Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
111. BERNIAT MEREBUT


__ADS_3

Laura turun dari mobilnya begitu sampai di sebuah rumah mewah khas klasik. Ia di sambut baik oleh para pelayan.


"Eh, Laura sudah pulang ya sayang?" sapa seorang wanita cantik. Dia adalah Amelia. Ibu kandung Laura. Di sampingnya ada seorang pria gagah yang merupakan calon suami Amelia. Mereka sebentar lagi akan menikah.


"Iya mah." jawabnya pura-pura baik dengan menampilkan senyum termanis. Sebenarnya Laura tidak setuju ibunya menikah lagi. Tapi dia tak bisa melakukan apapun. Kehendak ibunya itu mutlak dan tak bisa di bantah.


"Hallo, Laura. Apa kabar?" sapa pria yang bernama Samuel. Dia adalah calon suami dari Amelia yang berarti calon ayah tiri Laura.


"Baik, om." jawabnya.


"Loh, kenapa masih memanggil om? Sebentar lagi saya dan juga ibu mu akan menikah. Jadi, mulai sekarang kau bisa mulai memanggil saya papa." ujarnya.


"Iya, benar apa yang dikatakan oleh mas, Samuel. Jadi, Laura mulai sekarang kau harus membiasakan diri memanggil Samuel dengan sebutan papa. Okey, sayang?" sahut Amelia.


"Iya, om. Eh, maksudnya pah." ucap Laura tersenyum canggung. Ia benar-benar merasa tak nyaman. Walaupun begitu Laura harus tetap menghargai nya.


"Good, girl." ujar Samuel tersenyum sambil mengacak rambut Laura. Calon putri tirinya itu.


"Ya sudah kalau begitu aku masuk duluan ya, mah, pah." ujar Laura minta izin. Tapi pergelangan tangannya malah di cegat oleh Amelia.


"Eh, tunggu dulu, Laura sayang. Sebelum masuk ayo salaman dulu sama mas, Samuel." suruh Amalia tersenyum menatap putrinya.


Laura tercengang mendengar nya. Ia menahan diri untuk tidak marah. Mau tidak mau dia harus bersalaman dengan Samuel meskipun dia merasa jijik. Laura sama sekali tidak berkutik kalau dihadapan ibunya. Akhirnya dia pun terpaksa mencium tangan Samuel. Sedangkan satu tangannya lagi terkepal kuat menahan amarahnya.


"Putrimu sangat baik sama sepertimu ya, Amelia."


"Tentu saja, Mas. Aku sudah mendidiknya dari kecil."


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya." pamit Samuel. Sebelum pergi dia mencium kening Amelia sebagai tanda perpisahan. Sedangkan Laura langsung masuk begitu saja.


BRAK!


Laura masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan keras hingga membuat pelayan yang tak sengaja lewat terkejut. Laura juga melempar tasnya sampai barang-barangnya di lamanya berceceran keluar.


PRANG

__ADS_1


Tak berhenti sampai situ saja. Laura bahkan membanting vas bunga serta apapun yang ada di dekatnya. Kini, kamar indahnya itu sudah berubah seperti kapal terbalik. Laura melampiaskan semua amarahnya dengan membanting barang. Ia juga berteriak dan meremas rambutnya frustasi.


Laura sudah marah saat mendengar Zyano ternyata sudah menikah. Dan sekarang di tambah ibunya yang sebentar lagi akan menikah. Laura sama sekali tidak menyukai Samuel. Ia membenci pria itu. Baginya pria itu penyebab kematian ayah kandung nya. Segala kekesalan nya dia lampiaskan dengan berteriak frustasi.


"Nona, Laura. Anda kenapa? Apa anda baik-baik saja?" tanya seorang pelayan.


"BERISIK! PERGI! JANGAN GANGGU AKU!" teriak Laura membentak.


Pelayan itupun pergi setelah di usir Laura. Ia memberitahu Amelia.


"Nyonya, gawat." lapor Pelayan itu.


"Kenapa?"


