
Di dalam mobil tidak ada pembicaraan apapun. Suasananya begitu dingin sampai membuat supir pribadi Zyano merasa tak nyaman. Meskipun pasutri itu duduk berdua di belakang tapi Katerina terlihat menjaga jarak dari suaminya itu.
Katerina hanya diam menatap keluar jendela. Sementara Zyano bingung harus mengatakan apa. Ia mencoba mendekati Katerina dengan cara menggeser pantatnya akan tetapi istrinya itu justru malah menjauh.
Zyano berdecak. "Sayang, apa kau marah?" tanyanya tak tahan lagi kalau harus berdiaman dengan sang istri.
"Tidak." jawab Katerina singkat dengan wajah datar.
"Lantas, kenapa kau tidak berbicara sama sekali?"
"Aku hanya tidak ingin bicara."
"Tapi sayang....."
"Maaf, tuan, nyonya kita sudah sampai." ujar supir itu menyela pembicaraan. Mereka akhirnya sampai di sebuah mall.
"Hm, ayo kita turun." ucap Katerina langsung turun tanpa menunggu suaminya.
Begitu keluar dari mobil semua tatapan mata langsung tertuju kepada Katerina. Bagaimana tidak? Tanda kiss mark yang tercetak jelas di leher Katerina membuat semua orang jadi salah fokus.
"Tunggu, Kate."
Langkah Katerina terhenti sebab Zyano menahan pergelangan tangannya.
"Apa lagi?" tanyanya datar.
"Pakailah ini, Kate." ujar Zyano langsung memasangkan jas hitam miliknya supaya menutupi tanda kiss mark tadi.
Tapi Katerina menolaknya. "Tidak perlu. Bukankah ini yang hubby inginkan?"
"Tidak! Bukan begitu maksudku sayang."
"Lalu, apa?!" tanya Katerina sedikit membentak. Habis sudah batas kesabaran yang ditahannya dari tadi.
Zyano menghela nafas berat. "Baiklah, aku mengaku salah. Aku minta maaf sayang tapi sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk mempermalukan mu seperti ini."
"Aku tidak malu, Zyan!" bantah nya.
"Oh ayolah, Kate. Jangan seperti ini. Ku mohon sayang. Aku benar-benar minta maaf." ujar Zyano mencoba membujuk Katerina. Ia bahkan menarik Katerina dalam pelukannya. Tapi Katerina justru tak bergeming sama sekali.
"Pakai ini oke?"
Katerina hanya diam membiarkan suaminya itu memasangkan jas ke tubuhnya. Setidaknya itu menutupi sedikit tanda kiss mark di lehernya.
"Sudah, ayo pergi." ajak Zyano mengulurkan tangannya. Tapi Katerina justru tak menghiraukan nya. Ia malah langsung pergi. Melihat sikap cuek istrinya membuat Zyano hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Sayang tunggu." Zyano bergegas menyusul istrinya.
Katerina masuk di sebuah toko tas. Ia hendak membeli tas yang baru.Saat Katerina sedang memilih beberapa tas Zyano memutuskan untuk duduk di sofa yang tersedia.
"Dua-duanya bagus. Mana yang harus ku pilih?" gumam Katerina bingung ada dua tas yang menarik dimatanya. Akan tetapi dia bingung harus memilih yang mana.
"Hubby." panggil Katerina.
"Ya sayang?"
"Em.... tidak jadi." Katerina mengurungkan niatnya untuk meminta pendapat suaminya itu. Ia hampir saja lupa kalau dirinya sedang marah.
"Loh, kenapa tidak jadi?"
"Tidak apa-apa." jawabnya dingin.
"Oh, aku tau. Apa kau sedang bingung memilih tas yang mana?"
"Hm."
"Tidak perlu banyak berpikir sayang. Kalau kau memang menyukainya maka belilah keduanya. Simpel bukan?"
Katerina berdecak. "Boros."
"Hah?" Zyano tercengang mendengarnya.
__ADS_1
Katerina meletakkan tas yang satunya dan pergi ke kasir. Ia memutuskan untuk membeli tas yang berwarna putih saja.
"Please pack this bag, miss." pinta Katerina seraya memberikan kartu ATM miliknya.
"All right, wait a minute, miss." ucap kasir tersebut.
"Kenapa kau tidak memakai kartu yang aku berikan padamu sayang?" protes Zyano.
"Ini kan kebutuhan ku. Jadi, biar aku saja yang bayar. Tidak perlu harus mengeluarkan uang mu. Lagipula aku juga masih mampu membayar nya." ujar Katerina.
"Tapi sayang."
"Sudahlah hubby. Aku tidak ingin berdebat dengan mu."
Zyano menghembuskan nafas gusar. Ia mengusap wajahnya kasar. Zyano tidak tahu harus bagaimana lagi supaya istrinya itu tidak marah padanya. Ia benar-benar kehabisan kata-kata dengan sikap Katerina yang dingin kepadanya.
"I'm sorry, miss, the balance is not enough. (Maaf, nona. Saldonya tidak cukup)" ujar kasir itu.
"What? How could that be?"
"Sorry, miss. The price of this bag is 300 million. While your balance is only 150 million left. (Maaf, nona. Harga tas ini 300 juta. Sedangkan saldo anda hanya tersisa 150 juta)."
Katerina shock mendengar nya. "What? 300 million? Why is it so expensive? (Apa? 300 juta? Mengapa harganya sangat mahal?)" protesnya.
"Sorry, miss. This bag is the latest release and limited edition. (Maaf, nona. ini merupakan tas keluaran terbaru dan limited edition)."
