
Maya mondar-mandir di depan tv, sambil sesekali memakan cemilan yang ada di atas meja. Saat ini Maya dilanda kegundahan karena memikirkan, apakah dirinya harus memberitahukan pada Erland mengenai pernikahan Katerina?
Maya hanya takut jika memberitahu pada Erland, pria tua itu akan terkena serangan jantung karena terkejut.
Maya mendudukkan pantatnya di sofa. "Astaga..apa yang harus kulakukan? Apa aku harus memberitahu tuan Erland kalau cucunya akan menikah? Tapi aku takut kalau ku beritahu tuan Erland akan terkena serangan jantung mendadak. Bagaimana ini? Oh tuhan bantulah aku." gumam Maya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Tapi jika tidak ku beritahu tuan akan marah besar. Astaga aku bingung harus bagaimana." lirih Maya pusing sendiri memikirkan kegundahan hatinya.
Maya terus minum dan memakan cemilan sampai tidak sadar kalau cemilan itu habis. Maya jika sedang pusing suka makan cemilan itulah kebiasaannya. Maya berdiri terus duduk lagi, berkali-kali dia melakukan itu dia karena saking tidak tenangnya Maya memikirkan ini semua.
"Maya, kau kenapa?" tanya Katerina baru keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan tidak sengaja melihat sahabatnya yang terus mondar-mandir tidak jelas.
Maya tersentak kaget mendapati sahabatnya yang tengah berdiri menatapnya.
"Em...aku tidak apa, Kate." jawabnya bohong.
"Tidak usah berbohong Maya, aku tahu kau lagi pusing. Apa yang kau pikirkan?" tanya Katerina to the poin.
"Aku tidak bohong Kate, aku tidak memikirkan apa-apa." jawab Maya tersenyum.
"Maya, aku sangat mengenalmu. Jika kau sedang tidak memikirkan apa-apa, lantas kenapa kau memakan cemilan itu sampai habis tak bersisa? kau kan sedang diet Maya!" ungkap Katerina sangat mengenal sahabatnya.
Maya terdiam tidak berkutik, Katerina selalu tahu apapun tentangnya. Tapi Maya tidak mungkin memberitahukan pada Katerina tentang apa yang dia pikirkan.
"Maya, duduklah dulu. Ceritakan semuanya padaku. Apa yang kau pikirkan? Apa kau punya masalah? katakan padaku!" seru Katerina menundukkan Maya disofa, meraih tangannya lalu menatap sahabatnya.
Maya menghela nafas berat, menatap Katerina dan menggenggam tangannya.
"Kate, sebenarnya aku dipecat dari perusahaan." ungkap Maya. Hanya itu yang terlintas di kepala nya agar Katerina tidak curiga padanya.
"What? Are you seriously?" pekik Katerina terkejut bukan main.
Maya mengangguk "Iya, Kate."
"Why, Maya?" tanya Katerina.
"Ya karena aku menghina, Olivia." jawabnya santai.
"Hah?" rahang Katerina jatuh. Mengedipkan matanya berkali-kali tidak percaya Maya berkata sesantai itu.
"Aku datang ke perusahaan dan aku mendengar jika kau dipecat. Para karyawan menggibah mu dan aku sangat tidak suka mendengarnya."
"Kau tau Kate, aku sangat marah saat melihat Olivia bergandengan tangan dengan Rei begitu mesra, mereka bahagia di atas penderitaan mu. Jadi, aku menghina Olivia dan ya kau tahu ayahmu itu sangat tidak suka jika putri tercintanya dihina oleh orang lain, hingga akhirnya aku dipecat." ungkap Maya menceritakan semuanya.
Katerina terdiam, kepalanya menunduk. Katerina merasa bersalah kepada Maya karena permasalahan dirinya Maya harus terkena dampaknya bahkan sampai di pecat. Inilah alasan mengapa Katerina sangat tidak ingin melibatkan Maya dalam permasalahan rumit yang sedang dihadapinya. Katerina hanya takut semua itu akan berimbas dengan kehidupan Maya dan benar saja sekarang Maya dipecat.
"Hei Kate, kau kenapa?" tanya Maya khawatir melihat Katerina menitikkan air mata.
