Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
S2 : EPISODE 129


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak Zyano mencabut tuntutannya akhirnya Andi resmi dibebaskan dari penjara. Walaupun kondisi Andi masih belum pulih total akibat perkelahian nya waktu itu tapi dia sudah bisa menjalankan aktivitas nya seperti biasa. Dan hari ini saat kepulangannya Andi langsung di sambut hangat oleh Sera dan juga Olivia. Mereka berdua yang menjemput Andi dari penjara.


"Ayah, aku sangat merindukanmu." Olivia langsung berlari dan memeluk Andi saat melihat nya keluar.


Andi sedikit meringis, menahan perih. Rasa sakit di tubuhnya masih ada tapi sebisa mungkin dia sembunyikan, sebab tak ingin membuat Olivia khawatir. "Ayah juga merindukan mu, Olivia." ujar Andi mengusap-usap punggung belakang putrinya penuh kasih sayang. Andi pun juga sama rindunya dengan Olivia. Mereka sudah lama tak bertemu. Kebahagiaan Andi bertambah karena istri dan putrinya sendiri yang menjemputnya untuk pulang.


"Mas, aku senang melihat mu bebas dari penjara." ujar Sera ikut bahagia.


Andi menoleh ke arah Sera dan kemudian tersenyum. "Kemarilah, Sera." Andi meminta istrinya mendekat.


Sera tampak ragu tapi dia tetap menuruti keinginan suaminya. Begitu Sera mendekat, Andi langsung menarik dan memeluknya. Sera cukup terkejut tapi dia tak menolaknya. Kini, mereka bertiga saling berpelukan untuk menyalurkan perasaan bahagia. Ketiganya terlihat seperti keluarga yang harmonis. Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang ke kediaman Christopher.


*


*


Sementara itu di perusahan Alberto tampak saat ini Rei tengah sibuk berkutik dengan berbagai berkas. Ada proyek besar yang sedang dia jalankan.


Tok tok tok


Terdengar ketukan pintu dari luar.


"Masuk." ternyata asistennya Angga.


"Maaf tuan, ini berkas kerja sama dengan PT Jaya Sentosa. Tolong tandatangani."


"Ah, iya hampir saja aku lupa." Tanpa banyak komentar Rei langsung membubuhi tanda tangannya. Dan kemudian memberikannya kembali kepada Angga. Tapi asistennya itu tidak langsung pergi begitu saja.


"Tuan, ada yang ingin saya beritahu."


"Yah, katakan saja, Angga." Rei berucap tanpa menoleh ke arah asistennya.


"Saya mendapat kabar kalau tuan, Andi sudah di bebaskan tuan." ungkap Angga mengejutkan Rei.


"Apa?"


BRAK


Pintu terbuka dengan kasar, mengalihkan perhatian Rei dan Angga. Di depan pintu ternyata sudah ada Olivia beserta sekretaris nya saling tarik menarik.


"Lepaskan! Aku ingin bertemu dengan, Rei."


"Nona, Olivia tolong jangan membuat keributan." pinta sekretaris itu menarik pergelangan tangan Olivia agar keluar. Tapi Olivia terus memberontak tidak mau.


"Ada apa ini?" tanya Rei berjalan menghampiri keduanya.


"Maaf tuan, nona Olivia memaksa untuk masuk padahal saya sudah melarangnya." jawab sekretaris itu apa adanya.


"Memangnya kenapa aku tidak boleh masuk? Aku ini kekasih bos mu dan sebentar lagi akan menjadi istrinya. Apa begini caramu bersikap kepada ku hah?! Tidak sopan sekali!" bentak Olivia marah.

__ADS_1


"Saya hanya mengikuti perintah dari tuan, Rei."


"Perintah macam apa yang melarang kekasihnya sendiri untuk masuk? Jangan beralasan kau!" sarkas Olivia.


"Sudah cukup, Olivia!"


"Tapi, beb."


"Aku bilang cukup, Olivia! Jangan membuat keributan di kantor ku!" bentak Rei tegas. Ia memijit keningnya jenuh dengan sikap Olivia.


"Aku tidak membuat keributan, Rei tapi sekretaris mu yang mencari masalah duluan denganku. Masa iya aku tidak boleh masuk ke kantor calon suamiku sendiri? Dan katanya kau yang melarangnya? Oh my good itu tidak masuk akal. Aku tahu dia mengada-ada." tuduh Olivia menatap remeh.


"Dia tidak mengada-ada. Aku sendiri yang memerintahkan nya agar tidak membiarkan mu masuk!" ujar Rei membantah tuduhan Olivia.


"Apa?" Olivia terkejut mendengar nya. "Tapi kenapa, beb?"


"Lihat saja apa yang kau lakukan saat ini? Kau membuat keributan hanya karena masalah sepele. Dan kau tahu kalau aku tidak suka di ganggu saat sedang bekerja!"


"Tapi aku....."


"Cukup! Aku tidak ingin berdebat dengan mu!"