"Then i don't (Kalau begitu saya tidak...." belum sempat Katerina berucap Zyano langsung memotong nya.
"Just use this card! (Pakai kartu ini saja!)" ujar Zyano langsung menyodorkan black card miliknya.
"Yes sir. Please wait a moment. (Baik, tuan. Mohon tunggu sebentar)." ucap kasir tersebut.
Katerina menatap protes kepada suaminya. "Hubby, kenapa kau malah membayar nya? Tas itu sangat mahal!"
"Biarkan saja sayang. Itu bukan masalah besar untukku."
"Tapi..."
Katerina mendengus kesal dan memalingkan wajahnya. Bukan apa-apa tadi dia menolak tawaran Zyano untuk memakai kartu nya karena merasa mampu. Akan tetapi justru kenyataannya sekarang malah Zyano yang membayarnya. Hal itu tentu saja membuat Katerina merasa malu.
"Here, sir, your card. Thank you for shopping at our store. (Ini, tuan kartu anda. Terima kasih telah berbelanja di toko kami)."
"Hm."
"Ayo sayang."
Setelah dari toko tas tadi. Katerina terus saja diam. Ia merasa tidak punya muka lagi di depan Zyano.
"Sayang, kau ingin belanja apa lagi? Baju? Sepatu atau perhiasan?" tanya Zyano menawarkan.
"Tidak ada lagi. Aku ingin pulang saja."
"Loh, kenapa? Kita baru saja sampai."
"Tidak apa-apa. Aku tidak ingin membeli apapun tapi kalau hubby ingin beli sesuatu ayo." ujar Katerina.
"Sayang, kau ini kenapa sih? Apa kau masih marah?"
"Marah? Kenapa aku harus marah?" bukannya menjawab Katerina malah balik bertanya.
"Kalau kau tidak marah lalu kenapa sikapmu sangat dingin, Kate? Apa kau pikir aku tidak merasa hah?!"
"Hubby terlalu banyak berpikir. Aku hanya sedang tidak mood."
"Tidak mood kenapa?"
"Aku juga tidak tahu." jawabnya santai.
"Oh, astaga." Zyano memutar bola matanya jenuh.
"Kenapa? Hubby mau beli sesuatu?"
__ADS_1
Zyano menghembuskan nafas panjang. Ia membalikkan tubuh Katerina agar menatapnya.
"Sayang, aku mengajakmu ke sini agar kau bisa berbelanja sepuasnya. Tapi kalau kau tidak mood seperti ini aku jadi merasa bersalah."
"Kenapa hubby merasa bersalah? Memangnya hubby melakukan apa?" tanya Katerina sengaja.
"Kate, aku tau kau masih marah soal kiss mark itu. Aku sungguh minta maaf. Kalau aku tau pada akhirnya kau akan marah begini aku tidak akan melakukan itu sayang." ujar Zyano merasa putus asa di abaikan oleh istrinya.
"Aku tidak marah hubby!"
"Lalu?"
Katerina membuang muka. "Aku hanya kesal saja."
"Apa bedanya itu sayang? Pada akhirnya kau tetap mengabaikan kan ku bukan?"
"Tentu saja berbeda. Kalau aku marah aku tidak mungkin mau bicara dengan hubby!" tegasnya.
Zyano menghela nafas. "Baiklah, lalu sekarang kau maunya apa sayang?" tanya Zyano berusaha bersabar.
"Aku juga tidak tahu."
"Astaga, Kate. Jangan membuat ku tambah bingung."
"Aku hanya ingin pulang hubby."
"Kau yakin?"
"Hm."
"Baiklah, tapi sebelum itu kita makan dulu."
Katerina hanya mengangguk dan pasrah mengikuti kemanapun Zyano membawanya pergi. Tapi sebelum pulang mereka mampir dulu di restoran.
"Kau ingin makan apa sayang?" tanya Zyano.
"Aku tidak lapar."
Kruk kruk
Suara mulut dan perut Katerina berlainan. Zyano yang mendengarnya hanya bisa mengulum senyum. Katerina jadi malu sendiri.
"Kau yakin tidak ingin memesan makanan sayang?"
"Ish, ya sudah kalau hubby memaksa. Sini buku menu nya." ujar Katerina merebut buku menunya dari tangan Zyano. Ia menutupi wajahnya karena merasa sangat malu. Mengapa perutnya harus berbunyi disaat yang tidak tepat begini sih.
Setelah itu Zyano memanggil pelayan untuk mencatat semua pesanan nya. Sambil menunggu Katerina membuka ponselnya. Ia tidak sanggup harus bertatap muka dengan Zyano karena sangat malu.
Sementara Zyano tak pernah melepaskan pandangannya dari Katerina. Meskipun sedang kesal istrinya itu tetap terlihat cantik. Tatapannya terkunci di leher Katerina yang dimana terdapat kiss mark yang dibuat nya. Sebenarnya Zyano tak berniat membuat istrinya marah. Zyano hanya tak suka miliknya di lihat orang lain.
"Kenapa hubby menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Katerina.
"Tidak ada."
"Lalu, kenapa hubby tersenyum begitu menatapku."
"Aku hanya terpesona melihat kecantikan istriku."
Katerina tersipu malu mendengar pujian Zyano. Ia memalingkan wajahnya karena gugup. Hanya mendengar Zyano memujinya saja Katerina sudah sangat bahagia.
"Loh, Zyano?" sapa seorang wanita tiba-tiba menghampiri meja mereka.
Bersambung π
______________________________________________
Adohhhhhh siapa lagi nih????
Jangan lupa like nyaa dongππ
^^^Coretan Senja βοΈ^^^
__ADS_1