"Maya, aku minta maaf karena masalahku kau jadi dipecat. Seharusnya kau tidak perlu menghina Olivia. Jika begini aku semakin merasa bersalah padamu, Maya." lirih Katerina terdengar sendu menahan tangis agar tidak pecah.
"Astaga Kate, kenapa kau jadi minta maaf? Kau tidak salah sama sekali. Wanita ular seperti Olivia memang pantas dihina dan mulutku terasa sangat gatal jika tidak menghina nya." tukas Maya.
"Tapi karena itu kau jadi dipecat, Maya." sarkas Katerina.
"Kau tenang saja, aku bisa melamar pekerjaan di perusahaan lain. Kan masih banyak perusahaan yang lebih besar daripada perusahaan Cristopher. Kau tidak usah khawatir, Kate." seru Maya menggenggam tangan sahabatnya.
"Maya, aku tahu mencari pekerjaan itu tidak mudah. Bagaimana bisa kau mendapatkan pekerjaan dalam waktu dekat? Bukankah kau harus mengirim uang untuk orang tuamu mu yang ada di kampung? jika kau tidak bekerja, bagaimana bisa kau mengirim uang untuk mereka?" ucap Katerina.
"Kate, soal orang tuaku kau tidak perlu memikirkan nya. Aku yakin aku pasti akan mendapatkan pekerjaan, kau tenang saja. Bukankah rezeki sudah diatur, apa yang perlu dikhawatirkan?"
"Sekarang yang harus kau pikirkan adalah kebahagiaan mu. Sudah terlalu lama kau menderita, kau berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dan untuk masalahku kau tidak perlu memikirkannya."
"Tapi Maya..."
"Sudah Kate, sekarang aku ingin kau fokus untuk pernikahan mu dan jangan pikirkan apapun selain itu. Aku ingin sahabatku ini selalu bahagia." pinta Maya tersenyum.
"Thanks, Maya." Katerina memeluk sahabatnya dengan erat sambil memejamkan mata. Merasa bahagia memiliki sahabat baik seperti Maya.
"Sama-sama, Kate." Maya membalas pelukan sahabatnya.
"Oh iya Kate, kau ingin ke mana? mengapa berpakaian rapi seperti ini?" tanya Maya baru menyadari.
Katerina menepuk jidatnya "Astaga, aku sampai lupa, aku ingin pergi."
"Pergi ke mana?"
"Tadi tante Zahra menelepon ku dan menyuruhku untuk datang ke mansion, katanya untuk membahas pernikahan."
"Apa aku boleh ikut?" pinta Maya tiba-tiba.
Alis Katerina bertautan "Kau ingin ikut? untuk apa?" tanya Katerina bingung tiba-tiba Maya ingin ikut dengannya.
Maya berpikir sejenak mencari alasan yang tepat agar dirinya bisa ikut. Maya ingin bertemu langsung dengan keluarga Brawitama untuk memastikan langsung tujuan mereka ingin menikahi Katerina.
"Maya?" panggil Katerina.
Maya tersentak "Ah ya, aku bosan jika terus di apartemen sendirian. Lagipula, aku juga ingin bertemu dengan calon ibu mertua mu Kate, tidak apa kan??"
Katerina tersenyum "Baiklah, jika itu maumu, sekalian nanti aku akan memperkenalkan mu dengan mereka."
"Ya sudah, aku bersiap-siap dulu." seru Maya beranjak dari duduknya lalu masuk kedalam kamarnya.
Katerina menunggu dengan sabarnya. Akhirnya lima belas menit berlalu Maya pun keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan sopan.
Bersamaan dengan itu terdengar suara bel, dengan cepat Katerina membukakan pintu. Begitu pintu terbuka terlihatlah sosok pria bertubuh tinggi dengan setelan jas hitam. Sesaat Katerina nampak terpesona melihat ketampanan Zyano hingga suara deheman membuatnya tersadar.
"Hallo, nona." sapa Dave ramah.
"Hallo juga, tuan." balas Katerina.
"Kau sudah siap Kate??" tanya Zyano dengan suara berat.
"Sudah, Zyan." jawabnya tersenyum.