"Itu nyonya, Nona Laura dia mengamuk di kamarnya."


Amelia memejamkan matanya sebentar. Ia menghela nafas berat. "Baiklah, biar saya yang urus Laura. Kamu kembali bekerja!"


"Baik, nyonya."


Amelia berdecak. "Ck, anak itu selalu saja merepotkan."


"Laura! Buka pintunya!" teriak Amelia.


Laura tersentak kaget mendengar suara ibunya. Namun, Laura tidak menghiraukan teriakan Amelia yang meminta pintunya di buka.


"Laura, kau dengar tidak?! Buka pintunya sekarang juga!" perintah Amelia.


Tidak ada sahutan. Laura sama sekali tidak menghiraukan perkataan ibunya. Amelia menghela nafas sejenak.


"Laura, cepat buka pintunya sayang. Mama ingin bicara denganmu!" pinta Amelia lembut.


"Jangan ganggu aku mah! Aku tidak ingin bicara dengan siapapun!"


"Laura!"

__ADS_1


"Mah, please. Biarkan aku sendiri. Aku tidak ingin di ganggu." pintanya serak. Suara khas orang menahan isak tangis.


Amelia menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, mama beri kamu waktu untuk menenangkan diri. Tapi ingat jangan membuat keributan!"


Laura tak menjawab. Ia hanya diam sambil menenggelamkan wajahnya, terisak. Merasa tak ada sahutan Amelia pun memutuskan pergi, membiarkan Laura menenangkan dirinya.


Sementara Laura mengigit bibirnya, menahan isak tangis. Dadanya sesak. Jantung nya terasa dihujam belati. Ia benci hidupnya yang terus diatur oleh ibunya. Laura merasa hanya dijadikan boneka pajangan oleh Amelia. Apapun kehendak ibunya dia tak bisa menolaknya. Laura benar-benar merasa frustasi hidup seperti boneka yang hanya akan dimanfaatkan.


"Arghhhhhhh, dunia ini sungguh memuakkan. Sampai kapan aku harus hidup seperti ini?" teriaknya meremas rambutnya frustasi.


Laura mengambil dompetnya yang tergeletak di lantai. Ia membukanya. Di sana ada foto masa kecilnya. Laura tersenyum menatap foto dirinya bersama seorang pria. Dia tidak lain adalah ayah kandung Laura.


Tangan kanan Laura terangkat mengusap wajah ayahnya di foto itu. "Pah, Laura kangen sama papah. Laura pengen cerita banyak hal sama papa. Tapi papa malah pergi ninggalin Laura untuk selamanya." ucap Laura terdengar getir.


"Laura pengen cerita kalau, Laura udah punya perusahaan sendiri. Papa pasti bangga kan?" tanyanya tersenyum mengusap foto itu. Tanpa sadar bulir bening jatuh membasahi pipinya. Laura menangis.


"Oh, iya pah. Laura juga pengen cerita kalau ada orang yang Laura suka. Namanya, Zyano. Laura yakin papa pasti suka karena dia orang yang Laura kagumi dari dulu. Laura seneng banget bisa ketemu sama dia lagi tapi sayangnya dia udah nikah." ucapnya kecewa.


"Tapi, papa tenang aja. Kali ini, Laura tidak akan menyerah gitu aja. Laura pasti bakalan memperjuangkan kebahagiaan Laura. Papa doain Laura ya. Semoga Laura bisa dapetin hati, Zyano." ujarnya sangat percaya diri.


"Sekali ini aja, Laura boleh egois kan pah? Laura juga berhak bahagia. Jadi, Laura akan berusaha untuk dapetin kebahagiaan Laura."


"Laura sayang papah."


Cup


Laura mencium foto itu dan memeluknya erat.


"Zyan, cepat atau lambat kau akan menjadi milikku." ucapnya menyeringai licik.


Bersambung 😎


______________________________________________


Kayaknya Laura gangguan jiwa deh😶😶

__ADS_1


Jangan lupa Like nyaaa dong ✔️✔️✔️


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2