
"Apa?" Katerina shock mendengar nya. Ia tak menyangka kalau Maya adalah seorang mata-mata sekaligus bodyguard khusus yang ditugaskan untuk menjaga nya.
"Aku tahu kau pasti terkejut mengetahui hal ini, Kate. Tapi inilah kebenaran nya."
"Tunggu, Maya. Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Tolong ceritakan semuanya padaku sampai jelas!"
Maya menghela nafas panjang. "Baiklah."
Kemudian, dia menceritakan semuanya. Di mulai dari saat pertama kali dia di tugaskan untuk menjaga Katerina. Itu lebih tepatnya saat Katerina masuk kuliah. Semuanya berawal dari sana. Awal pertemuan dan juga awal persahabatan kedua. Dan sejak saat itu juga Maya selalu ada di saat Katerina membutuhkan bantuan. Bisa di bilang Maya adalah orang yang selalu membela Katerina dalam situasi apapun.
Tak lupa juga Maya menceritakan tentang keluarga Argawihana. Tentang siapa Katerina sebenarnya dan juga tentang orang tuanya. Sebenarnya, Katerina sudah mengetahui hal itu dari Zahra makanya dia tidak begitu kaget. Tapi Katerina baru mengetahui kalau selama ini ada orang yang selalu memikirkannya yaitu Erland. Dia bahkan tidak tahu kalau dia masih memiliki seorang Kakek. Jika tahu begini maka Katerina pasti akan menemuinya.
"Begitulah ceritanya, Kate. Tuan, Erland sangat menyayangimu. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada cucunya. Makanya dia tidak memberitahu mu soal ini karena dia takut kau akan disakiti oleh pamanmu." ujar Maya.
Katerina tersenyum hambar. "Apakah kebohongan salah satu cara menunjukkan kasih sayang?"
Deg
Jantung Maya berdegup kencang saat mendengar perkataan Katerina. Dia bisa melihat dengan jelas kekecewaan dari wajah sahabat nya itu.
"Kate, aku bisa mengerti kalau kau marah tapi...."
"Aku tidak marah Maya!" teriaknya membantah perkataan Maya dengan cepat.
Ia mengepalkan kedua tangannya erat sambil mengigit bibir bawahnya menahan diri. "A-aku hanya kecewa dengan diriku sendiri."
"Apa?" Maya tercengang mendengarnya.
Katerina menunduk. "Selama ini aku tidak tahu apapun tentang keluarga ku. Aku bahkan tidak tahu apa-apa soal orang tuaku yang sebenarnya. Aku menganggap Andi Chistopher sebagai ayah kandungku tapi ternyata bukan. Dan yang lebih parahnya lagi ternyata dia adalah orang yang membunuh ayah kandung ku. Bukankah dunia sedang mempermainkan ku?"
Katerina tertawa getir. Ekspresi wajahnya terlihat menyedihkan. "Aku merasa sangat bodoh karena tidak mengetahui apapun. Tentang orang tuaku ataupun tentang diriku sendiri. Meskipun begitu kenapa tidak ada satupun yang memberitahu ku hal sepenting ini? Kenapa hah!?" teriak Katerina membentak frustasi. Ia mengusap wajahnya gusar. Perasaan nya campur aduk antara kesal, marah, kecewa dan benci. Katerina merasa ditipu. Hal yang begitu penting dalam hidup nya tapi dia malah tidak tahu sama sekali.
__ADS_1
"Maaf, Kate. Aku tidak bermaksud membohongi mu."
"Tapi kau sudah membohongi ku, Maya!" sarkas Katerina marah. "Kau tahu segalanya tapi kau tidak memberitahu ku. Aku merasa ditipu padahal aku sangat mempercayai mu lebih dari siapapun tapi kau malah membohongi ku. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dibohongi oleh orang yang paling dipercayai."
Maya terhenyak. Hatinya bergemuruh melihat kekecewaan sahabat nya. Maya menunduk merasa bersalah. "Aku benar-benar minta maaf, Kate. Kau bisa memarahi ku sesuka hatimu. Aku tidak akan protes karena aku memang salah tapi ku mohon temui tuan, Erland. Dia sangat ingin bertemu dengan cucunya. Aku juga sudah berjanji akan mempertemukan kalian berdua."
"Kau mau kan, Kate?"