"Kate...siapa yang datang??" teriak Maya bergegas menghampiri Katerina yang berdiri didepan pintu.
"Siapa mereka, Kate??" tanya Maya asing melihat wajah kedua pria tampan yang ada dihadapannya saat ini. Maya menatap intens keduanya dari atas sampai bawah. Maya dapat mengetahui kalau kedua pria itu bukan pria sembarangan karena jas yang dipakainya dari merek ternama.
"Maya, kenalkan dia Zyano dan tuan Dave." ucap Katerina memberitahu Maya.
"Dan tuan Dave, Zyano. Ini Maya sahabat saya." kata Katerina memperkenalkan Maya kepada Zyano dan Dave.
__ADS_1
"Hallo tuan, saya Maya." sapa Maya ramah.
Zyano hanya diam tidak membalas sapaan Maya bahkan menatapnya saja tidak.
"Cih, pria ini sangat sombong." batin Maya berdecih.
"Ayo Kate, mom sudah menunggu." ajak Zyano menarik tangan Katerina.
"Tunggu, tuan." tahan Katerina.
"Kenapa?" Zyano mengerutkan keningnya.
"Begini tuan, apa sahabat saya boleh ikut?" tanya Katerina hati-hati.
"Tidak boleh." jawabnya singkat padat dan jelas.
Maya tercengang, tidak percaya Zyano tidak mengijinkannya untuk ikut. Begitupun dengan Katerina. Ia tidak menyangka Zyano akan langsung menolaknya.
"Kenapa saya tidak boleh ikut tuan?" tanya Maya protes.
"Kau tidak berhak untuk ikut dan kau juga tidak memiliki keperluan untuk ikut bersama kami." jawab Zyano sangat menohok.
"Ayo, Kate." Zyano menarik tangan Katerina tetapi Maya menahan sebelah tangan Katerina. Hingga kini posisi Katerina berada ditengah-tengah.
"Lepaskan tangannya, kami harus pergi." tukas Zyano.
"Tidak. Jika aku tidak bisa ikut, maka Katerina juga tidak boleh pergi. Aku tidak mempercayai pria sepertimu tuan, bisa saja kau berbuat jahat pada sahabatku. Aku harus memastikan Katerina aman dari kalian!" tegas Maya.
"Kau ini bicara apa hah! mana mungkin aku berbuat jahat dengan calon istriku sendiri. Cepat lepaskan tanganmu darinya!" sarkas Zyano kesal.
"Tidak akan pernah! Saya tidak percaya dengan anda. Kemanapun Katerina pergi harus bersama saya, jika tidak maka Katerina tidak boleh pergi titik!" seru Maya tak terbantahkan.
"Dasar wanita keras kepala." Zyano menggertak giginya menahan amarah.
"Dave." Zyano memberikan kode pada Dave
Dave mengangguk paham lalu menghampiri Maya. Dave melepaskan tangan Maya dari Katerina dan menahannya. Maya memberontak dan merintih kesakitan.
"Lepaskan brengsek." ucap Maya memberontak mencoba melepaskan diri. Tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan Dave.
"Ayo, Kate." ajak Zyano menarik tangan Katerina.
Katerina tidak tega melihat Maya yang kesakitan karena ditahan oleh Dave. Belum jauh mereka berjalan Katerina menghempaskan tangan Zyano dengan kasar lalu berlari menghampiri Maya.
"Lepaskan Maya, Dave!" perintah Katerina dingin.
Dengan refleks Dave melepaskan tangan Maya karena mendengar perkataan Katerina yang begitu dingin. Jujur saja Dave terkejut, sebab Katerina sering berbicara dengan ramah tapi tadi begitu dingin.
"Maya, kau tidak apa kan?" tanya Katerina khawatir.
"Tanganku sakit, Kate." jawab Maya.
Katerina meraih tangan Maya dan matanya langsung melotot saat mendapati tangan Maya memar.
"Astaga, tanganmu memar Maya." seru Katerina.
"Pantas saja terasa sakit." balas Maya meringis.
Katerina berdiri dan menatap Zyano dengan datar. Entah keberanian dari mana Katerina bisa menatap Zyano seperti itu.
