dia ingin cepat-cepat pulang agar bisa bertemu dengan Katerina. Yah, dia merindukan istrinya.


"Hm, apa yang sedang Katerina lakukan? Apa dia sudah pulang? Tapi biasanya kalau sesama perempuan saat bertemu lama." gumam Zyano.


"Apa lebih baik ku telpon saja?" tanya Zyano bimbang.


"Tidak-tidak. Kalau aku menelpon sekarang takutnya malah menganggu." ujar Zyano mengurungkan niatnya.


Zyano menghela nafas berat. "Tapi aku sangat merindukannya." gumam Zyano lemas karena terlalu merindukan istrinya. Sebelumnya dia tak pernah merasa seperti ini. Perasaan aneh yang selalu ingin bersama dengan orang yang dicintai.


Fokus Zyano teralihkan saat layarnya ponselnya tiba-tiba menyala. Ada satu notifikasi pesan dari operator yang tidak begitu penting. Tapi ada yang menarik perhatian nya yaitu foto yang dipajang nya untuk wallpaper. Zyano mengambil ponselnya supaya bisa melihatnya dengan jelas. Sudut bibirnya terangkat mengukir senyum bahagia. Itu foto yang diambil saat dirinya berbulan madu bersama Katerina di Paris. Keduanya tampak bahagia dalam foto itu. Bisa dilihat dalam foto itu Zyano merangkul istrinya dengan sangat posesif sementara Katerina tersenyum hangat menatapnya suaminya.


Zyano tiba-tiba teringat sesuatu saat melihat kalung yang dipakai Katerina dalam foto itu. Ia pun langsung menghubungi seseorang. Cukup lama dia menunggu hingga panggilan nya tersambung.


"Hallo."" sapa seseorang terlebih dahulu.


"Hallo, Aldo."


"Maaf ini siapa ya?"


"Ini aku, Zyan." ujarnya datar.


"Apa? Zyan? Kau, Zyano Genta Brawitama?" tanyanya hendak memastikan takut pendengar nya salah.


"Hm."


Dia menutup mulutnya shock. "Astaga, aku tidak percaya ini. Kau menghubungi ku setelah sekian lama memblokir nomer ku?! Heh, apa kau sudah mengakui kesalahan mu padaku?"


"Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak pernah merasa bersalah padamu."


Jleb


"Perkataan mu selalu saja menyakitkan, Zyan. Kau tidak berubah sama sekali. Kau masih seperti dulu. Tidak berperasaan. Kau bahkan tidak menyesal setelah memblokir nomer ku." ujar Pria bernama Aldo itu sambil terisak karena mereka sakit hati atas ucapan teman lamanya itu.

__ADS_1


Zyano terkekeh sinis. "Heh, jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi."


"Apa maksudmu tidak mungkin? Kau tidak berniat minta maaf padaku begitu?" tanyanya marah.


"Aku tidak pernah merasa bersalah. Jadi, kenapa aku harus minta maaf?"


"Ya ampun, Zyano....." Nafasnya memburu marah karena emosi. "Kau memang tidak punya hati!" teriaknya menggema.


"Oh, ****!" Zyano mengumpat sambil menjauhkan ponselnya dari telinga karena terkejut mendengar teriakkan Aldo. Telinganya mendengung karena teriakan maut pria itu. Rasanya Zyano tak percaya kalau Aldo adalah seorang pria. Sebab itu tak sesuai. Jenis kelaminnya memang pria tapi kelakuannya seperti wanita. Mulutnya sangat berisik. Teriakannya saja seperti ibu-ibu. Itulah alasan kenapa Zyano memblokir nomor Aldo karena dia merasa terganggu.


"Kau mengumpat ku?" tanya Aldo tersulut emosi.


"Yah, karena kau berisik."


"Aku begini karena kesal padamu!"


"Aku tidak peduli."


"Arghhhhhhh, kau memang menyebalkan, Zyan. Apa susahnya minta maaf hah?!" teriakannya frustasi.


"Diamlah, Aldo! Hentikan ocehan mu! Aku menghubungi mu bukan untuk mendengar teriakkan ataupun keluhan yang tidak berguna seperti itu."


"Lalu, kau ingin apa?" teriakannya tidak kalah nyaring. Keduanya sama-sama tersulut emosi.


Zyano mengembuskan nafas berat. Ia berusaha mengontrol emosi nya. Berbicara dengan Aldo memang menguras kesabarannya tapi di sisi lain dia juga membutuhkan bantuan pria itu. Karena hanya Aldo yang bisa membantunya.


"Apa kau masih membuat perhiasan?"


"Tentu saja! itu kan pekerjaan ku." jawabnya ketus.


"Kalau begitu artinya kau bisa membuatkan kalung pelacak untukku."


"Yah itu bukan hal yang sulit. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya untuk apa kau membuat kalung pelacak?" tanya Aldo penasaran.


"Apalagi kalau bukan untuk melacak keberadaan seseorang."


"Aku tahu tapi maksudku untuk siapa kalung itu?"


"Untuk istriku."


"Apa?"


Bersambung 😎


______________________________________________


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE NYA DUNG 🥰❤️🥰😍😍


Maaf otor jarang update karena lagi sibuk nugas 😭🙏


Mohon pengertiannya ya guys....

__ADS_1


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2