Katerina mengatur nafasnya yang tidak stabil. Dadanya terasa sesak karena kecewa. "Huh, tolong beri aku waktu untuk mencerna semua yang terjadi. Ini sungguh mengejutkan untukku. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri."
"Baiklah, aku juga tidak ingin memaksa mu tapi setidaknya kau mau mempertimbangkan nya, Kate."
Katerina tersenyum tipis. "Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan aku permisi dulu." ujarnya bangkit dari duduknya.
"Tunggu, Kate." Maya refleks berdiri dan menahan pergelangan tangan Katerina agar tidak pergi.
"Kenapa? Apa ada lagi yang ingin kau katakan?" tanya Katerina to the poin.
Hati Maya terhenyak saat melihat ekspresi datar dari wajah Katerina. Wajah yang menunjukkan kekecewaan besar. Kedua matanya sendu.
Sementara, Katerina mengigit bibir bawahnya menahan diri. "Maya, apa dimatamu aku tidak bisa dipercaya?"
"Apa?" Maya terkejut mendengar pertanyaan Katerina tapi setelahnya cepat dia bereaksi.
"Tentu saja tidak, Kate! Diantara temanku yang lain kau orang yang paling bisa di percaya. Aku sangat mempercayai mu." ujarnya sangat yakin.
"Lalu, kenapa kau membohongi ku?"
"Em, itu......" Maya gagap. Tidak tahu harus mengatakan apa. Dia juga punya alasan kenapa tidak memberitahu Katerina tapi sayangnya dia tidak bisa mengatakan itu.
Katerina tersenyum pahit. "Ah, sudahlah. Kau tidak perlu menjawabnya. Itu bukan pertanyaan yang penting."
__ADS_1
"Tidak! Bukan begitu, Kate. Aku hanya..."
Katerina menepuk pundak sahabatnya dan berkata. "Jangan memaksakan diri, Maya. Aku pergi dulu."
Maya hanya diam, berdiri tegak menatap kepergian Katerina sampai menghilang dari pandangannya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat. Maya tahu kalau akhirnya akan begini tapi tetap saja hatinya sakit. Kejujuran seperti pedang bermata dua. Dia melegakan saat sudah dikatakan tapi disisi hal itu juga menyakitkan bagi orang yang mengetahuinya.
Maya merasa lega karena sudah mengatakan kebenaran yang telah lama di simpan nya tapi disisi lain hal itu juga menyakiti perasaan Katerina. Maya mengusap wajahnya frustasi. Ia takut hubungan persahabatannya dan Katerina akan meregang karena masalah ini. Tapi Maya juga tidak bisa protes karena Katerina berhak untuk marah padanya sebab dia sudah membohongi nya. Biar bagaimanapun kebohongan tetaplah hal yang salah.
Sementara itu Katerina keluar dari kafe dengan berlinang air mata. Ia tak bisa menahan rasa kekecewaan nya lagi. Sehingga tanpa sadar dia menangis.
"Ya ampun, nyonya kenapa?" tanya Budi kaget melihat Katerina tiba-tiba keluar dengan berlinang air mata.
Katerina menggeleng, menahan isak tangis. "Aku tidak apa-apa, Budi. Ayo kita pulang." ujarnya setelah itu langsung masuk ke dalam mobil.
"Baik, nyonya." Setelah itu Budi juga masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan pulang Katerina hanya menangis tanpa suara. Ia menutup mulutnya sambil mengigit bibirnya agar isak tangisnya tak keluar. Meskipun begitu air matanya terus mengalir dengan deras. Budi yang melihatnya tak tega.
"Apa yang terjadi sampai nyonya menangis seperti ini? Apa nona, Maya yang membuat nyonya menangis?" tanya Budi dalam hatinya. Jujur saja dia tak pernah melihat Katerina serapuh ini. Ingin sekali Budi bertanya tapi sayangnya dia tidak bisa.
Bersambung 😎
______________________________________________
Maaf ya guys otor lama update nya karena sibuk bgt
otor kuliah dari pagi sampe sore jadi ga sempet nulis huhuhu
pas pulang langsung kecapean 😭😭😭🙏🙏
Makasih buat kalian yang selalu nungguin cerita ini update 🤗
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE NYA DUNG 😇😇😇
^^^Coretan Senja ✍️^^^