"Apa kau tidak bisa melihat? tangan sahabatku sedang terluka dan itu semua karena asisten mu!" ucap Katerina.
"Itu bukan karena Dave tapi karena dia sendiri yang menghalangi kita pergi!" balas Zyano membantah ucapan Katerina.
"Aku tahu, tapi tidak seharusnya kau menyuruh asisten mu untuk bersikap kasar dengan sahabatku. Aku sangat membenci pria yang bersikap kasar dengan wanita. Aku pikir kau berbeda tapi ternyata sama saja!" tegas Katerina dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu mengatakan jika aku sama? apa kau sedang merendahkan ku?" sarkas Zyano mencengkram tangan Katerina, sorot mata nya tajam dan penuh intimidasi.
"Lepaskan!" bentak Katerina menghempaskan cengkraman tangan Zyano dengan kasar.
"Lihatlah, sifat aslimu keluar dan itu menandakan jika kau sering bersikap kasar dengan seorang wanita!" tukas Katerina marah.
"Dengar tuan Zyano, aku bisa saja berpikir ulang untuk menerima perjodohan ini. Melihat sikapmu yang kasar membuat hatiku sedikit ragu. Kau saja bersikap kasar dengan sahabatku, lalu bagaimana denganku nanti? bisa saja setelah menikah denganmu, kau akan memperlakukan ku lebih kasar dari apa yang kubayangkan."
"Maaf, aku tidak bisa pergi dengan mu. Aku permisi." pamitnya berbalik badan. meninggalkan Zyano dan membantu Maya, masuk kembali ke apartemennya.
"Arghhhhh, sial." umpat Zyano, memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut pusing.
"Tuan, anda tidak apa?" tanya Dave menghampiri Zyano terlihat frustasi.
Zyano tidak menggubris pertanyaan Dave. Zyano mendudukkan pantatnya di kursi depan kamar apartemen Maya. Zyano meremas kepalanya merasa kesal, tidak bisa menahan diri. Zyano meruntuki kebodohannya.
Zyano teringat dengan ucapan Katerina tentang mempertimbangkan ulang pernikahan ini membuat Zyano semakin marah dan frustasi. Zyano sangat takut kalau Katerina akan membatalkan pernikahan mereka yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Zyano tidak ingin hal itu terjadi.
"Kenapa aku sangat takut jika Katerina membatalkan pernikahan ini. Apa yang terjadi denganku?" tanya Zyano dalam hatinya.
*****
Dalam Apartemen Katerina memapah Maya lalu mendudukkannya di sofa. Setelah itu Katerina bergegas mengambil baskom yang berisi air dingin + es batu untuk mengompres luka memar pada tangan Maya. Katerina dengan telaten nya mengompres tangan Maya.
"Kate, apa kau marah?" tanya Maya.
Aktivitas Katerina terhenti sejenak lalu menatap Maya sambil tersenyum.
"Tidak Maya. Aku tidak marah hanya saja aku tidak suka jika dia bersikap kasar padamu." jawab Katerina.
"Lalu, apa kau juga serius dengan ucapan mu tadi Kate?"
"Ucapan yang mana?" Katerina tidak ingat.
"Soal kau akan mempertimbangkan kembali untuk pernikahan kalian. Kate, aku tidak ingin pernikahan kalian batal hanya karena masalah sepele seperti ini." ungkap Maya tidak enak hati.
"Kau tenang saja Maya, soal ucapanku yang tadi itu hanya mengancamnya saja. Aku tidak serius." tutur Katerina tersenyum menampilkan giginya yang tertata rapi dan bersih.
"Syukurlah, kalau begitu." lirih Maya bernafas lega.
Katerina melanjutkan aktivitasnya kembali. Ia mengolesi tangan Maya dengan salep dingin supaya memarnya tidak sakit lagi. Setelah selesai Katerina meletakkan semua peralatan yang dipakainya tadi ke tempat semula.
"Kate, apa kau tidak jadi pergi ke tempat calon ibu mertuamu?" tanya Maya menyandarkan punggung belakang di Back Pillows.
Langkah Katerina terhenti "Ah ya kau benar, pasti tante Zahra sudah menungguku sangat lama. Aku akan tetap pergi tapi naik taksi saja. Apa kau mau ikut, Maya?" tanya Katerina menatap sahabatnya.