Rei menghela nafas, sambil mengatur ekspresi nya. Ia mengalihkan pandangannya kepada Angga dan sekretaris nya. "Kalian berdua keluarlah." perintahnya.


"Baik, tuan. Kami permisi."


"Beb, maaf." Olivia mendekat dan kemudian bergelut manja di lengan Rei.


"Aku tidak ingin berbasa-basi. Katakan apa tujuanmu kemari?" tanya Rei to the poin. Dia sebenarnya malas meladeni Olivia. Melihatnya saja Rei muak. Tapi dia tidak ingin wanita itu membuat masalah kalau dia menolaknya.


"Ya ampun, beb. Apa aku harus memiliki alasan saat ingin bertemu denganmu?" ujar Olivia duduk di samping Rei. Tapi dengan cepat Rei menjauh.


"Rei, kenapa kau terus menghindari ku hah?!" bentak Olivia frustasi.


Rei menghela nafas lelah. "Baiklah, duduk!"


Olivia tersenyum, ia pun duduk di samping Rei, mengapit lengan pria itu, dan bergelut manja disana. Sementara Rei mati-matian menahan diri. Ia sungguh tak menyukainya.


"Beb, aku sangat merindukanmu." ucapnya sangat senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Rei.


"....."


"Beb, kenapa kau diam saja. Apa kau tidak merindukan ku?" tanya Olivia mendongak, menatap wajah Rei yang datar.


"Tidak." jawabnya singkat padat dan jelas.


"Apa?"


Rei melepaskan tangan Olivia dari lengannya. Dan kemudian berucap. "Olivia, aku sangat sibuk. Kalau tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan lebih baik kau pulang saja. Aku tidak ada waktu untuk meladeni mu."

__ADS_1


"Apa-apaan ini! Jadi, kau mengusirku? Tega sekali. Aku datang jauh-jauh untuk menemui mu tapi kau malah mengusirku begitu saja! Apa kau tidak memiliki perasaan hah?!"


"Bukan begitu maksudku, Olivia. Hari ini aku sangat sibuk. Ada banyak berkas yang harus aku periksa dan tandatangani. Tolong mengertilah." ujar Rei menolak secara halus.


"Kenapa kau sangat jahat padaku, Rei?! Sebentar lagi kita akan menikah tapi sikapmu masih saja dingin? Kau bahkan tidak merindukan ku. Yah, aku tahu kalau kau masih marah tapi setidaknya kau memikirkan anak yang ada dalam kandungan ku. Ini juga anakmu, Rei!" bentak Olivia marah.


"Lalu, kau ingin aku bagaimana, Olivia?" tanya Rei jenuh.


"Aku ingin kau merubah sikap mu! Jangan pernah mengabaikan ku lagi! Kalau kau tidak bisa mencintai ku tapi setidaknya cintai anak kita!"


Rei terkekeh geli. "Anak kita katamu? Heh, itu masih belum pasti, Olivia. Aku tidak akan mengakui anak itu sebelum tes DNA menyatakan kalau dia memang darah daging ku!"


"Bisa-bisanya kau tidak mengakui anakmu sendiri, Rei?! Kalau ini bukan anakmu lalu, dia anak siapa hah?!" sarkas Olivia membentak keras.


"Yah, mungkin saja anakmu bersama pria lain." balas Rei santai.


PLAK


Satu tamparan mendarat kasar di wajah Rei. Olivia menampar nya karena tidak terima atas ucapan Rei.


"Olivia, beraninya kau menamparku?" Rei menggeram marah.


"Kau pantas mendapatkan nya!"


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."


"DIAM!" bentak Olivia menghunus tatapan tajam penuh amarah.


"Anak ini adalah anakmu! Camkan itu baik-baik! Kalau sampai sekali lagi aku mendengar kau mengatakan hal tidak berguna seperti itu maka jangan salahkan kalau aku berbuat nekat! Aku tidak akan segan-segan untuk mengungkapkan kepada media tentang kehamilan ku. Kau tau apa yang akan terjadi bukan?!"


"Kau mengancam ku?"


"Ini bukan ancaman tapi peringatan!"


Olivia melanjutkan perkataannya. "Suka ataupun tidak kau tetap harus mengakui kalau bayi yang ada dalam kandungan ku ini adalah anakmu! Jika tidak maka aku akan membuat semua orang yang mengakui kalau ini anakmu!"


"Ah ya, dan satu lagi. Aku ingin memberitahu mu kalau ayah ku sudah bebas. Itu artinya kita bisa melanjutkan pertunangan kita yang sempat tertunda. Kau tidak bisa mengelak lagi, Reino Alberto!" ucap Olivia tersenyum penuh arti. Setelah mengatakan itu Olivia melenggang pergi.


BRAK


Rei memukul meja dengan keras. "Sial, dasar wanita ular."


Bersambung 😎


______________________________________________


maaf otor kemarin ga update soalnya sibuk huhuhu 🙏🙏🙏


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE NYA DUNG🥰🥰🥰💎💎

__ADS_1


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2