__ADS_1
"Apa boleh?" mata Maya langsung berbinar saat Katerina menawarinya untuk ikut.
"Tentu saja boleh. Ya sudah sebaiknya kita cepat pergi." ajak Katerina mengambil tasnya yang ada di meja.
"Ayo." Maya sangat bersemangat.
Begitu keluar Katerina sangat terkejut mendapati Zyano sedang berdiri tegak didepan pintu. Mata mereka bertemu sesaat tetapi dengan cepat Katerina langsung memutus kontak mata dengan Zyano.
"Kate.." lirih Zyano.
"Kenapa kau masih ada di sini?" tanya Katerina dengan nada ketus.
"Tentu saja untuk menunggumu. Kita harus menemui mom bersama." jawab Zyano.
"Tidak perlu! Aku bisa naik taksi. Ayo, Maya." ajak Katerina menolak Zyano mentah-mentah.
"Tunggu, Kate." Zyano menahan tangan Katerina.
"Apa lagi hah?!"
"Kate. Jangan kekanak-kanakan, kau marah tanpa alasan." tukas Zyano.
"Kau bilang apa tadi? aku kekanak-kanakan? kau yang kekanak-kanakan Zyan! Aku sudah bilang bukan? Aku tidak suka pria yang kasar. Kau harus tahu itu!" tegas Katerina dengan tatapan tajam.
"Lihatlah, bahkan kau tidak menyadari apa kesalahan mu. Pria sejati pasti mengakui kesalahannya tapi kau seakan tidak merasa bersalah. Ah sudahlah, aku lelah berdebat dengan mu. Kau kau tidak akan mengerti." seru Katerina lelah dan tak ingin berdebat.
"Baiklah."
"Baiklah, apa?" Kening Katerina mengerut.
Zyano berusaha keras menahan gengsinya yang amat tinggi. Mulutnya terasa sangat sulit untuk mengatakan kata Maaf. Dalam kamus besar kehidupan Zyano tidak pernah terpikirkan olehnya untuk meminta maaf karena baginya apa yang dia lakukan selalu benar.
"Maaf." ucapnya pelan tapi masih dapat terdengar jelas ditelinga Katerina.
"Hah, kau bilang apa?" tanya Katerina sekali lagi ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
"Aku minta maaf soal tadi." jawabnya sedikit meninggikan suaranya.
Dave terperangah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tuannya meminta maaf? selama bertahun-tahun Dave bekerja dengan Zyano tidak pernah sekalipun Dave mendengar kata maaf keluar dari mulut Zyano. Tapi hari ini dia dapat mendengarnya langsung.
Zyano pria yang sangat arrogant, untuk mengucapkan kata maaf Zyano berpikir seribu kali. Hanya empat huruf tapi itu sudah meruntuhkan gengsi Zyano. Tapi, demi Katerina Zyano rela melakukannya.
Tidak hanya Dave saja bahkan Katerina dan Maya juga sama terkejutnya dengan Dave. Tapi Katerina berusaha bersikap biasa saja.
"Kenapa minta maaf denganku? Seharusnya kau minta maaf dengan sahabatku karena kau bersikap kasar padanya!" ungkap Katerina.
Zyano tercengang, tidak mungkin dirinya meminta maaf pada Maya. Cukup sekali dia mengatakan itu dan ini terakhir kalinya. Jika dengan Katerina tidak apa, tapi jika dengan Maya. Maaf Zyano tidak bisa mengatakan kata itu.
"Kenapa diam? tidak mau minta maaf?" tanya Katerina sudah tahu Zyano tidak akan mau meminta maaf pada Maya. Gengsinya itu loh tinggi.
"Jangan melampaui batas kesabaran ku, Kate." peringati Zyano memasang wajah datar.
"Apa begitu sulitnya untuk mu meminta maaf Zyan? kenapa kau tidak bisa menurunkan sedikit saja gengsi mu itu. Apa salahnya minta maaf hah!" tutur Katerina tidak habis pikir.
"Kau tidak akan mengerti, Kate." sarkas Zyano.
"Baiklah, makan saja gengsi mu itu sampai kenyang. Aku tidak mau pergi dengan pria yang tidak mau minta maaf!" tegas Katerina berbalik dan menarik tangan Maya pergi meninggalkan Zyano.
Belum jauh Katerina berjalan, tubuhnya tiba-tiba terangkat karena Zyano mengangkatnya secara paksa lalu memikul tubuhnya seperti karung beras. Katerina terlonjak kaget begitupun Maya.
"Zyan, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" pekik Katerina memberontak sekuat tenaga sambil memukul-mukul punggung belakang Zyano agar pria itu melepaskannya. Tapi Zyano tidak menggubrisnya.
"Astaga, tuan turunkan sahabatku." seru Maya cemas.
"Diamlah jika kau ingin ikut!" bentak Zyano seketika membuat Maya bungkam.
"Zyan, ku mohon turunkan aku!" pinta Katerina menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu dilihat banyak orang.
"Diam Kate, atau kau akan dilihat banyak orang." tukas Zyano.
Begitu sampai di lobi, Dave dengan cekatan membukakan pintu mobil lalu Zyano memasukkan Katerina kedalam mobil. Zyano duduk di kursi belakang bersama Katerina sedangkan Maya duduk di kursi depan bersama Dave yang menyetir mobil.
"Zyan, kau benar-benar sengaja membuatku malu hah!" imbuh Katerina ketus.
"Jangan salahkan aku jika melakukan itu Kate. Kau yang memancing kesabaran ku lebih dulu." sarkas Zyano datar.
"Kau menyalahkan ku? aku hanya ingin pergi bersama sahabat ku. Apa salahnya Zyan!" ucap Katerina meninggikan suaranya.
Zyano menghela nafas "Baiklah, kau benar dan aku yang salah. Jika begitu Aku minta maaf karena sudah bersikap kasar dengan temanmu. Sudah cukup bukan? masalah selesai!" ucap Zyano memilih mengalah daripada terus berdebat yang tak berujung pada Katerina.
"Oke masalah selesai, jika dari tadi kau seperti itu maka kita tidak perlu berdebat, Zyan." balas Katerina tersenyum menang sambil bersindekap dada. Misinya untuk membuat Zyano meminta maaf telah berhasil.
"Hah?" Zyano tercengang dibuatnya, tidak percaya dengan kata maaf saja Katerina sudah tidak marah lagi. Ini ajaib.
Maya mengulum senyum "Tuan, anda tidak perlu heran begitu, kalian para lelaki ingatlah satu hal ini. Wanita selalu benar dan pria selalu salah! entah sekalipun kalian benar kalian para lelaki harus tetap mengatakan jika kalian salah. Jika kalian tetep bersikeras maka bersiaplah tidak akan ada perdamaian." sahut Maya dan dijawab anggukkan oleh Katerina.
Zyano tersenyum kecut "Ini konyol." gumam Zyano.
"Ya itulah faktanya tuan. Wanita selalu ingin dimengerti dan kalian para lelaki harus mengerti akan hal itu. Tapi jangan salah tuan, kami para wanita juga akan meminta maaf jika kami merasa bersalah, tapi jika tidak ya tidak akan hahaha." ungkap Maya tertawa receh.
"Dan tuan, anda juga harus tahu kami para wanita tidak suka dibentak. Para wanita itu kodrat nya diciptakan dari tulang rusuk yang artinya lemah lembut tidak menyukai sifat kasar. Jika melawan dengan kekerasan maka tidak akan ada ujungnya, jadi lebih baik mengalah agar tercipta perdamaian sesama pasangan suami-istri. Itu saran saya tuan." lanjut Maya memberitahukan.
"Hm, kau benar Maya." sahut Katerina sangat setuju.
Zyano berdecih "Cih, wanita makhluk yang aneh."
"Aneh tapi nyata tuan." sambung Maya terkekeh.
Bersambung 😎
______________________________________________
Aneh tapi nanti bucin kan Zyano?☺️
Zyano gengsinya tinggi banget 🤧
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN DAN SHARE CERITA INI YA GUYS!!
TERIMA GAJIH 💰💰💰
^^^Coretan Senja ✍️^^^
__ADS_1